
Chapter 238. Membuat Perhitungan!
...****************...
Zhi Donghai kembali ke tempat duduknya disamping Patriark Klan Zhi, lalu dia segera membicarakan tentang Master Tian sesuai dengan informasi yang didapatkan dari Zhi Yinping.
"Master Tian berasal dari Benua Awan Timur, nama aslinya Xiang Tianzhi, putra dari Xue Mei dan Xiang Dongjun, dia adalah putra mahkota yang tidak diakui oleh ayahnya sendiri. Zhi Yinping salah satu kekasihnya, termasuk semua wanita bertopeng di tribune Utara. Xue Mei telah meninggal, sedangkan Xiang Dongjun ... Anda sendiri sudah mengetahuinya siapa dia."
Patriark Klan Xu mengangguk paham, dia mengetahui Keluarga Besar Xiang yang berada di Alam Keabadian, termasuk Xiang Dongjun (Raja Xiang) yang merupakan cucu dari leluhur Xiang.
Keluarga Besar Xiang merupakan pesaing berat dari Klan Zhi, walaupun masih dalam satu wilayah yang sama. Selain Klan Xu yang juga menjadi pesaing berat, ada juga Keluarga Besar Mu, Keluarga Besar Nanggong dan Keluarga Besar Bai.
Di Alam Keabadian persaingan antar dua klan dan empat keluarga besar begitu intens, hampir setiap hari junior dan seniornya selalu bentrok setiap kali bertemu, tidak jarang salah satu ada yang tewas dengan sia-sia. Justru keadaan ini dimanfaatkan oleh Dewa Bintang sebagai pemimpin Istana Surgawi.
Patriark Klan Zhi mengetahui kebencian Keluarga Besar Xiang terhadapnya. Karena itu, Raja Xiang yang tadinya menyayangi Xiang Tianzhi menjadi benci, saat tahu jika Xiang Tianzhi bukan anak kandungnya.
"Pantas dia tidak menggunakan nama marga ayahnya!" gumam Patriark Klan Xu, lalu dia memikirkan nama Tian, sebab tidak ada marga Tian di Alam Keabadian.
"Kamu selidik lagi siapa ibu kandungnya Master Tian dan kenapa dia memakai nama Zhi!" perintah Patriark Klan Xu kepada wakilnya, dia penasaran siapa identitas asli Tian Zhi.
"Baik, Pemimpin."
Segera Zhi Donghai berdiri dan melanjutkan penyelidikannya tentang Tian Zhi. Putra pertama yang bernama Zhi Deming melirik ayahnya dengan raut wajah tak senang, sebab ayahnya tampak menyukai Tian Zhi.
"Kenapa Ayah begitu perhatian kepada Master Tian?" tanya Zhi Deming.
Adiknya yang bernama Zhi Xiaolian tersenyum tipis saat tahu kegelisahan kakaknya yang khawatir jika Master Tian bergabung dengan Klan Zhi, dia senang melihat kakaknya tersaingi oleh bangsa sendiri, dia juga sebenarnya tidak suka dengan kakaknya sendiri yang terkenal arogan dan sewenang-wenang terhadap siapapun.
"Lima tahun lagi seluruh Ras Asyura akan berkumpul, jadi Ayah hanya ingin mengetahui satu per satu generasi muda yang berbakat!" alasan Patriark Klan Zhi yang masuk akal.
Padahal, dia sebenarnya menginginkan Api Suci Petir Asyura dan Raja Api Kemarahan Asyura yang sangat langka. Namun, dia khawatir jika Tian Zhi memiliki pendukung yang kuat dibelakangnya, sebab itu dia perlu menyelidiki Tian Zhi terlebih dahulu sebelum membuat rencana.
Patriark Klan Zhi memiliki alat yang mampu menyerap apapun jenis apinya, bahkan alatnya mampu menyerap Api Asyura Melahap Kekosongan, jenis api peringkat kedua dan dianggap yang terkuat dari sejenis yang lainnya.
Bagi pengetahuan semua Ras Asyura, Api Asyura Melahap Kekosongan adalah yang terkuat dan mereka tidak mengetahui ada yang lebih kuat, yaitu Kaisar Api Asyura. Ketidaktahuan mereka bisa dimaklumi, sebab belum pernah ada satu pun Ras Asyura memiliki garis darah Kasta Kaisar dan tidak ada yang tahu jika Kaisar Api Asyura ada dari penggabungan semua jenis api.
Ketika hari menjelang malam, banyak orang yang meninggalkan Colosseum untuk beristirahat, termasuk para petinggi dan orang penting. Hanya sebagian kecil Alkemis yang tetap tinggal, termasuk He Hua dan semua saudarinya yang setia menunggu Tian Zhi.
