
Chapter 62. Throat Stone.
Miao Jiang bergegas memerintahkan menara kesatria untuk membunyikan alarm lonceng. Lonceng besar pun dipukul dan suaranya 'teng' berkali-kali terdengar tanda musuh yang diburu telah datang.
Namun, semua penduduk kebingungan dengan tanda lonceng sebab musuhnya tidak terlihat dan tidak diketahui dimana-mana. Tapi berbeda dengan para kesatria, mereka satu per satu keluar dari Balai Kesatria.
Setelah semua satria berkumpul, Miao Jiang segera berbicara. "Tian Zhi atau Xiang Tianzhi telah berada di kota ini dan membunuh banyak kesatria di Kedai Malam, dia menyamar dan sangat licik, segera blokir semua pintu keluar dan cari di seluruh penjuru Ibukota Xiang!" perintahnya.
Segera semua satria bergegas membagi kelompok yang telah mereka bentuk jauh hari, sedangkan Miao Jiang kembali menyusul He Hua yang masih berada di kedai.
He Hua di lantai dua sedang duduk bersila mencari keberadaan Tian Zhi dengan kesadarannya, dia sangat yakin jika targetnya masih berada disekitarnya.
Sedangkan Tian Zhi satu per satu membunuh dan mengekstrak dantian para korbannya, dan terkekeh melihat He Hua masih menunggunya. Segera Tian Zhi mengendalikan cincin dimensi untuk keluar dari Kedai Malam.
Namun, He Hua membuka matanya saat merasakan desiran angin yang sangat halus, dia mengedarkan pandangan untuk mencari asal desiran angin. Tian Zhi segera berhenti saat He Hua bisa merasakan pergerakan cincin dimensi.
"God Emperor memang tidak bisa diremehkan!" gumam Tian Zhi yang ingin segera mencapai tingkatan God Emperor.
Setingkat Dewa seluruh panca indera memang sangat sensitif saat merasakan berubah cuaca disekitarnya, jarak pandangan biasa mampu melihat hampir di seluruh penjuru Benua Awan Timur. Sebab itu Kultivasi Alam Dunia Ilahi sangat diidam-idamkan semua praktisi beladiri.
"Kakak, bagaimana?" tanya Miao Jiang setelah masuk ke lantai dua kepada He Hua.
"Aku belum menemukannya, tapi aku yakin dia tidak jauh dari tempat ini!" jawab He Hua sambil berjalan menuju jendela.
Tian Zhi segera mengendalikan cincin dimensi menuju pintu lantai dua disaat He Hua sedikit agak jauh darinya. Miao Jiang yang dilewati oleh cincin dimensi segera merasakan desiran angin yang halus, dia segera membuka Mata Dewa untuk mencari desiran angin yang tiba-tiba dirasakan.
Setelah tidak menemukan apapun, Miao Jiang kembali berjalan mendekati He Hua. Tian Zhi bernafas lega dan kembali mengendalikan cincin dimensi secara berlahan, dan akhirnya bisa keluar dari lantai dua.
"Aneh, lantai dua tertutup tapi ada desiran angin yang lembut!" ujar Miao Jiang saat berada di sebelah He Hua.
"Sama, aku juga tadi sempat merasakannya! Mungkin angin dari celah-celah!" timpal He Hua dan tetap mencari keberadaan Tian Zhi, "apa kamu sudah buat sketsa wajah dan menyebarkan namanya kepada setiap kesatria?" lanjutnya dengan bertanya.
"Beres, aku sudah memerintahkan para satria menyebarkan satria Shimo atau Tian Zhi atau Xiang Tianzhi di seluruh kota!" jawabnya.
Disaat kedua wanita itu sedang berbicara, tiba-tiba mendengar suara familiar.
"Madam Yin atau Matriark Yin atau He Hua dan Miao Jiang, dari semua wanita yang aku temui, hanya kalian berdua yang membuat ku kesal! Dan aku tunggu bagaimana kamu bisa menaklukkan ku gadis menyebalkan, He Hua ... Hahaha!"
Ya, suara itu milik Tian Zhi, dia hanya asal menebak identitas He Hua dengan mengaitkan namanya. Dan memang Tian Zhi sangat kesal dengan kedua wanita itu, sebab dia merasa tidak pernah berselisih tapi menjadi buruan He Hua dan Miao Jiang.
