
Chapter 279. Kematian Raja Xiang Dongjun.
Di pimpinan oleh Ketua ke-9, prajurit penjaga, penduduk dan banyak kultivator yang menahan serbuan mayat hidup yang akan melewati jembatan penghubung. Namun, mayat hidup jenis Fei Zong dan Zhe Zong harus dilawan diudara, sebab kedua jenis tersebut mampu terbang melewati sungai.
Mengetahui banyak mayat hidup jenis Luse Zong, Bai Zong dan Mao Zong yang terjatuh ke sungai dan tidak lagi bangkit, Ketua ke-9 segera memerintahkan semua orang untuk menggunakan air melawan mayat hidup.
Leluhur Xiang dan keturunannya melihat mayat hidup memiliki kelemahan yang lain. Leluhur Xiang segera memerintahkan orang yang mampu mengendalikan elemen air untuk membantu ketua ke-9.
Tian Zhi mendekati sungai sambil memeluk pinggang Jiang Chen Mei. Lalu dengan menggunakan Mata Langit, dia melihat dari tubuh mayat hidup yang tercebur ke sungai mengeluarkan cacing Gu, cacing beracun yang menginfeksi banyak kehidupan, seketika ribuan cacing Gu mati setelah terkena air.
Kemudian Zhi Shimo melihat kultivator yang terkena goresan kuku dan gigitan mayat hidup, ternyata dari kuku dan gigi mayat hidup mengeluarkan puluhan cacing Gu. Dalam sekejap kultivator tersebut berubah menjadi mayat hidup saat cacing Gu mengendalikan kepalanya.
Sebagian cacing Gu dengan cepat bertelur ketika bercampur dengan darah segar, lalu induknya memakan organ dalamnya dengan rakus. Akhirnya Tian Zhi mengetahui bagaimana proses korban menjadi mayat hidup dengan cepat, semua karena cacing Gu.
"Satu-satunya jalan mayat hidup agar bisa mati serempak, yaitu membunuh ratunya!" batin Tian Zhi yang menyimpulkan hasil penyelidikannya tentang mayat hidup.
Sedangkan Jiang Chen Mei melihat terus pasukannya yang tertahan di ujung jembatan, dimana pasukannya perlahan mulai berkurang.
"Mereka mengetahui kelemahannya, ini tidak baik jika tersebar luas di luar wilayah ini!" ucap Jiang Chen Mei yang terdengar gelisah.
"Tenang saja, malam ini Keluarga Besar Xiang akan menjadi sejarah!" sahut Tian Zhi.
Lalu Tian Zhi menggunakan elemen tanah untuk membuat kekacauan pada pihak lawan. Air sungai bergejolak dan membuat semua orang terkejut, lalu keluar tanah dari dasar sungai, tanah yang terangkat membentuk sepanjang jalur air sungai, sedangkan air sungai masuk kedalam celah-celah tanah yang terangkat.
Mayat hidup yang mendapatkan jalan, langsung bergerak seperti air tsunami dan membuat ketua ke-9 serta semua orang kewalahan menghadapi serbuan mayat hidup.
Leluhur Xiang segera mencari pelaku si pengendali elemen tanah sambil memberikan perintah kepada keturunannya, "bantu mereka, sebelum mayat hidup masuk ke area pemukiman penduduk!"
Segera petinggi Keluarga Besar Xiang bergegas untuk melawan banyaknya mayat hidup. Xiang Dongjun yang enggan melawan mayat hidup, dengan terpaksa mematuhi perintah leluhurnya.
Leluhur Xiang masih tidak menemukan pelaku pengendali elemen tanah, lalu dia terbang menuju pusat pertempuran, setelah sampai dia berkata kepada semua orang, "gunakan wujud asli kalian!"
Mendengar perintah, semua orang yang berasal dari Ras Asyura segera berubah wujud menjadi sejatinya, kini banyak orang yang memiliki dua pasang tangan dengan tubuh gempal dan tinggi, kulit tubuh berwarna merah seperti terbakar. Ada juga orang yang kekuatannya berada di tingkat Dewa Absolute memiliki tiga pasang tangan.
