
Mbak Rika semakin kebingungan, ia baru sekali ini mengalami hal ganjil selama hidupnya. Tentu saja ia jadi panik, dan mengira jika dirinya mengalami dimensia.
"Ran jangan-jangan ada yang salah dengan otak gue. Masak iya gue udah kena dimensia sih?"
"Gak kok Mbak, lu gak kenapa-napa. Sebenarnya emang kita tadi tersesat di dimensi lain. Apa yang lu lihat tadi emang nyata, dan lu sempat pingsan. Ada perbedaan waktu di alam manusia dan alam gaib. Padahal kita baru tersesat selama beberapa jam, tapi kenyataan nya di alam kita udah seharian kita ngilang. Entah apa yang terjadi selama kita menghilang." Kataku dengan menghembuskan nafas panjang.
"Ja jadi gue gak mimpi kan Ran? Beneran ada kuntilanak merah sama hantu anak kecil pirang? Apa sekarang mereka masih ada di deket gue?" Mbak Rika celingukan menoleh ke segala arah.
Aku menggelengkan kepala, supaya Mbak Rika tak bereaksi berlebihan jika mengetahui Petter masih ada di dekatnya. Nampak Petter keheranan melihat Mbak Rika yang terlalu takut padanya. Sama seperti Wati dulu, yang selalu takut ketika Petter ada di dekatnya.
"Rania... Apa temanmu itu terlalu penakut? Aku kan tidak menyeramkan, kenapa dia bertingkah begitu?" Ucap Petter seraya melesat ke jok belakang.
Tak lama setelah nya, Mbak Rika mengusap belakang tengkuknya. Ia merasakan bulu-bulu halusnya meremang, dan pindah ke jok depan.
"Ran, yuk jalan. Gue merinding tau duduk di belakang!"
"Sekarang udah magrib Mbak, shalat dulu yuk cari masjid terdekat. Habis itu kita ke rumah Bu Purnama, gak enak nih sama Pak Bos dikasih tugas malah ngilang kita nya."
"Ya udah yuk, biar tenang juga pikiran dan hati gue."
Aku memarkirkan mobil di depan masjid di pinggiran jalan. Terlihat Petter menghilang entah kemana, ia tak bisa berlama-lama menunggu ku di depan masjid. Karena bagaimanapun dia demit, dan tak bisa mendengarkan bacaan ayat-ayat suci. Setelah melakukan ibadah, aku dan Mbak Rika melanjutkan perjalanan. Kami pergi menuju ke rumah Bu Purnama, dan di tengah perjalanan Petter kembali menemuiku. Ia mengaku bertemu dengan beberapa hantu Belanda, yang mengajaknya berkenalan. Dan ia berniat mengajak hantu-hantu itu tinggal di alamnya. Sontak saja aku menghentikan laju mobil, dan membalikan badan ke belakang.
"Apa kau akan segera kembali ke alam mu? Kenapa kau meninggalkan ku secepat ini Petter?" Tanya ku dengan mengaitkan kedua alis mata.
Belum sempat Petter menjawab pertanyaan ku, Mbak Rika langsung menepuk pundak ku dengan menjerit.
"Lu lagi ngomong sama hantu anak kecil pirang itu ya hah? Lu jangan nakutin gue deh Ran, kenapa tuh hantu masih ngikutin kita sih?"
"Tenang mata lu kotak! Gimana gue bisa tenang kalau gue semobil sama hantu Raniaaaaa!"
"Mata gue bulet Mbak! Spongebob yang badannya kotak aja matanya tetep bulet kok, apalagi gue coba! Udah lah tenang aja, kalau tadi gak ada sahabat gue Petter, mungkin sekarang kita masih ada di dimensi gaib!"
Aku kembali berbicara dengan Petter, dan menanyakan hal yang sama. Ia hanya menggelengkan kepala, mengaku belum ingin kembali dalam waktu dekat. Tapi suatu saat nanti, ia akan tetap kembali ke alam nya.