Spontan He Hua dan Miao Jiang kaget dan buru-buru mencari asal suara telepati, terutama He Hua yang tubuhnya gemetaran dan mengeluarkan aura God Emperor tahap awal, dia sangat marah identitas asli kembali terungkap oleh Tian Zhi. Hanya Tian Zhi yang tahu identitas aslinya.
"Tian...!! Awas kamu!?" teriakan He Hua membalas ucapan Tian Zhi dengan suara telepatinya, dia langsung berubah menjadi sinar dan mengikuti gelombang resonansi suara telepati, demikian juga dengan Miao Jiang yang marah dan mengikuti He Hua.
Tian Zhi buru-buru memutuskan jalur suara telepati dan segera kabur menuju pusat Kerajaan Xiang. Seluruh wilayah Kerajaan Xiang sangat ketakutan dengan aura yang kuat dari He Hua dan Miao Jiang.
Swosh... Boom💥... Boom💥...
He Hua langsung melepaskan serangan kearah Tian Zhi saat gelombang resonansi terputus. Miao Jiang juga melepaskan pukul energi jarak jauh dan ledakan memekakkan telinga membuat semua orang ketakutan.
Tian Zhi yang bersembunyi di cincin dimensi yang tidak terlihat jelas terhempas dan melesat dengan sangat cepat.
Segera semua kesatria berdatangan, termasuk para pemimpin Kerajaan Xiang dan Raja Xiang. Raja Xiang bernafas lega saat melihat infrastruktur tidak ada yang mengalami kerusakan dan korban jiwa.
"Nona Muda Hua, apa yang terjadi?" tanya Raja Xiang yang menahan amarah dengan kecerobohan He Hua yang asal melepaskan serangan energi.
"Dia ada disini, dan kita berdua telah memukulnya, mungkin dia terluka parah! Cepat, cari dia!" sela Miao Jiang dan memberikan perintah kepada Raja Xiang dan semua orang.
Raja Xiang menghela nafas dan hanya bisa mengikuti perintah saja, sebab status Miao Jiang dan He Hua sangat tinggi dan terhormat. Setelah semua pergi, He Hua terlihat nafasnya terengah-engah menahan kemarahan, Miao Jiang melirik dan tersenyum.
"Dia memang menyebalkan! Ayo kita lebih baik ke tempat ku!" ajak He Hua, dia ingin menenangkan dirinya yang telah dibuat marah lagi oleh Tian Zhi.
Tian Zhi melihat disekitarnya dan merasakan tempat yang familiar, dia tersenyum saat tahu dimana dia sekarang berada, di Istana Kerajaan Xiang.
"Xiang Huangdi, saatnya kamu menerima karma-mu!" gumamnya dan segera mencari keberadaan Xiang Huangdi.
Tidak berselang lama Tian Zhi menemukan kamar pribadi Xiang Huangdi yang dijaga ketat, dia segera masuk melalui ventilasi udara diatas pintu. Disaat masuk Tian Zhi melihat Xiang Huangdi yang sedang membalikkan tempat tidurnya.
Di bawah tempat tidur Xiang Huangdi terdapat pintu, Xiang Huangdi membuka pintu itu dan segera masuk di ruang rahasia.
Tian Zhi yang penasaran segera mengikutinya, dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Xiang Huangdi. Sesampainya di ruang rahasia, Tian Zhi melihat satu orang bertopeng sedang duduk, tampaknya bukan dari Benua Awan Timur jika dilihat dari cara berpakaiannya.
"Kamu terlambat sekali datangnya, aku telah lama sudah menunggumu!" tegur salah satu pria bertopeng kepada Xiang Huangdi.
"Maaf Guru, saya perlu menghindari wanita tua itu!" alasan Xiang Huangdi.
Wanita tua yang dia maksud adalah Permaisuri Yin, Xiang Huangdi selalu diawasi oleh ibunya dikarenakan kuatir jika putranya keluar dari istana, sebab Xiang Huangdi menjadi target pembunuhan Tian Zhi.
Bahkan Permaisuri Yin tidak berani keluar dari Istana dan sangat dijaga ketat oleh keluarganya yang berasal dari Benua Bintang.
"Apa kamu sudah dapatkan batu itu!" tanya pria bertopeng sekali lagi.
"Sudah Guru, tanpa sepengetahuan ayah!" jawabnya, dan ayah yang dia maksud adalah Raja Xiang.
