Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 230. Pemberontakan Di Kerajaan Guang.


Chapter 230. Pemberontakan Di Kerajaan Guang.


Disaat sedang berbelanja di toko pakaian, Guang Liem mendapatkan kabar dari pamannya, bahwa ibukota Kerajaan Guang mendapatkan masalah, dimana ada beberapa klan yang memberontak. Mereka berkumpul di luar tembok pertahanan dan jumlahnya mencapai dua puluh ribu orang.


Guang Liem segera berbicara dengan He Hua dengan nada khawatir, "Kakak pertama, ada pemberontak di kerajaan! Apa yang harus aku lakukan?"


He Hua menghela nafas berat, sebab Kerajaan Guang yang belum kondusif sudah dia tinggalkan, lalu melihat Guang Liem dan berbicara, "kamu kembali bersama paman Liang dan paman Ma Xiu!" Kemudian, He Hua melihat Lou Yang (mantan Ketua Balai Beladiri di Perguruan Phoenix Surga).


"Adik Yang, bawa lima ribu Pasukan Phoenix untuk memberantas pemberontakan dan ambil semua sumber daya mereka. Tapi, jangan membunuh wanita, anak-anak dan orang tua yang tidak berkultivasi... Dan juga jangan membunuh yang sudah menyerahkan diri!" perintahnya kepada Lou Yang.


Lou Yang tersenyum senang bisa bertarung lagi, lalu Shan Bersaudari juga ikut untuk memberantas pemberontakan. Guang Liem bersama dengan Ling Xuan segera keluar dari toko pakaian untuk menemui ayahnya dan Ma Xiu yang berada di Kedai Teh Pelangi.


Ma Xiu yang mendapat perintah dari He Hua, segera keluar dari Kedai Teh Pelangi bersama Sun Yao. Jelas Sun Yao tidak akan melewatkan kesempatan untuk bertarung. Tinggallah Hei Bao seorang diri menikmati tarian di Kedai Teh Pelangi.


Kemudian, Guang Liem menemui ayahnya yang sedang berada di Balai Formasi Array. Guang Liang segera mengikuti putrinya untuk membereskan pemberontakan.


Saat akan keluar dari Kota Qingshan, Shan Bersaudari dihadang oleh lima pria muda tampan, salah satu dari pria itu adalah peserta Duel Sage, dia adalah si Mammoth.


"Lama kita tidak bertemu gadis kembar!" sapa si Mammoth yang memiliki dendam kepada Shan bersaudari yang menjadi satu tim dengan Tian Zhi.


Shan Hongse segera maju dan tidak takut dengan kekuatan si Mammoth yang kini telah naik dua level, Dewa Absolute level 47. Sedangkan Shan Bersaudari telah berada di tingkat Dewa Absolute level 60, dan mereka berlima bukan tandingannya.


"Mau mencari masalah atau ingin menjalin persahabatan?" tanya Shan Hongse yang masih menjaga sikap sopan.


Si Mammoth dan teman-temannya menertawakan sikap polos Shan Hongse, setelah itu si Mammot berbicara, "aku ingin bertarung dengan pria jelek, dimana dia?"


Pria jelek yang dimaksudkan oleh si Mammoth adalah Tian Zhi.


Penduduk kota yang melihat mereka berlima hanya geleng-geleng kepala, sebab si Mammoth dan timnya telah salah mencari masalah, tapi tidak ada satupun penduduk yang melerainya dan berharap melihat pertunjukan yang mendebarkan.


Shan Bersaudari menjadi marah suaminya diejek oleh si Mammoth, lalu Shan Lan segera berbicara sebelum Shan Hongse, "kamu tidak layak untuk melawannya! Lawan aku dulu!" Tantangnya.


Swosh...


Shan Luse tidak sabaran, dia langsung melesat dan memukul pipi si Mammoth. Sontak si Mammoth terkejut dengan kecepatan Shan Luse, dia terlambat menghindari pukulannya. Dan...


Bang...


Si Mammoth terpental ke kiri dan sebelum tubuhnya menabrak bangunan, Shan Lan dengan kecepatan penuh menendang kepalanya, dan suara "Bang" ketika dengan telak si Mammoth terkena tendangan.


Keempat temannya segera kabur meninggalkan si Mammoth yang menjadi bulan-bulanan Shan bersaudari. Tidak berselang lama, si Mammoth telah dibuat babak-belur.