"Tapi tenanglah, sewaktu-waktu aku akan tetap datang mengunjungi mu. Karena kau sudah tidak boleh terlalu sering mengunjungi alam gaib. Bisa-bisa aura mu sebagai manusia akan semakin berkurang, dan semua makhluk gaib akan lebih sering mendatangi mu. Karena aura mu akan semakin bersinar terang dan memancing para makhluk tak kasat mata untuk mendatangi mu dengan berbagai tujuan."
Aku menelan ludah kasar, ternyata itulah alasannya kenapa akhir-akhir ini aku lebih sering bertemu dengan makhluk gaib.
"Udah lu kalau mau ngobrol sama sahabat hantu lu, biar gue aja yang nyetir mobil biar cepet sampai!" Seru Mbak Rika mendorong ku supaya bertukar tempat duduk.
Kami pun tak banyak berbicara, karena aku juga sedang memikirkan apa yang harus aku lakukan supaya tak terlalu mencolok di antara makhluk gaib. Dan tak terasa mobil yang kami tumpangi akhirnya sampai di depan rumah Bu Purnama. Nampak rumah itu sepi tak ada siapapun disana. Aku dan Mbak Rika sudah mengetuk pintu selama beberapa kali. Tapi tetap tak ada jawaban dari dalam rumah. Aku memutuskan untuk menghubungi Pak Bos, dan begitu ia menerima panggilan telepon itu. Pak Bos mengatakan jika saat ini sedang ada di Rumah Sakit, karena ia menemukan Bu Purnama tergeletak tak sadarkan diri di ruang tamu. Kemudian ia bertanya kenapa dari kemarin aku dan Mbak Rika tak bisa dihubungi, sampai akhirnya pagi tadi ia bersama Papa nya pergi ke rumah Bu Purnama dan menemukan nya dengan keadaan tak sadarkan diri. Aku menjelaskan dengan detail pada Pak Bos, jika kami disesatkan di alam lain oleh kuntilanak merah peliharaan Bu Kartika. Bahkan aku sampai terluka karena melawan nya. Setelah itu Pak Bos hanya meminta kami datang ke Rumah Sakit untuk berbicara langsung dengannya. Dan setelah panggilan telepon itu berakhir, nampak Mbak Rika terkejut menyadari jika pergelangan tangan ku ada luka melepuh.
"Jadi ini karena kuntilanak merah itu Ran? Astaga pasti sakit sekali, kita ke apotek dulu yuk beli obat buat luka lu."
"Gak usah Mbak nanti aja sekalian di Rumah sakit."
"Dih emang sesakit itu ya sampai harus dibawa ke Rumah Sakit?"
"Bukan gitu Mbak! Pak Bos minta kita kesana, karena sekarang Bu Purnama dirawat di Rumah Sakit. Kayaknya semua ini karena ulah Bu Kartika deh. Gue curiga dia minta merah sesatin kita, supaya dia bisa nyelakain istri muda suaminya!"
"Bisa jadi sih Ran, ya udah kita kesana aja langsung."Mbak Rika mengemudikan mobil dengan fokus.
Aku hanya diam menyenderkan kepala di jok mobil. Tangan ku mendadak terasa perih, aku hanya memberikan salep pereda nyeri yang ada di dalam kotak P3K. Beberapa menit kemudian kami sampai di Rumah Sakit. Aku dan Mbak Rika bergegas ke Ruang IGD menemui Pak Bos dan Papa nya. Keduanya nampak cemas, karena menurut Dokter Bu Purnama mengalami serangan jantung. Padahal ia tak mempunyai riwayat penyakit jantung. Dan Pak Bos yang menyadari luka di pergelangan tangan ku sangat terkejut. Ia tak menyangka jika kami sampai disesatkan di alam gaib. Mereka mengaku baru pertama kali mendengar hal semacam itu dariku. Aku hanya bisa mengatakan jika kemungkinan Bu Kartika memang sudah merencanakan ini semua, dan bisa jadi apa yang di alami Bu Purnama saat ini memang sudah di atur oleh Bu Kartika. Sontak saja raut wajah Papa Pak Bos nampak murka, ia ingin meminta penjelasan dari istrinya itu. Tapi anaknya meminta nya supaya tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Pak Bos takut, jika nanti nyawa Papa nya juga terancam.