"Suami kita tampaknya sengaja tidak segera menyelesaikan Pil Explosion Power," ujar Yu Bao yang melihat penonton meninggalkan colloseum.
"Biasa ... Suami kita selalu membuat orang salah mengira!" sahut He Hua dan memejamkan mata untuk berkultivasi.
Semua wanita tertawa renyah dan mengikuti He Hua yang berkultivasi. Qing Huan yang bosan mengajak Shan bersaudari untuk mencari makanan bagi rombongannya.
Tian Zhi sebenarnya bisa menyelesaikan pembuatan Pil Explosion Power dalam waktu tidak kurang dari sepuluh dupa. Istrinya mengira jika Tian Zhi sedang mempermainkan Dewi Alkemis, tapi mereka tidak tahu yang sebenarnya terjadi.
Ling Ling, Li Jiancheng dan Ling Xuan juga mengikuti Qing Huan yang akan memborong makanan dan juga membeli minuman.
Zhi Deming melihat rombongan Qing Huan yang meninggal tribune Utara, dia beserta keluarganya juga meninggal colloseum untuk beristirahat di Balai kota Qingshan yang telah disediakan oleh Duke Qing Fei.
Patriark Klan Xu semenjak melihat Tian Zhi, nalurinya mengatakan jika pembunuhan putranya adalah Master Tian, namun dia tidak memiliki bukti apapun.
"Kamu selidik Master Tian sedetail mungkin!" perintah Patriark Klan Xu kepada wakilnya, lalu dia beranjak dari tempat duduk dan diikuti oleh rombongannya.
Sebagian orang yang berasal dari Istana Surgawi juga meningkatkan colloseum dan menyisakan tiga ahli Alkemis yang tidak ingin membuang kesempatan melihat Dewi Alkemis membuat pil.
Saat berada di depan Balai Kota Qingshan, Zhi Deming berbicara kepada ayahnya, "aku mau jalan-jalan dulu."
"Ya. Tapi jangan buat masalah yang tidak perlu!" pesan Patriark Klan Zhi kepada putranya yang hanya di anggukan kepala saja, lalu dia segera masuk ke gerbang Balai Kota Qingshan bersama pengawalnya.
"Aku juga, Yah." Pamit Zhi Xiaolian yang menyusul kakaknya, dia jelas ingin bersenang-senang di Kota Qingshan.
"Anak muda jaman sekarang lebih fokus dalam kesenangan sesaat!" sesal Patriark Klan Zhi melihat anaknya yang tidak menggunakan waktu untuk berkultivasi.
"Kalian awasi mereka agar tidak membuat masalah!" perintah Patriark Klan Zhi kepada pengawalnya.
"Baik, Pemimpin."
Di malam hari, Kota Qingshan begitu ramai dengan banyaknya orang yang bukan penduduk asli. Setiap usaha selalu padat dengan pengunjung dan membuat para pengusaha kegirangan dengan adanya pertandingan dua Alkemis yang mendadak.
Kedai Teh Pelangi menjadi tempat favorit bagi pendatang, sebab ada hiburan drama dan tarian. Tempat lain yang menjadi favorit adalah Mansion Kerajaan Air, dimana menjual Balok Es Misteri yang membuat orang penasaran dengan isinya.
Ada juga rumah makan yang terkenal, Rumah Makan Peri, disinilah tujuan Qing Huan untuk membeli banyak makanan serta minuman. Namun, sebelum tiba di Rumah Makan Peri, Zhi Deming membuntutinya.
Ling-Ling yang merasakan niat buruk segera berhenti dan diikuti oleh semua rombongannya termasuk Qing Huan.
"Ada apa? Rumah Makan Peri ada di depan!" tanya Qing Huan yang tidak mengetahui Zhi Deming sedang menguntit, sebab basis kultivasinya berada di tingkat Dewa Matahari level 20, jauh dari Zhi Deming yang berada di tingkat Dewa Absolute level 15.
"Ada yang mengikuti kita!" jawab Ling-Ling sambil membalikkan badan dan melihat Zhi Deming telah diajak oleh dua orang pria yang memakai jubah penyamaran.
Dua orang itu adalah pengawal pribadi Patriark Klan Zhi dan buru-buru mengajak Zhi Deming yang akan membuat masalah. Mereka tahu di Kota Qingshan banyak orang bertopeng memiliki kekuatan Dewa Absolute. Sebab itu Patriark Klan Zhi mewanti-wanti putranya agar tidak membuat masalah.
Dan, orang yang menggunakan topeng kebanyakan adalah Pasukan Phoenix yang menyamar dan berbaur dengan masyarakat sekitarnya.
"Untung saja dia tidak melanjutkan niat buruk kepada kita," kata Shan Luse.
