Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 207. Peperangan Di Pintu Gerbang Selatan (1).


Chapter 207. Peperangan Di Pintu Gerbang Selatan (1).


He Hua menemui Tian Zhi yang berada di dalam kamar pribadi setelah berdiskusi. Namun, melihat Tian Zhi masih bermeditasi, dia mengurungkan niatnya untuk melaporkan hasil diskusi.


Sebelum He Hua keluar dari kamar, Tian Zhi membuka matanya. "Apakah sudah selesai berdiskusi?" tanyanya.


He Hua membalikkan badan dan tersenyum, lalu menghampiri lalu dia duduk disampingnya. "Sudah. Langkah tercepat dan tidak memakan banyak waktu, kamu harus mendukung Guang Liem agar menjadi ratu. Tapi, kamu harus membuat perjanjian agar pihak Keluarga Guang tidak intervensi dalam kepemimpinannya...," jawabnya dan membahas poin-poin penting dalam diskusi.


Poin pertama, menjadikan Guang Liem sebagai seorang ratu dengan Tian Zhi yang mengendalikannya. Kedua, menaklukkan para pemimpin yang berpotensi membahayakan kekaisaran, seperti Pang Yong dan jajarannya.


Setelah mendengar semua hasil diskusi, Tian Zhi pun menyetujuinya tanpa berpikir ulang, lalu dia mengajak He Hua untuk berkultivasi ganda. Tian Zhi ingin sesegera mungkin meningkatkan kekuatan agar tidak terlalu tergantung dengan ketiga jenderalnya yang lebih kuat.


He Hua dengan senang hati memenuhi keinginan suaminya dengan membaringkan badan. Tian Zhi melepaskan pakaiannya, lalu menunduk perlahan mencium bibir He Hua.


He Hua menyambut ciumannya dengan melingkarkan kedua tangan di lehernya. Tangan kanan Tian Zhi mengarah ke buah kenyal He Hua dan langsung memainkan bijinya yang telah mengacung tegang.


Tian Zhi melepas bibirnya dan mulai menciumi telinga dan terus ke leher jenjang He Hua. Telinga dan leher merupakan salah satu dari sekian banyak titik sensitif di tubuh He Hua, dia mulai melenguh menikmati ulah suaminya, biji buah kenyalnya semakin mengeras karena terus diplintir Tian Zhi.


“oh .…” lenguhan panjang He Hua saat tangan kiri Tian Zhi telah menyentuh bibir guanya.


“Kenapa? Udah gak tahan ya, pengen dilanjut…,” kata Tian Zhi sambil tersenyum dan menggoda bibir guanya yang telah basah.


He Hua terengah-engah tanpa sempat berbicara.


"Ini yang membuat aku ketagihan...,” imbuhnya, sambil lidahnya memainkan biji buah kenyal sebelah kiri He Hua.


Sambil menikmati permainan suaminya, He Hua juga tidak tinggal diam, dia melepaskan pakaian Tian Zhi dengan tergesa-gesa. Setelah pakaian Tian Zhi terlepas, He Hua meraih tongkatnya yang telah berdiri kokoh.


"Sayang, sudah keras sekali, cepat masukan!" pinta He Hua dengan manja, dia tidak sanggup Tian Zhi terus-menerus memainkan dua jari di dalam lembah surganya.


“Nikmat saja!" jawab Tian Zhi yang sengaja ingin membuat He Hua memohon.


"Hmm!!" lenguhan lembut keluar dari mulut He Hua saat tubuhnya bergetar tanda telah mencapai puncak kenikmatan.


“Ohh... Sstt ...!!” He Hua kembali keenakan ketika Tian Zhi memainkan bibir guanya dengan lidah.


“Oo ... Oh! Uu... Uuh!” suara He Hua makin keras sambil menekan kepala Tian Zhi agar tidak menjauhi guanya.


"Sayang, aku sudah gak tahan!!" mohon He Hua yang ingin sekali tongkat suaminya menghajar lembah surga.


Akhirnya Tian Zhi yang mendengar permohonan He Hua segera menghentikan permainan lidahnya. Lalu kedua kaki He Hua dibuka lebar oleh Tian Zhi, kemudian dia menempatkan posisinya dengan kepala tongkat menyentuh bibir He Hua.


“Aduh!! Penuh!!” seruan He Hua, ketika seluruh tongkat memenuhi rahimnya.


He Hua pun semakin tidak karuan saat Tian Zhi menggerakkan pinggulnya maju mundur. Tian Zhi merasakan tongkatnya terjepit dinding rahim ketika He Hua mencapai puncak.


"Tunggu... Tunggu, biarkan aku istirahat dulu!" rengek He Hua yang ingin menikmati sensasi kenikmatan.


