
Chapter 222. Kisah Dewa Petir.
Bola kristal tidak segera menjawab, tampaknya dia sedang berpikir akan permintaan Tian Zhi. Sedangkan Tian Zhi sendiri mengelilingi ruangan yang luas itu, berharap menemukan sesuatu yang tidak dia miliki.
"Sebenarnya ini tempat apa?" tanya Tian Zhi sambil memeriksa apa yang dia lihat.
"Ruang Pengetahuan. Anak Langit, kumpulkan dulu ketiga kitab lainnya. Setelah berhasil, aku akan berikan pedang itu...,"
Tian Zhi membalikkan badan dan melihat kotak kayu yang tampak kuno yang tiba-tiba keluar dari kekosongan. Panjang kotak kayu 150 cm dan lebar 50 cm, di badan kayu terukur empat binatang mitologi.
Perlahan kotak kayu itu menghampiri Tian Zhi dan berhenti tepat di depannya. Dengan sendirinya kotak kayu itu terbuka. Cahaya bersinar terang dan menyilaukan mata.
Tian Zhi melihat pedang itu mengeluarkan elemen petir, total panjangnya 125 cm. Saat akan memegang gagang pedang tersebut, dia disengat petir yang tampak melindungi, sehingga dia mengurungkan niatnya untuk menguji pedang tersebut.
Lalu dia melihat bola kristal dan bertanya, "jenis pedang apa ini?"
Tian Zhi bertanya karena senjata di depannya tidak nampak seperti Armament maupun Artefak Bintang, juga bukan Artefak Alami. Kesannya pedang tersebut tampak biasa dan yang menarik hanyalah petir yang melindungi.
"Lightning God Sword."
Mendengar nama pedang tersebut, Tian Zhi menjadi teringat, pasalnya dialah yang mengalahkan Dewa Petir saat berada di Alam Tianwu. Namun, ketika itu Dewa Petir tidak menggunakan pedang dihadapannya, pedangnya lebih besar dan panjang.
"Dewa Petir siapa yang Anda maksudkan? Lei Ziran atau ...!" tanya Tian Zhi yang ingin tahu pemilik Lightning God Sword.
"Lei Feng Ziran si Dewa Petir kedua, dan Lei Ziran adalah cucunya yang menjadi Dewa Petir ke-lima . Lightning God Sword adalah penggabungan dari Lightning Sword dan Mountain Eater Lightning Sword milik mereka, hingga menjadi Half Natural Artefak. Artefak ini akan menjadi Artefak Alami Sejati ketika mendapatkan asupan energi dari Lightning Asyura!" jawab Gate Ancient Lightning dan sedikit menjelaskan asal-usul Lightning God Sword.
Lei Feng Ziran adalah penguasa Galaksi Petir, lokasinya berdekatan dengan Alam Suci. Tian Zhi tidak pernah bertemu dengan Lei Feng Ziran, sebab kisah Dewa Petir kedua bukan pada jamannya.
Kematian Lei Feng Ziran akibat ikut bertempur dalam Peperangan Kuno, dia tewas di Alam Tianwu yang menjadi pusat peperangan. Setelah seribu tahun kematian Dewa Petir kedua, ke-Dewa-an nya diwarisi oleh cucunya yang bernama Lei Ziran.
Mengetahui jika Lei Feng Ziran adalah Dewa Petir kedua, Tian Zhi menjadi penasaran siapa Dewa Petir pertama, lalu dia bertanya, "apakah Anda adalah Dewa Petir pertama?"
"Benar. Diriku saat ini adalah jiwa yang terpenjara karena dosa-dosa ku yang telah membunuh banyak kehidupan!" jawab Gate Ancient Lightning yang memiliki nama ke-Dewa-an sebagai Dewa Petir pertama.
"Apakah Anda adalah Petir Semesta, petir yang hampir menghancurkan seluruh Alam Jagat Raya?" tanya Tian Zhi dengan nada serius dengan mengeluarkan aura kekuatannya, sebab bencana Petir Semesta merenggut nyawa keempat kakak perempuannya, bahkan dirinya harus dikorbankan untuk meredam kemarahan Petir Semesta.
Jika iya, maka Tian Zhi tidak segan-segan berurusan dengan Dewa Petir sekali lagi dan akan memusnahkan keturunannya di Galaksi Petir.
"Bukan... Bukan aku yang mengendalikan Petir Semesta. Aku hanya memiliki petir peringkat empat hingga saat ini, Ancient Lightning!" jawab Dewa Petir yang khawatir Tian Zhi salah paham.