"Ayo, kita ke Rumah Makan Peri!" ajak Qing Huan yang telah melihat Zhi Deming yang mengurungkan niatnya.
Qing Huan dan rombongannya kembali melanjutkan tujuannya dan lagi-lagi terhenti ketika seseorang wanita cantik menyusul, dia berhenti di sebelah Li Jiancheng.
"Halo! Aku Zhi Xiaolian. Apakah boleh bergabung dengan kalian?" sapa Zhi Xiaolian dan tersenyum setelahnya.
Li Jiancheng tersenyum dan ada rasa kagum melihat kecantikan Zhi Xiaolian yang dianggap setara dengannya. Akhirnya Ling-Ling dan semua wanita menyambut Zhi Xiaolian dan saling berkenalan.
...****************...
Di Daratan Es Tengah Samudera.
Zhi Jianying si Dewi Seribu Wajah telah terbangun dan melihat tubuhnya tidak lagi memakai pakaian, dia juga merasakan tempat tidurnya basah dan tercium aroma air surga.
"Ahhhh...!!" teriakan Dewi Seribu Wajah ketika teringat telah berhubungan intim dengan Tian Zhi tanpa bisa mengendalikan diri, lalu dia menangis sejadi-jadinya.
Dia tidak menyangka telah dikalahkan oleh Tian Zhi dengan mudah dan menggunakan cara yang sama, menggunakan aroma feromon afrodisiak. Setelah tenang, Dewi Seribu Wajah mengingat apa yang sudah dia katakan kepada Tian Zhi.
Perasaannya menjadi campur aduk antara benci dan menerima kenyataan, dimana dia mengucapkan segalanya kepada Tian Zhi dari hati, dan bukan karena faktor aroma feromon afrodisiak. Ucapan dari hati timbul karena rasa puasnya setelah berhubungan intim, serta telah diperlakukan dengan baik.
"Dia bisa saja membunuhku disaat aku tertidur!" gumamnya sambil melihat langit-langit ruang bawah tanah.
"Tapi... Aku harus buat perhitungan kepadanya!" imbuhnya yang tidak terima Tian Zhi menggunakan cara licik.
Dewi Seribu Wajah segera beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Dia akan membalas perbuatan Tian Zhi. Namun, dia belum menyadari jika ada tato diperutnya, itu adalah Segel Keluarga Besar Tian Zhi...
...****************...
Kembali ke Tian Zhi, dimana dia segera berdiri setelah berhasil menenangkan Api Suci Petir Asyura, dia telah tertinggal jauh dari Dewi Alkemis yang sudah memulai proses pemadatan, dimana esensi dari lima jenis ramuan telah menjadi pil dan hari juga akan menjelang pagi, batas waktu babak pertama akan segera berakhir.
Ternyata, kesadaran Tian Zhi dibawa oleh Api Suci Petir Asyura untuk menunjukkan kelahiran Api Asyura Dasar Laut, dan prosesnya memakan waktu lama, sehingga dia tertinggal jauh dari Dewi Alkemis.
Dewi Alkemis tersenyum puas melihat keteledoran Tian Zhi yang di anggapnya terlalu keasyikan berkultivasi dan melupakan pertandingan.
Tian Zhi melihat banyak penonton yang telah meninggalkan Colosseum, lalu dia melihat istrinya yang masih berada ditempat semula dan sedang berkultivasi. Tian Zhi menghela nafas berat dan melihat Dewi Alkemis yang kebetulan melihatnya juga.
"Tidak mungkin kamu bisa menyelesaikannya, lebih baik menyerah saja di babak pertama ini!" cibir Dewi Alkemis yang meyakini kemenangannya.
Tian Zhi hanya tersenyum tipis dan tidak menanggapi ucapan Dewi Alkemis, lalu fokus pada tujuannya. Walaupun tidak berhasil mengalahkan Dewi Alkemis di babak pertama, setidaknya masih akan berusaha untuk menyelesaikan pembuatan Pil Explosion Power. Selain itu masih ada dua babak lagi.
Seandainya Dewi Alkemis tahu Api Suci Petir Asyura yang ingin melahap apinya, tidak mungkin dia akan berkata seperti ini, mungkin saja akan berterima kasih kepadanya.
Matahari terbit telah muncul dan penonton yang meninggalkan Colosseum mulai berdatangan lagi untuk mengetahui siapa yang menjadi pemenangnya. He Hua dan semua saudarinya juga telah selesai berkultivasi dan kembali memperhatikan suaminya.
Bagi sebagian orang yang bukan berprofesi sebagai Alkemis jelas bosan melihatnya. Namun berbeda bagi Alkemis, mereka tidak bosan dan setiap detik mereka selalu mengamati Dewi Alkemis dan Master Tian.