Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 210. Pelabuhan Jalur Sutra.


Chapter 210. Pelabuhan Jalur Sutra.


Dewa Surya dan Dewa Air akhirnya keluar dari dalam lingkaran petir dan lolos dari serangan gabungan, tubuh mereka berdua yang dipenuhi luka dan segera kabur sebelum diserang kembali oleh He Hua bersama pasukannya.


Dewa Surya dan Dewa Air tidak mungkin melawan mereka dengan kondisi tubuh yang mengenaskan setelah tersambar petir ratusan kali. Mereka berdua dengan cepat menghilang dari pandangan mata.


"Jangan dikejar, nanti kita akan buat perhitungan!" cegah He Hua sebelum ketiga jenderalnya mengejar Dewa Surya dan Dewa Air.


"Kalian semua pergi dari sini" hardik Zhu Rong kepada semua orang yang masih ingin mendapatkan harta dari kemunculan badai petir.


Dengan berat hati mereka buru-buru meninggalkan wilayah Kekaisaran Song, semua orang jelas tidak ingin berhadapan dengan pasukan binatang dan Pasukan Phoenix.


Guang Liem dan keluarga melongo melihat kemarahan pasukan Kaisar Tian, dimana dua kekuatan Sang Void dibuat lari terbirit-birit.


"Jadi munculnya Api Suci Petir Asyura karena memang Kaisar Tian!" gumam Guang Zhou yang akhirnya tahu siapa yang membuat putra mahkota pertama lari dari badai petir waktu itu.


"Aku kira dia ahli meramal cuaca!" sahut Guang Liem dan tersenyum saat tahu telah dibohongi oleh Tian Zhi, akhirnya dia tahu niat baik Tian Zhi dengan mengalahkan pasukan putra mahkota pertama.


"Sudah dua kali Kaisar Tian membantu kita. Liem'er, aku harap kamu jangan melupakan kebaikannya. Alangkah baiknya kamu lebih agresif dalam mendekati Kaisar Tian!" tutur Guang Liang dan berharap putrinya menjadi pasangan Dao Kaisar Tian.


Guang Liem tersipu malu dan memukul lengan ayahnya. Guang Liang tertawa melihat perilaku putrinya seperti gadis yang baru jatuh cinta.


Sedangkan Tian Zhi telah kembali duduk bersila setelah Dewa Surya dan Dewa Air meninggalkan wilayah Kekaisaran Song. Dia membuang perasaan emosi agar tidak gagal saat menyerap Raja Api Kemarahan Asyura.


Dahinya kembali mengeluarkan cahaya dan menyelimuti Raja Api Kemarahan Asyura yang telah terbentuk sempurna menjadi bunga anggrek bulan, ditengah bunga anggrek terlihat anak kecil yang sedang menatap Tian Zhi.


"Kamu ingin menyerap ku?" tanya anak kecil itu yang merupakan perwujudan dari Raja Api Kemarahan Asyura.


Tian Zhi sedikit terkejut saat tahu jika Raja Api Kemarahan Asyura bisa berinteraksi, ini seperti Api Surgawi yang memiliki kesadaran.


"Benar. Kamu jangan takut, Api Suci Petir Asyura akan membimbing mu!" jawab Tian Zhi untuk meyakinkannya.


"Karena Anda yang pertama kali aku lihat, maka harus menjadi orang tuaku! Baiklah serap aku, aku sudah tidak sabar ingin menghancurkan orang tadi!" pinta Raja Api Kemarahan Asyura, dia juga melihat Dewa Surya dan Dewa Air menyerang Tian Zhi.


Kembali Tian Zhi fokus menyerap Raja Api Kemarahan Asyura. Dengan dukungan dari garis darah Kasta Kaisar, Tian Zhi tidak kesulitan menyerap Raja Api Kemarahan Asyura. Setelah menyatu, Tian Zhi tidak mendapatkan peningkatan kekuatan, sebab peringkat Raja Api Kemarahan Asyura berada dibawah Api Suci Petir Asyura.


Cuaca kembali menjadi cerah setelah Tian Zhi menyerapnya, dia segera keluar dari lubang, lalu melihat semua wanitanya bersama pasukan binatang berjaga-jaga di luar lingkaran petir yang telah menghilang.


Semua wanita segera mengucapkan selamat akan keberhasilannya mendapatkan Raja Api Kemarahan Asyura. Namun Tian Zhi mengatakan jika tidak ada peningkatan kekuatan setelah menyerapnya.


"Tidak masalah, itu juga bagus bagi masa depanmu," kata He Hua.


"Lalu bagaimana dengan mereka yang menyerang mu?" tanya Zhu Rong yang memendam amarahnya.


"Kita hancurkan perekonomian mereka agar rakyat kembali, melemahnya finansial akan mengakibatkan mereka hancur dengan sendirinya. Kalian tahu apa yang harus dilakukan!" jawab Tian Zhi.