Boom...
Dengan ganas Ras Asyura menghancurkan kepala mayat hidup, ada yang langsung mencabik-cabik tubuh mayat hidup dan melemparkan ke udara. Ketika terlempar ke udara dan langsung disambar pukulan berenergi oleh Ras Asyura lainnya.
Setelah berubah menjadi wujud asli Ras Asyura, lambat laun mayat hidup dikalahkan, dari ribuan mayat hidup berkurang separuhnya. Jiang Chen Mei kini menjadi panik, namun Tian Zhi segera menenangkannya dengan menggendong dibelakang punggung.
"Perubahan wujud mereka ada batas waktunya! Perintahkan mayat hidup untuk kembali ke lorong-lorong!" ucap Tian Zhi dan segera dilakukan oleh Jiang Chen Mei dengan memerintahkan pasukannya untuk mundur.
Mayat hidup segera mundur saat mendapatkan perintah melalui telepati dari Jiang Chen Mei. Tian Zhi berniat untuk mengalahkan musuhnya saat berada di dalam lorong, sebab dia tahu fisik Ras Asyura yang gempal dan tinggi akan kesulitan bertarung ketika berada di ruang yang sempit.
Melihat mayat hidup mundur ke dalam hutan seperti mendapatkan perintah, leluhur Xiang kembali mencari pelakunya, dia menduga pelaku yang mengendalikan elemen tanah adalah pemimpin mayat hidup.
"Kejar dan jangan ada satupun yang lolos!" perintah leluhur Xiang setelah tidak menemukan pemimpin mayat hidup, dia tidak ingin mayat berada di wilayahnya.
Sedangkan Tian Zhi melihat Xiang Dongjun mengejar mayat hidup bersama dengan yang lainnya, lalu dia segera mengejar target utama sambil tetap menggendong Jiang Chen Mei.
Mayat hidup sebagian berhasil masuk kedalam lorong dan yang tertinggal tanpa ampun langsung dihabisi oleh Ras Asyura.
Saat dekat dengan lorong, Tian Zhi sekali lagi mengendalikan elemen tanah untuk memblokir musuhnya yang memiliki kekuatan Dewa Absolute. Tanah bergetar hebat saat terangkat membentuk dinding tebal dan terus naik hingga melengkung ke belakang. Ras Asyura terhenti dan langsung menghancurkan dinding tanah yang akan membentuk kubah.
Boom... Boom...
Dinding tanah bergetar ketika diserang oleh Ras Asyura, namun serangan itu tidak meruntuhkan dinding tanah, sebab Tian Zhi terus mengendalikannya. Sedangkan Ras Asyura terus-menerus berusaha sekuat tenaga untuk meruntuhkan dinding tanah.
Akhirnya dinding tanah membentuk kubah besar untuk melindungi banyaknya lorong dan mengurung sebagian Ras Asyura. Kemudian, Tian Zhi masuk ke dalam kubah dan melihat Ras Asyura yang terkurung melawan mayat hidup, lalu Tian Zhi mengeluarkan 10.000 Tubuh Ganda dan membaginya menjadi dua kelompok, separuh Tubuh Ganda untuk membantu mayat hidup dan sisanya membuat Formasi Ilusi dan Pembunuh.
Jiang Chen Mei yang digendong dipunggung Tian Zhi selalu berdecak kagum dan mengembangkan senyuman melihat aksinya, dia melihat Tubuh Ganda yang memiliki kekuatan Half Alfa level 15 dengan mudah melumpuhkan Ras Asyura yang terkurung, lalu mayat hidup segera menggigit dan mencabik-cabik tubuhnya.
Salah satu Tubuh Ganda mendekati Xiang Dongjun yang bertarung dengan mayat hidup, lalu saat dekat langsung memukul tengkuknya hingga pingsan.
Tubuh Ganda membawanya kepada Tian Zhi dan segera dimasukkan ke dalam cincin dimensi, Tian Zhi dan Jiang Chen Mei segera menyusulnya.
