
Chapter 124. Mencuri Patung Dewa Binatang.
Setelah Tian Zhi merekayasa kematian target utamanya, dia merekam jasad Dong Jian dengan batu giok perekam, dia melakukan ini sebagai bukti kepada Organisasi Tangan Hitam. Setelah semuanya telah dianggap sempurna, Tian Zhi pun pergi meninggalkan rumah Dong Jian.
Dong Jian membakar rumahnya dengan wajah yang telah berubah, dia membalikkan badan untuk melihat gurunya untuk terakhir kali, dia mengenang saat-saat pertama kali bertemu di Paviliun Pil Surga. Namun, dia merasakan kejanggalan dengan perubahan sikap gurunya yang tidak merasakan sakit telah kehilangan banyak orang kepercayaannya.
"Guru selain lebih muda dariku, sifatnya lebih dewasa dalam menghadapi situasinya! " gumam Dong Jian dan kembali melangkahkan kaki entah kemana...
Tian Zhi yang telah berubah menjadi udara, dia menuju di tempat yang telah disepakati oleh kedua kekasihnya, setelah membunuh targetnya masing-masing.
Tapi, dia mengurungkan niatnya dan berbalik arah untuk melihat aksi kedua wanitanya dalam menjalankan misi sebagai pembunuh bayaran.
Dengan menjadi wujud udara, Tian Zhi terbang dengan bebas, dan dengan mudah melihat kekasihnya sedang menyamar untuk mendekati putra mahkota.
He Hua dan Miao Jiang menyamar sebagai pelayan setelah membunuh dua abdi istana. Dengan menggunakan wajah yang sama seperti pelayan yang mereka bunuh, mereka dengan bebas keluar masuk istana. Kedua wanita itu membagi tugas, mencari informasi kebiasaan putra mahkota dan juga keberadaan patung emas Dewa Binatang.
Tian Zhi mengangguk berulang-ulang saat tahu tujuan mereka, tiba-tiba dia menepuk keningnya saat lupa menanyakan tentang patung emas Dewa Binatang kepada Dong Jian, dia benar-benar melupakannya
Dengan perasaan dongkol, ia meninggalkan kekasihnya untuk menemukan Wang Yin alias Permaisuri Yin, dia merasakan gejolak emosi saat mendengar namanya, sebab itu dia ingin tahu seperti apa rupa Wang Yin.
Jelas Tian Zhi tidak mengingat nama Permaisuri Yin, jika tahu siapa Permaisuri Yin diingatan masa lalunya, dia pasti akan membunuh Wang Yin dan semua orang yang terlibat dengannya.
Tian Zhi yang tidak mengenal Wang Yin, dia mau tidak mau memasuki kamar di dalam istana satu per satu. Setiap bertemu dengan wanita terhormat, Tian Zhi selalu mengamati wajahnya dari dekat.
"Bukan dia! " gumam Tian Zhi dan bergerak dengan bebas di dalam istana, sesekali dia mengambil sesuatu yang menarik hatinya.
Karena kesulitan mencari wanita yang bernama Wang Yin, Tian Zhi putuskan menuju tempat pusat istana. Sesampainya di sana dia melihat banyak pembesar dan Raja Wang yang duduk di singgasananya.
"Kita bersyukur telah dibantu oleh seseorang yang menghancurkan lubang dimensi. Jika kalian bertemu dengannya, segera ajak ke istana, aku sangat berharap bisa mengucapkan rasa terimakasih! " kata Raja Wang kepada para pemimpin daerah, dan di anggukan oleh semua orang.
"Bagaimana perkembangan situasi pasca lubang dimensi dihancurkan, apakah binatang monster masih berkembangbiak?" lanjut Raja Wang kepada pemimpin daerah.
