
Chapter 75. Terganggu Jiwa Xiang Tianzhi.
Kemudian, Yu Bao meninggalkan Tian Zhi untuk menyelesaikan urusan dan juga mencari sumberdaya dengan menjual pill, dia akan kembali dalam dua hari lagi.
Yu Bao juga melarang Tian Zhi untuk keluar sebelum dia kembali.
Sedangkan Tian Zhi masuk ke dalam cincin dimensi untuk mengurus Mu Bingyun dan Jun Mei Lin, dia akan berkultivasi ganda untuk meningkatkan kekuatannya.
Tian Zhi memisahkan kedua wanita itu dengan kamar yang berbeda, dan Mu Bingyun yang menjadi pertama untuk dia serap energi Yin-nya secara berlahan. Tian Zhi ingin membuat Mu Bingyun trauma dengan menyiksanya secara bertahap, dia sengaja tidak membunuh Mu Bingyun demi He Hua.
Tian Zhi menyadarkan Mu Bingyun dari tidur panjangnya. Secara berlahan Mu Bingyun membuka mata dan melihat sekitarnya, dia terkejut saat melihat Tian Zhi.
Namun, disaat Mu Bingyun berusaha menjauh, kedua tangan dan kaki terikat dengan posisi yang terlentang, dan tanpa sehelai kain di tubuhnya.
Mu Bingyun meronta-ronta dengan terisak-isak, dia juga memohon ampun atas perbuatannya. Namun, sekuat apapun dia berusaha lepas dari ikatan dan meminta ampun, Tian Zhi tetap bergeming dan hanya melihat saja tanpa berucap.
Karena kelelahan dan tidak ada tanggapan dari Tian Zhi, Mu Bingyun akhirnya kelelahan dan pasrah jika harus dibunuh setelah dinodai. "Lakukan sesukamu, aku hanya berharap kamu segera membunuhku setelahnya...!" ucap Mu Bingyun dan menutup mata agar tidak melihat apa yang akan dilakukan oleh Tian Zhi.
Tian Zhi tersenyum tipis dan bangkit dari tempat duduknya untuk mendekati Mu Bingyun, dia melepaskan aroma feromon afrodisiak dengan maksimal.
Tubuh Mu Bingyun seketika bereaksi dengan membuka mata saatnya mencium aroma wangi dan membuat dia terengah-engah.
"Aku akan melepaskan ikatan mu, asal tidak berbuat macam-macam," kata Tian Zhi.
Mu Bingyun yang sudah terpengaruh dengan ekstrim, hanya mengangguk berkali-kali. Tian Zhi melepaskan ikatan di kedua kakinya, dan seketika Mu Bingyun merapatkan kedua kakinya untuk menahan gejolak kewanitaannya yang ingin dipuaskan.
Mu Bingyun.
Kemudian Tian Zhi berlanjut membuka ikatan di tangannya, langsung Mu Bingyun memeluk Tian Zhi setelah tangannya tidak terikat lagi, seakan-akan dia telah melupakan rasa takut akan kematian dan siapa Tian Zhi yang sebenarnya.
Mu Bingyun dengan ganas mencium bibir Tian Zhi sambil kedua tangannya melepaskan pakaiannya. Tian Zhi hanya diam dan membiarkan sifat kebinatangan Mu Bingyun bekerja aktif, dimana dia yang ingin dipuaskan dan dibuahi rahimnya.
Setelah Tian Zhi tidak menggunakan pakaian, ia segera tidur terlentang. Mu Bingyun dengan naluri ingin kawin, ia menindih Tian Zhi dan kembali mencium dan meraih tongkat milik Tian Zhi yang sudah berdiri maksimal.
Mu Bingyun dengan tidak sabar menuntut tongkat untuk segera memasuki lembah surganya yang telah basah.
Rintihan Mu Bingyun saat tongkat Tian Zhi memasuki lembah surganya, dan darah segar mengalir membasahi tongkat. Tian Zhi terkejut saat Mu Bingyun ternyata masih seorang gadis, dia tidak menyangka jika gadis nakal seperti dia masih menjaga kesuciannya.
Mu Bingyun diam setelah tongkat Tian Zhi memenuhi rahimnya dan terlihat air mata membasahi pipinya, air mata menahan sakit dan kesedihan, dan Tian Zhi memeluknya.
Karena rasa penasaran masih bisa menjaga kesuciannya, Tian Zhi pun bertanya sambil mengurangi aroma feromon afrodisiak agar Mu Bingyun bisa mengendalikan dirinya.