Separuh Tubuh Ganda menancapkan bendera Formasi melingkari lorong yang menjadi jalan bagi mayat hidup...
Sedangkan leluhur Xiang yang melihat keturunannya yang memiliki kekuatan Dewa Absolute tidak mampu meruntuhkan dinding tanah, segera dia memerintahkan kekuatan Sang Void hingga Half Alfa level 50 untuk membantu.
Ledakan hebat ketika Sang Void dan Half Alfa akhirnya bertindak, dinding tanah bergetar dan muncul sedikit retakan. Mereka terus mengulanginya dengan pukulan berenergi untuk meruntuhkan dinding tanah.
Setelah waktu kurang dari satu dupa, akhirnya dinding tanah runtuh dan melihat situasi yang tampak normal, hutan tetap utuh tanpa satupun pohon yang tumbang, padahal sebelumnya banyak pohon tumbang.
Yang anehnya lagi, tidak ada mayat hidup maupun anggotanya yang sempat terkurung, tidak terlihat lagi lubang-lubang di tanah sebelum adanya dinding tanah. Namun, samar-samar mendengar dari kedalaman hutan suara pertempuran.
"Tunggu!" cegah leluhur Xiang sebelum keturunannya bergerak maju untuk membantu anggota keluarga.
"Leluhur, keluarga kita ...!" ucap Patriark Xiang yang khawatir anggotanya tidak mampu mengalahkan mayat hidup.
"Apakah kamu tidak ingat dengan ceritamu saat berada di pelabuhan Jalur Sutra?" tanya leluhur Xiang.
Setelah Patriark Xiang kembali ke wilayahnya, dia segera menceritakan tentang kekalahan Qing Guozhi, dimana berawal dari Formasi Perlindungan, Ilusi dan Pembunuh yang banyak menghabisi pasukan Kekaisaran Qing.
Seketika Patriark Xiang menghela nafas lega setelah diingatkan oleh leluhurnya, seandainya dia buru-buru masuk bersama anggota keluarganya, nasibnya kemungkinan besar akan seperti pasukan Kekaisaran Qing.
Dengan kekuatan Telekinesis, leluhur Xiang mengambil ranting yang jauh darinya dan melemparkannya ke depan, ranting tersebut tiba-tiba menghilang dan tidak ada jejaknya.
"Ada Formasi Ilusi...," gumam leluhur Xiang, lalu dia melepaskan pukulan berenergi.
Boom...
Ledakan hebat ketika pukulan leluhur Xiang membentur sesuatu, lalu terlihat fluktuasi energi berwarna kebiruan dan dalam sekejap mata menghilang...
Sedangkan Tian Zhi yang berada di dalam cincin dimensi, dia membangunkan Xiang Dongjun dengan menyiram air ke tubuhnya. Sontak Xiang Dongjun terbangun dan segera bersalto kebelakang.
Xiang Dongjun terkejut melihat sosok pria yang dikenali sedang duduk sambil memangku seseorang wanita cantik, tubuhnya gemetaran karena takut sambil berjalan mundur.
"Kamu ... Kamu!!" ucap Xiang Dongjun yang tidak mampu berkata-kata.
Tian Zhi tersenyum tipis sambil menatap wajah Xiang Dongjun, lalu dia berbicara, "entah aku harus memanggilmu apa... Ayah, Yang Mulia atau ...?"
Ya, karena Tian Zhi bukanlah anaknya, maka dia harus juga bingung harus memanggilnya dengan sebutan apa. Xiang Dongjun memutar otaknya untuk berpikir keras sambil melirik sekitarnya untuk mencari jalan keluar.
Jiang Chen Mei akhirnya paham kenapa Tian Zhi menargetkan Keluarga Besar Xiang setelah Istana Surgawi. Dari perkataannya, dia menduga jika antara Tian Zhi dan Xiang Dongjun ada perseteruan yang tak terdamaikan.
"Kamu anaknya?" tanya Jiang Chen Mei.
