
Chapter 316. Kematian Tian Zhi dan Zhi Yinping.
Sebelum 15 tarikan napas berlalu, Tian Zhi kembali ke dalam Menara Api Asyura. Saat waktu kurang dari satu tarikan napas, Tian Zhi berkomunikasi telepati dengan Xue Liena, "saya tidak tahu bagaimana caranya Anda bisa meledakan tubuhku... Tapi, saya berterimakasih jika Anda bisa melakukannya!"
Ya, Tian Zhi memang tidak bisa melukai diri sendiri apalagi bunuh diri. Jika, Xue Liena dan Zhi Mingyu mampu, Tian Zhi sangat berterimakasih, karena dia bisa sesegera mungkin untuk bereinkarnasi lagi.
Tian Zhi melihat Zhi Zixuan, Xue Weici dan yang lainnya telah menjadi arang. Tersisa Zhi Mingyu, Xue Liena dan tiga musuhnya.
Akhirnya waktu kembali normal. Semua orang terlihat linglung, mereka merasa seperti tertidur pulas tapi tidak lama. Xue Liena segera mendengar suara telepati dari Tian Zhi.
Xue Liena dan semua orang melihat Tian Zhi yang bersandar di dinding, menundukkan kepala sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya. Lalu melihat Zhi Zixuan dan yang lainnya telah menjadi arang. Namun mereka tidak melihat He Hua, bahkan tidak ada jejaknya.
"Teknik Penghenti Waktu!" seruan Taois Yuma dan Taois Cen yang serempak, mereka jelas terkejut
"Kita masukkan dia kedalam Pagoda Penjara!" perintah Taois Yuma yang tidak ingin Tian Zhi menggunakan kemampuannya.
Taois Yuma dan Taois Cen tidak menduga jika Tian Zhi masih mampu mengendalikan Batu Keabadian, padahal senjata Pedang Pelumpuh Jiwa bukanlah senjata sembarangan dan dikhususkan untuk memblokir kemampuan Tian Zhi.
Taois Cen mengeluarkan Pagoda Penjara. Lalu dia mengalirkan energi spiritual pada Pagoda Penjara untuk mengendalikannya. Pintu dasar Pagoda Penjara terbuka...
Sebelum Tian Zhi tersedot ke dalam Pagoda Penjara, Xue Liena dan Zhi Mingyu memejamkan mata sambil bergandengan tangan, mereka berkonsentrasi agar bisa terkoneksi dengan darah Kasta Kaisar.
Setelah terhubung dengan garis darah Kasta Kaisar, Xue Liena berbicara kepada Tian Zhi untuk terakhir kalinya, "semoga dikehidupan mendatang kita hidup lebih bahagia!"
Kaisar Kun melihat gerak bibir Xue Liena yang berkomunikasi dengan telepati, lalu melihat Tian Zhi, dia buru-buru memecahkan token teleportasi dan menghilang tanpa diketahui oleh siapapun.
Akhirnya, tubuh Tian Zhi tersedot ke dalam Pagoda Penjara. Taois Yuma dan Taois Cen yang tadinya marah, kini berganti dengan mengembangkan senyuman puas melihat Tian Zhi akan menjadi hadiah bagi Maharaja Yaksa.
Namun, mereka berdua terkejut bukan main, dimana tubuh Tian Zhi mengeluarkan panas yang tidak mampu mereka tahan, padahal sudah menggunakan kekuatannya untuk menahan kemarahan garis darah Kasta Kaisar, bahkan Pagoda Penjara setingkat Artefak Bintang Lima juga ikut meleleh.
Kemarahan garis darah Kasta Kaisar membuat panas yang tak tertahankan, membuat Menara Api Asyura juga ikut meleleh. Panasnya Api Asyura merembet ke seluruh wilayah Lembah Kekosongan.
Tidak berhenti disitu, panasnya mampu dirasakan oleh penghuni Alam Keabadian. Wilayah Lembah Kekosongan seketika menjadi abu dan merambah ke tempat lainnya.
Xiang Ri Kui, Guo Shun, Tian Yinping dan Zhi Yinping menangis sejadi-jadinya, mereka tahu ayahnya akan meledakkan dirinya. Zhi Shaosheng dan yang lainnya menahan tubuh istri dan anak-anaknya Tian Zhi yang ingin menyusul.
Sedangkan He Hua muncul di air terjun yang berada di belakang rumahnya, dia terbangun dan terkejut melihat tempat yang sangat dikenalinya. Dia segera terbang dan melihat ke arah Lembah Kekosongan yang mengeluarkan kobaran api besar dan sangat panas.
"Suami!!" teriakan He Hua, dia segera terbang dengan sangat cepat. Namun...
Tian Zhi tertawa terbahak-bahak, dia puas akan membunuh musuhnya, bahkan jiwa musuhnya juga akan ikut musnah. Setelah berhenti tertawa, dia melihat dua pria tua yang berteriak kepanasan.