"Aku kira kamu sudah tidak gadis lagi, padahal dulu kamu begitu nakal dan ... Apa alasanmu?"
Setelah aroma feromon afrodisiak berkurang, Mu Bingyun tersadar dan menangis saat merasakan telah berhubungan intim, dia dengan pasrah membenamkan kepalanya di leher Tian Zhi.
Sambil menangis Mu Bingyun menjawab. "Aku mencintaimu sejak awal, tapi karena Raja Mu dan paman (Mu Liang) memaksaku bertindak jahat padamu, maka aku harus mampu menjaga kesucian ini dengan harapan menjadi anggota Sekte Yin, agar mereka bisa melindungi ku jika sewaktu-waktu selir Mei membalas dendam padaku...!"
Mu Bingyun pun mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi sewaktu mereka remaja dulu. Mu Bingyun yang ternyata telah kehilangan kedua orang tuanya, dia dirawat oleh Mu Liang si Kaisar Pill dengan kasih sayang seperti putri sendiri.
Namun semua kasih sayang itu berubah ketika Raja Mu meminta Mu Liang untuk menjadikan Mu Bingyun sebagai alat untuk membunuh Tian Zhi. Mau tidak mau dan hanya hidup sebatang kara, Mu Bingyun pun menurutinya asal dirinya tidak dikucilkan dari Keluarga besar Mu.
Niat buruk Raja Mu kepada Xiang Tianzhi karena informasi dari Marquis Zhou Fan yang memberitahukannya, jika Tian Zhi memiliki garis darah Kasta Kaisar, dan Xue Ling adik kembar Xue Mei bertugas mencari informasi dari kakaknya dan semua orang.
Setelah mengetahui jika Xiang Tianzhi bukan anak kandung Raja Xiang dan Xue Mei, maka Mu Bingyun segera bergerak untuk menjauhkan Tian Zhi dari Xue Mei, dan akan dieksekusi oleh Xiang Huangdi.
Sedangkan Marquis Zhou Fan mendapatkan informasi dari seseorang yang berasal dari Alam Keabadian, orang tersebut memerintahkan Marquis Zhou Fan mencari seseorang bayi yang saat lahir memicu fenomena.
Marquis Zhou Fan yang diperintahkan oleh seseorang yang berasal dari Alam Keabadian, dengan mudah menemukan Tian Zhi, sebab hanya Tian Zhi lah yang saat lahir membuat fenomena dengan kedatangan banyak binatang mitologis.
Marquis Zhou Fan menggunakan tangan Raja Mu untuk menekan Raja Xiang agar mudah membunuh Xiang Tianzhi untuk diambil darah dan juga seluruh organ tubuhnya, dan orang yang berasal dari Alam Keabadian tidak memperdulikan keistimewaan dari Kasta Kaisar, yang terpenting Xiang Tianzhi mati.
Dari cerita ini, Tian Zhi sudah memahami setelah tahu siapa penyebab semua ini, dia segera mencium bibir Mu Bingyun agar tidak berbicara sambil menangis.
Tian Zhi membuat kesimpulan, jika dalang semua ini adalah orang yang berasal dari Alam Keabadian, dan mungkin adalah musuh dari ibu kandungnya. Raja Xiang, Raja Mu, dan semua orang adalah boneka, dan korbannya adalah Xue Mei dan Mu Bingyun.
Mu Bingyun tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah Raja Mu dan pamannya, sebab dia adalah seorang wanita tanpa lagi memiliki kedua orang tua. Setelah mengira Tian Zhi telah mati, Mu Bingyun segera mendaftarkan dirinya untuk menjadi anggota Sekte Yin, sekte yang mampu melindunginya.
Tiba-tiba jiwa Xiang Tianzhi merasa bersimpati dengan kisah yang dialami oleh Mu Bingyun dan ibunya mulai menggangu Tian Zhi. Tian Zhi yang Jiwa-nya telah menyatu dengan Xiang Tianzhi, dilarang membunuh Mu Bingyun dan meminta Tian Zhi untuk melindunginya. Tian Zhi jelas kesal jika jiwa Xiang Tianzhi terus menerus menggangunya dan kali ini lebih ekstrim.
Tian Zhi hanya diperbolehkan membunuh Raja Xiang, Raja Mu dan permaisuri Yin.
Tian Zhi sendiri sebenarnya tidak mempermasalahkan-nya, toh dia tidak ada hubungannya dengan ini semua, tugasnya hanya untuk mengumpulkan ketujuh Batu Keabadian dan mencari pria bertopeng.
