Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 293. Zhou Liu Changhai.


Chapter 293. Zhou Liu Changhai.


Tian Zhi tersenyum melihat reaksi banyak bangsa air yang ketakutan kepadanya. Dewa Air mengajak Tian Zhi masuk ke dalam Istana Samudera dan diikuti beberapa menteri.


Dewa Air tidak menyinggung masalah pelabuhan Jalur Sutra yang telah banyak menewaskan pasukannya. Walaupun dihati kecilnya ingin meluapkan kemarahan kepada Tian Zhi, tapi apalah daya kekuatannya jauh berbeda. Selain itu, dia masih membutuhkan bantuan Tian Zhi untuk menyembuhkan istrinya, jelas tidak ingin membuat Tian Zhi tersinggung.


"Apa Yang Mulia beristirahat dulu atau ...?" tawaran Dewa Air yang ingin membuat Tian Zhi nyaman di kerajaannya.


"Langsung saja kita temui istri Anda!" jawab Tian Zhi yang ingin segera menyelesaikan urusannya disini.


"Mari ikuti hamba." Ajak Dewa Air dan masuk ke dalam istana.


Saat berada di dalam istana, situasi sangat sepi dan Tian Zhi melihat patung seorang wanita cantik setinggi empat meter, membawa senjata trisula, rambut panjang sepinggang yang tergerai bebas.


Dewa Air melihat Tian Zhi sedang memperhatikan patung Dewi Samudera.


"Beliau adalah saudara tertua hamba. Sayangnya ...!" ucapnya yang terdengar enggan untuk membicarakan masalah lalu.


"Dewi Samudera? Apakah dia memiliki seorang murid wanita yang diselamatkan dari para bandit sewaktu kecil?" tanya Tian Zhi saat mengingat kekasihnya yang berada di Benua Venus, yaitu Bi Liqin.


Dewa Air menghela napas berat sebelum berbicara, lalu dia menjawab dengan nada sedih, "benar. Dia meninggal bersama Dewi Samudera!"


Tian Zhi tersenyum sinis saat tahu jika Dewa Air berbohong, namun dia tidak perduli, sebab ini bukan urusannya. Lalu dia bertanya lagi untuk sekedar ingin tahu, "aku dengar desas-desus, jika tewasnya Dewi Samudera karena dikhianati, apakah benar?"


Dewa Air tiba-tiba tertawa dengan ucapan Tian Zhi. Sengaja dia tertawa untuk mengalihkan keterkejutannya. Setelah berhenti, dia berbicara dengan nada sedikit tinggi "propaganda yang dibuat oleh Kaisar Giok. Justru dia bersama Dewa Iblis yang membuat Dewi Samudera tewas!"


Tian Zhi geleng-geleng kepala dan menghela napas panjang, sebab Dewa Air sekali lagi telah berbohong. Dia juga mendengar para menteri yang berada di belakangnya sedang berbisik-bisik mengenai sejarah Dewi Samudera.


"Dua kali kamu telah berbohong... Tiga kali berbohong, aku akan buat istrimu tidak akan mau lagi kamu sentuh!" batin Tian Zhi yang ingin menguji Dewa Air untuk terakhir.


"Ya, begitulah propaganda ... Aku yakin sosok Dewa Perang yang menyelamatkan Dewi Samudera dan muridnya juga bentuk dari propaganda yang dibuat oleh Kaisar Giok!" ucap Tian Zhi yang seakan-akan mendukung kebohongan Dewa Air.


Dewa Air mengangguk berulang-ulang sebagai respon terhadap ucapan Tian Zhi yang benar. "Licik cara Kaisar Giok ingin menguasai lautan, dia sebenarnya ingin merebut Artefak Alami yang dimiliki oleh Dewi Samudera."


"Ya, lengkap sudah... Tiga kali!" sahut Tian Zhi.


"Benar. Pertama, diracuni untuk melemahkan Dewi Samudera. Kedua, setelah itu mereka menyerang Kerajaan Air. Ketiga, untuk menutupi kebusukan mereka, dibuatlah propaganda di Alam Mahadewa hingga Benua Dewa. Sedangkan Dewa Perang, hanya dijadikan sebagai bumbu penyedap untuk meyakinkan berita palsu!" ucap Dewa Air yang makin memperjelas kebohongannya.


Tian Zhi tersenyum sinis. Jika tidak memikirkan tentang masa depan Kerajaan Guang, ingin rasanya dia meledakkan kepala Dewa Air. Dewa Air tidak menyadari perkataan Tian Zhi yang menghitung kebohongannya.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita dari dibelakang Istana Samudera. Dewa Air segera bergegas menuju sumber suara itu. Tian Zhi dan para menteri Kerajaan Air mengikutinya.


Di belakang istana ada sebuah mansion berlantai tiga yang dijaga ketat oleh prajurit kepiting. Ketika Tian Zhi keluar dari Istana Samudera, seseorang prajurit terlempar dari jendela, lalu disusul rekannya yang juga dilemparkan oleh seseorang wanita cantik.


