Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 67. Tak Sengaja!


Chapter 67. Tak Sengaja!


He Hua dan Miao Jiang yang melihat Tian Zhi, dan mereka selalu dibuat kagum dan penasaran. Segera kedua wanita itu memulihkan keterkejutannya dan saling bertukar pandangan.


"Apa dia tahu tentang batu itu?" tanya Miao Jiang dengan suara telepatinya.


"Tidak aku rasa, mungkin dia menginginkan Emas yang melapisi patung Dewa Binatang!" jawab He Hua, dan membuat Miao Jiang menjadi lega.


Miao Jiang tidak ingin misi mereka diketahui siapapun, dan jangan sampai Tian Zhi juga mengetahuinya. Jika sampai Tian Zhi tahu, maka akan membuat Miao Jiang dan He Hua menjadi musuh bagi Tian Zhi.


Mereka berdua dan semua orang tidak tahu jika patung Dewa Binatang adalah petunjuk untuk menemukan Batu Keabadian.


Entah siapa yang menyebarkan tentang kehebatan Batu Keabadian.


"Kenapa mereka mengikuti ku!!" batin Tian Zhi yang kesal selalu diikuti, padahal dia ingin mengetahui perubahan armor nya setelah menyerap patung Dewa Binatang jika tidak ada siapapun disekitarnya.


Tian Zhi kembali mencari persembunyian Dragon Flame dan tidak jauh dari tempat patung Dewa Binatang terlihat gundukan tanah yang baru saja digali, dan ditutupi dengan tergesa-gesa.


"Kamu pasti bersembunyi di dalam tanah, kan!" tebak Tian Zhi, dia segera melayang dengan menyimpan Pedang Langit dan mengeluarkan panahnya.


Tian Zhi segera membidik gundukan tanah dan keluar dua anak panah yang terbuat dari energi Api Awan Hitam Petir. "Jika kamu tidak keluar... Aku ledakan persembunyian mu!" teriakan Tian Zhi yang memberikan kesempatan Dragon Flame untuk tunduk.


Namun, Dragon Flame tidak bergeming dan seolah-olah tidak mendengar ucapan Tian Zhi. Tian Zhi mendengus dan akhirnya melepaskan dua anak panah.


Boom💥... Boom💥...


Dua ledakan mengenai gundukan tanah dan membuat lubang besar, ukurannya tiga kali lebih besar dari Dragon Flame, lubang besar seperti gorong-gorong.


Akhirnya Tian Zhi tahu kenapa Dragon Flame tidak menjawab, sebab lubang besar itu sangatlah dalam.


Kedua wanita itu kembali mendekati Tian Zhi dan melihat lubang besar. Tian Zhi langsung mundur sepuluh langkah untuk menjaga jarak terhadap mereka berdua.


He Hua menjadi kesal, dia sudah bersikap ramah masih saja dianggap oleh Tian Zhi musuhnya. "Kenapa kamu begitu?" tanya He Hua dan cemberut setelahnya dibalik cadar.


"Aku tidak ingin bersentuhan dengan tubuh boneka lagi!" jawab Tian Zhi.


Miao Jiang seketika tertawa terbahak-bahak dan kini dia tahu kenapa Tian Zhi selalu menjauhi mereka, dan kata 'lagi' mengidentifikasi jika mereka berdua pernah berhubungan erat.


"Ini asli dan bukan boneka, tahu!!" sahut He Hua dia kesal dan ingin menendang Tian Zhi.


Tian Zhi mengangkat kedua bahunya, seolah-olah tidak mempercayai ucapan He Hua. "Apa kamu tahu kenapa lidah ular bercabang?" tanya Tian Zhi dan langsung melesat masuk kedalam lubang besar.


"Tian Zhi....!" teriakan He Hua dan mengejarnya.


Lidah bercabang adalah idiom, yang artinya ucapannya tidak bisa dipercayai, selalu berubah-ubah setiap saat, susah untuk dipegang. Lidah bercabang cocok jika untuk mengelabui lawannya.


Miao Jiang segera mengikuti dan menertawakan dua orang seperti seperti tikus dan kucing saja. Satu mengalah tapi di lain pihak selalu memprovokasi, dan sebaliknya.


Tian Zhi mengikuti jalur lubang yang semakin dalam memasuki tanah, bentuknya tidak terlalu curam tapi sedikit miring. Setelah jarak dua ratus meter, Tian Zhi berhenti saat melihat lubang menjadi bercabang.


