
Chapter 123. Ikatan Murid dan Guru!
Setelah meredam emosi, Tian Zhi mengeluarkan dua bola kristal dan memberikan kepada Dong Jian.
Dong Jian kebingungan dengan tujuan gurunya memberikan dua bola kristal, yang merupakan tempat meninggalkan jejak spiritual dan tanda kehidupan seseorang.
"Isi kedua bola itu. Jujur saja, kamu menjadi terget pembunuh seseorang dan aku ingin merekayasa kematian mu ... Apakah kamu tahu siapa seseorang yang tidak menyukaimu? " jelas Tian Zhi dan bertanya setelahnya.
Dong Jian tidak terkejut telah menjadi target pembunuhan, sebab dia tahu siapa orang yang tidak menyukainya. Orang yang tidak menyukainya jelas tidak mungkin membunuh seseorang Alkemis secara terang-terangan, sebab itu membutuhkan jasa Organisasi Tangan Hitam untuk menyelesaikan masalah.
Siapapun tahu, jika membunuh seseorang Alkemis akan menjadi musuh banyak kultivator, sebab pengetahuan Alkemis sangat dibutuhkan oleh banyak kekuatan untuk mencapai kekuatan tertinggi.
"Dia adalah adik dari Raja Wang, Wang Yin atau yang guru kenal di Benua Awan Timur sebagai Permaisuri Yin, istri dari Raja Xiang!" jawab Dong Jian dengan jelas, karena hanya Wang Yin yang menjadi musuhnya.
Lagi-lagi Tian Zhi yang kehilangan ingatan kembali merasakan familiar dengan nama Permaisuri Yin, dan dia juga sedikit terkejut mendengar nama Xiang, sebab ayah kandungnya juga bermarga Xiang.
Walaupun penasaran dengan nama Raja Xiang, dia tidak bertanya tentang Keluarga Xiang, sebab kisah masa lalu ibunya cukup memalukan.
Tian Zhi berpikir tentang Raja Wang, karena target kedua kekasihnya merupakan putra mahkota Kerajaan Wang, dia menebak si penyewa juga sama, yaitu Permaisuri Yin.
Tian Zhi bertanya-tanya di dalam hatinya, apa motif si Wang Yin yang ingin membunuh Dong Jian dan putra mahkota.
"Apa masalah kalian hingga Wang Yin ingin membunuhmu? " tanya Tian Zhi yang tidak bisa menebak tujuan Wang Yin.
Dong Jian menghela nafas berat, dan menjawab:
"Karena saya mendukung putra mahkota untuk naik tahta sebagai pengganti Raja Wang, karena kebaikannya kepada semua orang. Sedangkan Wang Yin ingin menjadi ratu bagi Kerajaan Wang! " jawab Dong Jian.
Tian Zhi mengangguk paham, sebab perebutan kekuasaan adalah hal lumrah, tidak peduli saudara pasti akan saling menjatuhkan dan tidak segan-segan saling membunuh. Apalagi putra mahkota mendapatkan dukungan dari seorang Alkemis yang jelas akan meningkatkan popularitas dikalangan rakyat dan kultivator, sebab itu Wang Yin jelas akan melakukan segala cara untuk membunuh pesaingnya.
"Segera kamu isi dua bola kristal itu! " perintah Tian Zhi.
Segera Dong Jian melakukan apa yang diperintahkan gurunya. Setelah beberapa waktu, akhirnya Dong Jian selesai dan menyerahkan kepada gurunya.
"Selain putra mahkota dan Wang Yin, apakah ada kandidat yang lain? " tanya Tian Zhi yang ingin mengenal tentang urusan Kerajaan Wang, sebab dia memiliki rencana.
"Ada, Guru. Kandidat ini dianggap kuda hitam, dia juga baik dan rendah hati, dia adalah putra mahkota ketiga. Sayangnya, dia tidak terlalu berambisi menjadi raja pengganti. Tapi, banyak desas-desus dia dipaksa untuk ikut serta dalam persaingan merebutkan tahta Kerajaan. Untuk keturunan kedua Raja Wang, adalah seorang putri, dia juga tidak ingin menjadi pengganti penguasa Kerajaan Wang!" jawab Dong Jian dengan jelas.
Tian Zhi mengangguk paham dan tersenyum setelahnya, dia sudah memiliki rencana untuk merekayasa kematian Dong Jian.
Sebelum Tian Zhi berbicara, Dong Jian segera bertanya:
"Guru, apakah putra mahkota juga menjadi sasaran target pembunuhan? "
Tian Zhi mengangguk tanpa bicara, karena hal ini juga rahasia Organisasi Tangan Hitam. Dong Jian menghela nafas berat, tampak dia tidak ingin putra mahkota pertama terbunuh.
"Apakah Guru tidak menyelamatkannya? " tanya Dong Jian yang berharap gurunya mau menolong putra mahkota.
"Tidak! " jawab Tian Zhi dengan tegas, sebab dia menginginkan patung emas Dewa Binatang yang dimiliki oleh putra mahkota.
Seketika Dong Jian tertunduk lemas mengetahui jawaban gurunya yang tidak bisa di kompromi lagi. Tian Zhi yang melihat raut wajah muridnya menjadi iba, sebab kesetiaannya patut diacungi jempol, dimana Dong Jian, Tsai Li-Liang, Lima Singa Bersaudara dan seluruh anak buahnya membela kekasihnya.
"Apa hubunganmu dengan dia selain hanya sekedar mendukung saja? " tanya Tian Zhi yang penasaran.