"Semua keturunan mu.. Di masa depan akan menjadi budak ku! Setelah puas menikmati tubuh mereka... Kalian bisa bayangkan sendiri ... Sampai jumpa...!" ucapnya Tian Zhi sebagai bentuk sumpahnya, lalu dia melihat Xue Liena dan mengangguk.
Xue Liena dan Zhi Mingyu saling berpegangan tangan dengan erat. Tangan kiri Xue Liena membuat pola di udara. Demikian juga dengan Zhi Mingyu yang membuat pola di udara dengan tangan kanan, mereka berdua yang menciptakan garis darah Kasta Kaisar jelas mampu membuatnya menjadi bom.
Tubuh Tian Zhi membengkak dan Panas Api Asyura makin tidak terkendali. Kemudian...
Boom...
Ledakan mahadahsyat terdengar di seluruh wilayah Alam Keabadian. Gelombang kejut panasnya sangat mengerikan, apapun yang dilintasi menjadi debu. Pergerakan gelombang kejut seperti tsunami yang melaju sangat cepat.
Taois Yuma, Taois Cen, Zhi Mingyu dan Xue Liena seketika menjadi abu. Sebelum menghembuskan napas terakhir, mereka melihat Tian Zhi yang sedang tersenyum hangat.
...****************...
Zhi Shaosheng dan semua orang melihat gelombang kejut bergerak sangat cepat.
"Kalian berlindung di kediamannya Kaisar Tian!" perintah Zhi Shaosheng kepada anak dan istri Tian Zhi beserta generasi muda.
Xiang Ri Kui menguatkan dirinya, dia menggandeng tangan Guo Shun dan Tian Yinping. Lalu dia melihat Zhi Yinping.
"Ayo, kita berlindung, Ibu!" pinta Xiang Ri Kui.
Zhi Yinping menggelengkan kepalanya sambil menangis tiada henti-hentinya, dia berkata dengan terisak-isak, "Ibu... Akan ikut melindungi Klan Zhi. Kalian segera berlindung dan jangan khawatir!"
Xiang Ri Kui sebagai seorang pria segera menarik kedua saudaranya yang tidak mau berlindung...
Gelombang kejut panas ekstrim tiba di wilayah Klan Zhi dan menghancurkan apapun hingga menjadi debu...
Segera Zhi Shaosheng, Raja Suzaku, Zhi Yinping dan semua orang penting bahu-membahu memblokir gelombang kejut panas ekstrim. Tapi, mereka terpental ke belakang dan menghantam tanah.
He Hua yang terbang juga terhempas gelombang kejutnya dan menghantam dinding dibelakang air terjun dan terjatuh...
Pasukan Klan Xu dan pendukungnya yang berjalan kembali ke wilayahnya tidak berhasil menyelamatkan diri dari gelombang kejut dari ledakan garis darah Kasta Kaisar. Wilayah Klan Xu yang dekat dengan Lembah Kekosongan seketika menjadi abu.
Demikian juga dengan wilayah Keluarga Besar Bai dan Nanggong tidak luput dari kehancuran...
Setelah tubuh Tian Zhi meledak, keluar delapan sinar yang terpencar ke segala penjuru, satu sinar sedikit lebih lambat bergerak daripada tujuh lainnya.
Di luar angkasa, ada dua orang wanita bertopeng, mereka adalah Yuna Aurora dan Yuke sebagai tangan kanannya. Yuna Aurora menyaksikan apa yang dialami suaminya, dia hanya bisa meneteskan air mata.
Yuke segera muncul menghadang jiwa Tian Zhi dan memegangnya, lalu menyimpannya ke dalam Istana miniatur. Setelah itu dia memberikannya kepada Yuna Aurora si Dewi Cahaya.
Yuna Aurora melepaskan topengnya, lalu mengusap air mata kesedihan, dia menerima istana miniatur yang dibuatnya secara pribadi hanya untuk suaminya.
"Semoga kita cepat bertemu kembali, sayangku!" ucap Yuna Aurora sambil memeluk istana miniatur yang menjadi kediaman Tian Zhi sementara.
"Yang Mulia Ratu, kita kirim ke Alam Jiwa agar segera bereinkarnasi sesegera mungkin!" saran si Yuke.
Yuna Aurora mengangguk paham, lalu dia kembali menggunakan topengnya. Mereka berdua bergandengan tangan, lalu keluar cahaya dari tubuh Yuna Aurora. Setelah itu mereka pun menghilang...
"Ahhh!! Suami...!!" teriakan He Hua yang tidak bisa mati bersama suaminya, dia memukul air hingga membuat gelombang.
Dia menangis sejadi-jadinya, 15 tahun hanya bisa melihat suaminya terbaring, disaat siuman justru menjadi perpisahan untuk selamanya. Siapapun wanitanya pasti akan seperti He Hua.
"Ibu...!"
Xiang Ri Kui, Guo Shun dan Tian Yinping memeluk He Hua, mereka juga ikut berduka cita atas meninggalnya ayahnya yang menyelamatkan semua orang.
Byurr...
Zhi Yinping tercebur ke sungai karena tidak mampu menopang tubuh yang terluka parah, dia terluka akibat gelombang kejut ledakan garis darah Kasta Kaisar, bahkan zirah perangnya meleleh. Sebenarnya, Zhi Yinping ingin menyusul suaminya, namun Raja Suzaku buru-buru melindunginya.