"Bukan! Tapi dia yang menyebabkan kematian seseorang yang berarti bagi Xiang Tianzhi!" jawab Tian Zhi dengan nada datar.
"Xiang Tianzhi ... Tianzhi ... Tian Zhi ...! Apakah ada kaitannya denganmu?" tanya Jiang Chen Mei yang kebingungan dan mengharuskannya untuk memisahkan nama Xiang Tianzhi.
Tian Zhi hanya mengangguk sebagai jawaban, sambil membaca ingatan Xiang Dongjun. Lalu dia sedikit terkejut saat mengetahui siapa saja yang terlibat dalam kematian Permaisuri Mei.
Ternyata, Xiang Dongjun alias Raja Xiang adalah kekasih dari Xue Ling. Xue Ling adalah adik kembarnya Xue Mei alias Permaisuri Mei.
Setelah Xue Ling mengetahui rahasia dari kakak kandungnya, dia ingin menjadikan Xiang Tianzhi sebagai alat untuk tujuannya, dengan mengabarkan kepada Raja Mu untuk mendapatkan kekayaan dan sumber daya. Sayangnya, semuanya gagal total karena Xiang Tianzhi bisa berkultivasi lagi dan membunuhnya, karena Xue Ling membunuh Xue Mei yang telah membesarkannya.
Yang mengejutkan Tian Zhi, ternyata Raja Mu berhubungan dengan Dewa Es Abadi dan meminta mereka untuk membawa Tian Zhi sebagai alat pertukaran ketika dewasa nanti.
Sedangkan Dewa Es Abadi ingin menggunakan Tian Zhi agar bisa dibebaskan oleh Zhi Shirong. Akan tetapi, Zhi Shirong mengetahui rencananya dan tidak mungkin melepaskan Dewa Es Abadi yang merupakan murid dari Kuil Alam Es.
Zhi Shirong segera mengabarkan kepada leluhur Xiang. Leluhur Xiang segera mengabarkan kepada Xiang Dongjun. Semenjak saat itu Raja Xiang sangat membenci Xiang Tianzhi yang bukan anak kandungnya bersama Xue Mei.
"Bagaimana kamu mau mati?" tanya Tian Zhi setelah mencocokkan cerita Xue Ling dan ingatan dari Xiang Dongjun, apa yang diceritakan oleh Xue Mei tidak jauh beda dengan ingatan Xiang Dongjun.
Satu hal yang belum dimengerti oleh Tian Zhi, bagaimana ceritanya Dewa Es Abadi bisa bersama dengan Dewi Salju dan mau-maunya ikut ke Alam Semesta Aurora, padahal seingatnya dulu sewaktu di Konferensi Tianwu, mereka berdua adalah sahabat dan Dewi Salju mencintai Dewa Binatang.
"Bagaimana aku mau mati? Hahaha! Putra durhaka, tinggal bunuh saja pakai acara bertanya!" sahut Xiang Dongjun yang sebenarnya tidak mau mati, tapi karena tidak ada jalan keluar dia pun hanya bisa pasrah.
"Tugasmu!" pinta Tian Zhi kepada Jiang Chen Mei, dia enggan untuk membunuh Xiang Dongjun dengan tangannya sendiri.
"Dengan senang hati." Setelah menjawab, Jiang Chen Mei menghilang dan muncul di belakang Xiang Dongjun.
Xiang Dongjun menarik nafas dalam-dalam untuk terakhir kalinya, lalu dia menatap wajah Tian Zhi kelembutan seperti saat masih belum mengetahui kebenaran.
"Aku terpaksa melakukan in-- Arghh!!" sebelum Xiang Dongjun selesai mengucapkan kata terakhir, Jiang Chen Mei mengigit lehernya.
Xiang Dongjun ingin berkata jika masih menyayangi Xiang Tianzhi sebagai seorang ayah, dia ingin memberikan alasan kenapa dulu tiba-tiba membencinya.
Sayangnya, Tian Zhi tidak mencegah Jiang Chen Mei, dan lagi dia tidak peduli dengan alasan apapun yang akan diucapkan oleh Xiang Dongjun.