Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 99 AWAL BARU.


Aku dan Mbak Ayu saling menatap setelah melihat foto perempuan yang ada di ponsel Wenny. Kami juga menjelaskan pada Wenny, jika Ibu itu sudah ada di Hotel ini. Hanya raut wajah kebingungan saja yang Wenny tunjukan, ia menggaruk kepala yang tak gatal seraya mengajak kami kembali ke kamar VVIP.


"Loh dia kenapa Wen?"


"Iya itu dia pegawai yang saya ceritakan tadi. Dia dicelakai penghuni kamar kelas satu itu."


"Maksudnya Ibu yang ada di foto tadi yang nyelakain dia?" Tanya Mbak Ayu dengan membulatkan kedua matanya.


"Bukanlah Mbak! Itu loh penghuni gaib maksudnya. Tadi dia lagi bersih-bersih di kamar itu, karena emang sehari sekali kami rutin membersihkan beberapa kamar yang berkelas. Tiba-tiba aja ada yang dorong dia keluar dari kamar itu, sampai kepalanya kejedot tembok. Makanya dia sampai pingsan begitu." Jelas Wenny bergidik ketakutan.


Aku hanya diam mendengar pembicaraan mereka. Setelah aku pikir-pikir lagi, ada ketidaksamaan antara informasi yang Wenny berikan. Dengan apa yang kami lihat dengan mata kepala sendiri. Tak ada sosok astral yang menempati kamar itu, atau memang demiy yang kebetulan iseng yang mencelakai pegawai Hotel itu. Mbak Ayu mengajakku untuk mengecek lagi kamar kelas satu itu. Meski aku agak ragu, karena kamar itu sudah terisi.


"Kita ketok pintu aja, minta ijin mau masuk. Dan jelasin apa adanya ke Ibu itu." Desak Mbak Ayu seraya menarik paksa tanganku.


"Janganlah Mbak. Ntar yang ada Ibu itu jadi takut loh kalau kita ngomong apa adanya. Lebih baik kita pura-pura ngecek kondisi kamar aja."


Akhirnya kami sampai di depan pintu kamar kelas satu. Aku memberanikan diri mengetuk pintu dari luar. Tak lama Ibu itu membukakan pintu dan tersenyum ramah pada kami.


"Ada apa Dek? Kebetulan sekali Adek datang kesini. Saya mau sedikit cerita, intinya saya mau komplain, meskipun saya tinggal disini secara gratis. Masak tadi ada Room Boy yang main nyelonong masuk ke kamar pas saya lagi mau ganti baju. Itu kan namanya gak sopan banget kan Dek. Karena saya kesal dan emosi, langsung aja saya dorong orang itu keluar kamar. Dari tadi saya di dalam kamar bingung mau komplain sama siapa. Karena semua pegawai Hotel ini kayak gak perduli sama saya. Tiap saya ngomong malah didiemin, akhirnya saya kembali ke kamar saja, dan pintu saya kunci dari dalam."


Aku menggaruk kepala yang tak gatal, kenapa penjelasan mereka tidak sinkron ya. Terlihat Mbak Ayu juga sama bingungnya denganku. Ia bertanya pada Ibu itu, apakah ada hal yang ganjil selama ia menginap di kamar itu. Dan Ibu itu hanya menggelengkan kepala, menurutnya tak ada hal semacam itu disana. Karena tak menemukan hal-hal berbau mistis di kamat itu, kami memutuskan untuk kembali menemui Wenny dan Pak Bos besar. Mereka sudah menunggu kami di Lobby.


"Jadi begini Pak, kami mendapat keluhan dari tamu yang menempati kamar VVIP itu. Dia mengeluh kalau pegawai di Hotel ini gak sopan sama dia. Karena dia langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. Makanya Ibu itu marah dan dorong dia keluar sampai kepalanya kejedot tembok."


Reaksi Pak Bos besar dan Wenny sangat mengherankan. Keduanya nampak kebingungan mendengarkan penjelasan ku. Kemudian Pak Bos memerintahkan Wenny pergi ke Receptionist untuk mengambil daftar buku tamu. Kemudian ia membukanya di hadapan kami semua, lalu menunjukan jika tak ada tamu yang menginap di kamar VVIP itu.


