Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 295. Tugas Selesai.


Chapter 295. Tugas Selesai.


Selama tiga hari, Tian Zhi belum keluar sama sekali dari kamar pribadi milik Zhou Liu Changhai. Dewa Air menjadi semakin khawatir dengan istrinya, apalagi dia tidak mendengar suara apapun yang keluar dari kamar istrinya, bukan hal biasa yang terjadi pada istrinya ketika ditangani oleh Alkemis dan tabib.


Demikian juga dengan pengawal pribadi Zhou Liu Changhai yang khawatir, namun mereka hanya bisa saling berkomunikasi telepati untuk mengungkapkan perasaan gelisah.


"Pengobatan macam apa yang dia gunakan?" batin Dewa Air yang gelisah dengan berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar istrinya.


Karena tidak sabar ingin mengetahui kondisi istrinya, Dewa Air memutuskan untuk masuk. Disaat dia akan mendorong pintu kamar, tiba-tiba pintu kamar terbuka dari dalam.


Terlihat Tian Zhi yang mengembangkan senyuman hangat melihat wajah Dewa Air yang tampak suram. Seketika wajah Dewa Air menjadi ceria melihat Tian Zhi.


"Bagaimana?" tanya Dewa Air dengan tergesa-gesa ingin tahu kondisi istrinya.


"100% sembuh. Anda bisa melihatnya dikamar, tapi jangan dibangunkan. Biarkan dia bangun sendiri!" jawab Tian Zhi dan memberikan jalan bagi Dewa Air.


Dewa Air segera masuk dan disusul oleh empat pengawal pribadi istrinya. Sedangkan Tian Zhi duduk ruang tamu kamar Zhou Liu Changhai. Dua pelayan istana segera melayani Tian Zhi dengan membawakan hidangan terbaik dan minuman arak.


Tian Zhi melihat pelayan dari ikan duyung yang tubuhnya setengah manusia. Mengingat Ras Ikan Duyung, dia menjadi teringat dengan istrinya yang dibawa oleh keluarganya.


Lalu Tian Zhi bertanya, "bagaimana kondisi Daratan Es Tengah Samudera, apa cuaca dingin makin meluas?"


Dua pelayan yang tidak berani melihat wajah Tian Zhi hanya bisa menunduk, salah satu pelayan segera menjawab, "Yang Mulia Kaisar Tian, dalam dua hari ini, cuaca dingin makin parah dan mendekati Kerajaan Air serta daratan wilayah Selatan!"


"Terima kasih!" ucap Tian Zhi.


"Sudah kewajiban kita untuk menjawab sebisa mungkin, Yang Mulia!" ujar pelayan istana itu, lalu mereka berdua membungkuk sebagai bentuk penghormatan dan segera meninggalkan Tian Zhi, setelah meletakkan hidangan terbaik dan minuman arak.


Tian Zhi mengambil cangkir berisi arak, lalu dia melihat secarik kain putih yang terlipat. Tian Zhi mengambil kain tersebut dan melihat tulisan si pelayan istana.


"Maaf, Yang Mulia. Kami harap Yang Mulia berhati-hati saat masuk ke dalam Istana Samudera. Ada jebakan beracun!"


Tian Zhi membaca peringatan dari pelayan istana yang memberanikan diri untuk membocorkan rencana ketiga adik Dewa Air. Tian Zhi segera melihat dua pelayan istana yang akan menutup pintu, lalu dia buru-buru mengeluarkan dua cincin dimensi tingkat rendah dan melemparkan ke arah pelayan.


Dua pelayan istana dengan sigap meraih cincin dimensi pemberian Tian Zhi, lalu kembali membungkuk sebagai ucapan terima kasih. Tian Zhi mengangguk sebagai respon dan melihat pelayan istana menutup pintu kamar Zhou Liu Changhai.


Tian Zhi tersenyum mengetahui kebodohan adik-adik Dewa Air. Kemudian membakar kain tersebut, lalu dia meminum arak dalam sekali tegukan...