Kemudian, rombongan Guang Liem melihat Shan Bersaudari memukul seorang pria muda yang bertubuh gempal dan tinggi.


"Bodoh!" maki Ling Xuan yang mengenali si Mammoth, walaupun dia tidak ikut serta dalam kompetisi Duel Sage.


"Tinggalkan pria tak berguna ini!" kata Lou Yang kepada Shan bersaudari yang masih belum puas memukuli si Mammoth.


Bang...


Pukulan terakhir dari Shan Hongse membuat si Mammoth keluar dari Kota Qingshan. Dan tanpa sengaja terjatuh di depan pintu masuk Formasi Perlindungan tenda Pasukan Phoenix. Disana si Mammoth kembali dihujani pukulan bertubi-tubi oleh lima wanita penjaga pintu.


Penduduk kota yang melihat nasib buruk si Mammoth hanya merasa kasihan. Aksi Shan Bersaudari yang menghajar si Mammoth membuat pria yang ingin berkenalan menjadi takut dan mengurungkan niatnya.


Sedangkan Guang Liem yang baru tiba di pintu masuk ke tenda Pasukan Phoenix, dibuat melongo melihat si Mammoth menjadi samsak tinju Pasukan Phoenix.


Kembali Lou Yang memerintahkan penjaga untuk membuang tubuh si Mammoth yang telah pingsan. Akhirnya, Guang Liem bersama lima ribu Pasukan Phoenix bergegas kembali ke Kerajaan Guang dan diikuti oleh dua jenderal binatang.


Lima unit kapal angkasa yang terbang dengan cepat menarik perhatian penduduk kota yang melihatnya dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.


Tian Zhi yang tiba-tiba muncul membuat Hei Bao kaget, lalu dia tertawa dan mempersilahkan Tian Zhi untuk duduk.


"Yang Mulia, waktu Anda bereinkarnasi lagi menyisakan 60 tahun. Saya harap, setelah ada menyelesaikan siklus Samsara, kita bisa bertemu lagi dan berpartisipasi dalam peperangan yang akan datang!" kata Hei Bao yang mengingatkan Tian Zhi dan berharap bisa ikut berperang.


Tian Zhi menyesap teh hangat sambil memikirkan ucapan Hei Bao, dia telah membicarakan hal ini kepada semua jenderalnya sewaktu di Dunia Jiwa. Tian Zhi menargetkan 100 tahun setiap kali bereinkarnasi dan totalnya 1.000 tahun.


"Aku akan meninggalkan paman Fung di Benua Dewa untuk mempelajari dan mencatat setiap perkembangan Alam Semesta Aurora. Dan untuk kalian bertiga... Setelah kita menguasai Alam Keabadian, kalian segera kembali ke Dunia Jiwa untuk meningkatkan kekuatan. Saat waktunya tiba, kita akan berperang bersama-sama," katanya sambil melihat tarian seorang wanita cantik bercadar.


Hei Bao terlihat sedih harus berpisah dengan Raja Fung, sebab mereka berempat adalah sahabat. Tian Zhi menepuk pundak Hei Bao.


"Melelahkan harus melewati sembilan reinkarnasi ... Kalau boleh tahu, apa tujuannya semua ini, Yang Mulia?" tanya Hei Bao yang merasa kasihan dengan nasib Tian Zhi yang harus hidup dan mati sebanyak sembilan kali, sesuatu yang sangat melelahkan baginya.


Tian Zhi yang tidak tanya hal ini menghela nafas berat dan memejamkan mata sambil bersandar di sofa. Sedangkan Hei Bao menunggu sambil menyesap teh hangat.


"Mencapai ketinggian yang belum pernah dilampaui oleh seseorang kultivator... Menempa dirinya dalam kesengsaraan, hidup dan kembali mati berulang-ulang. Semua ini dilakukan untuk menerobos Ranah Tanpa Batas, tingkatan yang melampaui alam semesta... Ya, terlihat mustahil dan terdengar omong kosong, tapi setelah kita mencapai Ranah True Omega, kita akan melihat Gerbang Ranah Tanpa Batas. Disaat itulah, kata-kata mustahil dan omong kosong akan sirna dengan sendirinya," jelas Tian Zhi dan kembali membuka mata dan melihat wanita bercadar yang masih menari di panggung.