"Seperti yang sudah saya jelaskan tadi. Memang seharusnya ada tamu yang check-in di kamar itu. Ia adalah pemenang lomba tebak kata. Tapi Ibu itu belum datang untuk menukarkan voucher menginap gratis di Hotel ini. Dan Pak Bos juga mengetahuinya, karena nanti beliau sendiri yang akan menyerahkan kunci kamar untuk pemenang lomba."


Degh.


Jantungku berdetak tak beraturan, lantas siapa perempuan yang ada di kamar kelas satu itu. Karena wajahnya sangat mirip dengan foto pemenang lomba tebak kata itu.


"Bisa jadi sih Mbak, terus gimana dong. Kasihan juga kalau dibiarkan seperti itu, yang ada dia bakal jadi hantu gentayangan selamanya."


"Gimana kalau kita datangin rumahnya aja, terus tanya ke keluarga nya. Kenapa Ibu itu bisa meninggal. Harusnya kan dia reservasi di Hotel ini."


Ide Mbak Ayu ada benarnya juga, aku langsung meminta data diri Ibu itu. Wenny menuliskan nya di selembar kertas, memberikannya padaku. Lalu aku dan Mbak Ayu berpamitan pada Pak Bos untuk pergi melakukan penelusuran ke rumah pemenang lomba yang misterius itu.


Disepanjang perjalanan, kami berdua membahas tentang perempuan misterius di kamar VVIP itu. Entah kenapa kami tak mencurigainya sama sekali. Bukannya kami tak bisa membedakan makhluk tak kasat mata dengan manusia sungguhan. Karena perempuan itu masih memiliki aura seperti manusia pada umumnya. Dan disitulah yang membuat kami sama-sama kebingungan.


"Kok kita jadi kayak orang goblok gini ya Ran? Gue tuh masih bisa bedain antara manusia sama demit. Tapi kok ngelihat Ibu itu agak membagongkan ya, dibilang hantu kok masih punya aura manusia. Dibilang manusia, tapi gak ada yang bisa lihat dia selain kita!" Kata Mbak Ayu dengan menggaruk kepala yang tak gatal.


"Entahlah Mbak, gue sendiri juga bingung sih. Baru kali ini nemuin hal semacam itu, dan kurang paham juga gue. Kenapa Ibu itu bertingkah seperti manusia, karena emang masih ada aura manusia didalam dirinya."


Kami terus membahasnya, sampai tak sadar sudah sampai di tempat tujuan. Sesampainya di depan rumahnya, kami berniat mengetuk pintu yang tertutup rapat. Tapi tetangga sebelah rumah itu menjelaskan, jika semua penghuni rumah itu tidak ada. Karena mereka semua sedang berada di Rumah Sakit.


"Memangnya siapa yang sakit ya Bu?" Tanya Mbak Ayu penasaran.


"Itu loh Bu Meliana, beberapa hari yang lalu ia kecelakaan pas pulang kerja. Kasihan sih, dia itu janda yang ditinggal mati suaminya, sekarang anak-anaknya kebingungan cari uang buat bayar biaya Rumah Sakit Ibu mereka." Jawaban tetangga Ibu itu membuat kami terkejut.


"Jadi Ibu itu masih hidup? Dan koma di Rumah Sakit ya Bu?"


"Iya Dek. Memangnya kalian berdua siapanya Bu Meli?"


"Ehm kami rekan kerjanya Bu. Boleh kami tahu di Rumah Sakit mana Bu Meliana dirawat?" Ucapku tak mengatakan yang sebenarnya.


Setelah mendapatkan informasi penting itu, kami memutuskan langsung pergi ke Rumah Sakit tempat dimana Ibu itu dirawat. Kami hanya ingin memastikan, apakah benar Bu Meliana yang kami cari adalah perempuan gaib yang tinggal di kamar kelas satu itu. Semoga saja kami dapat memecahkan misteri ini secepatnya.