Namun, Tian Zhi tidak menuruti permintaan He Hua, dia tetap terus memajukan mundur pinggulnya, hingga suara benturan daging dan air sangat keras. He Hua tak henti-hentinya bersuara merdu ketika merasakan nikmat.


Tiba-tiba tubuh He Hua menggigil keras dan digoyang - goyangkan pantatnya mengikuti permainan Tian Zhi, lalu dibarengi dengan pekikan ketika guanya menyemburkan air surga yang sangat banyak.


Suara He Hua terdengar banyak wanita sehingga Meyleen dan yang lainnya masuk ke kamar Tian Zhi. Mereka melihat He Hua sedang dihajar oleh Tian Zhi dengan ganas.


Tian Zhi tersenyum melihat istrinya yang telah menanggalkan pakaian, lalu dia menarik tongkatnya dari rahim He Hua. He Hua bernafas lega dan memberikan tanda kepada saudarinya untuk melayani Tian Zhi.


Tian Zhi juga menghajar rahim Jian Nuwa dan seluruh anggotanya yang berasal dari Perguruan Phoenix Surga...


Tian Zhi menyelesaikan kultivasi ganda setelah lima belas hari, kekuatannya meningkat dengan cepat ketika mendapatkan banyak Energi Yin murni dari Pasukan Phoenix. Dimana setiap dua ratus wanita yang masih suci, Tian Zhi meningkatkan kekuatannya sebanyak satu level, dia berhenti saat melihat situasi di luar cincin dimensi.


Semua kekuatan wanitanya juga meningkat drastis akibat menerima Energi Yang milik Tian Zhi, dan membuat mereka sibuk menyerap Energi Yang.


"Semakin kuat, aku membutuhkan banyak wanita yang masih suci jika ingin cepat naik level!" batin Tian Zhi setelah membuat Shang Mei tergolek lemas.


Lalu Tian Zhi kembali melihat keluar cincin dimensi yang masih berada di atas istana Kekaisaran Song, dia melihat putra mahkota pertama mendapatkan bantuan dari Dewa Surya yang mengirimkan sepuluh ribu prajurit dan satu Perwira Tinggi.


Perwira Tinggi itu memiliki kekuatan Dewa Absolute level 80 dan rata-rata prajuritnya memiliki kekuatan tingkat Sang Mahadewa.


Guang Liem sangat gelisah dengan berjalan mondar-mandir di depan singgasana, dia berharap Tian Zhi segera membantunya sekali lagi, sebab kekuatan pasukan Dewa Surya tidak bisa dianggap remeh.


Selain kekuatan bala bantuan musuh, Guang Liem juga tertekan dengan banyaknya rakyat yang memilih untuk pergi dari wilayahnya. Semua rakyat mencari perlindungan diri dengan menuju ke wilayah Kekaisaran Qing.


"Benar-benar licik!" geram Guang Liem kepada pemimpin Sekte Teratai Api yang memprovokasi pendukungnya agar tidak berperang dengan pasukan putra mahkota.


"Sumber daya kita mulai menipis karena memobilisasi pasukan dan menyewa kultivator... Ayah, apakah tidak ada solusi?" tanya Guang Liem yang telah putus asa.


Pemberian dari Tian Zhi telah berkurang banyak akibat membayar upah bagi kultivator sewaan dan juga membiayai pendukungnya, jika terus-menerus seperti ini, maka bisa dipastikan Kekaisaran Song akan bangkrut.


Guang Liang menghela nafas berat, dia telah kehabisan ide untuk mempertahankan kekuasaan putrinya, dia baru menyadari jika para pendukung hanya menguras sumber daya kekaisaran, dan semua ini berawal menolak keinginan pemimpin Sekte Teratai Api.


Satu-satunya harapan hanya kepada Kaisar Tian, namun keberadaannya tidak diketemukan di Alam Mahadewa. Guang Liang dan keluarga besarnya sudah mendatangi Benua Dewa untuk menemui Kaisar Tian, tapi High King Kaili mengatakan jika Kaisar Tian masih berada di Alam Mahadewa.


"Ini dilema...!" jawab Guang Liang yang enggan meneruskan ucapannya.


"Lebih baik kita lepaskan kekaisaran dan aku tidak mau menikahi Pang Heng!" sahut Guang Liem yang tahu maksud perkataan ayahnya.


Guang Liang ingin putrinya untuk menikahi Pang Heng agar bisa mempertahankan Kekaisaran Song, namun di sisi lain, dia khawatir dengan Kaisar Tian yang mungkin tiba-tiba datang, lalu menuntut pertanggung jawabannya setelah diberikan banyak sumber daya.


Suasana istana menjadi hening, dimana setiap orang penting sedang mencari solusi untuk mempertahankan kekuasaan.


Boom... Boom...