Mata Dewa diaktifkan dan melihat satu per satu lubang yang dibuat oleh Butterfly Dragon. He Hua dan Miao Jiang berhenti di sampingnya dan ikut memeriksa semua lubang. Setelah pemeriksaan, lubang besar itu ibarat labirin, tapi ada jejak baru pada lantai yang bisa diketahui siapa saja.


Kemudian, Tian Zhi membidik lubang yang sengaja dibuat untuk menipu penyusup. Dan suara ledakan menggema, seketika lubang runtuh, setelah tersisa satu lubang, Tian Zhi segera terbang mengikuti jalur yang tepat.


Saat jarak telah mencapai tiga ratus meter, Tian Zhi kembali berhenti, sebab dia melihat Batu Roh dinding lubang, dia pun mengambil dengan senang hati sambil bersiul, dan membuat kedua wanita geleng-geleng.


Batu Roh di Alam Keabadian dianggap mata uang kedua paling rendah setelah Emas, selain sebagai mata uang, Batu Roh yang mengandung energi alam juga mampu memberikan kekuatan praktisi beladiri, tapi hanya berlalu di bawah kekuatan Crossing Tribulation, diatasnya membutuhkan Batu Mistik, diatas tingkat Supreme Immortal membutuhkan Batu Kuno.


"Jika kamu mau Batu Mistik, akan ditemukan saat kedalam tanah mencapai lima ratus meter," kata Miao Jiang sambil mendekati Tian Zhi dan berjajar dengannya.


He Hua pun tidak mau kalah, dia mendekati dan berhenti disebelah kanan Tian Zhi. "1.000 meter untuk benua ini, sebab Benua Awan Timur tidak memiliki Energi Langit!" ralat He Hua yang penjelasan Miao Jiang yang keliru.


"Aku tahu! Tetap saja Batu Roh sangat berharga di sini!" jawab Tian Zhi.


"Lebih berharga inti binatang!" bujuk Miao Jiang, agar Tian Zhi tidak mengambil Batu Roh yang jelas akan memakan banyak waktu.


He Hua meradang, dirinya merasa dihiraukan oleh Tian Zhi dan Miao Jiang, dia tidak seperti sahabatnya yang mudah akrab dengan siapapun, rendah hati (Humble), dan enak diajak bicara, sebab hal itu dia menjadikan Miao Jiang wakilnya.


"Apa?" tanya Miao Jiang yang wajahnya dilihat oleh Tian Zhi.


Tian Zhi juga melihat He Hua. "Kalian ini laki-laki atau perempuan ... Hahaha!" goda Tian Zhi dan langsung kabur sambil tertawa.


"Tian Zhi...!!"


Kembali Tian Zhi memburu Dragon Flame dan menghiraukan teriakan mereka, hingga sampai pada lubang yang mulai landai. Setelah ke dalam hampir dua ribu meter, akhirnya Tian Zhi melihat sebuah sungai.


"Wow!!" kagumnya melihat sungai jernih dan lubang raksasa dengan penerangan dari Batu Cahaya.


Batu Cahaya berbentuk Geometris bercahaya dalam gelap, multi-warnanya menerangi seluruh ruang goa raksasa, air sungai pun ikut bercahaya karena pantulan Batu Cahaya.


He Hua dan Miao Jiang juga ikut terpesona dengan keindahan goa raksasa. Tian Zhi segera mendekati sungai dan melihat ada banyak ikan berbagai bentuk dan jenis.


Kemudian, Tian Zhi melemparkan Batu Roh yang dia pegang sedari tadi, dan seketika ikan-ikan berebut memakan Batu Roh. Batu Roh yang keras langsung terkikis dengan gigitan banyak ikan, bisa dipastikan jika Tian Zhi masuk ke sungai, tubuhnya tidak berbeda dengan Batu Roh.


"Indah, tapi menyimpan keganasan!" gumam Tian Zhi dan membuat kedua wanita meliriknya.


"Itu ikannya, bukan kalian... Lagian aku juga tidak tahu wajah asli kalian!" jelas Tian Zhi, agar kedua wanita itu tidak salah paham.


Mata Dewa tidak bisa menembus cadar kedua wanita itu, sebab itu Tian Zhi tidak mengetahui wajah mereka yang sebenarnya, entah cantik atau seperti binatang monster.


