Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 109.


Chapter 109. Bertemu lagi.


.....


Setelah mereka gagal membunuh Tian Zhi dalam satu kali serangan, dua orang pembunuh itu segera meninggalkan puncak gunung menuju hutan lebat.


Disaat mereka sudah jauh dari puncak gunung, kedua pembunuh itu berhenti dan menghela nafas tak berdaya, baru kali ini mereka gagal dalam upaya satu kali serangan.


"Kita gunakan cara itu..., " kata salah satu pembunuh bertopeng perak kepada rekannya.


Rekannya tidak segera menjawab, dibalik topengnya yang juga berwarna perak dia menutup mata sejenak untuk berpikir, setelah itu dia membuka mata dan mengangguk, lalu menjawab:


"Kita lakukan bersama. "


Kemudian, kedua pembunuh bertopeng itu melesat menuju Kota Peristirahatan setelah sepakat untuk menggunakan metode kedua setelah serangan pertama gagal.


.....


Sedangkan Tian Zhi masih mencari keberadaan si pembunuh kesana kemari, setelah tidak menemukan jejak mereka dengan raut wajah jelek, dia akhirnya memutuskan untuk kembali mencari pria tua yang memiliki kulit kayu kuno.


"Sialan!? Siapa yang mencoba membunuhku?" umpat Tian Zhi sambil terbang menuju ke Kota Peristirahatan.


Tian Zhi berpikir ini terkait dirinya yang telah membunuh Long Quan dan Huang Liao, dan pihak keluarganya pasti membalas dendam kepadanya. Karena kesal tidak berhasil menemukan si pembunuh, dia melihat burung Gagak yang sedang terbang menghindarinya dan langsung melepaskan pukulan energi.


Bang...


Seketika burung Gagak mati, Tian Zhi tidak tahu jika burung Gagak itu adalah mata-mata untuk mengawasi para peserta.


Di Paviliun Asyura Path sempat kaget saat Tian Zhi membunuh burung Gagak, tapi setelah itu mereka tertawa melihat kekesalan orang yang mereka perebutkan.


Tian Zhi segera turun saat berada di depan Kota Peristirahatan. Kedatangan Tian Zhi membuat para peserta berhamburan keluar, mereka sangat ketakutan jika Tian Zhi berniat menjarah bahkan membunuh mereka.


Setelah Tian Zhi memiliki kekuatan Dewa Matahari, tidak ada lagi yang mau mengusiknya dan menjadi musuh. Segala ucapan mengejek dan segala hinaan yang biasanya terlontar tidak lagi terdengar.


Namun, bagi Tian Zhi situasi seperti ini justru sangat aneh, benar-benar dia tidak terbiasa. Sejak kecil dia selalu menjadi bahan gunjingan, dia hanya bisa menghela nafas.


Kembali Tian Zhi menemui pria tua pemilik kulit kayu kuno di tempat awal bertemu, tapi sekali lagi tidak dia melihatnya. Karena penasaran dia menghampiri seseorang penjual senjata yang berada di depannya.


"Paman, apakah tahu pedagang botol giok yang kemarin berjualan di situ?" tanya Tian Zhi dengan sopan kepada penjual senjata sambil menunjuk.


Penjual itu melirik Tian Zhi dan geleng-geleng, setelah beberapa saat dia menjawab:


"Tidak pernah ada penjual botol giok. Tidak laku di tempat seperti ini!"


Jawaban ketus dari pedagang membuat Tian Zhi menjadi kebingungan, dan bertanya-tanya di dalam hatinya:


"Jelas-jelas aku membeli banyak botol giok untuk tempat pil, tapi kenapa penjual ini bilang tidak pernah ada? Aneh!"


Setelah dipikir-pikir memang masuk akal yang dikatakan penjual senjata, jualan botol giok jelas tidak dibutuhkan oleh para peserta. Dengan berjalan gontai Tian Zhi pun akhirnya memutuskan untuk mencari Token Giok.


"Sudahlah, memang bukan jodohku! "


Rasa kecewa terpampang di wajah Tian Zhi, dia keluar dari Kota Peristirahatan. Namun baru beberapa puluh meter, dia dihentikan oleh dua wanita yang menyebalkan.


"Tian tunggu!"


Tian Zhi menghela nafas lagi saat kedua wanita menyebalkan akhirnya menyusulnya, sebelum dia mengusir mereka, He Hua berbicara terlebih dahulu.


"Selamat! telah mencapai ranah Mahadewa."


