
Wajah mereka sepertinya familiar di ingatanku, pantas saja aku merasa dejavu seakan pernah melihat mereka sebelumnya. Pak Sapri dan Pak Jarwo masih berbicara dengan sepasang suami istri itu. Pak Haji memilih keluar rumah, nampaknya ia mencari lelaki yang ada di kebun kosong tadi. Suasana di rumah duka ini sangat haru, si ibu yang ternyata adik kandung dari almarhum istri Pak Langgeng marah. Ia tidak terima mendengar selentingan warga, yang mengatakan jika keluarga Pak Langgeng meninggal karena kiriman santet. Apalagi anak tunggal mereka, baru mendengar fakta kebenaran mengenai jati dirinya disaat semua keluarga kandungnya tiada.
"Nduk hiburlah pemuda itu. Aku merasa jika kau mampu mengendalikan emosinya. Dia masih sangat terkejut mengetahui kebenaran. Belum lagi kenyataan jika keluarga nya tewas semuanya." Titah Pak Jarwo dengan memijat pangkal hidungnya.
"Tapi..."
"Tak apa-apa, pergilah Nduk. Setelah ini dia pasti mau berbicara dengan mu. Pak Haji akan pulang, dan pemuda itu akan sendirian diluar sana. Jangan sampai ada demit jahat mendekatinya."
Aku hanya menganggukkan kepala serata berjalan ke teras depan. Pemuda itu sedang bersalaman dengan Pak Haji yang sedang berpamitan pulang.
"Nduk Rania kemarilah!" Seru Pak Haji melambaikan tangannya.
Seketika pemuda itu membalikkan tubuhnya menghadapku.
Degh.
Loh itu kan Mas Adit. Jadi anak kandung Pak Langgeng itu Mas Adit. Batinku di dalam hati tercekat.
"Mas Adit. Jadi..."
Pak Haji pun menyela pembicaraan, dan memintaku menyelesaikan administrasi di kantor pemakaman sebelum jenazah dibawa.
"Tapi darimana kau mengenal Nak Adit ini Nduk?" Tanya Pak Haji yang penasaran.
"Hmm kami teman lama Pak Haji. InsyaAllah begitu kantor nya buka Rania akan langsung kesana." Jawabku seraya mengecup punggung tangan nya.
Pak Haji pergi di antar seorang warga. Di samping ku ada Mas Adit yang masih berdiri mematung. Ia diam seribu bahasa tak mengatakan apapun padaku. Aku berusaha menghibur Mas Adit, dan sengaja tak membahas persoalan mengenai jati dirinya.
"Besok kita sama-sama ke kantor pemakaman ya Mas. Mas Adit istirahat dulu gih, pasti capek banget kan buru-buru datang kesini?"
"Kau pasti sama terkejutnya dengan ku. Sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga ini? Aku baru mengetahui jati diriku setelah sampai disini, dan Ibu Bapak menjelaskan semuanya. Aku sangat kesal pada mereka, kenapa mereka tak mengatakan yang sebenarnya dari dulu. Aku sudah kehilangan kesempatan untuk berbakti pada orang tua kandung ku. Aku sangat menyesalinya Rania!" Kata Mas Adit dengan suara bergetar.
"Jangan ditahan ya Mas. Kalau emang gak bisa dipendam lagi keluarin aja beban mu. Gak ada salahnya kok kalau lelaki itu nangis. Aku paham semuanya berat, tapi kau harus menerima kenyataan dengan tegar. Aku gak mungkin meminta mu untuk bersabar, karena itu pasti mustahil kau lakukan."
Mas Adit tertunduk dengan menggenggam erat tanganku. Ia benar-benar menangis menumpahkan duka nya. Aku jadi berlinang air mata melihatnya sehancur ini. Hatiku jadi rapuh tak kuasa melihat penderitaan nya. Ku seka air mata yang membasahi pipinya, sampai akhirnya perlahan ia sedikit tenang. Malam ini aku ikut merasakan kehancuran yang Mas Adit rasakan. Pertama kali seumur hidupnya, ia baru bertemu dengan keluarga kandungnya dengan keadaan berduka. Tak ada lagi kata ataupun pelukan untuknya. Seorang anak yang baru mengetahui jati dirinya, dan tak dapat berbakti pada kedua orang tuanya. Dari dalam rumah, seorang perempuan berjalan tertatih dengan berlinang air mata. Ia tertunduk penuh penyesalan meminta maaf pada Mas Adit. Ia mengaku bersalah karena egois ingin menjadi satu-satunya ibu untuk Mas Adit.