Tian Zhi kembali mencari jejak Dragon Flame, dengan dia menyusuri sungai. Banyak pepohonan besar yang tingginya mencapai sepuluh meter, pohon terlihat mati tanpa ada dedaunan di setiap batangnya.


"Awas! Kita sedangkan diintai!" peringatan He Hua yang paling kuat, saat jarak langkah baru dua belas meter.


Tian Zhi segera berhenti dan memeriksa sekitarnya dan juga atap goa raksasa, dia terkejut saat melihat atap goa ada mata berkedip-kedip sedang melihatnya.


Segera Tian Zhi mengeluarkan senjata panah dan membidik mata yang sedang menatapnya. Namun, He Hua menghentikan dia dan berkata. "Itu binatang monster kelelawar, jika kamu membuat suara bising mereka akan memburu kita, dan ternyata disini adalah sarangnya!" alasan He Hua menghentikan tindakan Tian Zhi.


Tian Zhi terkekeh melihat He Hua yang serius, dia tidak takut dengan banyaknya binatang monster kelelawar, sebab dirinya memiliki banyak cara untuk melindungi diri dan bahkan memusnahkan binatang monster kelelawar.


"Hei! Aku serius ini!" gerutu He Hua yang merasa jika peringatan tidak ditanggapi dengan serius.


"Apa kamu takut! Jika takut, aku bisa menjadi penjaga mu... Tapi bukan sebagai pengawal, aku ingin sebagai penjaga hatimu!" goda Tian Zhi sambil berjalan mendekati He Hua.


Hati He Hua terasa berbunga-bunga dengan rayuan Tian Zhi, namun dia segera menepis rayuannya dan mundur disaat Tian Zhi mendekatinya. Akan tetapi, punggung He Hua tertahan pohon dan membuat Tian Zhi sangat dekat dengannya, jantung berdetak kencang dan nafas melambat, wajah memerah.


Tangan kiri Tian Zhi melesat disamping kepala He Hua dan menempel di batang pohon. Wajahnya menyentuh cadar He Hua, dan Tian Zhi mencium aroma wangi khas seorang wanita muda.


"Suaramu wanita... Entah aslinya...! Hahaha!" goda Tian Zhi dan langsung mundur sambil tertawa, dia melihat He Hua yang marah dan akan memukulnya.


Namun, Tian Zhi lupa jika dibelakangnya ada Miao Jiang, dia pun menabrak tubuh Miao Jiang. Segera Tian Zhi membalikkan badan untuk menangkap tubuh Miao Jiang, tapi justru Tian Zhi terpeleset dan mereka berdua terjatuh. Tubuh Tian Zhi menindih Miao Jiang tanpa sengaja dan bibir saling menyentuh dan hanya terhalang oleh cadar.


Kedua orang membeku terdiam, dengan tubuh Tian Zhi menindih Miao Jiang dan bibir saling menempel. Tian Zhi merasakan buah kenyal Miao Jiang, dan secara naluri yang lama tidak menyentuh wanita, tongkatnya berubah menjadi Naga sakti siap bertarung.


He Hua melongo dan segera dia sangat cemburu melihat mereka tidak segera bangun, namun sebelum dia bergerak untuk memisahkan mereka berdua...


Tubuh Miao Jiang bergetar saat merasakan tongkat Tian Zhi menyentuh lembah surga yang masih tertutup rapat, dia langsung tersadar dan mendorong tubuh Tian Zhi.


Miao Jiang berteriak dan meneteskan air matanya dengan segera duduk. Tian Zhi juga segera duduk dan menggaruk kepalanya, dia memang tidak sengaja menabrak Miao Jiang.


He Hua segera menghampiri Miao Jiang dan memeluknya. Miao Jiang menangis, sebab dia tidak pernah seumur hidupnya bersentuhan dengan pria manapun, termasuk He Hua yang tidak mau berdekatan dengan pria manapun, kecuali dengan Tian Zhi saja.


"Maaf!" ucap Tian Zhi dengan tulus, sebelum He Hua dan Miao Jiang membentak karena perbuatan Tian Zhi yang ceroboh...


(Suara kelelawar mencicit)


Tiba-tiba binatang monster kelelawar terbangun dan suara decitan menggema di goa raksasa. Seketika binatang monster kelelawar yang menggelantung di atap goa berterbangan dan mengelilingi ketiga orang yang tidak diundang.