Mendengar suara He Hua yang bersikap manis, membuat Tian Zhi keheranan, biasanya galak dan suka mencari masalah tiba-tiba menjadi baik.


Tian Zhi melihat He Hua yang berada di sisi kirinya, mata yang unik dan terlihat tulus saat mengucapkan selamat.


He Hua merasa detak jantungnya berdebar-debar ketika Tian Zhi menatapnya, wajahnya telah berubah memerah. He Hua kebingungan dengan perasaannya yang tidak seperti biasanya saat berhadapan dengan pria manapun, tapi dengan Tian Zhi seperti ada rasa nyaman dan juga enggan berpisah.


"Kamu hebat! Di usia 26 tahun telah mencapai Dewa Matahari level lima, kini kamu sudah masuk jajaran junior berbakat di Alam Semesta Aurora!" pujian Miao Jiang kepada Tian Zhi


Akhirnya Tian Zhi mengalihkan pandangannya kepada Miao Jiang, dia makin curiga dengan sikap mereka yang berubah, padahal dia sudah membunuh Long Quan.


"Aku sudah membunuh kekasih kalian, kenapa tidak marah?" tanya Tian Zhi yang tidak perduli dengan perasaan He Hua dan Miao Jiang.


"Siapa kekasihnya! Enak saja kalau ngomong?!" sahut He Hua yang kesal di bilang kekasihnya Long Quan.


"Kami bukan kekasihnya, tapi hanya teman, Jangan salah paham! Walaupun kamu telah membunuhnya, itu sudah bagian resiko mengikuti kompetisi Asyura Path!" jawab Miao Jiang yang tidak mudah emosi.


Tian Zhi tersenyum melihat He Hua melotot kepadanya, dan segera He Hua memalingkan wajah saat Tian Zhi selalu melihatnya terus.


Kembali Tian Zhi melihat ke depan.


"Baiklah kita berpisah disini. Ingat, kita sedang taruhan, dua Buah Suci!" kata Tian Zhi yang mengingatkan mereka.


Segera Tian Zhi melesat ke depan tanpa menunggu jawaban dari mereka. He Hua menghentakkan kakinya dan kembali mengejar Tian Zhi dan disusul Miao Jiang.


"Tian tunggu!" panggil He Hua sekali lagi.


Kali ini tian Zhi tidak memperdulikan kedua wanita itu, dia langsung berubah menjadi udara. Seketika He Hua dan Miao Jiang berhenti dan semakin kesal dengan sikap Tian Zhi yang tidak menghargai kecantikan.


Baru kali ini He Hua dan Miao Jiang tidak dipedulikan seorang pria. Dengan raut wajah kesal He Hua memukul pohon di sebelahnya. Sedangkan Miao Jiang mengedarkan kesadarannya untuk menemukan keberadaan Tian Zhi. Namun Tian Zhi benar-benar menghilang seperti tertelan angin.


"Sudahlah, buat apa menghargai pria yang tidak berperasaan!" ujar He Hua dengan kesal, "ayo kita cari Token Giok, jangan sampai kalah dengan Wei Jingmi dan Tian Zhi." lanjutnya dan bergerak terlebih dahulu.


Kembali kedua wanita itu mencari Token Giok. Sedangkan Tian Zhi hanya tersenyum melihat kekesalan mereka, dan dia pun juga kembali berburu Token Giok dengan mengandalkan Katak Naga Keberuntungan.


Perburuan Token Giok pun kembali sengit, penjarahan selalu terjadi antar peserta, dan sekali lagi Peri Bersaudari memanfaatkan pesonanya untuk memperdayai pemujanya untuk mencari Token Giok, dan mereka berdua bertugas melindungi.


Peringkat Asyura Path pun mulai bergerak naik turun, posisi Tian Zhi terus merangsek naik mengejar Wei Jingmi yang telah masuk di peringkat kedelapan. Sedangkan He Hua masih bertahan di peringkat pertama dan Miao Jiang di peringkat kedua.


Di hari kedua puluh lima, saat ini Tian Zhi yang berada di jurang untuk mencari Token Giok, dengan bantuan Katak Naga, dia dengan mudah menemukan persembunyian Token Giok.


Di kejauhan Tian Zhi melihat sosok pria tua penjual botol giok berada di depan pondok bambu sambil tiduran. Dengan wajah gembira Tian Zhi buru-buru menghampiri pria tua itu, dia tidak pernah berharap menemukan pemilik kulit kayu kuno, tapi sepertinya langit menghendakinya berjodoh dengan cara lain.


"Senior!" panggil Tian Zhi dengan melesat sangat cepat dengan senyuman lebar.