Segera maju seseorang bergelar Duke, dia memberikan hormat dan mulai memberikan laporan:
"Yang Mulia, ada perkembangan yang signifikan setelah lubang dimensi hancur, dimana perkembangbiakan binatang monster mulai melambat, saya perkiraan ini disebabkan oleh kemunculan makam kuno di sisi selatan Benua Bintang..., "
Orang yang bergelar Duke banyak berbicara terkait kemunculan makam kuno. Kemunculan makam kuno diiringi dengan aura positif yang membuat binatang monster berkumpul dan menghentikan mereka untuk terus berkembangbiak.
Anehnya, setiap binatang monster yang memasuki makam kuno tidak pernah kembali, dan merubah aura positif menjadi negatif, dimana makam kuno tersebut mengeluarkan aura kematian yang mengerikan.
Tian Zhi yang ikut mendengar jelas kegirangan dan pasti dia akan menuju ke makam kuno setelah kedua kekasihnya selesai menjalankan misinya.
Umumnya setiap kemunculan makam kuno, di dalam banyak sekali sumberdaya peninggalan almarhum. Akan banyak orang yang akan saling berebut untuk mendapatkan sesuatu dari makam kuno. Tapi, resiko pasti ada dan tidak sedikit yang mati didalamnya.
"... Mata-mata hamba pernah mendengar raungan seekor Naga dan Harimau di dalam makam kuno, mungkin binatang monster itu dibunuh oleh mereka. Sekian laporan hamba."
Orang bergelar Duke segera berjalan mundur dan kembali di tempatnya semula.
"Ini berita baik, aku tidak berharap kemunculan makam kuno membuat upaya kita memusnahkan binatang monster sangat terbantu. Selidik terus dan laporkan perkembangannya. Aku harap kita bekerjasama dalam bangun kembali wilayah kita, " kata Raja Wang dengan wajah gembira.
Siapapun pasti merasa lega telah melewati bencana seperti ini, mereka telah habis-habisan dalam melawan binatang monster selama beberapa tahun ini.
Tiba-tiba muncul seseorang wanita usia 45 tahun, dia adalah adik perempuan Raja Wang, yang tidak lain adalah Wang Yin. Wajahnya cantik dan tubuh proporsional, tinggi badan 178 cm, kulit putih sehalus batu giok, rambut panjang hingga sepinggang.
Wang Yin segera mendekati Raja Wang dengan tergesa-gesa, lalu dia berbisik.
Spontan Raja Wang berdiri dengan tubuh gemetaran, wajahnya yang tadi cerah kini berubah menjadi marah. Semua orang saling bertukar pandangan, mereka ingin tahu apa yang sedang terjadi.
"Perintahkan semua kekuatan untuk mencari pelaku pembunuh putraku. Tutup semua pintu masuk dan keluar dari wilayah ini. Tanpa ada ijin dariku, siapapun dilarang keluar dari wilayah Kerajaan Wang! " perintah Raja Wang kepada seluruh pemimpin daerah.
Spontan para pemimpin kaget mendengar berita putra mahkota telah terbunuh, segera semua orang keluar dari istana untuk mencari si pembunuh. Raja Wang langsung meninggalkan singgasananya dan berjalan tergesa-gesa menuju kamar putranya.
Tian Zhi melihat Wang Yin, dia merasakan emosi yang ingin memukuli wajahnya yang cantik, entah kenapa dia sangat membenci Wang Yin, padahal baru bertemu, dia menduga ini terkait ingatan masa lalu yang memiliki dendam kepada Wang Yin.
"Aku pasti akan membunuhmu setelah menerima patung emas Dewa Binatang!?" batin Tian Zhi, lalu dia mengikuti Wang Yin.
Sesampainya di kamar putra mahkota, Tian Zhi melihat kekasih gelap muridnya yang lebih tua dari Wang Yin, perkiraan usianya telah menginjak angka 60 tahun, biarpun begitu, wajahnya masih menampilkan sosok wanita remaja usia 25 tahun.