Inilah tujuan Tian Zhi dan keluarganya, dimana dirinya mengharuskan untuk menempa jiwanya dalam siklus Samsara, semua ini juga terkait dengan Kitab Kultivasi Delapan Hukum Jiwa dan Delapan Batu Keabadian. Selama ini, dia tidak menggunakan Kitab Kultivasi Delapan Hukum Jiwa agar tidak menarik perhatian musuh-musuhnya yang masih hidup.


Sejujurnya, jika bukan karena beberapa alasan, Tian Zhi yang sebenarnya lelah harus menjalin siklus Samsara. Namun, rasa lelahnya dia alihkan dengan menikmati setiap kali bereinkarnasi, dimana selalu bertemu dengan hal-hal baru, cerita baru dan banyak hal yang membuat Tian Zhi melupakan rasa lelahnya.


Hei Bao geleng-geleng kepala. Seandainya, dirinya sendiri yang menjalani siklus Samsara, sudah pasti akan frustasi dan belum tentu seperti Tian Zhi yang tampak tenang.


"Hmm! Portal dimensi mempermudah dan mempersingkat waktu dan jarak. Paman, panggil semua istriku agar kembali ke tenda!" perintah Tian Zhi saat merasakan kehadiran banyak kekuatan yang keluar dari portal dimensi antara benua.


"Baik, Yang Mulia."


Segera Hei Bao keluar dari kamar pribadi milik Kedai Teh Pelangi, dia segera menemui He Hua dan semua istri tuannya. Sedangkan Tian Zhi meletakkan dua Batu Mistik di meja sebagai pembayaran teh dan menghilang dari kamar.


Tian Zhi muncul di atas gedung Kedai Teh Pelangi sambil melihat kedatangan orang dari Alam Keabadian, lalu dia tersenyum tipis saat merasakan resonansi dari Crown Stone.


"Dewa Bintang, kau datang untuk memberikan milikku!" gumam Tian Zhi.


Lalu dia melihat salah satu rombongan memakai jubah penyamaran. Dengan Mata Langitnya, sosok memakai jubah penyamaran mudah diketahui oleh Tian Zhi, ternyata dia adalah Master Wei Yan.


"Satu batu membunuh dua burung! Mungkin, kita ditakdirkan untuk bertempur di Alam Mahadewa!" ujar Tian Zhi yang juga merasakan Throat Stone yang dibawa oleh Master Wei Yan.


Lalu dia melihat semua istrinya bergegas menuju ke tenda Pasukan Phoenix setelah Hei Bao memberitahukan kedatangan orang dari Alam Keabadian.


Tian Zhi yang akan menyusul istrinya menjadi terhenti, saat merasakan seseorang berada dibelakangnya. Ia membalikkan badan dan melihat sosok wanita bercadar yang tadinya sempat menghibur pengunjung Kedai Teh Pelangi.


"Lama kita tidak bertemu, Master Tian!" sapa wanita bercadar sambil berjalan mendekat.


Tian Zhi mengamati wanita itu dan merasa tidak mengenalinya. "Apa kita pernah bertemu?" tanyanya.


Wanita itu tertawa kecil dan berjalan mengelilingi tubuh Tian Zhi. Aroma wangi bunga tercium oleh Zhi Shimo dan membuatnya mengerutkan alisnya, dia merasakan pusing saat mencium aroma wangi dari tubuh wanita itu.


Tian Zhi menggelengkan kepala agar rasa pusing menghilang, namun aroma wangi makin kuat tercium. Ia segera menjauhi wanita bercadar dengan tujuan tidak terpengaruh aroma wangi yang membius.


Sayangnya, wanita itu tiba-tiba menghilang dan muncul dibelakang Tian Zhi. Tian Zhi yang akan berteleportasi, namun wanita itu lebih cepat bertindak dengan memukul tengkuk lehernya.


Plak...


Seketika kedua mata Zhi Shimo menjadi buram. Sebelum dia terjatuh karena pingsan, wanita itu memegang tubuhnya.


"Aku sudah berbaik hati menjadikanmu pendamping... Tapi kamu menolaknya!" gumam wanita itu. Tubuhnya bergetar dan menghilang bersama Tian Zhi yang pingsan.


Jelas Tian Zhi bukan tandingan wanita bercadar itu, sebab kekuatannya terpaut jauh.