Sedangkan Dewa Air ingin tertawa bahagia mengetahui istrinya telah sembuh total, kondisi Zhou Liu Changhai kembali seperti semula yang sehat dan cantik.


"Kalian jaga istriku dan layani sebaik mungkin!" perintah Dewa Air kepada empat pengawal pribadi istrinya.


"Pasti, Yang Mulia!" jawab serempak empat pengawal tersebut.


Setelah Dewa Air keluar dari kamar istrinya, keempat pengawal itu buru-buru membuka selimut Zhou Liu Changhai secara perlahan. Empat pengawal tersebut mencium aroma cairan surga dan menebak apa yang dilakukan oleh tuannya bersama Tian Zhi selama tiga hari ini. Banyak tanda merah kehitaman di tubuh Zhou Liu Changhai, itu merupakan tanda bibir atau ****** milik Tian Zhi.


"Nyonya tampak puas... Lihat organ kewanitaannya terbuka ...!" bisik salah satu pengawal wanita sambil menunjuk organ kewanitaan milik Zhou Liu Changhai.


Mereka berempat tersenyum, mereka tahu apa yang telah dilakukan oleh Zhou Liu Changhai dan Tian Zhi. Mereka berempat mengangkat jempol yang ditujukan untuk Tian Zhi.


"Pria hebat!" pujian salah satu pengawal dan tertawa pelan sambil menutup mulut dengan tangan.


Dewa Air jelas tidak tahu, sebab dia hanya memeriksa nadi dipergelangan tangan istrinya tanpa berani membuka selimut, sebab dia masih takut dengan kemarahan istrinya.


"Terima kasih telah menyembuhkan istri hamba. Sesuai kesepakatan dengan Permaisuri Guang Liem dan Ratu He Hua, hamba akan memberikan diskon 50% jenis produk penjualan apapun selama 100 tahun!" ucap Dewa Air setelah duduk di kursi dan berhadapan dengan Tian Zhi.


Tian Zhi mengeluarkan gulungan dari kulit binatang, dimana isinya memuat perjanjian kerjasama perdagangan antara Kerajaan Guang dan Kerajaan Air. Tian Zhi menyodorkan kepada Dewa Air, dengan tujuan meminta stempel kerajaan sebagai ikatan.


"Aku hanya melakukan sesuatu dengan kesepakatan. Silakan beri stempel kerajaan!" jawab Tian Zhi.


Dewa Air yang sudah tahu isi perjanjian, dengan segera mengeluarkan stempel Giok Kerajaan Air, lalu dia meletakkan di atas gulungan perjanjian kerjasama...


"Apa yang harus dilakukan istri hamba untuk proses pemulihan?" tanya Dewa Air setelah Tian Zhi menyimpan gulungan perjanjian antar dua kerajaan.


"Beri dia kebebasan untuk melakukan apapun yang diinginkannya, ini bertujuan agar psikologis tidak lagi tertekan sebagai seorang permaisuri. Selain faktor meridian tersumbat serta kecanduan, ada 2 faktor asal muasal semua terjadi, tekanan sosial dan biologis...," jelas Tian Zhi setelah mengetahui segalanya dari Zhou Liu Changhai ketika berkultivasi ganda selama tiga hari


Selama berkultivasi ganda, Zhou Liu Changhai secara terang-terangan menceritakan sejarahnya, dimana dia berasal dari Kasta Rakyat jelata. Karena kecantikannya, dia sangat terkenal sekaligus juga berbakat, selain dia yang berbakat, adiknya yang bernama Zhou Qionglin juga berbakat dan cantik.


Karena tidak bisa bebas berinteraksi, Zhou Liu Changhai mencari kesibukan dengan memelihara Bunga Poppy dan tanaman Cannabis. Lalu untuk menenangkan diri, dua mengestrak kedua jenis tanaman tersebut dan mengkonsumsinya. Akhirnya timbul penyakit, yaitu penyumbatan pada titik Ren Du (berhubungan dengan hasrat menggebu-gebu) dan kecanduan.


