
Chapter 303. Membuat Takjub!
Tian Zhi dan keluarganya telah masuk ke Kota Api Asyura tanpa perlu membayar biaya masuk, sebab sudah menjadi bagian penduduk kota.
Saat baru masuk, kecantikan Guo Shun menarik perhatian banyak pemuda. Para pemuda segera menghampiri dan berusaha untuk menarik perhatian Guo Shun. Sayangnya, Guo Shun bersikap dingin dan acuh tak acuh, apalagi Xiang Ri Kui mengintimidasi mereka dengan sengaja mengeluarkan basis kultivasinya.
Akan tetapi para pemuda tidak menyerah untuk memikat hati Guo Shun, mereka mengikuti kemanapun Guo Shun melangkah.
Zhi Shimo yang melihat putrinya menjadi daya tarik pria Ras Asyura, jelas tidak senang. Namun He Hua selalu menahannya agar tidak ikut campur urusan anak muda.
Lambat laun pria muda yang datang makin banyak dan silih berganti untuk memikat hati Guo Shun, bahkan ada dua pria yang berasal dari Kasta Prajurit dan memiliki kekuatan tingkah Dewa Biru.
Kedatangan kedua Kasta Prajurit membuat Kasta Rakyat jelata menghindar. Kedua pria itu adalah keponakan dari Patriark Zhi Boqin sebagai memimpin Kasta Prajurit.
Karena kalah kuat, Guo Shun menarik tangan adiknya, lalu bergabung dengan kedua orangtuanya, namun mereka tetap diikuti.
Kedua pria muda itu terkejut saat melihat Guo Shun memeluk lengan seseorang yang dikenali dengan julukan Monster Pembunuh, buru-buru mereka balik badan dan kabur.
Mereka takut kepada Tian Zhi karena prestasinya sebagai juara pertama dalam kompetisi Duel Sage dan Asyura Path, seseorang jenius yang memiliki kekuatan diatas Sang Void.
Selain itu, Patriark Zhi Boqin membuat lukisan Tian Zhi sebagai peringatan untuk anggotanya agar tidak mendekatinya. Patriark Zhi Boqin masih teringat jelas peristiwa pembantaian di Pelabuhan Jalur Sutra yang dilakukan oleh Tian Zhi, dia tidak ingin anggotanya terkena masalah.
Guo Shun dan Xiang Ri Kui menertawakan kedua pria itu yang takut kepada ayahnya. Pria muda dari Kasta Rakyat jelata kembali mendekati Guo Shun saat melihat Kasta Prajurit keluar dari Kota Api Asyura.
Sekali lagi, Guo Shun menertawakan mereka yang takut saat melihat ayahnya. Akhirnya Guo Shun dan Xiang Ri Kui bisa bebas dari pengganggu, hingga sampai di tempat tujuan yang terkenal akan masakan dagingnya, yaitu rumah makan Kǎoròu (daging panggang,)
Rumah makan Kǎoròu berlantai tujuh, setiap lantai diperuntukkan bagi pengunjung yang memiliki kekuatan, semakin tinggi kekuatannya akan ditempatkan di lantai teratas.
Tian Zhi dan keluarganya masuk ke rumah makan Kǎoròu. Hadirnya Tian Zhi menarik perhatian pengunjung, termasuk pemilik rumah makan. Wajah Tian Zhi sangat dikenali sebagai juara pertama kompetisi bergengsi.
Pemilik rumah makan Kǎoròu melihat kedatangan Tian Zhi, dia secara pribadi bergegas menyambutnya. "Selamat datang di tempat kami!" sapaannya dengan ramah.
"Kita pesan menu andalan dan terbaik di tempat ini, pilihkan juga tempat yang nyaman dan tenang," pinta Tian Zhi kepada pemilik rumah makan.
Tian Zhi segera diantar oleh pemilik rumah makan Kǎoròu menuju lantai lima, dia mengira kekuatan Tian Zhi masih berada di tingkat Dewa Absolute. Tian Zhi tidak mempermasalahkan tempat untuk makan, asal sesuai keinginannya yang membutuhkan kenyamanan saat menyantap hidangan.
"Tuan dan Nyonya, ini adalah tempat yang terbaik di lantai lima. Silakan masuk," jelas pemilik rumah makan.
Tian Zhi dan keluarga segera masuk ke dalam ruang, mereka melihat kursi panjang yang berbentuk seperti tapal kuda, lalu ada meja bundar, diatas meja itu ada meja yang lebih kecil dan bisa berputar 360°.
Xiang Ri Kui segera duduk di meja, lalu dia meminta kakaknya untuk mendorong meja agar berputar. Namun, Guo Shun mengendong adiknya agar tidak duduk di meja, dia berkata kepada adiknya, "tidak sopan!"