"Bagus, berikan padaku, biar aku segera membuka portal dimensi dunia lain di empat benua!" pintanya dengan tidak sabaran.
Segera Xiang Huangdi mengeluarkan kotak kuno berwarna hitam dan memberikan kepada pria bertopeng itu. Kemudian, pria bertopeng itu mengeluarkan sebuah altar berdiameter enam meter dan meletakkannya di lantai. Altar tersebut memiliki empat tiang dan di tengah ada sebuah tablet baja, dan di dalam tablet tersebut ada sebuah lubang.
Lalu, pria bertopeng itu membuka kotaknya dan mengeluarkan sebuah batu berwarna biru muda. Tian Zhi yang sedari tadi penasaran kini terbelalak kaget melihat batu yang dia cari, yaitu Throat Stone.
Throat Stone memiliki kemampuan, memanipulasi pikiran, teleportasi, proyeksi astral dan komunikasi alam bawah sadar.
Tian Zhi menahan kegembiraannya dan menunggu apa yang akan mereka lakukan dengan altar dan Throat Stone, dan apa yang akan terjadi setelahnya.
Pria bertopeng tersenyum dibalik topengnya sambil melihat Throat Stone dan meletakkan kotak di meja. Setelah memastikan jika Throat Stone tersebut asli, pria bertopeng berjalan menuju ke tengah altar dan memasukkan Throat Stone ke dalam lubang tablet yang terbuat dari baja dan meletakkan telapak tangan di atasnya.
Setelah beberapa saat ujung empat pilar mengeluarkan sinar dan buru-buru pria bertopeng keluar dari dalam altar.
Kemudian, keluar sinar laser kebiruan pada ujung pilar dan menyinari Throat Stone.
Throat Stone mengeluarkan cahaya terang dan suara dengungan dan muncul sebuah gambar hologram. Gambar ber-hologram itu menampilkan banyak alam semesta.
Pria itu mengangkat tangan kanan dan mengeluarkan energi spiritual kearah gambar ber-hologram. Pria itu mengalirkan energinya pada galaksi Aurora dan muncul berbagai benua, kemudian pria bertopeng itu menggerakkan energinya kepada empat benua, yaitu Benua Awan Timur, Benua Bintang, Benua Teratai dan Alam Roh.
"Aku akan kembali untuk mengaktifkan pemicunya, dan jangan ada masuk ke ruang ini! Kamu segera keluar dan lihat apa yang akan terjadi di luar, jika situasi membahayakan gunakan Giok teleportasi yang aku berikan, di tempat ku kamu akan aman," kata pria bertopeng itu kepada Xiang Huangdi yang melongo melihat kegunaan batu itu dan tersadar setelah mendengar perintah gurunya.
"Guru, itu sebenarnya batu apa?"
"Ini hanya Batu Alam biasa, anggap saja seperti Batu Mistik, hanya saja batu ini kualitas terbaik dan hanya ayahmu saja yang memilikinya!" jawab pria bertopeng yang membohongi muridnya, "segera kamu awasi di luar dan kabarkan padaku jika ada sesuatu yang menghebohkan!" lanjutnya dengan memberikan perintah lagi sebelum Xiang Huangdi banyak bertanya.
"Baik, Guru."
Segera Xiang Huangdi keluar dari ruang rahasia, dan menutup pintu serta mengembalikan tempat tidurnya seperti semula.
Setelah Xiang Huangdi sudah keluar, pria bertopeng itu berbicara pada dirinya sendiri.
"Murid bodoh! Demi ingin masuk Akademi Istana Surgawi sampai dibelain mencuri barang berharga ... Tapi, tanpa ada orang yang bodoh, semua penguasa akan kesulitan untuk memperbudak mereka dan menguasai sumber daya alamnya ... Hahaha!"
Sambil tertawa, pria bertopeng itu merobek kehampaan dan menghilang setelahnya. Tian Zhi bernafas lega dan buru-buru keluar dari cincin dimensi. "Kuat sekali gurunya, untung saja aku tidak membunuhnya ...!" gumamnya.
Seandainya Xiang Huangdi tidak membalikkan kasurnya, Tian Zhi sudah langsung membunuhnya di kamarnya saat lalu, berhubung melihat ada ruang rahasia di bawah tempat tidur dia menjadi penasaran.