Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 69 KEJANGGALAN?


Tak ada yang bisa ku lakukan, ini sudah hampir tengah malam. Dan kami masih berkeliaran diluar rumah, sepertinya tubuhku benar-benar kelelahan. Karena seharian sudah sibuk mengurus banyak hal.


"Kita pulang aja dulu Ran, kelihatannya lu udah kecapean. Besok juga gue harus ngajar di sekolah, kita hubungi Adit aja lewat telepon. Karena gue agak gak percaya sama Tante Ajeng. Apalagi Janni yang mendadak jadi dekat dengan Tante Ajeng."


"Iya nih Mbak, kepala gue pusing banget. Gue sampai belum sempat makan dari siang. Mungkin karena ini nih kepala gue keliyengan. Dan tentang Janni, gue pernah tanya ke Tante Ajeng. Katanya Janni itu teman Agus dari SMA dulu, dan sekarang entah ada hubungan apa di antara keduanya. Karena Tante Ajeng mengaku gak tahu apa-apa. Ya mungkin karena ada hubungan di masa lalu si Janni jadi ngerasa hawatir sama Agus." jelasku dengan menyandarkan kepala.


"Semoga aja hanya itu ya Ran, kalau sampai si Janni terlibat dengan para pembelot itu artinya dia udah jadi musuh gue juga. Dan gue bakal kasih dia pelajaran juga!" seru Mbak Ayu membulatkan kedua matanya.


"Emang udah kewajiban lu kasih pelajaran ke orang kan Mbak? secara lu kan guru di sekolah, jadi ya wajar aja kalau tugas lu ngasih pelajaran."


Plaak.


Mbak Ayu menepuk lenganku, dengan menghembuskan nafas panjang.


"Ya kali gue harus ngasih pelajaran di bangku sekolahan! yang gue maksud pelajaran yang sesungguhnya oneng!"


"Iya deh iya, asal lu gak bikin celaka anak orang."


Chiiit.


Taksi itu berhenti mendadak, sontak saja kami terperanjat dari tempat duduk. Terlihat sopir itu mengusap peluh di keningnya, ia meminta maaf karena menginjak rem mendadak.


"Tadi ada kucing yang lewat begitu aja neng, maaf ya sekali lagi, saya gak sengaja."


Sopir itu tak langsung menjalankan mobilnya kembali, ia terlihat sibuk dengan ponselnya. Karena ia tak kunjung mengemudikan mobil, aku pun mulai penasaran dan bertanya apakah ada yang bermasalah dengan mobilnya.


"Gak ada apa-apa neng, ini saya sedang mengirimkan pesan ke anak saya. Karena sampai selarut ini saya belum pulang, jadi saya memberinya kabar."


Setelah itu taksi itu berjalan kembali melewati jalanan ibukota yang masih terlihat ramai meskipun di malam hari. Mbak Ayu terlihat sibuk dengan ponselnya, rupanya Tante Ajeng memberi kabar kalau malam ini dia akan menunggu Agus di Rumah Sakit bersama Janni.


"Kok agak aneh ya, ngapain si Janni bela-belain nunggu Agus di Rumah Sakit. Pasti mereka ada hubungan dekat gak sekedar teman lama doang."


Ku perhatikan kedua mata sopir taksi itu terus memperhatikan kami. Sepertinya ia selalu mendengarkan apa yang kami bicarakan. Karena aku merasa aneh dengan gelagat sopir itu, aku memberi kode dengan gestur tubuh pada Mbak Ayu untuk menghentikan perkataannya. Mbak Ayu lalu menganggukan kepalanya, dan mengirimkan pesan singkat padaku.


"Jangan-jangan sopir itu salah satu dari pengikut Leak yang berhianat? kalau sampai dia berbuat macam-macam sama kita, gue gak segan buat manggil Calon Arang dan numbalin nyawanya!" pesan Mbak Ayu melalui wassap.


Aku menelan ludah kasar, merasa ngeri membaca pesannya. Aku mencoba berbicara dengan sopir taksi itu, untuk menggali sedikit informasi darinya. Ku tanyakan sejak kapan ia bekerja sebagai sopir taksi dan sebagainya. Bapak itu menjawab jika ini hanyalah pekerjaan sampingan nya, karena dia mempunyai usaha lain yang di urus istrinya.