Dengus Xiang Ri Kui yang berusaha turun dari gendongan kakaknya. Sayangnya, Guo Shun lebih kuat dan tidak melepaskan. Dengan pasrah Xiang Ri Kui duduk di tempat semestinya.
"Suami!" panggil seseorang wanita sebelum pemilik rumah makan menutup pintu kamar.
Tian Zhi dan He Hua membalikkan badan dan melihat Zhi Yinping sedang menggendong putrinya dengan wajah yang tampak gelisah. Tian Zhi mengembangkan senyuman hangat dan menyambut istrinya dengan mengendong Tian Yinping yang mengangkat kedua tangan.
Setelah mereka bertiga duduk, Tian Zhi membuka obrolan, "kamu tampaknya sedang ada masalah! Kalau boleh tahu, masalah tentang apa?"
Zhi Yinping menghela napas panjang dan menghembuskan secara perlahan. Setelah tenang, dia menjawab, "selama beberapa bulan di sini, aku mendengar pembicaraan dari para petinggi ... Aku ingin bertanya dulu, tapi kamu harus menjawabnya dengan jujur?"
Tian Zhi sudah mengantisipasi jikalau Zhi Yinping akan bertanya tentang Dewi Salju, lalu dia bertanya "apa kamu ingin bertanya tentang Dewi Salju?"
"Iya," jawab Zhi Yinping dengan singkat.
"Apa kamu tahu perbedaan benturan energi dengan seseorang yang meledakan diri?" tanya Tian Zhi sebelum menjelaskan.
Seandainya Zhi Yinping tidak mengetahui perbedaannya, Tian Zhi akan percuma jika menjelaskan tentang Dewi Salju yang meledakan dirinya sendiri.
"Pantas saja aku merasa aura kekuatan Dewa Absolute setelah mendengar ledakan di Daratan Es Tengah Samudera. Awalnya aku kira kamu bertarung dengan lawan yang memiliki kekuatan Sang Void!" sahut He Hua.
"Bisakah kamu jelaskan!" pinta Zhi Yinping yang ingin tahu kebenarannya.
Setelah kembali ke Klan Zhi, Zhi Yinping mengetahui kakaknya telah mati dari ketua pengawas bola kristal kehidupan, dia langsung menebak jika suaminya terkait dengan kematian Dewi Salju.
He Hua tersenyum tipis saat tahu suaminya akan memperlihatkan wajah aslinya sebagai Dewa Binatang. Zhi Yinping mengangguk sebagai respon, dia memikirkan tentang pilihan apa sehingga kakaknya memilih untuk bunuh diri.
"Apa yang terjadi selama kamu di sini?" tanya Tian Zhi yang penasaran dengan informasi yang akan dikatakan oleh Zhi Yinping.
"Aku dengar desas-desus jika ada sepuluh anggota Kuil Alam Es berada di Alam Keabadian. Salah satu diantara mereka pernah menemui Patriark Zhi Bingwen dan Patriark Zhi Junjie, entah apa yang mereka bicarakan. Tapi perkiraanku, ini terkait dengan Dewa Es Abadi sebagai murid inti. Selain itu, mata-mata Klan Zhi memberikan laporan kepada Patriark Zhi Longwei tentang Klan Xu...," Zhi Yinping menceritakan apa saja yang terjadi selama dia berada di Klan Zhi.
Tian Zhi dan He Hua mendengarkan Zhi Yinping yang memberikan informasi. Tian Zhi terkejut saat Zhi Yinping mengatakan jika Klan Xu kedatangan tamu dari Galaksi Nebula.
Tian Zhi menebak tamu Klan Xu adalah utusan dari Kaisar Kun. Yang menjadi pertanyaan dihatinya, Galaksi Nebula dan Aurora sangatlah jauh dan membutuhkan waktu lama dalam perjalanan, kecuali mereka datang melewati portal dimensi.
"Tampaknya identitas asliku telah diketahui!" batin Tian Zhi yang menebak kedatangan utusan dari Galaksi Nebula terkait dirinya.
"... Dan, namamu sempat dibicarakan oleh para petinggi. Aku rasa lebih baik kita berhati-hati!" kata Zhi Yinping yang memberikan peringatan diakhiri informasi.
He Hua terlihat khawatir dengan peringatan Zhi Yinping, lalu dia melihat suaminya yang tetap tenang. Melihat ketenangan suaminya, dia juga ikut tenang. He Hua yakin suaminya mampu mengatasi kesulitan di Alam Keabadian seperti yang pernah dialami sewaktu pertama kali tiba di Alam Mahadewa.
"Apakah kamu tahu dimana Zhi Jianying?" tanya Zhi Shimo yang tidak lagi melihat Dewi Seribu Wajah setelah berselisih.
Zhi Yinping menghela napas berat dan meletakkan kepalanya di bahu Tian Zhi, lalu dia menjawab, "aku sudah mencarinya, tapi dia seperti hilang tertelan kegelapan!"
