
Chapter 241. Istana Giok.
Ketika hari akan menjelang sore, Tian Zhi berhenti berkultivasi ganda setelah Qing Huan meminta ampun. Qing Huan telah mencapai puncak berkali-kali, tubuhnya benar-benar lemah dan sangat kelelahan.
Kemudian, Tian Zhi memberikan segel keluarga kepada Qing Huan. Qing Huan yang tertidur pulas tidak menyadari jika kekuatan meningkat empat level. Setelah itu, Tian Zhi menutupi tubuhnya dengan selimut, lalu menuju ke kamar mandi untuk berendam.
Sambil berendam, Tian Zhi memikirkan siapa pelaku yang menyerang dengan bola energi elemen es. Dibenaknya, hanya ada satu orang yang dia kenal dan memiliki elemen es, yaitu Zhi Jianying si Dewi Seribu Wajah.
Namun, tidak mungkin Dewi Seribu Wajah yang melakukannya, sebab telah diberikan segel keluarga. Karena penasaran apa yang sedang dilakukan oleh Zhi Jianying, Tian Zhi memejamkan mata untuk melihat segel keluarga milik Zhi Jianying.
Dengan pasangannya memiliki segel keluarga, Tian Zhi mampu melihat apapun yang mereka lakukan. Segel keluarga bagi Tian seperti mata ketiganya.
Tian Zhi terkejut saat melihat Zhi Jianying telah berada di Rumah Makan Peri, dengan menyamar sebagai seorang wanita dewasa usia 50 tahun, rambut sebagian telah memutih, menggunakan pakaian mewah, memakai kalung berlian dan banyak perhiasan emas di pergelangan tangan.
Ternyata Zhi Jianying pemilik Rumah Makan Peri yang kaya raya, dengan menggunakan nama Nyonya Ying. Selain itu, kekuatannya juga disamarkan, saat ini berada di tingkat Half Alfa level 5.
Zhi Jianying yang berada di lantai lima bisa dengan mudah memperhatikan lokasi tenda Pasukan Phoenix. Di depannya duduk Dewa Surya dan Dewa Air.
Dewa Surya dan Dewa Air terlihat hormat kepada Nyonya Ying alias Zhi Jianying. Mereka berdua telah mengutarakan rencananya kepada Nyonya Ying dan meminta dukungan untuk mengalahkan Tian Zhi.
"Apakah kamu yakin rencana ini akan berhasil?" tanya Nyonya Ying dengan tegas, dia melirik kedua pria di depannya.
"Saya yakin! Racun yang mencemari sumber mata air akan membuat bocah itu kalang kabut. Saya juga telah menyiapkan beberapa orang untuk membuat propaganda di Kerajaan Guang!" jawab Dewa Surya dengan meyakinkan.
Nyonya Ying mengetuk meja makan dan melihat terus ke arah tenda Pasukan Phoenix, lalu setelah beberapa saat berpikir, dia berbicara, "apa keuntungan ku dan juga tujuanmu yang sebenarnya?"
Sebelum Dewa Surya menjawab, Nyonya Ying kembali berbicara untuk menyelidiki niatnya, "tidak mungkin tujuan kalian berdua hanya sekedar ingin menguasai wilayah Kekaisaran Song. Wilayah mu sendiri saja banyak yang tidak kamu perhatikan, kenapa repot-repot dengan semua ini?"
Dewa Surya dan Dewa Air tersenyum masam, ketika tujuan utama mereka bisa ditebak oleh Nyonya Ying. Lalu mereka berdua saling bertukar pandangan dan mengangguk.
"Apakah Nyonya Ying pernah mendengar legenda Istana Giok, yang 20.000 tahun lalu tiba-tiba menghilang dari Alam Mahadewa?" tanya Dewa Surya sebelum mengungkapkan tujuan utamanya.
Nyonya Ying melihat kedua mata Dewa Surya yang terlihat serius, lalu dia menjawab, "iya, aku pernah mendengarnya. Hilang setelah adanya wabah mayat hidup yang menghancurkan Istana Giok. Memang ada apa dengan Istana Giok?"
"Apakah Anda pernah mendengar jika Istana Giok menyimpan salah satu Kitab Asal Muasal Alam Semesta?" tanyanya sekali lagi.
Nyonya Ying menjadi jengkel dengan Dewa Surya yang terus bertanya. "Iya aku tahu, tapi itu hanya desas-desus... Jangan berbelit-belit, apa tujuanmu?" geramnya yang tidak sabaran.