"Wah pasti keluarga bapak pekerja keras semua ya? sampai-sampai bapak sendiri masih nyari setoran narik taksi."


"Iya neng harus begini, karena dulunya kami susah. Buat biayain anak sekolah aja harus jadi jongos di rumah orang. Tapi sekarang anak perempuan saya sudah mandiri, tapi di kehidupan yang sudah berkecukupan ini malah hidupnya jadi tak tenang." jelasnya dengan mata berkaca-kaca.


"Gak ada apa-apa kok neng, biasa masalah anak muda. Ini udah mau sampai tujuan, barang-barang nya diperiksa lagi neng takut ada yang ketinggalan."


Rasa penasaran ku tak dapat menemukan jawaban, karena taksi itu sudah sampai di depan kost. Setelah membayar ongkos taksi kami segera turun dan masuk ke dalam halaman rumah kuno. Aku meregangkan otot-otot di tubuh, dan mengatakan ke Mbak Ayu kalau keputusan untuk kembali kesini sudah tepat.


"Untung lu minta sopir tadi kesini Mbak, kalau udah sampai di kostan Agus dan dia udah gak ada kan sia-sia buang waktu aja."


"Loh, bukannya lu yang minta sopir tadi anter kita kesini?" Mbak Ayu mengaitkan kedua alis matanya.


Aku menggaruk kepala yang tak gatal, karena aku tak merasa mengatakan alamat kost ini ke sopir taksi tadi.


"Gue kan cuma ngasih tahu alamat kost Agus pas di tengah jalan tadi. Tapi setelah Mbak Rika telepon kita cuma memutuskan untuk kembali ke kost. Dan gue gak ada ngasih tahu alamat kost ini ke sopir tadi, tapi anehnya kenapa dia bisa anter kita sampai sini ya Mbak?" tanyaku dengan memijat pangkal hidung.


Aah rupanya aku terlalu lelah sampai tak menyadari kejanggalan ini, tanpa kami beritahu si pak sopir tadi mengantarkan kami ke rumah kuno ini.


"Jadi di antara kita gak ada yang kasih tahu alamat rumah ini tapi sopir tadi bisa anter kita sampai sini? gimana dia bisa tahu ya, jangan-jangan bener dugaan gue kalau dia salah satu dari mereka."


"Entahlah Mbak, gue udah gak bisa mikir apa-apa lagi nih. Perut gue lapar, kepala pusing. Jadinya gue gak nyadar dengan apa yang barusan terjadi."


Aku berjalan gontai ke kamar, tapi Mbak Ayu masih berdiri mematung di depan pagar. Ia melihat ke lantai atas rumah utama.


"Mbak cepetan dong jalannya, tolongin gue bikinin indomie ya, please!"


"Ya elah Ran, jadi lu ngeblank gini karena kelaperan?"


"Gak cuma laper aja Mbak, gue capek banget nih. Ada tugas di kantor diluar pekerjaan gue, dan belum lagi masalah Agus. Gimana gak pusing nih kepala gue."


"Ya udah ntar gue bikinin indomie spesial buat lu. Tapi habis itu lu temenin gue ke rumah utama ya, ada yang mau gue selidiki nih."


Mendengar perkataan Mbak Ayu tubuhku serasa benar-benar lemas, aku langsung duduk di kursi depan kamar, menyandarkan kepala di tembok.


"Besok aja kek Mbak, besok kan kita juga harus berangkat kerja. Kapan istirahatnya kalau kita masih aja ngurusin hal-hal yang bikin penasaran gitu. Apalagi sekarang Malik gak tahu kemana perginya, gue kan jadi gak bisa minta tolong dia buat menelusuri si bapak sopr taksi tadi."


"Lah emangnya kemana sosok penjaga lu?"


"Itulah Mbak yang gak gue tahu, terakhir kali gue lihat dia pas ngasih info tentang Mbah Karto. Habis itu dia gak nampakin wujudnya sama sekali, kemana ya si Malik pergi." aku berusaha menerka-nerka, tapi rasa letih luar biasa membuatku tak dapat berpikir apa-apa lagi.


...Bersambung. ...