Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 183 MENGGODA?


"Udah kan shalat nya, sini duduk ceritain apa aja yang terjadi di Desa?" Tanya Mbak Rika seraya menyantap martabak telor yang ia bawa tadi.


"Panjang Mbak ceritanya, intinya sekarang Bu Kartika jadi kerabat gue. Gak kebayang gue bisa kejadian seperti itu."


Meski aku tak menceritakan secara detail, aku hanya menjelaskan jika suami Wati memang mengidap keterbelakangan mental. Tapi Wati sudah bisa menerima keadaan, dan ia tak terlalu bersedih seperti sebelumnya.


"Kita lagi ngusahain masa depan Pramono dan Wati. Semoga aja dal waktu setahun mereka gak melakukan hubungan suami istri dulu."


Mbak Rika langsung menepuk lenganku, menurutnya aku aneh. Karena melarang sepasang suami istri berhubungan. Pasti orang yang belum paham situasi akan berkata hal demikian seperti Mbak Rika. Makanya aku langsung menjelaskan inti masalahnya, jika Wati sampai hamil. Calon anaknya bisa menjadi calon tumbal selanjutnya.


"Lah Ran, kan bisa KB tauk! Biarin aja napa mereka melakukan hubungan itu!" Seru Mbak Rika mengaitkan kedua alis mata.


Dih dasar Mbak Rika. Masalahnya bukan itu saja sih, karena agak gak masuk akal kalau sampai benar-benar kejadian. Pasti ada sosok lain yang mengambil alih raga Pramono. Karena lelaki seperti dia dengan kondisi seperti itu, mana mungkin memiliki hasrat melakukan hubungan seperti itu. Dan bukankah rasanya seperti Wati sedang melakukan hubungan bersama sosok lain.


"Pokoknya belum bisa Mbak. Ada banyak hal yang gak bisa gue jabarkan, karena semuanya terlalu rumit buat dimengerti."


"Ya udah lah, ntar juga gue ngerti juga kok. Nih makan dulu martabaknya!"


Aku dan Mbak Rika masih menikmati makanan dan minum teh hangat. Tak terasa jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Mbak Rika masih asyik menceritakan seorang pegawai magang yang memiliki penglihatan seperti ku. Katanya orang itu tak seberani diriku, karena baru dua hari magang dan sering mendapat gangguan, orang itu sudah mengundurkan diri karena tak tahan setiap kali di ikuti oleh para sosok gaib yang tinggal di tangga darurat.


"Emang sebegitu banyaknya ya Ran, demit yang tinggal disana?" Mbak Rika berbaring di ranjang tapi masih saja bicara terus menerus.


"Gak cuma banyak Mbak. Disitu memang ada istana para demit, ada Raja yang memimpin mereka juga loh. Makanya kalau yang bisa ngelihat makhluk gaib pasti gak akan nyaman berada disana. Kecuali gue tentunha hehehe." Kataku terkekeh.


"Kok bisa lu nyaman dengan mereka?"


"Bukan nyaman juga kali Mbak, tapi karena udah terbiasa aja. Yang jadi temen gue juga banyak kok, dari demit bocah sampai yang nenek-nenek juga ada. Lu mau gue kenalin sama mereka?"


"Kampret lu Ran! Lu ngeledek atau gimana hah? Eh iya gue lupa ngasih tahu lu, tadi sore Pak Bos besar bawa Bu Purnama berobat ke Luar Negeri. Sama Papa dan Ibu tiri nya yang satu lagi, yang kata lu pelihara an suka kintilin dia kemana-mana itu loh. Btw kuntilanak peliharaan nya ngikut naik pesawat juga gak Ran?"


Aku baru mendengar jika Bu Kartika pergi bersama keluarga suaminya. Pastinya keselamatan Purnama pasti akan terjaga, karena Pak Bos bersama nya. Tapi si merah gak mungkin pergi mengikuti Tuan nya. Jangan-jangan si merah kembali ke rumah keluarga Pak Mitro. Seketika aku langsung melompat dari tempat tidur, lalu mengambil ponsel di atas meja. Mbak Rika yang terkejut pun bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba aku bereaksi seperti itu. Aku menghubungi Wati berkali-kali, tapi ia tak menjawab panggilan telepon ku. Padahal aku ingin mengingatkan nya supaya lebih hati-hati lagi berafa di rumah Sumitro. Tapi sialnya, Wati belum menerima panggilan telepon ku. Apa mungkin dia sudah tidur. Karena kesal, aku pun mengacak rambut dengan kasar. Tak berselang lama sosok Narsih datang lagi ke kamar ku. Ia melesat mendekati ku, sepertinya ia ingin membagi penglihatannya lagi. Tapi dengan tegas ku tolak, karena saat ini aku sedang memikirkan sepupu ku yang mungkin dalam bahaya.


"Stop Narsih! Jangan sekarang, please! Lain kali kita lanjutkan lagi, aku janji." Kata ku seraya mengangkat lima jari ke arahnya berdiri mengambang.


"Sumpah, gue kapok nginep di kost an lu. Ngadi-ngadi lu Ran, ngobrol sama makhluk gaib di depan gue. Bikin parno aja tau gak!" Seru nya seraya merebahkan tubuh, lalu menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut.


Aku menggelengkan kepala melihat tingkah Mbak Rika. Tapi ia kembali menanyakan kenapa tiba-tiba aku jadi panik begitu.


