Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 110.


Chapter 110. Memilih Hidup Saat Ini!


Pria tua itu tetap memejamkan mata seakan-akan tidak mendengar ucapan Tian Zhi, suara dengkuran-nya pun makin keras terdengar saat Tian Zhi mendekati.


"Salam, Senior! " sapa Tian Zhi saat berdiri di depan pria tua, sambil menangkupkan kedua tangannya ke depan.


Tapi, pria tua itu seolah-olah tidak mendengar suara Tian Zhi dan dengkuran-nya makin keras. Namun, Tian Zhi tidak mempermasalahkan-nya, dia menyibukkan dirinya dengan mencari kayu bakar untuk persiapan yang akan menjelang malam, sambil menunggu pria tua terbangun.


Tian Zhi membuat api unggun untuk menghangatkan suasana jurang yang lembab, yang tidak dia sadari, pria tua itu telah duduk dan selalu mengawasinya.


"Bagaimana, apa kamu sudah mengingat masa lalu walaupun hanya samar-samar?" tanya pria tua kepada Tian Zhi.


Sontak Tian Zhi terperanjat mendengar suara serak dibelakangnya, dia segera membalikkan badan dan melihat pria tua sedang tersenyum. Dengan hati gembira Tian Zhi memberikan salam hormatnya.


"Tidak perlu sopan! Duduklah di sini," dengan nada ramah pria tua itu meminta Tian Zhi duduk di sebelahnya.


"Senior, apakah masih menjual kulit kayu kuno?" tanya Tian Zhi yang langsung pada tujuannya.


"Tidak perlu pikirkan itu dulu. Pertanyaan ku tadi belum kamu jawab!" jawab pria tua itu dengan nada ramah.


Tian Zhi tersenyum masam yang harus menjawab sesuatu yang tidak pernah dia ingat. Tapi, demi kulit kayu kuno, dia berusaha kembali mengingat masa lalunya. Tian Zhi memejamkan mata agar bisa berkonsentrasi.


"Dua wanita yang selalu mengejar mu, apakah kamu tidak pernah mengingat sesuatu tentang mereka?" tanya pria tua itu tentang Peri Bersaudari.


Seketika Tian Zhi membuka mata dan memang dia merasakan familiar dengan He Hua dan Miao Jiang, padahal hanya beberapa kali bertemu, tapi seolah-olah lama telah saling mengenalnya.


"Hanya saja aku merasakan familiar dengan kedua wanita itu!" jawab Tian Zhi.


Pria tua itu tersenyum tipis dan mengangguk, lalu dia mengeluarkan sebuah gulungan kain putih dan membukanya secara berlahan. Terlihat sebuah lukisan seorang wanita muda dan sangat cantik, memiliki telinga rubah, tatapan lembut, bibir kecil dan hidung mancung, rambutnya berwarna putih dengan poni hampir menutupi mata.


Tian Zhi yang melihatnya seketika tubuhnya bergetar, dia merasa sangat mengenalnya wanita yang di lukis itu. Kembali Tian Zhi memejamkan mata untuk berusaha keras mengingat wanita dari Ras Rubah.


"Aku seperti sangat mengenalnya, tapi lupa dimana pernah bertemu!" jelas Tian Zhi yang masih tidak mengenal wanita di lukisan walaupun dia merasa sangat akrab.


"Bagus! Itu tandanya Alam bawah sadar mu masih menyimpan semua kenangan. Wanita ini bernama Yu Bao berasal dari Benua Permata Hitam. Dua wanita yang selalu mengejar mu adalah mantan murid Dewi Cahaya. Dewi Cahaya pernah kamu temui sebanyak dua kali, di Benua Permata Hitam dan di Benua Peri. Coba ingat lagi nama-nama itu!" kata pria tua itu kepada Tian Zhi.


"Yu Bao, Dewi Cahaya... Benua Permata Hitam...! " gumam Tian Zhi untuk mengingatnya.


Ya, pria tua itu berusaha membuka memori yang tersimpan di alam bawah sadar Tian Zhi. Seandainya Tian Zhi sedikit mengingat, pria tua itu akan memberikan dia pilihan, dipulihkan ingatannya seperti semula atau tetap menjalani hidup seperti saat ini.


Tian Zhi memejamkan mata sambil terus mengucapkan nama Yu Bao dan Dewi Cahaya. Saat memejamkan mata dia teringat melihat banyak binatang monster yang dia lawan, lalu dia menjinakkan Dragon Flame. Setelah itu dia tidak bisa mengingat lagi.


Tapi muncul ingatan lain; berada di sebuah benua yang memiliki gunung tinggi dan bersalju, dia ingatannya, dia samar-samar melihat sosok wanita seperti di lukisan. Namun, setelah itu Tian Zhi tidak mengingat apapun, bahkan wajah wanita rubah menjadi tidak terlihat lagi.


"Samar-samar, yang aku ingat dengan jelas adalah Naga Api... Naga Api... Mirip tato di punggung ku! Ya, ya aku ingat Naga Api adalah binatang penjaga ku!" kata Tian Zhi yang mengucapkan nama Naga Api berulang-ulang, saat dia teringat dan mengaitkan dengan tato Naga Api di punggungnya, terlihat wajahnya ceria.