Selain itu, Zhou Liu Changhai memiliki historis dari keluarganya, yang mana ada keturunan yang memiliki kelainan pada Kejiwaan yang disebut faktor biologis. Dan faktor sosial, karena kehidupan sehari-hari selalu dihina dan direndahkan (bully) dari pihak keluarga Dewa Air.


"... Tapi, setelah dia kembali sehat, mentalnya akan semakin tangguh karena faktor sosial. Hinaan dan direndahkan itu sebenarnya bagus untuk menempa kejiwaannya. Lihat, dia saat terbangun nanti akan berubah sikap... Mungkin akan lebih tegas dari Anda, bisa-bisa Anda akan lebih mempercayainya untuk mengurus Kerajaan Air." Panjang lebar Tian Zhi menjelaskan tentang ilmu psikologi


Apa yang dikatakan oleh Tian Zhi bisa dikatakan benar, seseorang yang tidak pernah mendapatkan hinaan dan direndahkan (bullying), niscaya kehidupan di masa depan akan mudah menyerah atau putus asa, sebab selama hidupnya tidak pernah mengalami hal-hal buruk.


"Terima kasih atas bimbingan Yang Mulia serta membuat Zhou Liu Changhai menjadi lebih kuat!" ujar Dewa Air sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Hal sepele! Aku juga berterima kasih telah diberikan kepercayaan ini, tanpa diberikan kelonggaran untuk menanggani istri Anda, aku juga tidak akan belajar tentang kejiwaan!" sahut Tian Zhi yang berbasa-basi.


Ya, Tian Zhi telah membuat Zhou Liu Changhai bertekuk lutut. Dan mulai saat ini, Zhou Liu Changhai hanya bisa terpuaskan oleh Tian Zhi. Tian Zhi sengaja melakukan itu agar Zhou Liu Changhai lebih dekat dengan Guang Liem.


"Baiklah, aku harus menuju Daratan Es Tengah Samudera yang harus diselesaikan dengan segera. Semoga hubungan dua kerajaan ini tidak hanya berhenti pada 100 tahun, aku harap bisa untuk seterusnya!" pamit Tian Zhi dengan berdiri.


Dewa Air dengan enggan ikut berdiri, dia sebenarnya ingin Tian Zhi tinggal lebih lama di kerajaannya, namun dia tahu situasi Daratan Es Tengah Samudera tidak baik. Selain itu, dia ingin menahan Tian Zhi karena faktor kejahatan yang direncanakan oleh adik-adiknya, dia tidak ingin membuat kemarahan Tian Zhi.


Tian Zhi melihat gestur tubuh Dewa Air yang ambigu, tapi dia tidak peduli dan segera meninggalkan kamar pribadi Zhou Liu Changhai tanpa menunggu respon.


Dewa Air duduk lemas di kursi, lalu dia menghela napas berat saat tidak bisa melakukan apapun demi kebaikan semua pihak. "Bodoh! Kenapa aku tidak bisa tegas!" ejeknya pada diri sendiri.


"Aduh!!" teriak Dewa Air ketika dantian-nya merasakan nyeri, lalu dia buru-buru mengeluarkan Pil Penyembuh Dantian yang diciptakan oleh Dewi Alkemis.


Ternyata, Dewa Air masih belum pulih total, dikarenakan kualitas pil tidak sesuai dengan kebutuhan kondisi lukanya. Dewa Air membutuhkan Pil Penyembuh Dantian tingkat Celestial Supreme tahap puncak, hanya Tian Zhi yang bisa menyembuhkannya.


Dewa Air sebenarnya ingin meminta bantuan lagi, tapi dia lebih memilih untuk memproritaskan istrinya dari pada diri sendiri...


Tian Zhi memasukkan ruang utama Kerajaan Air yang tampak sepi, hal yang aneh baginya jika dibandingkan dengan Kerajaan Guang. Namun, dia yang tahu dan juga diyakinkan oleh dua pelayan istana, tidak khawatir jika terkena racun.


Tian Zhi samar-samar melihat ruang utama istana seperti berkabut, namun dia berpura-pura tidak mengetahui adanya racun. Dengan santainya Tian Zhi berjalan menuju pintu keluar istana.