He Hua dan semua istrinya mengangguk paham. Tian Zhi akan membuat banyak pil dan senjata, lalu menjual lebih murah dari harga normal, dengan begitu, rakyat dan kultivator akan kembali. Di pihak Kekaisaran Qing dan Kerajaan Air jelas akan mengalami dampaknya, dimana penjualan mereka jelas menurun drastis.


"Kita kembali ke istana untuk membahas semua ini!" ajak He Hua yang tidak ingin ada mata-mata yang menguping jika membahas hal penting diluar.


Segera mereka kembali ke istana. Sesampainya di istana, He Hua meminta Keluarga Besar Guang untuk memborong semua jenis ramuan dan material tambang untuk membuat persenjataan.


Kemudian, He Hua menjadikan Guang Liem wakilnya dan tetap menjadi permaisuri. Lalu Tian Zhi menurunkan status kekaisaran menjadi kerajaan, dan diberi nama Kerajaan Guang yang berada dibawah naungan Kekaisaran Api Asyura.


Tian Zhi menurunkan status kekaisaran menjadi kerajaan dikarenakan banyak faktor penyebabnya; finansial yang lemah, jumlah penduduk yang kurang, pasukan yang tidak memenuhi syarat dan masih banyak lagi.


Guang Liem beserta keluarganya tidak memprotes kebijakan Tian Zhi, sebab status kekaisaran sangat berat untuk ditanggung, dan status menjadi kerajaan saja sudah lebih dari cukup.


"Yang Mulia, Guang Liem seorang janda dan akan menjadi pergunjingan banyak orang jik--"


Tian Zhi mengangkat tangan agar Guang Liang tidak meneruskan ucapannya, karena dia sudah tahu maksudnya.


"Aku akan menikahi Guang Liem bersama Jian Nuwa dan yang lainnya. Tapi, setelah situasi normal!" ucap Tian Zhi dengan tegas.


"Sudah 14 permaisuri, termasuk Guang Liem. Batas mu tinggal satu! Siapa yang satunya?" sahut He Hua yang mengingatkan janji Tian Zhi waktu itu.


Tian Zhi tersenyum, lalu menjawab, "permaisuri maupun selir hanya status, intinya tetapi sama, sama-sama istriku. Dan, aku akan memperlakukan semuanya dengan adil."


"Tapi, aku akan tetap menjadi Ratu utama!" ucap He Hua dengan tegas, dia tidak ingin sama seperti yang lainnya.


"Tentu!" kata Tian Zhi dan mengeluarkan cincin dimensi yang berisi keping emas dan Batu Roh, "ini biaya untuk membeli ramuan dan bahan meterial pembuatan senjata. Gunakan dengan bijak. Untuk yang lainnya, biarkan Ratu ku yang mengurusnya." Lanjutnya, lalu memberikan cincin dimensi kepada Guang Liem yang duduk di sisinya.


He Hua tersenyum puas dengan ucapan Tian Zhi yang menyebutnya dengan sebutan Ratu, dengan begini dia tidak lagi khawatir dengan banyaknya wanita yang menjadi pasangan Dao. Sedangkan Guang Liem dengan senang hati menerima cincin dimensi.


"Aku serahkan semua kepadamu," pinta Tian Zhi kepada He Hua, dia segera beranjak dari singgasananya dan diikuti oleh semua orang yang berdiri dan mengucapkan salam.


"Aku akan menuju ke Kekaisaran Qing dan Kerajaan Air untuk menyelidiki bisnis mereka serta kekuatan pasukannya," kata Tian Zhi kepada semua orang.


"Yang Mulia, biarkan kami yang mendampingi Anda!" pinta Mey bersaudari yang tidak mau meninggalkan Tian Zhi, sebab tugas mereka selalu melindunginya.


"Tidak perlu, tenaga kalian masih dibutuhkan disini. Aku tidak akan lama!" tolak Tian Zhi, namun dia terdiam sejenak saat berpikir, "kita perlu merebut wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh putra mahkota pertama. Jadi, aku hanya akan membawa Jendral Sun dan pasukannya. Kalian segera ambil ahli kota lainnya selama aku menyelidiki kekuatan lawan." Lanjutnya dengan membuat pengaturan sebelum pergi


Dengan senang hati Sun Yao keluar dari istana untuk memasukkan pasukannya ke dalam kantong spasial.


"Kamu jangan memikirkan yang ada disini, aku sudah memikirkannya. Yang terpenting kamu jaga diri baik-baik!" pesan He Hua dengan nada lembut. Tian Zhi mengangguk mengerti dan berpamitan dengan semua istri serta Keluarga Besar Guang.


Akhirnya semua wanita mengijinkan Tian Zhi untuk menyelidiki kekuatan musuhnya, dan memang perlu untuk mengetahui kelemahan lawan dan jumlah kekuatannya sebelum bertindak.