"Apakah benar yang Anda ucapkan?" selidik Tian Zhi yang belum memercayai jawaban Dewa Petir.
"Benar. Aku tidak mungkin berbohong dengan jiwa yang terpenjara dan juga telah bersumpah untuk mengabdi kepada Alam Semesta!" jawab Dewa Petir dengan tegas.
Tian Zhi menarik nafas dalam-dalam untuk meredam emosinya, lalu dia merenungi kejadian bencana Petir Semesta. Setelah beberapa saat, dia kembali berbicara, "jujur saja, masih ada yang mengganjal hati ini... Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu... Ceritakan berawal dari bencana Petir Semesta hingga Anda terpenjara di bola kristal!"
Bola kristal yang merupakan penjara bagi Dewa Petir bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri, seakan-akan sedang berpikir keras. Sambil menunggu Dewa Petir bercerita, Tian Zhi duduk di kursi marmer yang telah tersedia di depan lemari buku.
"Maaf, untuk sejarah bencana Petir Semesta, aku tidak mengetahuinya, karena bukan pada jamannya ku. Tapi, untuk kisah hidupku hingga menjadi abdi Alam Semesta, aku bisa menceritakannya. Namun, aku harap Anda tidak menghakimi setelah mengetahuinya."
"Yakinlah, aku bukan orang yang suka menghakimi siapapun!" sahut Tian Zhi yang memang tidak suka menyalahkan orang lain.
"Kisah ku terjadi sudah terlalu lama dan sangat lama sekali, sebelum Peperangan Kuno terjadi di Alam Tianwu...," Dewa Petir pun menceritakan kisahnya dengan detail.
Waktu itu...
Hal yang paling memalukan di masa remajanya, ketika Lei Li-Liang menghamili selir Maharaja Yaksa yang ke 666, selir yang paling dicintai oleh Maharaja Yaksa, namanya Xue Jing Hao. Kecantikan Xue Jing Hao diibaratkan ukiran alami yang mampu memikat siapapun hanya dengan melihat matanya.
"Hahaha!!"
Mendengar cerita itu, Tian Zhi tertawa terbahak-bahak dan memberikan acungan jempol kepada Dewa Petir. "Maaf, spontan saya tertawa... Layak ada dihukum berat. Tolong, lanjutkan!" pintanya setelah berhenti tertawa.
"Apakah Anda tidak jijik dengan kelakuan ku?" tanya Dewi Petir sebelum melanjutkan ceritanya.
"Tidak. Justru saya kagum dengan keberanian Anda yang menyentuh selir kampret itu!" jawab Tian Zhi yang memang tidak suka dengan Maharaja Yaksa.
"Hahaha!!"
Giliran Dewa Petir yang tertawa saat Tian Zhi menyebut Maharaja Yaksa si kampret. "Maaf... Maaf, aku spontan tertawa. Ya, setelah selir Maharaja Yaksa yang ke 666 mengatakan telah hamil, saat itu juga aku kabur dari Alam Suci dengan bantuan dari pihak bawahan Kaisar Langit...,"
Setelah berhasil keluar dari Alam Suci, baru Maharaja Yaksa mengetahui Xue Jing Hao telah hamil muda yang bukan karenanya. Sebelum memenggal Xue Jing Hao yang telah berselingkuh, Maharaja Yaksa membaca ingatannya dan mengetahui siapa selingkuhan selirnya.
Seketika hari itu juga Xue Jing Hao dipenggal beserta anaknya yang masih dikandung. Lalu memenjarakan jiwa Xue Jing Hao untuk diperbudak selama-lamanya di cawan siksaan petir. Bahkan seluruh keluarga besar Xue Jing Hao juga di musnahkan oleh Maharaja Yaksa.
Mengetahui jika kekasihnya gelapnya dibunuh dan jiwanya disiksa, Lei Li-Liang berniat untuk melepaskan kekasihnya. Namun, sebelum itu, Lei Li-Liang memperkuat kekuatan hingga mampu melepaskan Xue Jing Hao.
Lei Li-Liang yang ingin dengan cepat menjadi kuat, dia banyak membunuh kehidupan di galaksi lain dan menyerap kekuatan korbannya. Setelah itu dia tidak berhenti, Dewa Petir mengekstrak galaksi yang telah dia bunuh semua penghuninya.
Perbuatan diketahui oleh Maharaja Yaksa, sebab sasaran Dewa Petir adalah bawahannya yang berada di luar Alam Suci. Singkat cerita, pasukan khusus Kerajaan Yaksa pun memburu Dewa Petir. Setelah pertarungan sengit dan berlangsung berhari-hari lamanya, maka Dewi Petir pun dikalahkan oleh pasukan khusus Kerajaan Yaksa.
