Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 148. Tim Lima Falcon.


Chapter 148. Tim Lima Falcon.


Malam pun tiba, cuacanya sangat cerah saat di malam hari, sedangkan bulan mulai menampakkan diri untuk menambah keindahan malam ini.


Raja Li mengajak Tian Zhi dan kekasihnya menuju bukit yang masih dalam lingkup wilayah istana. Di atas bukit di sisi Utara telah dibangun sebuah istana, Raja Li mengatakan jika istana ini khusus untuk tamunya, termasuk Tian Zhi yang akan di tempatkan di istana ini, yang diberi nama Istana Merak.


Tian Zhi merasa heran, hampir semua tempat selalu menggunakan nama akhiran 'Merak dan Bunga', Tian Zhi menduga jika Raja Li sangat menyukai binatang Merak dan bunga. Salah satu contohnya, ibukota diberi nama Bunga, Ibukota Bunga. Kota besar ada yang bernama sama dengan kekasihnya, yaitu Kota He Hua, yang artinya Kota Lotus atau Teratai.


Akademi Kerajaan Li diberi nama Akademi Merak Api, gedung Alkemis juga diberi nama Paviliun Merak Hijau. Gedung lelang dan juga tempat jual beli senjata diberi nama Paviliun Phoenix. Burung Phoenix masih merupakan keturunan burung Merak, karena faktor genetik burung Phoenix cantik seperti burung Merak.


Pemandangan dari Istana Merak sangat indah, bisa melihat keseluruhan wilayah ibukotanya. Saat di malam hari, pemandangan kelap-kelip dengan banyaknya lampu lampion menambah keindahan Ibukota Bunga.


Tian Zhi menikmati pemandangan Ibukota Bunga bersama kekasihnya yang tidak pernah melepaskan kedua lengannya. Raja Li, Li Jiancheng, para permaisuri dan putrinya juga ikut melihat pemandangan Ibukota Bunga, kecuali para pejabat serta pendukung Kerajaan Li telah kembali ke tempatnya masing-masing.


"Apakah di Kerajaan lainnya juga memiliki pemandangan seperti ini?" tanya Tian Zhi sambil melihat kearah Raja Li dan Li Jiancheng.


"Setiap kerajaan juga memiliki lokasi yang indah!" sahut Li Jiancheng.


"Tuan Muda, silakan kita duduk di sini sambil menunggu bulan dalam bentuk sempurna!" ajak Raja Li.


Tian Zhi membalikkan badan dan melihat pelayan istana telah menyiapkan permadani untuk duduk lesehan di taman Istana Merak. Di tengah permadani telah tersedia meja pendek dan ada beberapa camilan serta teko berisi arak, ada juga yang berisi teh hangat.


...****************...


Di Kerajaan Wei.


Salah satu prajurit yang lolos dari serangan kapal perang segera kembali ke Kerajaan Wei. Prajurit tersebut melaporkan bagaimana awal kekalahan perwira Ceng Gong kepada Raja Wei. Prajurit tersebut juga melaporkan ciri-ciri pemilik kapal perang, dua wanita dan satu pria.


Spontan Raja Wei menggebrak sandaran tangan singgasananya, saat tahu siapa kedua wanita yang menghancurkan pasukannya, dia tidak menyangka jika murid pamannya menjadi musuh dan mendukung Kerajaan Li. Semua pejabat istana menunduk, mereka tidak berani menatap rajanya yang sedang naik pitam.


Kemudian Raja Wei mengeluarkan Siput Penghantar Suara, dia berniat melaporkan keterlibatan He Hua dan Miao Jiang kepada pamannya. Namun dia berpikir ulang, sebab dia hingga detik ini tidak menemukan Batu Keabadian yang diinginkan oleh pamannya. Jika melapor kepada pamannya, dia juga akan mendapatkan amukan.


Tapi jika tidak mengadu kepada pamannya, jelas tidak bisa mengalahkan He Hua dan Miao Shan yang memiliki kekuatan jauh melebihinya. Dengan menguatkan hati, Raja Wei memutuskan untuk mengadu kepada pamannya.


("Paman, murid Anda si He Hua dan Miao Jiang berada di sini dan mendukung Kerajaan Li, sehingga saya tidak dapat mencari yang Paman inginkan. Mereka berdua telah membunuh 30.000 prajurit ku dan juga satu perwira. Tolong bantuannya!")


Setelah melapor, Raja Wei menunggu tapi belum mendapatkan balasan dari pamannya dengan segera.


"Raja konyol saja sudah sulit dikalahkan, kini didukung kedua murid paman, apa tujuannya mereka mendukung raja konyol itu!?" Raja Wei yang geram kepada Raja Li dan kedua murid pamannya.


Ya, Raja Wei menyebut raja konyol kepada musuhnya yang suka berpakaian kedodoran. Walaupun begitu, Raja Li cukup cerdik dalam mengatur strategi sehingga membuat pasukan Kerajaan Wei kesulitan menembus pertahanan wilayah Kerajaan Li.


