Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 85.


Chapter 85. Api Suci Petir Asyura.


Saat berada di bawah kaki gunung, Tian Zhi dan Yu Bao terkejut melihat banyak kereta laba-laba naik ke Gunung Mahadewi, terutama Yu Bao yang sangat panik dan memohon Tian Zhi segera menyelamatkan anggotanya, jumlah musuh yang sangat banyak tidak pernah terjadi selama ini, sebab itu Yu Bao menjadi panik.


Tian Zhi mengeluarkan senjata panah andalannya dan mengalirkan Petir Surgawi sembilan warna yang membentuk sepuluh anak panah, dia mengalirkan elemen petir yang cukup untuk melumpuhkan musuhnya.


Kemudian Tian Zhi membidik sepuluh kereta laba-laba. Siulan anak panah serta diiringi petir melesat dengan sangat cepat saat dilepaskan dari tapi busur dan...


Cedar... Cedar...


Suara petir menyambar kereta laba-laba dan membuat prajurit yang berada di dalam mengeliat tersengat petir, apalagi kereta laba-laba yang terbuat dari baja menambah daya serangan petir.


Suara badai salju dan lebat sangat menguntungkan Tian Zhi dalam beraksi, sehingga tidak bisa dilihat oleh prajurit dan para pengawal Ratu Siluman. Biarpun diuntungkan dengan cuaca, Tian Zhi tetap menjaga jarak dan menyerang dari jarak jauh.


Sambil berubah menjadi udara dan menyatukan diri dengan badai salju, Tian Zhi melepaskan anak panahnya tanpa henti, dan membuat kepanikan para prajurit siluman.


Tian Zhi mengikuti pusaran badai salju yang mengelilingi Gunung Mahadewi.


Suara petir bercampur badai salju selalu menggelegar dan setiap sambaran mengenai targetnya. Para pengawal dan prajurit mengira jika badai salju telah berevolusi menjadi dua kombinasi, yaitu badai salju petir. Badai yang pernah terjadi di Gunung Mahadewi.


"Sialan?! Apa muncul lagi badai salju petir!" umpat Yao Xiao yang teringat tentang sejarah Gunung Mahadewi, "cepat segera turun dan berlindung!" lanjutnya dengan memberikan perintah kepada para prajurit.


Yao Xiao mengendalikan kereta laba-laba dengan meluncur kebawah untuk menghindari serangan badai salju petir.


Tidak hanya Yao Xiao saja yang turun gunung, tapi sembilan pengawal Ratu Siluman juga melakukan hal yang sama. Sebagian kereta laba-laba yang telah ditumbangkan Tian Zhi tidak dipedulikan oleh para pengawal Ratu Siluman.


-


Konon ceritanya dari para leluhur di Benua Permata Hitam, dulu memang pernah ada badai salju petir, kejadian sudah lewat jutaan tahun lalu, dan kejadian itu sebelum Gunung Mahadewi menjadi seperti saat ini.


Dulu, Gunung Mahadewi merupakan ladang bagi kultivator untuk mencari berbagai sumberdaya dan merupakan akses menuju wilayah Ras Manusia dan Ras Rubah tanpa harus melewati Lembah Samsara dan laut.


Saat itu, badai salju petir tiba-tiba melanda Benua Permata Hitam selama satu bulan lebih, tepatnya terjadi diatas Gunung Mahadewi. Terjadi badai salju petir karena doa Ras Manusia yang akan punah akibat perburuan yang dilakukan oleh tiga kerajaan.


Semenjak saat itu dan setelah badai salju petir menghilang, Gunung Mahadewi menjadi seperti saat ini, badai salju yang tidak pernah berhenti, dan menjadi seperti salju abadi.


Jalan satu-satunya menuju wilayah Ras Manusia harus melewati lautan yang berbahaya, sedangkan Gunung Mahadewi kini menjadi medan yang sulit dilalui, hanya Ras Rubah yang bisa hidup di Gunung Mahadewi.


-


Yu Bao melihat musuhnya turun gunung jelas bernafas lega dengan memeluk Lu Yueyin.


Tapi, berbeda dengan Tian Zhi dimana tubuhnya seakan-akan tercabik-cabik saat menyatu dengan pusaran badai salju, dia tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Tian Zhi akhirnya tahu kenapa tidak ada yang berani berlama-lama di Gunung Mahadewi.