Tubuh Dewa Surya dan Dewa Air gemetaran ketika Nyonya Ying mengeluarkan basis kultivasinya. Dari cincin dimensinya, Dewa Surya mengeluarkan sebuah peta, lalu meletakkan di meja makan. Nyonya Ying melihatnya dengan raut wajah kebingungan.
"Ini peta Istana Kekaisaran Song, dibawahnya ada lorong menuju ke dunia lain. Beberapa mata-mata telah menginformasikan bahwa Istana Giok berada di sana. Mata Dewa kita tidak akan bisa menembus ke tanah sedalam 3.000 meter, dan dunia lain ini berada di kedalaman 10.000 meter lebih...," beber Dewa Surya yang mengatakan tujuan utamanya untuk menguasai Kekaisaran Song.
Dewa Surya ingin mendapatkan Kitab Asal Muasal Alam Semesta yang tersimpan di Istana Giok. Peta itu dia dapatkan dari putra mahkota Song Shen.
Dulu, Istana Giok merupakan milik Kaisar Giok. Desas-desus mengatakan, jika Istana Giok hancur karena wabah mayat hidup yang merajalela di Alam Mahadewa. Seandainya wilayah Kekaisaran Qing saat ini tidak terpisahkan oleh lautan, sudah dipastikan juga akan ikut hancur.
Setelah Istana Giok hancur dan beberapa ribu tahun wabah menghilang. Baru seorang pria bernama Song Wen menjelajahi wilayah Kekaisaran Giok. Saat penjelajahan, Song Wen tidak menemui ada orang, hanya ada binatang mistik, sedikit hutan yang masih tersisa dan air mulai mengering.
Song Wen pun berhenti di bukit dekat Istana Giok yang tergolong masih subur dan melimpah akan sumber mata airnya. Tapi dia tidak melihat lagi masa-masa kejayaan Kaisar Giok dan tidak menemukan istananya.
Lalu dia mulai mendirikan sebuah desa kecil di atas bekas Istana Giok. Lambat laun desa kecil mulai menjadi kota, karena keuletan Song Wen dalam pembangunan dan banyak mempromosikan tempatnya, sedikit demi sedikit banyak orang yang mulai berdatangan.
Bukit Kaki Song sengaja diberi nama begitu, sebab disanalah titik awal Song Wen melihat bekas Istana Giok. Dia berkeyakinan, namanya akan terkenal jika mendirikan sebuah kekuasaan di bekas Istana Giok.
"Apakah kamu 100% yakin, jika Istana Giok tidak hancur, melainkan pindah ke dunia lain?" selidik Nyonya Ying yang masih belum memercayai ucapan Dewa Surya, sebab tidak ada bukti yang kuat untuk membuatnya mendukung Dewa Surya.
Dewa Surya mengangguk dan mengeluarkan sesuatu dari cincin dimensinya, lalu meletakkannya di atas meja makan. Nyonya Ying sedikit terkejut saat melihat stempel milik Kaisar Giok, dan itu bukti jika Istana Giok tidak hancur seperti desas-desus yang beredar luas.
Nyonya Ying mengambil stempel Kaisar Giok yang berbentuk binatang Kirin, lalu dia memeriksanya dengan teliti apa asli atau palsu.
"Stempel Kaisar Giok ini bisa diaktifkan oleh keturunannya, minimal memiliki garis darah yang sama!" jelas Nyonya Ying setelah pemeriksaan teliti dan memang stempel tampak asli, lalu dia meletakkan kembali di atas meja makan.
Dewa Surya dan Dewa Air mengangguk paham. Stempel Kaisar Giok akan mengeluarkan cahaya berwarna hijau, jika seseorang keturunannya menetes darah di atas kepala binatang Kirin. Saat ini, stempel Kaisar Giok tampak kusam, merupakan tanda sudah lama tidak pernah dipegang oleh keturunan Kaisar Giok.
"Dari mana kamu mendapatkan ini? Apa hubungannya ini dengan Istana Giok? Ini juga tidak membuktikan jika istana itu masih ada?" lanjutnya dengan mencecar banyak pertanyaan kepada Dewa Surya.
Dewa Surya tersenyum, lalu dia menjawab, "saya juga mendapatkannya dari Song Shen. Ini ada hubungannya, stempel Kaisar Giok ini merupakan kunci masuk menuju ke dunia lain dibawah istana Kekaisaran Song...," Lalu dia menunjuk peta yang terdapat tanda kotak dibawah singgasana Kaisar Song.