"Maafkan Ibu Nak, Ibu yang bersalah karena menyembunyikan kebenaran darimu. Ibu takut kau meninggalkan Ibu jika kau tau kami bukanlah orang tua kandung mu. Tapi Ibu sangat menyesal terlambat mengatakan nya, dan di perjalanan kesini batin Ibu sangat terluka. Tapi Ibu tak bisa mengatakan nya di jalan, Ibu tak mau pikiran mu kacau dan terjadi apa-apa di perjalanan."
"Dari awal Adit sudah curiga, tiba-tiba Ibu nyuruh pulang dan minta di antar ke Desa ini. Padahal sebelumnya kita gak pernah datang kesini Bu. Setiap kali Adit tanya Ibu tak mau menjelaskan apapun. Begitu sampai disini, Ibu pun masih diam sampai akhirnya Bapak yang menjelaskan semuanya.
Aku tak dapat berkata apapun, tapi aku juga tak bisa membiarkan Mas Adit menyalahkan Ibunya terus menerus. Sedewasa apapun dia saat ini, batinnya sedang sangat terluka, jadi dia tak akan bisa berpikiran jernih lagi. Sampai akhirnya Pak Sapri meminta keduanya untuk tak berdebat lagi. Mas Adit pun masuk ke dalam rumah, dan memilih membacakan doa untuk keluarganya. Tanpa terasa aku terlelap di kursi depan, Pak Jarwo membangunkan ku dan meminta ku pulang.
"Sudah mau subuh Nduk. Pulanglah ke rumah dulu."
"Maaf Pak, kayaknya Rania ketiduran."
"Iya tadi si Adit mau pindahin ke dalam tapi dia takut kalau kau terbangun. Kasihan dia pasti kelelahan, semalaman tak berhenti membacakan doa untuk keluarga nya."
"Ya udah Pak, Rania ke dalam dulu mau pamitan sama Mas Adit."
Begitu masuk ke dalam rumah, Mas Adit masih duduk di antara jenazah keluarganya. Aku duduk di sampingnya, dan menunggu nya menyelesaikan bacaan ayat suci.
"Kau mau bicara apa Ran? Apa kau tau sesuatu mengenai kematian semua keluarga ku? Aku tau ini bukanlah wabah penyakit seperti yang mereka katakan. Karena wajah-wajah orang disini agak lain. Apa semuanya berhubungan dengan hal-hal gaib? Katakanlah padaku apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?" Ucapan Mas Adit dengan mengaitkan kedua alis mata.
Entah sejak kapan Mas Adit percaya dengan hal-hal gaib. Padahal biasanya dia tak mau mendengarkan penjelasan ku mengenai hal spiritual macam ini. Mungkin karena semua ini terjadi pada keluarganya yang belum pernah sekalipun ia temui.
"Kita bicarakan nanti saja ya Mas, aku mau pulang dulu shalat subuh. Rumah ku gak jauh dari sini kok, nanti aku datang lagi. Kita sama-sama urus administrasi pemakaman nya."
"Tapi janji ya, kau akan cerita yang sejujurnya. Jangan ada lagi kebohongan yang disembunyikan dariku." Kata Mas Adit dengan menggenggam tanganku.
Aku hanya menganggukkan kepala seraya bangkit berdiri. Ia masih duduk di tempat yang sama dengan memandangi semua keluarganya yang terbujur kaku di balik kain jarik. Tak bisa ku bayangkan, bagaimana hancur hatinya menghadapi kenyataan pedih seperti ini. Mungkin aku memang harus menceritakan fakta yang sebenarnya mengenai kematian keluarganya.