Awalnya Tian Zhi baik-baik saja dan seperti Dewa Badai yang penuh amarah menghujani musuhnya dengan petir, namun lambat laun tubuhnya merasakan seperti tersayat pisau.


"Arghh...!!"


Teriakan Tian Zhi yang kesakitan saat kulitnya mengelupas dan teknik perubahan wujud ternyata tidak mampu memanipulasi badai salju, suaranya menggelegar seperti seseorang yang sedang mengamuk.


Yu Bao dan ketiga wanitanya jelas menjadi panik melihat kulit di lengan Tian Zhi tercabik-cabik badai salju dan keluarlah darah segar.


Anehnya, darah segar itu menyala dengan nyala Api Asyura dan dari tubuhnya juga mengeluarkan petir. Kini badan salju berganti menjadi badai Petir Api Asyura yang mengamuk, lebih ganas dari badai salju.


Gunung Mahadewi pun mencair dengan cepat dan menciptakan longsoran disertai banjir bandang. Dan juga badai Petir Api Asyura membentuk wajah berapi-api yang menyeramkan.


Sepuluh bawahan Ratu Siluman dan para prajurit dengan jelas melihat badai Petir Api Asyura yang berbentuk wajah, semua orang yang melihat bergidik ngeri dan semakin menjauhi Gunung Mahadewi dengan terbang, apalagi ada longsoran disertai banjir.


Banjir bandang mengalir ke segala arah memenuhi sungai dan lautan, membuat kepanikan penduduk yang berada dekat dengan kaki Gunung Mahadewi.


Dengan cepat Gunung Mahadewi menjadi terbakar dan suara petir terus menggelegar tanpa henti. Tian Zhi sudah tidak sadarkan diri karena tidak mampu menahan rasa sakitnya, beruntung seluruh tubuhnya tidak tercabik-cabik, menyisakan dada hingga pinggulnya masih terlindung baju jirah.


Waktu dua hari telah berlalu dan semua orang hanya melihat di kejauhan Gunung Mahadewi yang menjadi kobaran api dan petir menyambar. Namun di hari ketiga, api semakin panas dan merebak keluar wilayah Gunung Mahadewi, petir menyambar semakin gila dan membuat semua orang mengungsi.


Ratu Siluman yang memantau terus perubahan Gunung Mahadewi menjadi syok saat tahu api berwarna putih tulang disertai petir. Tidak hanya Ratu Siluman, tapi beberapa orang yang berpengetahuan mengenali jenis api apa itu.


"I-itu ... Itu Api Suci Petir Asyura!!" teriakan Ratu Siluman yang sangat ketakutan.


Api Suci Petir Asyura masuk peringkat sembilan dari dua belas jenis Api Asyura, kemunculan api jenis ini disebabkan kesedihan banyak jiwa-jiwa mahluk hidup yang teraniaya dan meminta keadilan.


Melalui tubuh lima elemen milik Tian Zhi lah kemarahan dan balas dendam dari semua kehidupan yang telah mati diluapkan dan berniat memusnahkan Benua Permata Hitam.


Tian Zhi jelas tidak mengetahuinya, dia telah pingsan dan tubuhnya dirasuki banyak jiwa-jiwa, dan memanfaatkan Api Suci Petir Asyura untuk membalaskan dendam mereka. Api semakin panas dan menyebar di seluruh Benua Permata hitam.


-


Di kejauhan empat sosok wanita bercadar melayang dan melihat kejadian di Gunung Mahadewi yang makin ganas dengan kobaran api. Diantara mereka bertengger Thunderbird di bahu wanita berbaju serba putih.


"Dewi, ini tidak baik! Benua ini bisa musnah karena kemarahan Api Suci Petir Asyura!" kata salah satu wanita bercadar berpakaian biru muda, dia tampak kuatir apa yang akan dialami Benua Permata Hitam.


"Yuke, jangan kuatir, kita lihat dulu, apa dia mampu mengendalikan emosi dan tubuhnya. Jika tidak, aku pasti turun tangan!" jawab wanita berbaju putih tanpa ada rasa kuatir.


Dia adalah Dewi Cahaya, sosok yang disegani oleh penghuni Benua Permata Hitam. Dua wanita lain yang menggunakan pakaian merah baru tiba di Benua Permata Hitam beberapa hari yang lalu.