Semua orang yang berada di istana kaget saat mendengar suara ledakan energi pertempuran dan melihat ke arah pintu gerbang Selatan, dimana asap tebal membumbung tinggi.


"Berjuang sampai titik darah penghabisan!" tekad Guang Liem yang lebih memilih mati dalam pertempuran daripada menyerah.


"Benar. Menyerah sama saja mempermalukan kita dan akan menghancurkan harga diri Keluarga Besar Guang!" dukung Guang Liang yang akhirnya memilih berperang.


Kemudian, Guang Liem segera keluar dari istana dan diikuti oleh Guang Liang serta Keluarga Besar Guang...


Tian Zhi tersenyum melihat apa yang terjadi, dia segera menggerakkan cincin dimensi untuk keluar dari wilayah ibukota. Tian Zhi melihat pasukan lawan yang terfokus pada pintu gerbang Selatan, secara bergantian mereka menghancurkan pintu gerbang.


Setelah jauh dari musuhnya, atau tepatnya berada di belakang lawan, Tian Zhi segera menyiapkan Pasukan Phoenix yang dipimpin langsung oleh Meyleen yang didukung oleh Jian Nuwa. Total keseluruhan Pasukan Phoenix mencapai dua belas ribu prajurit.


Tian Zhi juga menyiapkan ketiga jenderal pasukan binatang, lalu mengeluarkan semua orang dari cincin dimensi setelah keadaan aman dari pandangan lawan.


"Sesuai rencana, Paman Sun Yao dan pasukan Kera sisi kiri, Paman Hei Bao sisi kanan dan Paman Ma Xiu hancurkan barisan lawan dari belakang. Pasukan Phoenix akan berada di belakang Paman Ma Xiu...," Tian Zhi kembali mengatur strategi agar sesuai rencana.


Segera Sun Yao dan pasukan Kera kegirangan dan bergerak sesuai rencana, lalu Hei Bao juga bergerak menuju ke sisi kanan dari tenda utama milik putra mahkota pertama.


Ma Xiu juga bergerak bersama pasukan Badak Unicorn yang ditunggangi oleh Pasukan Phoenix. Sedangkan Meyleen, Zhu Rong dan Shan bersaudari menunggangi Naga Bumi, lalu Jian Nuwa menunggangi Macan Putih.


Mu Bingyun, Li Jiancheng, Ling Ling, Ling Xuan dan sepuluh wanita berada di Kapal Angkasa Kaisar Api Asyura. Tian Zhi sendiri berada di ujung kapal angkasa bersama He Hua dan Yu Bao. Dibelakangnya ada Mey bersaudari yang selalu setia menjadi pengawal, walaupun statusnya telah menjadi selir.


Sedangkan Permaisuri Guang Liem bersama keluarga besarnya keluar dari pintu gerbang Selatan, lalu diikuti oleh pasukannya yang setia. Walaupun tahu hasilnya akan kalah, Guang Liem bertekad melawan dan memfokuskan untuk menyerang Song Shen.


Jika Song Shen dikalahkan, secara otomatis pasukannya akan tercerai-berai, termasuk pasukan dari Kekaisaran Qing. Namun, itu tidaklah mudah, sebab putra mahkota dilindungi oleh Perwira Tinggi Kekaisaran Qing dan juga Wali Pelindung.


Song Shen tersenyum melihat musuhnya lebih memilih menyerang secara terang-terangan, dia melihat Perwira Tinggi untuk segera memobilisasi pasukannya.


Perwira Tinggi mengangguk paham, lalu dia bergerak bersama pasukannya untuk segera mengalahkan Permaisuri Guang Liem...


"Kau memilih yang sulit, inilah akibatnya," kata Song Shen saat melihat Permaisuri Guang Liem terkepung saat merangsek maju untuk mendekatinya.


Boom... Boom...


Guang Liang dan Guang Zhou berada di barisan depan untuk memberikan jalan pasukannya, namun pasukan musuh yang lebih banyak tidak memberikan kesempatan.


"Lebih baik menyerah sebelum aku pasukan ku membantai kalian!" peringatan Perwira Tinggi saat merangsek maju bersama pasukannya.


"Kita bunuh dia terlebih dahulu!" ajak Guang Liang kepada Guang Zhou.


Swosh... Swosh...


Mereka berdua segera melesat ke depan dengan terbang menuju Perwira Tinggi yang paling kuat.


Perwira Tinggi menyeringai melihat dia menjadi target. "Serang Permaisuri Guang Liem, biarkan aku melawan mereka!" perintahnya kepada pasukan.


Boom...


Perwira Tinggi menghunuskan tombaknya yang dipenuhi energi spiritual, hingga ledakan hebat terdengar keras ketika Guang Liang dan Guang Zhou juga melepaskan serangan jarak jauh dengan senjata pedang.