"Dia... (Menghela nafas berat) Dia juga putraku dari hubungan gelap ... ! " jawab Dong Jian yang malu melanjutkan ucapannya.
Tian Zhi tertawa dan mengacungkan jempol kepada muridnya, dia mengerti apa yang terjadi dengan masa lalu muridnya, walaupun tidak sepenuhnya dia ketahui, itu dilihat dari gerak-gerik wajah dan pembicaraan yang mudah ditebak.
Seseorang pria yang berani berhubungan gelap dengan istri orang lainnya jelas memiliki mental kuat, kuat di hina, dicaci, dan yang paling meningkatkan adrenalin ketika ketahuan dan bisa merenggut nyawa.
"Guru, jangan salah paham dulu. Permaisuri pertama Raja Wang dulu adalah kekasihku, dia hamil muda ketika dinikahi oleh Raja Wang! " dalih Dong Jian dengan wajah yang makin memerah karena malu aibnya dia ungkapan kepada gurunya, seorang guru yang memiliki banyak kekasih.
Tian Zhi malah tertawa keras, sebab Raja Wang mendapatkan sisa plus hadiahnya, dia membayangkan ekspresi Raja Wang saat tahu jika putra mahkota pertama bukan darah dagingnya sendiri, lalu apa yang akan terjadi!
Setelah tertawa, Tian Zhi kembali serius dengan melihat Dong Jian. Dia berpikir sejenak apakah harus menyelamatkan putra muridnya ini? Jika tidak keburu dibunuh oleh kedua kekasihnya.
"Selama dia mau menanggalkan semua atribut kebesarannya, aku bisa menyelamatkannya. Jika dia enggan melepaskan statusnya... Aku tidak bisa menyelamatkannya! " jelas Tian Zhi dengan tegas.
Dong Jian menghela nafas tak berdaya, sebab dia tahu sifat putranya, apalagi hubungannya dengan permaisuri pertama sangat dirahasiakan.
Dia berpikir; seandainya meminta putra mahkota untuk meninggalkan statusnya sebagai calon pengganti Raja Wang, maka akan menimbulkan kecurigaan dan berakibat fatal baginya dan juga wanita yang dia cintai.
Disaat Dong Jian sedang mempertimbangkan perkataan gurunya, Tian Zhi mendekati dan menepuk bahunya, lalu dia berkata:
"Takdir memang tidak selalu adil. Tapi akan adil jika kamu merelakan apa yang sudah terjadi. Kamu seorang Alkemis, bisa mendapatkan banyak wanita...! " tutur Tian Zhi dan ikut duduk di sebelahnya.
Dong Jian mengangguk pelan, dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh gurunya. Namun, bagi Dong Jian, cinta pertama sulit dilupakan, karena itu dia tidak mencari wanita lain untuk mengisi hatinya.
"Bagaimana? Apakah putramu bisa meninggalkan statusnya?" tanya Tian Zhi sekali lagi, dia ingin membantu muridnya.
"Aku rasa tidak bisa Guru. (Menghela nafas pelan) Sudah takdir dia menghirup udara terakhir di usia mudanya! " jawab Dong Jian yang menyesali nasib putranya.
Tian Zhi mengangguk berulang-ulang dan menepuk bahu muridnya, dia berujar:
"Setelah aku merekayasa kematian-mu, apa yang akan kamu lakukan? Mengikuti ku atau tetap berada disini? " tanya Tian Zhi dengan memberi Dong Jian dua opsi.
"Jika saya berada tetap disini, apakah harus selalu menyamar? " tanya Dong Jian.
"Benar dan selamanya, termasuk mengganti statusmu. Aku tidak ingin semua orang yang berniat membunuhmu tahu keberadaan-mu, itu juga akan berakibat fatal bagiku... Apakah kamu paham? " jawab Tian Zhi dengan tegas.
Jelas Tian Zhi tidak ingin misinya yang direkayasa di ketahui oleh Organisasi Tangan Hitam, sebab dia masih membutuhkan mereka untuk mencapai puncak kekuatan dan bisa melawan Master Yan.
"Saya paham Guru. Saya pilih tetap disini dengan identitas baru!" kata Dong Jian yang sudah membulatkan tekad untuk tetap di Benua Bintang, semua ini demi cintanya.
"Baiklah, jika ini keputusanmu."
Lalu Tian Zhi mengeluarkan dua gulungan yang terbuat dari kulit binatang, didalamnya berisi resep untuk membuat Pil Perubahan Wajah, dan satunya lagi adalah resep Pil Peningkat Kekuatan, pil yang akan membantu Dong Jian naik hingga tingkat Dewa Sejati.
Kemudian, Tian Zhi juga memberikan sumberdaya untuk mendukung muridnya yang akan dia tinggal, dia juga memberikan dua botol Pil Perubahan Wujud dan satu botol Pil Peningkat Kekuatan.
"Aku hanya bisa meninggalkan ini. Selanjutnya, kamu mengandalkan dirinya sendiri. Aku hanya berpesan, jangan sampai ada yang tahu jika kamu masih hidup! " kata Tian Zhi dengan menyodorkan semua yang dia berikan kepada muridnya.
"Terimakasih Guru! " jawab Dong Jian yang akan berlutut kepada gurunya sebagai ucapan terimakasih, tapi kedua bahunya dicegah.
"Tidak perlu seperti ini. Selamanya kita tetap murid dan guru. Nikmati hidupmu! " tutur Tian Zhi dan kembali berbicara, "aku akan mulai merekayasa kematian-mu...! "