Selain itu, dia hanya menikmati hidup dan sambil jalan meningkatkan kekuatannya, kekuatan untuk menunjang perjalanannya mencari Batu Keabadian. Tapi, yang membuat Tian Zhi kesal dan marah, jiwa Xiang Tianzhi selalu muncul disaat dia akan membunuh.
Tian Zhi menyudahi mencium Mu Bingyun sambil menatap wajahnya, dia masih diganggu dengan jiwa Xiang Tianzhi yang selalu saja ikut campur. "Tidak bisa membuatku bebas ... !" batin Tian Zhi yang geram dengan jiwa Xiang Tianzhi.
Apa yang dialami Tian Zhi seperti memiliki kepribadian ganda akibat bersatunya dua jiwa, dimana Tian Zhi tidak bisa bergerak bebas seperti diri sendiri. Disisi Xiang Tianzhi, Xiang Tianzhi terlalu lemah dan bodoh dalam menghadapi wanita dan situasinya yang mengakibatkan kematian.
Tian Zhi berkonsultasi dengan Inti Kehidupan untuk mendapatkan cara menghilangkan jiwa milik Xiang Tianzhi. Namun, jawaban dari Inti kehidupan membuat Tian Zhi menghela nafas tak berdaya, dimana dia tetap harus membalaskan dendam kepada Raja Xiang, Raja Mu, permaisuri Yin dan pelaku utama yang membunuhnya, setelah semua terbunuh maka Tian Zhi akan terbebas dari jiwa Xiang Tianzhi selamanya.
Karena kesal dengan jiwa Xiang Tianzhi, Tian Zhi membalikkan badan Mu Bingyun dan menghentak tongkatnya yang masih terbenam di lembah surga Mu Bingyun.
Seketika Mu Bingyun tersentak dengan kepala kebelakang saat merasakan nikmat dan membuatnya mencapai langit ketujuh. Tian Zhi tidak lupa menyerap energi Yin milik Mu Bingyun dan kembali menghentakkan pinggulnya hingga suara tamparan terdengar.
Mu Bingyun hanya bisa men-gerang sambil melingkarkan tangannya di leher Tian Zhi dengan kedua kakinya tertekuk hingga menyentuh buah kenyalnya.
Disaat Tian Zhi ingin membunuh Mu Bingyun dengan menyerang energi Yin dan energi kehidupannya, jiwa Xiang Tianzhi kembali menggangu hingga mengurungkan niat untuk membunuh Mu Bingyun.
Akhirnya Mu Bingyun pingsan karena kelelahan terlalu ekstrim, walaupun dia menikmati hubungan intim yang kasar.
Tian Zhi sendiri hanya geleng-geleng tidak bisa terbebas dari jiwa Xiang Tianzhi.
Ini seperti dihantui, disaat ingin berbuat buruk kepada Mu Bingyun, jiwa Xiang Tianzhi selalu berbicara dengan memohon dan jika tidak dituruti Tian Zhi merasakan sakit kepala.
"Ya, iya aku janji ... Tapi kamu jangan sekali-kali menggangguku lagi disaat seperti ini...!" dengan geram Tian Zhi menyanggupi keinginan jiwa Xiang Tianzhi, dimana dia tidak boleh membunuh Mu Bingyun, dan jika memiliki anak harus tetap menggunakan nama marga Xiang.
Jika ada orang yang melihat Tian Zhi, pasti dikira seperti orang yang terganggu jiwa nya, yang selalu berbicara dengan tidak jelas dan tanpa lawan bicara.
Kemudian, Tian Zhi memasukkan pill pemulih stamina kepada Mu Bingyun dan tetap membuatnya pingsan sampai dia berkultivasi ganda lagi. Lalu Tian Zhi keluar dari kamar Mu Bingyun, dia ingin berkultivasi ganda dengan Jun Mei Lin.
Di kamar pribadinya, Tian Zhi melihat tubuh Jun Mei Lin yang padat berisi. Sayangnya, minat untuk berkultivasi ganda menghilang akibat jiwa Xiang Tianzhi selalu mengganggunya. Tian Zhi pun berniat mandi agar dirinya untuk menghilangkan stress, setelah itu dia memasukkan pill pemulih stamina kepada Jun Mei Lin agar bisa tetap hidup selama dibuat pingsan.
Kemudian, tian Zhi keluar dari cincin dimensi.
Jun Mei Lin