Akhirnya Siput Penghantar Suara bergetar dan membuat Raja Li menjadi senang dan juga khawatir, khawatir jika dia terkena amukan pamannya. Segera Raja Wei mengalirkan energi spiritual pada Siput Penghantar Suara.


Raja Wei yang mendengar ancaman pamannya seketika wajahnya mengalir keringat, dicoret dari Keluarga Besar Wei sama saja tidak diakui dan mengharuskan mengganti nama marga. Selain itu dia akan mendapat hinaan dan cacian dari semua orang.


Tapi, pamannya yang mengutus lima murid elite, membuat Raja Wei sedikit lega, pasalnya murid elite rata-rata memiliki kekuatan tingkat Dewa Tertinggi hingga tingkat Dewa Tahta, pasti mampu mengalahkan He Hua yang memiliki kekuatan tingkat Dewa Matahari dan Miao Jiang yang memiliki kekuatan tingkat Dewa Bintang.


Sayangnya, Raja Wei dan Ketua Wei Yan tidak mengetahui kekuatan pendamping hidup He Hua dan Miao Jiang. Mereka berdua mengira kekuatan He Hua dan Miao Jiang masih dibawah tingkat yang sama dalam beberapa tahun ini.


Segera Raja Wei keluar dari istananya dan diikuti para jenderal serta pejabat. Mereka menuju altar dimensi untuk menyambut lima murid elite Akademi Istana Surgawi.


...****************...


"Sebentar lagi cahaya kuning akan keluar lalu disusul cahaya hijau di wilayah Barat," kata Li Jiancheng saat bulan akan berada tepat di atas kepala.


Tian Zhi dan kekasihnya mengaktifkan Mata Dewa dan melihat wilayah Tengah. Secara perlahan cahaya kuning mulai terlihat, dari redup menjadi terang benderang. Dengan memiliki Mata Dewa, pandangan Tian Zhi dan kekasihnya lebih jelas daripada semua orang yang ikut melihat.


Tian Zhi merasakan cincin dimensi sedikit bergetar lalu melihatnya. Cincin dimensi menunjukkan posisi Batu Keabadian. Tian Zhi menahan kegembiraannya saat mendapatkan petunjuk.


Wilayah Tengah menjadi indah dengan cahaya kuning meneranginya, namun cahaya kuning secara perlahan mulai menghilang ketika bulan juga bergeser. Cincin dimensi pun berhenti gemetar ketika cahaya kuning menghilang.


"Lihat wilayah Barat...," seruan Li Jiancheng yang sudah menunggu cahaya hijau muncul setelah cahaya kuning redup.


Tian Zhi dan kekasihnya mengikuti jari telunjuk Li Jiancheng. Dan seperti cahaya kuning, cahaya hijau juga secara perlahan mulai terlihat dan terang benderang ketika bulan terfokus di wilayah Barat.


Tapi kali ini cincin dimensi tidak bereaksi, Tian Zhi menduga jika cincin dimensi belum menyerap patung emas yang menjadi petunjuknya, sehingga tidak memberikan reaksi apapun.


Warna kuning di wilayah Tengah menandakan jika ada Solar Plexus Stone disana. Untuk warna hijau, Tian Zhi menduga jika itu adalah Heart Stone. Jika memang cahaya hijau adalah Heart Stone, maka suatu keberuntungan jika berada di satu tempat.


Disaat melihat kearah wilayah Barat, Tian Zhi dan kekasihnya melihat lima orang terbang menuju danau yang merupakan sumber keluarnya cahaya hijau. He Hua dan Miao Jiang yang tahu segera mengepalkan kedua tangannya.


"Mereka Lima Falcon, murid elite Akademi Istana Surgawi!" ungkap He Hua yang hafal dengan kelompok mereka.


Lima Falcon adalah julukan tim, dan mereka utusan dari ketua Wei Yan. Dari nada bicara He Hua, dia tampak sedikit gemetar merupakan reaksi alami ketika pernah berhadapan dengan Tim Lima Falcon, reaksi He Hua menandakan dia pernah bersitegang dengan mereka.


Raja Li, permaisuri dan putra putrinya jelas kebingungan karena tidak bisa melihat Tim Lima Falcon, sebab basis kultivasi mereka masih rendah dan tidak memiliki Mata Dewa.


"Apa mereka pernah mengintimidasi kalian?" tanya Tian Zhi dengan penasaran.


Jika Tim Lima Falcon memang pernah membuat kekasihnya menjadi trauma, maka dia tidak segan-segan membunuh mereka. Berhubungan Tim Lima Falcon terkuat berada di tingkat Dewa Tahta level 5, Tian Zhi akan memberikan kesempatan kekasihnya untuk membalaskan dendam.


He Hua dan Miao Jiang yang ditanya hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya pada Tim Lima Falcon, tanpa sadar karena terbawa emosi, basis kultivasi mereka keluar dan membuat Raja Li beserta keluarganya ketakutan.