Kedua wanita itu adalah He Hua dan Miao Jiang, murid pribadi dari Dewi Cahaya, sedangkan Yuke adalah tangan kanan dari Dewi Cahaya.


He Hua dan Miao Jiang yang kedatangannya seperti sinar memasuki Benua Permata Hitam, tidak diketahui siapapun. Saat itu, kebetulan Tian Zhi dan Yu Bao baru selesai menjarah Benteng Aliansi.


"Hmm! Dia selalu saja bikin sensasi baru!" gerutu He Hua yang melihat Tian Zhi dalam tiga hari ini bersama Miao Jiang.


Miao Jiang mengangguk pelan, sedangkan Dewi Cahaya tersenyum sambil melirik muridnya dan berbicara. "Walaupun basis kultivasinya rendah, apa kamu bisa melawannya saat dia menggunakan dua elemen ... Dan mungkin dia juga mampu menyerap elemen es Gunung Mahadewi, dengan tiga elemen nya, dia sudah selevel dengan tingkat Mahadewa!"


"Aiyoh! Jelas aku tidak mungkin mengalahkannya jika melawan ketiga elemen, dua elemen miliknya saja aku sudah kewalahan!" jawab He Hua seperti gadis kecil dihadapan Dewi Cahaya.


Tiga wanita tersenyum dan seperti biasanya, Miao Jiang menggoda. "Guru, Kakak Hua telah jatuh cinta kepada Tian Zhi, saat kekasihnya diserang dan mengira telah mati, dia selalu menangis selama berhari-hari!"


"Enak saja, siapa yang menangis untuk pria cabul seperti dia! Kamu yang telah jatuh cinta, lihat saja robekan pakaian Tian Zhi selalu kamu simpan dan sekali-kali kamu peluk!" sanggah He Hua dan membalas Miao Jiang.


He Hua jelas malu walaupun apa yang dikatakan Miao Jiang memang benar, saat mengira Tian Zhi telah mati dia menangis berhari-hari. Sedangkan Miao Jiang juga sama dengan selalu memeluk robekan kain dari pakaian milik Tian Zhi.


"Kalian tidak merasakan kesedihan ku yang telah dikutuk!" protes Annchi si Thunderbird dengan bertengger di bahu Dewi Cahaya, dia selalu mengeluh pada Yuke dan Dewi Cahaya akan nasibnya.


Keempat wanita itu malah tertawa dengan nasib tragis yang dialami Annchi...


-


Tian Zhi akhirnya membuka matanya, tubuhnya diselimuti api, kedua matanya mengeluarkan api hitam dan putih, sayap juga keluar dari punggungnya, dahinya keluar tanda trisula. Tian Zhi telah mengaktifkan garis darah Kasta Kaisar dan mengakibatkan Api Suci Petir Asyura semakin menjadi-jadi.


Petir menggelegar tanpa henti dan menyambar sekitarnya, jaraknya juga semakin meluas hingga mencapai wilayah tengah tiga kerajaan.


Semua orang dengan panik menjauh, hanya setingkat Dewa Perunggu keatas yang masih bertahan untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya pada Gunung Mahadewi yang tiba-tiba muncul sosok berapi-api.


Namun, disaat Tian Zhi mengangkat tangan kanan keatas, awan api putih tulang berdatangan dari segala penjuru dengan mengeluarkan petir, itu adalah Api Suci Petir Asyura yang berubah menjadi awan.


Awan panas semakin banyak hingga menutupi Benua Permata Hitam dan petir terus menggelegar. Kini kekuatan setingkat Dewa Perunggu keatas segera terbang menjauh, mereka terbang dengan panik dan kebingungan harus bersembunyi di mana.


"Ini tidak baik, cepat kerahkan semua anggota Siluman untuk berlindung di ruang bawah tanah!" perintah Ratu Siluman yang tidak mungkin melawan sosok berapi-api.


Dua raja dan para penguasa juga melakukan hal yang sama, mereka bersembunyi di ruang bawah tanah yang telah disiapkan untuk berlindung dari bencana seperti saat ini.


Hutan terbakar hebat, sungai dan lautan bergelora, banyak infrastruktur telah hancur terkena sambaran petir, tanah dipenuhi lubang akibat petir, sebagian sungai yang dekat dengan Gunung Mahadewi mulai mengering karena api.


Inilah keganasan Api Suci Petir Asyura yang melebihi Api Surgawi tingkat Kaisar.