Tian Yinping segera menolong ibunya dan menangis sejadi-jadinya...
Hari ini merupakan kehilangan terbesar bagi semua orang, Zhi Shaosheng yang terluka tidak menghiraukan rasa sakitnya, dia menyesal tidak bisa menolong Tian Zhi.
Benua Awan Timur yang jauh dari Alam Keabadian bisa melihat ledakan garis darah Kasta Kaisar, Benua Venus, Benua Peri dan hampir semua yang berada di Alam Semesta Aurora bisa melihatnya.
Raja Jun penguasa Benua Awan Timur ikut meneteskan air mata, dia melihat kitab yang berisi tentang ramalan, dimana leluhur Jun meramalkan tentang ledakan hebat yang mengguncang Alam Semesta Aurora.
"Dewa Binatang, semoga kita segera bertemu kembali," ucap Raja Jun, ayah dari Jun Mei Lin. Lalu dia melihat lukisan keluarga besarnya.
Di lukisan itu ada Tian Zhi bersama semua istri yang menggendong anak-anaknya, Raja Jun dan keluarganya juga ada.
"Jangan bersedih! Putri dan cucu kita akan menjadi orang yang hebat disaat Dewa Binatang kembali!" hibur seorang wanita yang merupakan istrinya, ibu dari Jun Mei Lin.
Raja Jun mengangguk, dia mengeluarkan pakaian serba berwarna putih dan mengenakannya. Demikian juga dengan istrinya yang menggunakan pakaian serba berwarna putih, mereka sedang berkabung.
"Kita semua berkabung atas kepergian Kaisar Tian yang menjadi penyelamat Benua Awan Timur, berkabung selama 7 hari 7 malam!" pinta Raja Jun yang suaranya terdengar hingga ke seluruh Benua Awan Timur...
Di Benua Venus juga ikut berkabung atas kematian Tian Zhi, mereka mengetahuinya saat merasakan aura yang dimiliki oleh Tian Zhi. Raja Ling semua orang tidak bisa keluar dari Benua Venus, sebab ada energi kuat yang menyelimutinya.
...****************...
Saat ini semua orang melihat He Hua yang tidak mau meninggalkan tempatnya, sehingga Zhi Shaosheng menutup aliran air terjun agar tidak membasahi He Hua. Kini tidak ada lagi Air terjun, sungai pun berhenti mengalir.
"Ibu, jangan seperti ini, tidak hanya ibu saja yang merasa kehilangan, kita sama... Kita mencintai ayah, sangat mencintai ayah! Jika ibu seperti ini terus, ayah akan bersedih!" bujuk Xiang Ri Kui yang ingin ibunya berhenti menangis dan kembali ke rumah.
Namun, He Hua tidak memperdulikan ocehan putranya, dia terus menangis. Guo Shun ikut membujuk, tapi sama seperti adiknya, ibunya tetap tidak berhenti menangis.
"Berikan waktu bagi Ibumu untuk sendiri," kata Zhi Shaosheng dengan nada lembut kepada cucu-cucunya.
Xiang Ri Kui dan Guo Shun dengan enggan meninggalkan ibunya.
"Kita lihat ibu Yin." Ajak Xiang Ri Kui yang ingin tahu kondisi Zhi Yinping.
Guo Shun mengusap air mata. Sebelum pergi, dia melihat ibunya lagi. Semua orang meninggal He Hua yang sedang berduka. Zhi Shaosheng memerintahkan kepada bawahannya untuk melindungi lokasi kediaman Tian Zhi.
Saat menuju ke rumah, Xiang Ri Kui bertanya kepada Zhi Shaosheng, "Leluhur, apakah lokasi tempat ayah masih berbahaya?"
Zhi Shaosheng menghela napas panjang, setelah itu dia menjawab, "sekuat True Delta akan berpikir ulang mendekati Lembah Kekosongan. Perkiraan, 1.000 tahun lagi kondisi akan kembali normal. Kakek sudah memerintahkan banyak orang untuk membuat parameter disekitar Lembah Kekosongan."
Ya, lokasi Lembah Kekosongan menjadi mengerikan, kobaran api seakan-akan tidak akan pernah padam, radius ratusan kilometer menjadi daratan api. Tidak ada satu orang pun yang berani mendekatinya.
Xiang Ri Kui ingin melihat tempat terakhir ayahnya, berharap masih ada yang bisa dijadikan kenangan...
"Ibu...!!"
Sesampainya di rumah, mereka kaget mendengar suara Tian Yinping berteriak keras. Buru-buru Xiang Ri Kui dan yang lainnya masuk ke dalam kamar.
"Ibu...!!" teriakan Xiang Ri Kui dan Guo Shun saat mengetahui Tian Yinping menyusul ayahnya.
Zhi Shaosheng yang tidak pernah menangis akhirnya meneteskan air mata. Raja Suzaku menepuk pundak sahabatnya dan meninggalkan mereka...