Wanita itu adalah Zhou Liu Changhai, kulit putih pucat, tubuh kurus, rambut acak-acakan, ada garis menghitam di bawah mata yang merupakan tanda kurang tidur. Walaupun tubuhnya tidak terawat, Zhou Liu Changhai masih memperlihatkan sosok wanita cantik.


"Dialah istri hamba, Yang Mulia," kata Dewa Air yang memperkenalkan Zhou Liu Changhai yang sedang berdiri di jendela yang rusak.


Zhou Liu Changhai menatap tajam kearah Dewa Air, lalu melihat Tian Zhi yang berada di sisi kiri suaminya. Dari tatapan mata tajam, bisa diartikan bahwa Zhou Liu Changhai sangat membenci Dewa Air, bahkan siapapun yang berhubungan dengan suaminya juga akan dibenci.


"Enyah kalian dari sini!?" bentak Zhou Liu Changhai yang tidak suka kehadiran pria disekitar mansion.


Tian Zhi mengembangkan senyuman hangat sambil melihat Zhou Liu Changhai. Sayangnya, Zhou Liu Changhai memberikan tanggapan negatif dengan meludah.


"Maafkan istri hamba, Yang Mulia!" sesal Dewa Air yang melihat tindakan istrinya.


"Tidak masalah!" jawab Tian Zhi yang memang tidak tersinggung dengan tindakan Zhou Liu Changhai.


Dewa Air melihat pengawal pribadi istrinya yang terdiri dari wanita, lalu dia memberikan perintah, "buat dia pingsan!"


"Baik, Yang Mulia."


Segera dua pengawal wanita masuk ke dalam mansion. Zhou Liu Changhai melihat dan mendengar pembicaraan suaminya, lalu dia memaki-maki Dewa Air. Tian Zhi melihat dua wanita muncul di belakang Zhou Liu Changhai dan membuatnya pingsan dengan memukul tengkuk leher. Kemudian dua pengawal itu membopong tubuh Zhou Liu Changhai.


"Yang Mulia, mari kita lihat kondisinya!" ajak Dewa Air.


Tian Zhi mengangguk dan mengikuti Dewa Air. Sedangkan para menteri tidak ikut, melainkan mereka berbisik-bisik mengenai nasib Permaisuri Liu. Dewa Air yang mendengar bisikan dari bawahannya tidak marah, sebab dia sudah terbiasa dan memang sesuai kondisi istrinya yang aneh.


Sebelum Dewa Air membuka pintu kamar istrinya, Tian Zhi bertanya, "sejak kapan meletakkan Bunga Poppy dan tanaman Cannabis di kamar?"


Dewa Air mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar, lalu dia berbicara, "dua jenis tanaman itu kesukaan istri hamba sejak kita baru menikah, dia selalu meletakkan didalam kamar. Memangnya ada apa dengan kedua tanaman tersebut?"


"Aku akan periksa dulu Istrimu," kata Tian Zhi yang yang tidak menjawab pertanyaan Dewa Air, sebab dia perlu melihat kondisi Zhou Liu Changhai.


Pelayan wanita membukakan pintu kamar, lalu Dewa Air masuk dan disusul oleh Tian Zhi. Saat berada di dalam kamar, Tian Zhi melihat banyak Bunga Poppy berwarna merah, lalu dia melihat dimeja ada biji Bunga Poppy yang belum matang.


"Awalnya dari ini ...!" batin Tian Zhi saat melihat biji Bunga Poppy baru saja ditumbuk dan beberapa pot yang terisi tanaman Cannabis.


Bunga poppy menghasilkan getah yang mengandung senyawa yang terdapat dalam narkotika dan turunannya. Biji poppy tidak berbahaya dan dapat dimakan, bahkan sering dijadikan taburan kue, selain dari itu bagian lain dari anggota keluarga poppy mengandung racun.


Seperti racun Alkaloid, termasuk morfin dan kodein yang terdapat pada bunga poppy, jika dikombinasikan akan menghasilkan resin, obat aditif dan opium (candu)


Gejala keracunan mempengaruhi tubuh dengan meniru senyawa alami dalam sistem saraf yang berfungsi sebagai obat penenang, penekan rasa sakit dan membangkitkan suasana hati.


Jika keracunan ditandai dengan perilaku tak menentu, kehilangan nafsu makan, marah-marah tidak jelas, pingsan bahkan yang paling parah dapat menyebabkan koma, hingga bisa berujung kematian.


Di dalam kamar pribadi milik Zhou Liu Changhai, ada ruang yang dijaga oleh dua pengawal wanita yang tadi membuat Zhou Liu Changhai pingsan. Salah satu pengawal membuka pintu, lalu Dewa Air masuk dan disusul oleh Tian Zhi.


Dewa Air duduk dipinggir ranjang, dia membelai wajah istrinya dengan kasih sayang. Tian Zhi melihat seisi ruang kamar, dan melihat tanaman Cannabis yang mengering, dia menghela napas panjang, karena tanaman Cannabis juga menjadi penyebabnya.