"Tadi kan lu nanya Mbak, apa si kunti peliharaan Bu Kartika ikut naik pesawat atau gak. Jawabannya ya kagak lah Mbak, makanya ini gue berusaha telepon Wati buat ngingetin dia supaya waspada. Karena si kunti merah itu akan selalu berada di dekat Tuan nya. Karena kalau merah gak bisa ngikutin Bu Kartika, itu artinya dia balik ke rumah keluarga Sumitro. Karena disana ada pemilik yang sebenarnya, ya Pak Mitro itu!"


Di tengah-tengah obrolan ku, tiba-tiba Wati menghubungi ku. Rupanya tadi ia sedang menemani Pramono bermain ular tangga, dan tak membawa ponselnya. Segera ku ceritakan, jika kemungkinan saat itu merah berada satu atap dengannya. Dan ku minta ia waspada, karena mustika pemberian Elang hanya berguna untuk para Buto Ireng saja. Dan si merah bisa berbuat apa saja padanya.


"Iya Mbok Genuk sudah mengingatkan ku, soalnya tadi aku juga sempat dengar suara tawa perempuan. Terus Mbok Genuk bawa dupa dan bunga-bunga ke kamar ku. Katanya supaya merah gak ganggu atau iseng, soalnya terkadang merah suka tidur di samping Mas Pramono. Kalau istilahnya kayak tindihen gitu loh Ran. Makanya Mbok Genuk bawa itu ke kamar ku, karena sekarang udah ada aku disini. Jadi supaya merah gak bisa macem-macem, atau berbuat nekat dengan merasuki raga ku pas aku tidur. Bisa-bisa dia berbuat hal yang aneh-aneh ke Mas Pramono!" Jelas Wati di seberang telepon sana.


Aku jadi tak fokus berbicara dengan Wati. Karena sosok Narsih terus melotot padaku, meski ia tak mengganggu secara langsung. Tapi tetap saja tatapannya itu membuatku risih. Andai saja Mbak Rika bisa melihat wujud Narsih, pasti ia akan histeris di pandang seperti aku sekarang ini.


"Ya udah Wat, kalau kau sudah tau. Niatnya aku mau ingetin aja, karena Bu Kartika sedang keluar negeri, pasti si merah akan kembali ke rumah itu. Btw tadi kau cemas kalau merah berbuat aneh-aneh itu maksudnya kau cemburu ya Wat?" Tanya ku menggoda nya.


Wati gelagapan menjawabku, ia mengalihkan pembicaraan dan mengatakan jika Pramono sudah mau tidur. Dan ia harus mengakhiri panggilan telepon itu.


"Iya deh iya, yang mau kelonin suaminya. Met bobok yang nyenyak ya kalian." Ucapku sebelum mengakhiri telepon.


Nampak nya yang sedang melotot menatapku tak hanya sosok Narsih saja. Bahkan Mbak Rika tengah melotot mendengarkan ku mengobrol lewat telepon.


"Astaga Mbak! Gue kirain udah tidur karena diem aja dari tadi!"


"Gimana mau tidur kalau lu belum ada di samping gue! Ntar kalau ada sosok lain yang ada di sebelah gue kan gak lucu Ran! Sini cepetan tidur, gue udah ngantuk berat sebenarnya. Tapi kagak bisa merem karena gue parno disini!" Kata Mbak Rika yang sedang duduk meringkuk di atas tempat tidur.


Aku menghembuskan nafas panjang seraya menggelengkan kepala. Aku melirik ke arah Narsih berdiri mengambang, ia kembali ke posisi awalnya. Berada di sudut kamar ku dengan terus menatap ku. Lalu aku membalikkan badan, dan mengatakan jelas pada Narsih. Jika aku melarang nya untuk masuk ke dalam mimpi ku. Karena itu akan mengganggu waktu tidur ku.


"Aku pasti akan membantumu, tapi tolong biarkan aku istirahat dengan tenang malam ini. Karena besok aku sudah mulai bekerja jadi jangan coba-coba memberikan penglihatan melalui mimpi lagi. Jika waktunya sudah tepat, kita bisa melanjutkan kisah masa lampau mu lagi. Oke?" Ucapku melalui batin pada sosok Narsih.


Entah ia paham dengan penjelasan ku atau tidak. Karena sosok Narsih hanya diam tak berkata apa-apa. Dasar demit nyeleneh, padahal aku sudah berpura-pura tak melihatnya. Tapi caranya meminta tolong benar-benar memaksa. Karena tau-tau Narsih masuk ke dalam mimpi ku, dan menunjukkan kisah hidupnya. Yang membuatku mau tak mau mengakui kehadirannya. Meski energi dendam dan amarahnya sangat besar, sosok Narsih tak pernah mengeluarkan energi negatifnya di sekitarku. Nyatanya aura di kamar ku tak berubah panas setelah kehadiran nya. Itulah yang membuatku jadi iba, dan penasaran dengan kisah selanjutnya. Tapi aku tak bisa menerima penglihatan itu sekarang, karena fisik ku sudah terlalu lelah, dan aku benar-benar butuh waktu istirahat untuk sejenak. Semoga saja sosok Narsih mau mendengarkan ku, karena kalau tidak aku akan menggunakan kesaktian yang ku miliki untuk membatasi diriku dari sosoknya.