Dalam hatinya tersenyum tipis saat tahu ada banyak orang yang memiliki kekuatan Dewa Absolute bersembunyi dibalik pilar-pilar istana, diantara banyaknya Dewa Absolute, ada tiga kekuatan Sang Void, mereka adalah saudara kandung Dewa Air.


Tian Zhi merubah fisiknya seperti orang yang terkena racun, dimana kulitnya perlahan mulai berubah menjadi berwarna keunguan, mata merah serta jalannya mulai sempoyongan.


Yu Jie, Yu Kian dan Yu Yaoshi melihat targetnya telah terpengaruh racun. Mereka melihat Tian Zhi perlahan mulai tidak mampu menopang tubuh. Yu Kian mengangkat tangan kanan agar anak buahnya bersiap-siap saat Tian Zhi ambruk.


"Tangkap dia!" perintah Yu Kian saat Tian Zhi ambruk dengan lutut menyangga tubuhnya.


Para Dewa Absolute melemparkan rantai khusus untuk menjerat tubuh Tian Zhi. Kedua tangan dan kaki terjerat terlilit rantai yang bisa saling terikat dengan rantai lainnya.


Kemudian, para Dewa Absolute menarik rantai dengan tujuan memperketat ikatan. Yu Jie, Yu Kian dan Yu Yaoshi tertawa telah berhasil menangkap Tian Zhi. Lalu mereka mendekati Tian Zhi yang terikat dengan rantai. Tian Zhi menatap wajah-wajah ketiga adik Dewa Air dan tidak berusaha untuk berontak agar terlepas dari ikatan.


"Racun ini adalah racun pelumpuh tulang dan penghancuran organ tubuh. Jika racun tidak segera ditangani, maka tubuhmu akan membusuk. Patuhi kami dengan membuat banyak Pil Kultivasi tingkat Celestial Supreme, maka kami akan memberikan penawarnya," ujar Yu Kian sambil memamerkan sebutir pil berwarna hijau.


Tian Zhi menyunggingkan senyum sinis, lalu dia mencemooh, "apa semudah ini mampu menaklukkan ku? Kalian terlalu melebih-lebihkan diri sendiri!"


Yu Kian tertawa mendengar ucapan Tian Zhi, lalu dia berkata, "kami tidak melebih-lebihkan diri, tapi semua ini sudah terencana. Rantai--"


Sebelum Yu Kian selesai berbicara, dia melihat Tian Zhi berubah menjadi asap dan menghilang dari pandangan mata semua orang. Sebelum mereka bereaksi dengan Tian Zhi yang berubah asap, tiba-tiba...


Boom...


Istana meledak dan suaranya memekakkan telinga. Seketika semua orang yang berniat buruk kepada Tian Zhi mati tanpa tubuh dimakamkan. Istana Samudera akhirnya menjadi puing-puing.


Di kejauhan seseorang melayang di udara, dia adalah Tian Zhi yang melipatkan kedua tangan di dadanya saat melihat aksi Tubuh Ganda yang menipu musuhnya. Ya, Tian Zhi cukup menggunakan dua Tubuh Ganda untuk melenyapkan musuh-musuhnya yang berada di dalam istana.


"Dari dulu keserakahan selalu membutakan mata hati!" gumam Tian Zhi dan tiba-tiba menghilang.


Di dalam mansion, Dewa Air meneteskan air mata kesedihan mengetahui ketiga adiknya mati sia-sia, lalu dia berucap, "inilah karma yang harus kita alami. Apa yang kita tanam, kita juga yang akan memanennya."


Lalu Dewa Air mengambil bandana berwarna putih, lalu dia mengikatnya di kepala sebagai bentuk berkabung atas kematian ketiga adiknya.


Zhou Liu Changhai menyunggingkan senyum manis saat berpura-pura tertidur, dia sangat bahagia dengan kematian orang yang telah menghinanya selama ini. Lalu dia membelai perutnya yang tercetak tato berbentuk bulat bergambar Yin Yang.