"Bisakah semua tanaman ini disingkirkan dari kamar?" tanya Tian Zhi.


"Dia akan marah jika tidak melihat Bunga Poppy dan tanaman Cannabis!" jawab Dewa Air yang khawatir akan kemarahan istrinya, "apakah ada hubungannya dengan apa yang dialami istri hamba?" lanjutnya dengan bertanya.


"Apakah Anda tidak tahu tentang Bunga Poppy dan tanaman Cannabis?" tanya Tian Zhi balik sebelum menjelaskan, lalu dia tanpa sungkan memegang pergelangan tangan Zhou Liu Changhai.


"Ini hanya tanaman hias yang mengeluarkan aromaterapi!" jawab Dewa Air sambil berdiri agar Tian Zhi leluasa untuk memeriksa istrinya.


Tian Zhi geleng-geleng kepala karena ketidaktahuan Dewa Air tentang bahayanya dua jenis tanaman tersebut, lalu duduk di pinggir ranjang tanpa melepaskan pergelangan tangan Zhou Liu Changhai, lalu dia memejamkan mata untuk memeriksa titik-titik meridian yang tersumbat.


"Bagaimana? Apa bisa disembuhkan?" tanya Dewa Air setelah Tian Zhi membuka mata.


"Apakah Anda tahu titik-titik meridian?" tanya Tian Zhi sebelum menjawab, sebab dia perlu menjelaskan penyebab yang dialami oleh Zhou Liu Changhai.


"Hamba bodoh tentang anatomi tubuh manusia. Jika tentang anatomi tubuh binatang air, hamba memahaminya!" jawab Dewa Air dengan nada menyesal.


Tian Zhi mengangguk mengerti, dia juga tahu anatomi tubuh manusia lebih rumit daripada binatang. Lalu dia berkata, "titik meridian Ren Du bermasalah sejak dia usia 16 tahun. Diperparah dengan dia mengkonsumsi biji Bunga Poppy dan tanaman Cannabis yang dikeringkan. Karena itu, aku meminta membuang semua Bunga Poppy dan tanaman Cannabis. Aku juga membutuhkan waktu lama untuk menyembuhkannya. Selama proses penyembuhan ini, tolong jangan ada yang masuk ke dalam kamar maupun membuat keributan di luar."


"Berarti istri hamba bisa disembuhkan?" tanya Dewa Air dengan semangat.


"Iya. Lakukan apa yang aku katakan."


"Baik, Yang Mulia."


Dewa Air segera memerintahkan kepada pelayan dan pengawal untuk membuang semua Bunga Poppy dan tanaman Cannabis. Lalu dia keluar dan secara pribadi menjadi pintu masuk ke kamar istrinya. Dewa Air juga memerintahkan untuk menjaga ketat mansion dan melarang siapapun membuat suara.


Setelah Dewa Air beserta bawahannya tidak lagi didalam kamar, Tian Zhi membuat Formasi Array berlapis, penghalang Mata Dewa, suara dan perlindungan.


Setelah selesai, Tian Zhi menghampiri Zhou Liu Changhai yang masih pingsan. Lalu dia membalikkan badan Zhou Liu Changhai agar telungkup, lalu menyobek pakaiannya.


Terlihat punggung Zhou Liu Changhai yang putih mulus dan terawat, tidak ada sedikitpun noda dikulitinya. Pantat besar padat berisi tanpa ada kerutan di kulitnya. Tian Zhi tidak sedikitpun tergoda dengan kemolekan tubuh Zhou Liu Changhai, sebab dia telah banyak melihat tubuh wanita yang lebih cantik.


Kemudian Tian Zhi mengeluarkan kotak kayu, didalamnya banyak jarum tipis dengan berbeda ukuran. Lalu Tian Zhi mengambil satu jarum akupuntur dan menancapkan di bagian pinggir tulang ekor, tepatnya di antara tulang ekor.


"Hmm!" Zhou Liu Changhai melenguh lembut ketika jarum menancap.


Lalu Tian Zhi mengeluarkan satu jarum akupuntur dan menancapkan di bagian sisi lain tapi sejajar dengan sebelumnya. Sontak Zhou Liu Changhai langsung kentut, tanda racun yang menyumbat titik meridian bagian Ren Du telah terbebaskan.


Aroma kentut membuat Tian Zhi memblokir indera penciuman. Lalu dia kembali mengeluarkan satu per satu jarum akupuntur, dia menancapkan secara lembut dari tulang ekor hingga leher Zhou Liu Changhai.


Setiap kali jarum tertancap, Zhou Liu Changhai mengeluarkan lenguhan yang makin lama semakin keras. Air surganya menyembur berkali-kali, hingga membuat sprei basah kuyup. Energi Yin milik Zhou Liu Changhai memenuhi ruangan dan segera oleh Tian Zhi diserap.