Song Shen sendiri mendapatkan stempel Kaisar Giok dan peta dari kakek pihak ibunya. Waktu itu, Kaisar Song masih hidup dan belum menginvasi Benua Dewa. Kata kakeknya, jika dibawah istana ada banyak harta melimpah dan meminta Song Shen untuk mencarinya. Namun, sampai kakeknya meninggal, Song Shen belum bisa memenuhi keinginannya, sebab masih ada Kaisar Song dan tidak mungkin dia membongkar singgasana ayahnya.
Setelah Kaisar Song terbunuh di Benua Dewa, Song Shen sangat kegirangan dan berharap menjadi kaisar pengganti. Akan tetapi, tujuannya dihalangi, dimana dia harus mengalahkan Permaisuri Guang Liem sebelum menjadi seorang kaisar.
Akhirnya, Song Shen menyerahkan stempel Kaisar Giok dan peta kepada Dewa Air, dia meminta membantu untuk menguasai Kekaisaran Song. Dewa Air pun dengan senang hati menerima dan memberitahukan kepada sahabatnya. Dari situlah Dewa Surya dan Dewa Air mendukung Song Shen untuk mengalahkan Permaisuri Guang Liem.
Nyonya Ying berpikir setelah Dewa Surya memberikan penjelasan tentang keberadaan Istana Giok, dia kembali melihat ke arah tenda Pasukan Phoenix dan berharap melihat Tian Zhi.
Dewa Surya dan Dewa Air menjadi gelisah menunggu jawaban dari Nyonya Ying, sebab selama Tian Zhi masih mendukung Permaisuri Guang Liem, mereka tidak akan bisa mendapatkan Kitab Asal Muasal Alam Semesta yang disimpan di Istana Giok.
"Aku tidak bisa membunuhnya, selama masih ada orang yang berasal dari Alam Keabadian. Selain itu, dia seorang ahli Alkemis... Lalu apakah keuntungan ku dan apakah sebanding dengan membunuh Master Tian?" tanya Nyonya Ying yang tahu dia tidak bisa membunuh Tian Zhi karena beberapa faktor.
Dewa Air tersenyum, kali dia berbicara setelah Dewa Surya menyenggol kakinya, "kita bisa menunggu tamu dari Alam Keabadian kembali. Apakah Es Pembeku Api tidak sebanding dengan membunuh bocah itu?"
Mendengar Es Pembeku Api, Nyonya Ying langsung melihat kedua mata Dewa Air dengan tatapan serius, dan tidak ada kebohongan dari mulutnya.
Es Pembeku Api masuk peringkat ke-13 dari 21 jenis elemen es di alam semesta, dan Nyonya Ying alias Zhi Jianying si Dewi Seribu Wajah sangat membutuhkannya untuk meningkatkan elemen es.
"Dimana Es Pembeku Api?" tanyanya kepada Dewa Air dengan serius.
"Kami tahu bukan lawan Anda... Nyonya Ying tidak perlu membunuh bocah itu, cukup usir dia dari Alam Mahadewa, setelah itu saya akan tunjukkan lokasinya!" jawab Dewa Air dengan tegas, dia jelas tidak akan memberitahukan keberadaan Es Pembeku Api sebelum Nyonya Ying membantunya.
Nyonya Ying tahu maksud perkataan Dewa Air, dimana dia dengan mudah membunuh mereka berdua. Lalu dia berpikir sejenak sambil kembali melihat ke arah tenda Pasukan Phoenix.
"Baiklah, aku akan membantu kalian. Tapi hanya membuat Master Tian tidak mendukung lagi Keluarga Besar Guang. Setelah kalian berhasil mendapatkan Kitab Asal Muasal Alam Semesta, aku yang pertama kali melihatnya!" jawab Nyonya Ying.
Dewa Surya dan Dewa Air tertawa, lalu dewa Surya mengulurkan tangan kanannya sebagai bentuk kesepakatan. Nyonya hanya melirik dan mengangkat tangan kanan, tanda dia tidak mau menyentuh pria.
Dewa Surya menarik tangan dengan senyuman masam, lalu berpamitan, "karena kita sudah menjalin kesepakatan, maka kita tidak akan menganggu Anda lagi. Kita akan saling berkomunikasi melalui Siput Penghantar Suara. Selamat malam!'
Nyonya Ying mengangguk sebagai jawaban, dia melihat dua pria didepannya berdiri lalu sedikit membungkuk. Tiba-tiba mereka berdua menghilang dari hadapannya.
"Tian Zhi... Kenapa aku tidak bisa membunuhmu? Bahkan niat buruk pun aku tidak bisa! Apa karena kita sudah ...!" gumam Nyonya Ying sambil memikirkan Tian Zhi.