Lei Li-Liang pun dibawa kembali ke Alam Suci. Maharaja Yaksa yang sangat marah segera membunuh Dewa Petir dihadapan keluarga besar Lei dan juga dilihat banyak penduduk.
Tidak berhenti disitu, Maharaja Yaksa juga membunuh semua keluarga besar Lei. Lalu, Maharaja Yaksa yang masih belum puas melampiaskan kemarahannya, dia memenjarakan Dewa Petir bersama dengan Xue Jing Hao.
Namun, Kaisar Langit ikut campur dan meredam kemarahan Maharaja Yaksa. Kemudian, Dewa Petir disumpah agar menebus segala kesalahannya dengan mengabdi kepada Alam Semesta. Tapi, sebagai gantinya, jiwa Xue Jing Hao dimusnahkan untuk selamanya, agar Kecantikannya tidak lagi memicu kekacuan.
Kaisar Langit turun tangan, dikarenakan Maharaja Yaksa juga telah banyak membunuh kehidupan demi melampiaskan kemarahannya, dan dianggapnya telah impas dengan perbuat Dewa Petir.
"... Beruntung Kaisar Langit turun tangan, sehingga aku bisa bertemu denganmu, Dewa Binatang! Inilah tugasku saat ini, mencatat informasi apapun yang terjadi di Alam Jagat Raya, mendapatkan tugas dari Kaisar Langit dan banyak lagi lainnya yang harus aku jalani."
Tian Zhi merenung tentang kisah Dewa Petir, dari semua yang diceritakannya, tidak ada indikasi bahwa dia berbohong. Tapi, ada satu hal yang mengganjal pikirannya, dimana keluarga besar Lei yang telah dimusnahkan masih ada Lei Feng Ziran dan keturunannya.
"Kata Anda, jika Maharaja Yaksa memusnahkan keluarga besar Lei, kenapa masih ada Lei Feng Ziran?" tanyanya kepada Dewa Petir.
"Semua juga berkat bawahan Kaisar Langit yang membantuku untuk kabur dari Alam Suci. Beliau menyelamatkan beberapa generasi muda sebelum dimusnahkan oleh Yang Mulia Maharaja Yaksa."
Tian Zhi mengangguk paham, masih saja dia bertanya, "apakah Anda tidak mendengar penyebab bencana Petir Semesta terjadi?"
"Humph!! Sedikit... Di Alam Suci, bencana Petir Semesta dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang belum terpecahkan hingga saat ini. Orang hanya tahu sang penyelamat bencana Petir Semesta, beliau adalah Kakek Excel, dari marga Zhi."
Ya, bencana Petir Semesta menjadi ilmu pengetahuan, sebab kemunculannya penuh misteri, dan juga desas-desus akan datang lagi menjadi perdebatan bagi para penguasa. Hingga saat ini, banyak orang yang masih menyelidiki bencana tersebut, tujuannya agar tidak terjadi lagi di Alam Jagat Raya.
"Terima kasih telah menceritakan kisah kelam Anda, Dewa Petir. Kita kembali ke topik utama. Sejujurnya, ke-tiga Kitab Asal Muasal Alam Semesta, saya tidak mengetahui keberadaannya. Tapi, ada desas-desus berada di Alam Keabadian. Kebetulan saya akan kesana lagi. Jadi, senjata Lightning God Sword akan aku pinjam untuk melawan orang yang membawanya. Sedangkan untuk ke-dua patung ku, tetap aku bawa. Apakah boleh?"
Dewa Petir terdiam sejenak untuk memikirkan permintaan Tian Zhi. Setelah beberapa saat, dia berkata, "boleh. Aku akan pinjamkan selama Anda mencari ke-tiga kitab tersebut. Akan menjadi milik Anda, setelah berhasil mengambilnya." jawab Dewa Petir.
Kemudian, Tian Zhi dengan senang hati menerima tugas ini, lalu dia mengeluarkan Kitab Asal Muasal Alam Semesta yang telah dia dapatkan. Tian Zhi memberikannya kepada Dewa Petir.
Sebaliknya, Dewa Petir mengendalikan Lightning God Sword dan memasukkan kedalam tangan kanan Tian Zhi. Setelah negosiasi sukses, Dewa Petir mengembalikan Tian Zhi ke Alam Mahadewa, tepatnya di puncak Gunung Lengshan.