Lalu, Tian Zhi melihat wajah putra mahkota yang menghitam, tanda kematiannya telah terkena racun yang mematikan. Tian Zhi tersenyum wanitanya memiliki racun yang mematikan, perkiraannya, racun yang digunakan adalah jenis racun ikan dan ular.
Setelah melihat sendiri kematian putra mahkota, Tian Zhi bergegas menuju tempat pertemuan dengan kekasihnya. Dia terbang dengan sangat cepat dan melihat banyak prajurit yang mencari si pembunuh dan memeriksa semua orang satu per satu.
Tidak berselang lama, Tian Zhi telah tiba, tapi dia berhenti saat melihat kekasihnya bersama seseorang yang bertopeng emas, tanda pangkat tertinggi kedua setelah Topeng Berlian. Dengan raut wajah penasaran, Tian Zhi segera mendekati mereka dari dekat dan tidak kuatir skill Perubahan Wujud diketahui oleh kekuatan setingkat Dewa Absolute.
"Master Yan, kita sudah menjalankan misinya dengan sukses dan tinggal menunggu si penyewa untuk bertemu! " lapor Xinxin alias He Hua kepada pemimpin Organisasi Tangan Hitam.
Tian Zhi sedikit terkejut saat baru pertama kali melihat sosok pendiri Organisasi Tangan Hitam. Dia merasa heran dengan sosok pendiri sekaligus pemimpin mau-maunya turun tangan hanya demi misi sederhana.
Tian Zhi menduga ini pasti terkait dengan patung emas Dewa Binatang, sebab Master Yan juga menginginkan Batu Keabadian.
"Aku kesini untuk memberikan kalian misi baru, yaitu membunuh seseorang dari Alam Keabadian yang akan menuju ke sini. Dia ingin memasuki makam kuno untuk mendapatkan Api Mekar Melahap Bulan!" perintah Master Yan sendiri memeriksa surat tugas dan berkas informasi terkait targetnya.
Api Mekar Melahap Bulan adalah Api Asyura peringkat ketujuh.
Tian Zhi yang mendengarnya menjadi lega, sebab rencananya untuk membunuh si pemilik patung emas Dewa Binatang tidak terhalang oleh Master Yan, dia makin senang saat tahu di makam kuno ada Api Asyura peringkat ketujuh. Tapi raut wajahnya berubah saat mendengar Master Yan...
"Sekarang mana patung emas Dewa Binatang?" pinta Master Yan yang tujuan sebenarnya ingin mengambil sendiri patung emas Dewa Binatang.
He Hua yang membawa patung emas Dewa Binatang terlihat ragu-ragu untuk memberikan kepada Master Yan, sebab dia telah berjanji kepada kekasihnya.
"Kamu jangan kuatir dengan dia, aku sudah memberikan kompensasi yang lebih berharga dari patung Dewa Binatang, " kata Master Yan yang berpikir He Hua berpikir tentang si penyewa jasa pembunuh bayaran.
Segera Tian Zhi berbicara kepada He Hua dan Miao Jiang dengan suara telepati, katanya:
"Berikan dan sedikit menjauh, biarkan aku yang menanganinya!"
Mendengar suara Tian Zhi, He Hua yang percaya segera mengeluarkan patung emas Dewa Binatang dari cincin dimensi. Suara 'Bang' terdengar saat patung Dewa Binatang dikeluarkan, tingginya mencapai 8 meter.
He Hua segera mundur bersama Miao Jiang. Master Yan tersenyum dibalik Topeng Emas dan memutari patung Dewa Binatang...
Swosh...
Tiba-tiba patung Dewa Binatang menghilang dari hadapan Master Yan. Spontan ketiga orang itu kaget dan merasakan desiran angin kencang melewati mereka.
"Sialan?! " teriakan kemarahan Master Yan sambil mengeluarkan pukulan kuat di arah kaburnya pencuri patung Dewa Binatang.
Boom💥...