"Bagus, bagus! Memang Naga Api terhubung kontrak jiwa denganmu, selamanya kalian tetap selalu terhubung jiwa walaupun terpisah dengan jarak yang jauh!" ucap pria tua yang ikut senang telah berhasil mengeluarkan kenangan di dalam alam bawah sadar milik Tian Zhi.


"Senior, apa tujuan Anda supaya aku mengingat masa lalu ku?"


"Aku kasihan melihat hidupmu dijadikan bahan percobaan oleh seseorang, dan aku tidak terima dengan tindakannya yang akan mempengaruhi siklus hidup banyak orang... Aku memberikan kamu dua pilihan, aku pulihkan lagi semua ingatanmu atau tetap menjadi seperti saat ini. Tapi sebelum itu, aku memiliki satu permintaan untuk kamu kerjakan. Apa pilihanmu?" jawab pria tua itu yang membuat Tian Zhi berpikir.


Tian Zhi berpikir; tentang orang sengaja menjadikan bahan percobaan, siapa dia? Dia juga berpikir pilihan yang diberikan kepadanya, saat ini dia hidup sangat menikmati walaupun harus menerima hinaan akan masa lalu kedua orang tuanya. Jika dia memilih untuk menerima ingatannya yang lama, apakah dia bisa beradaptasi dan tidak menjadikan rasa sakit di hatinya!


Selain itu, Tian Zhi berpikir akan permintaan pria tua ini; dia teringat akan perkataan Katak Naga, jika pria tua ini sangatlah kuat, bahkan di Alam Semesta Aurora tidak ada yang menandinginya. Lalu, kenapa pria tua ini harus meminta dia melakukan sesuatu?


Banyak pikiran berkecamuk dibenak Tian Zhi, dan dia pun bertanya:


"Kalau boleh tahu, siapa orang yang menjadikan bahan percobaan?"


"Masalah itu, kamu tidak perlu kuatir lagi, kedua orang itu telah aku sibukkan dengan urusan pelik yang mereka buat sendiri!" jawab pria tua itu dan makin membuat Tian Zhi penasaran.


Ya, pria tua itulah yang telah merusak Sistem Jiwa ciptaan Dewi Cahaya, agar tidak terfokus pada Tian Zhi dan selalu ikut campur dalam siklus samsara yang harus dijalani Tian Zhi.


Sedangkan, untuk orang lainnya yang memberikan perintah kepada Dewi Cahaya, oleh pria tua itu disibukkan dengan hal lain...


Namun, Tian Zhi jelas tidak berani mendesak pria tua itu untuk mengungkapkan siapa kedua orang yang mengatur hidupnya.


Dia menghela nafas lagi dan lagi sebagai bentuk ketidakberdayaan.


"Kalau boleh tahu, apa hubunganku dengan wanita di lukisan itu?" tanya Tian Zhi yang ingin tahu, sebab dia merasakan ada getaran cinta kepada wanita di lukisan.


Pria tua itu tertawa ringan, saat tahu arah tujuan Tian Zhi yang ingin mengingat masa lalunya tapi enggan untuk menerima kenyataan jika itu buruk.


"Dia sangat dekat denganmu, saat ini dia sedang hibernasi. Jadi, kamu tidak perlu kuatir. Lalu, apa pilihanmu?" jawab pria tua itu dan tampak mendesak Tian Zhi untuk memilih.


"Hmm! Jika semua orang yang mengatur hidupku tidak lagi ikut campur, maka aku memilih hidup seperti saat ini. Dan apa permintaan Senior? Tapi maaf sebelumnya, aku tidak janji bisa memenuhinya dengan kondisi ku yang belum mampu menjaga diri dari banyak musuh kuat!" jawab Tian Zhi dan ingin tahu permintaan pria tua itu.


Tian Zhi juga berkata jujur akan kekuatannya saat ini untuk memenuhi permintaannya, dia merasa jika permintaannya tidak sederhana.


Untuk masalah Yu Bao, Tian Zhi yakin jika Yu Bao baik-baik saja dan pasti bertemu dengan Yu Bao suatu hari nanti.


Pria tua itu tertawa dan permintaannya cukup sederhana, dia berkata:


"Masalah sepele dan ini juga bagus untuk pelatihan-mu. Ada tiga lubang portal dimensi menuju dunia lain yang masih terus mengeluarkan binatang monster, di Benua Bintang, Benua Teratai dan di Alam Roh, di Benua Awan Timur telah kamu hancurkan. Hanya itu permintaanku, apakah kamu bisa?"


Tian Zhi sedikit terkejut jika tugasnya untuk menghancurkan tiga portal dimensi, sebab dia sudah mendengar desas-desus dari obrolan para pendatang.


Dan, untuk lubang portal dimensi yang berada di Benua Awan Timur yang telah dia hancurkan, Tian Zhi menjadi yakin mampu memenuhi permintaan pria tua.


"Baiklah, aku menerima kondisi ini! Tapi... Apa untungnya bagiku! " jawab Tian Zhi setelah perenungan, dari ucapan terakhirnya jelas tidak ingin melakukan tanpa mendapatkan imbalan yang pantas sebagai pembayarannya.


Pria tua itu tertawa dan menepuk bahu kiri Tian Zhi...