Mencari Zhi Jianying yang memiliki kemampuan dalam penyamaran memang tidak semudah yang dibayangkan, apalagi Alam Keabadian lebih besar dari Alam Mahadewa. Geografis Alam Keabadian tidak seperti benua pada umumnya, tanpa ada lautan, yang justru banyak adalah danau dan sungai besar, ribuan sungai kecil, lebih didominasi daratan dan banyak hutan lebat serta berbahaya.
Tian Zhi hanya mengangguk dan tidak menyalakan Zhi Yinping tidak bisa menemukan Dewi Seribu Wajah.
Pintu kamar terbuka dan masuk empat pelayan rumah makan Kǎoròu membawa hidangan yang dipesan oleh Tian Zhi. Lalu mereka menatanya di meja. Xiang Ri Kui dan Guo Shun berlomba-lomba untuk makan, apalagi banyak hidangan daging panggang yang mereka suka dan membenci sayuran.
"Selamat menikmati!" ucap pelayan dan bergegas keluar dari kamar.
"Lebih baik kita nikmati malam ini dengan makan sepuasnya. Lupakan hal-hal yang belum terjadi," kata Tian Zhi yang tidak ingin terbawa arus negatif dari pihak luar.
He Hua dan tersenyum dan melirik sekilas Zhi Yinping yang masih saja menampilkan ekspresi wajah yang cemas. Dia menebak jika ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.
Namun He Hua tidak ambil pusing dengan cepat menyantap hidangan yang masih hangat. Semua hidangan dengan cepat telah berpindah ke perut.
Lalu Zhi Yinping meminta untuk segera pulang karena dia ingin tahu kejadian alasan kakaknya yang bunuh diri. Setelah membayar, Tian Zhi dan keluarganya keluar dari rumah makan Kǎoròu.
Setelah keluar dari Kota Api Asyura, Tian Zhi dihadang beberapa orang yang yang menggunakan topeng, jumlah mereka ada tujuh orang. Mereka keluar dari balik pepohonan sambil membawa senjata pedang.
He Hua jelas kesal telah dihambat oleh mereka, segera bertindak tanpa memberikan kesempatan untuk berbicara. Dia cukup melambaikan tangan kanannya yang mengandung energi spiritual.
Bang....
Seketika ketujuh orang tersebut terpental ke langit dan menghilang dalam kegelapan malam. Guo Shun dan Xiang Ri Kui bersorak-sorai melihat kehebatan ibunya.
Akhirnya mereka telah berada di dalam rumah, lalu Tian Zhi mengajak kedua istrinya kedalam kamar pribadi pilihan He Hua, termasuk putrinya si Tian Yinping yang tidak mau lepas dari gendongan ayahnya. Sedangkan Xiang Ri Kui dan Guo Shun bermain di dalam kamarnya.
"Apakah kamu sudah mempersiapkan diri?" tanya Tian Zhi sebelum menunjukkan wajah aslinya sebagai Dewa Binatang, dia menyerahkan Tian Yinping kepada ibunya.
"Aku sudah siap!" jawab Zhi Yinping dengan hati berdebar-debar, sambil menerima putrinya.
Tiba-tiba tubuh Tian Zhi bercahaya dan menghilang dalam sekejap. Zhi Yinping dan He Hua melongo melihat wajah suaminya yang berubah total menjadi sangat tampan. Bahkan Tian Yinping yang masih bayi sampai mengeluarkan banyak air liur karena melihat ketampanan ayahnya.
He Hua yang sudah pernah melihat wajah asli suaminya, tapi hanya melihat lukisan dan belum pernah melihat wajah aslinya. Walaupun begitu, dia tetap saja terkesima melihat ketampanan suaminya.
Tian Zhi tersenyum melihat reaksi istri dan putrinya yang melongo, lalu dia mendekati mereka dan menutup mulutnya agar tidak terbuka. "Banyak lalat!" godanya.
He Hua memeluk suaminya dengan erat dan tertawa ringan. Demikian juga dengan Zhi Yinping yang ikut memeluk, wajahnya seketika berubah menjadi ceria saat melihat wajah tampan Tian Zhi sebagai sosok Dewa Binatang. Tian Yinping meronta-ronta agar digendong ayahnya.
Setelah melepaskan pelukan, Tian Zhi duduk di ranjang dan diikuti oleh istrinya. Kemudian Tian Zhi mulai bercerita dari awal pertemuannya dengan Dewi Salju saat berada di Alam Tianwu, hingga sampai membuat Dewi Salju dan Dewa Es Abadi bunuh diri.
Akhirnya, Zhi Yinping mengetahui alasannya kakaknya yang bunuh diri. Rasa hati yang tadinya mengganjal seakan-akan tidak pernah dia rasakan, justru dia makin jatuh cinta kepada Tian Zhi.