Tian Zhi segera terbang bersama Sun Yao dengan sangat cepat menuju ke wilayah Kekaisaran Qing, tanpa membawa kapal angkasa dan Pasukan Phoenix.


Semua wanita melihat kepergiannya dan berharap kembali dalam keadaan sehat. Mereka semua kembali ke dalam istana setelah Tian Zhi menghilang dari pandangan.


Dengan kekuatan Sang Void, Tian Zhi dengan cepat tiba di wilayah perbatasan milik Kekaisaran Qing. Perbatasan antara dua kekaisaran dipisahkan oleh lautan dan melihat pelabuhan milik Kekaisaran Song tampak telah dikuasai oleh Kerajaan Air.


Pelabuhan itu sangat penting bagi lalu lintas pedagang antar wilayah. Sayangnya, setelah kekalahan Kaisar Song, Dewa Air segera memobilisasi pasukan untuk menguasainya.


"Dengan kekuatan Keluarga Besar Guang saat ini, pantas mereka kehilangan banyak tempat strategis. Butuh waktu lama untuk memulihkan kondisi Kerajaan Guang," gumam Tian Zhi sambil mengamati aktivitas di pelabuhan, Pelabuhan Jalur Sutra atau dikenal dengan Kota Jalur Sutra.


"Ya, mereka merasa mampu, tapi nyatanya tidak sesuai harapan!" sahut Sun Yao yang ikut mengamati Pelabuhan Jalur Sutra.


Dengan finansial terbatas dan memiliki dukungan yang tamak, Keluarga Besar Guang jelas tidak mungkin mampu menguasai wilayah yang telah dikuasai oleh putra mahkota pertama, yang didukung oleh Dewa Surya dan Dewa Air.


"Paman, Pelabuhan Jalur Sutra sangat penting bagi lalu lintas perdagangan. Anda akan berada di sini untuk menjaganya. Dengan kekuatan Paman, aku yakin Dewa Air dan pasukan tidak akan berani mengusik, apalagi mereka berdua terluka setelah terkena sambaran petir berkali-kali!" pinta Tian Zhi.


"Hahaha! Percayalah kepada hamba, Yang Mulia!" jawab Sun Yao yang senang dipuji.


"Bagus. Kalau begitu, aku akan pergi dulu." Pamit Tian Zhi dan segera terbang menuju ke pelabuhan milik Kekaisaran Qing.


Sun Yao segera mengeluarkan pasukan Kera untuk menguasai Kota Jalur Sutra, dia sendiri hanya akan mengawasi dan bertindak jika lawannya melebihi kekuatan pasukan Kera.


Kedatangan ribuan kera jelas membuat penduduk Kota Jalur Sutra dan pasukan Kerajaan Air menjadi panik. Dimana pasukan Kera berlari dengan cepat, setiap kali bergerak akan selalu membantai pasukan Kerajaan Air.


"Dimana Dewa Air, suruh dia datang atau aku yang akan mendatangi Kerajaan Air!" teriakan Sun Yao sambil berjalan santai melihat pasukannya membantai lawan.


Mendengar pemimpin kera menantang Dewa Air, perwira berpangkat rendah dari Kerajaan Air segera kabur dengan menceburkan dirinya ke laut, dia jelas tidak berani melawan Sun Yao yang mengeluarkan basis kultivasi tingkat Sang Void. Perwira berpangkat rendah itu segera melaporkan kepada jenderalnya, Jenderal Laut Selatan.


Namun, Jenderal Laut Selatan yang mengetahui lawannya setingkat Sang Void jelas tidak berani melawannya, apalagi pasukan Kera yang memiliki rata-rata setingkat Dewa Absolute jelas bukan tandingan pasukan Kerajaan Air.


Jenderal Laut Selatan segera menuju ke istana Kerajaan Air untuk memberikan laporan kepada Dewa Air. Sayangnya, Dewa Air tidak ada di istana.


Sedangkan penduduk Kota Jalur Sutra yang awalnya ketakutan dengan pasukan Kera menjadi lega saat Sun Yao menantang penguasa Kerajaan Air. Para penduduk ikut membantu pasukan Kera mengalahkan pasukan Kerajaan Air.


"Wilayah Kota Jalur Sutra mulai saat ini dikuasai oleh Kerajaan Guang yang dibawah naungan Kekaisaran Api Asyura...," kata Sun Yao saat dia berdiri di Balai Kota Jalur Sutra kepada semua penduduk, dia menceritakan tentang kehebatan Kaisar Tian yang mengalahkan Kaisar Song, Song Shen, Dewa Surya dan Dewa Air.


Sun Yao sengaja menceritakan kehebatan Kaisar Tian untuk meyakinkan penduduk Kota Jalur Sutra agar selalu setia terhadap kekuasaan Kerajaan Guang, dia juga menjamin keselamatan dan kesejahteraan rakyat yang mau menetap di ibukota.