
"Mas di belakang sepertinya ada yang ngikutin kita deh, Masnya lihat gak?" tanyaku pada Mas ojol.
"Dimana ya Kak? saya gak lihat apa-apa kok." jawabnya dengan melihat ke belakang.
"Masa gak lihat sih Mas, itu loh disana!" kataku dengan menunjukan jari telunjuk ke belakang.
Aneh, tak ada siapapun disana. Padahal sedari tadi aku yakin jika ada yang membuntuti kami. Aku mengaitkan kedua alis mata, berusaha menerka-nerka kejadian barusan.
"Masa iya aku halu? atau gue negatif thinking aja karena gelagat aneh Agus ya." batinku di dalam hati.
Perjalanan ku alihkan ke Warmindo dekat kost, karena aku lapar dan harus mengisj perutku. Setelah Mas ojol pergi, aku bergegas duduk di salah satu sudut warung itu. Ku pesan indomie telor rebus dengan extra lombok dan es jeruk manis.
Dret dret dret.
"Loh Agus? ngapain dia telepon ya?" gumamku dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
Ku sentuh tombol terima telepon, terdengar suara Agus yang tak seperti biasanya. Ia memperingatkan ku, untuk mengembalikan kotak yang ku bawa ke tempat semula.
"Jika kau tak segera mengembalikan kotak itu, nyawa orang-orang terdekatmu bisa dalam bahaya." kata Agus dengan suara berat tak seperti biasanya.
"Lu kenapa Gus? gue gak paham sama maksud lu. Kenapa lu tiba-tiba ngomong begini sih?"
"Hahahaha. Dasar bocah ingusan, kau sudah lancang mencampuri urusan kami!" serunya dengan nada suara marah.
Tut tut tut.
Panggilan telepon tiba-tiba terhenti, aku terkesiap mendengar perkataan Agus. Jangan-jangan Agus adalah salah satu pengikut Leak itu, tapi kenapa baru sekarang aku mengetahuinya. Lebih baik ku pastikan lagi ucapan Agus tadi, batinku seraya menghubungi Agus kembali. Tak ada tanda-tanda panggilanku terhubung, bahkan nomer Agus tak berdering sama sekali. Sajian indomie yang sudah tak hangat lagi membuat selera makanku hilang, apalagi dengan kejadian barusan. Aku berjalan gontai kembali ke kost, nampak sebuah mobil sedan terparkir di ruang utama rumah kuno yang ku tempati. Sepertinya ada tamu yang datang, tapi pemilik rumah itu bahkan tak ada disana. Terdengar perbincangan beberapa orang dari dalam rumah utama, aku mengacuhkan nya dan berjalan melewati samping garasi yang tumben terasa sesak.
"Loh motor ini kan milik Agus, kenapa ia datang ke kost ku? perasaan aku tak pernah memberitahu nya alamat kost ini." batinku dengan nafas yang berderu kencang.
Belum hilang rasa cemas di dalam hatiku, terdengar suara yang familiar memanggil ku. Ketika aku menoleh ke belakang, nampak Agus sedang berdiri di teras rumah utama bersama sepasang suami istri.
"Rania sini!" seru Mbak Ayu di belakang suami istri itu.
Aku berjalan perlahan ke arah mereka, entah kenapa aku merasa terjebak di situasi yang salah. Aku menyunggingkan senyum ke semua orang, dan Mbak Ayu langsung menarik tanganku ke sampingnya.
"Ini loh keponakan Om dan Tante yang sekarang udah kerja, kebetulan banget ya mereka satu Kantor." kata Mbak Ayu dengan menaikan alis matanya.
Oh rupanya ini Om Dewa, saudara jauh Papa yang udah lama banget gak pernah ku lihat. Dan baru kali ini aku bertemu langsung dengan istrinya. Segera ku ucapkan salam pada keduanya, dan mereka langsung mengenaliku sebagai anak tunggal dari Dedy putra sejagad. Ya, itu adalah nama Papaku.
Menurut Om Dewa, ia akan merenovasi beberapa ruangan di rumah kuno itu. Karena bangunan yang sudah kuno, ia takut jika terjadi kerusakan yang fatal. Mereka akan tinggal selama beberapa hari disana, dan Agus juga diminta menginap malam itu. Aku merasa agak aneh dengan kebetulan yang terjadi saat itu.
"Eh lu ngapain diem aja sih Ran? katanya lu penasaran sama Om Dewa nih ada orangnya lu mau tanya apa lagi sama beliau?" kata Mbak Ayu membuatku canggung.
"Ee itu anu. Itu loh Om, Rania penasaran aja kenapa ruang keluarga yang di lorong belakang sana gak boleh dimasukin sembarang orang sih?" entah kenapa kata-kata itu yang terlontar olehku, kini mereka semua nampak saling memandang dengan tatapan aneh.
"Astaga tentang ruangan itu toh. Apa Dahayu gak cerita ke kamu, kalau ruangan itu hanya boleh dimasukin keluarga aja. Om hawatir ada orang-orang yang berniat buruk seperti dulu."
"Karena Rania masih ada hubungan keluarga sama Om Dewa, berarti Rania juga boleh masuk kesana dong?" tanyaku dengan semangat.
Kini Agus menimpali pertanyaan ku, dan mengatakan jika ia juga punya hubungan keluarga dengan mereka.
"Jadi saya juga boleh masuk kesana dong Om?" celetuk Agus, lalu ia berjalan ke sebelahku dan merangkul pundakku, seakan tak terjadi sesuatu sebelumnya.
Aku menaikan kepalaku, ku tatap wajah Agus yang terlihat biasa saja. Padahal tadi ia sudah mengancamku, tapi sekarang ia berlagak seperti orang tanpa dosa. Tak enak hati jika harus menegur Agus di hadapan mereka semua, aku hanya diam dengan hati yang gondok.
"Gus untuk sementara kau bisa menempati kamar sepupu mu, kebetulan ia tak ikut datang karena sedang kuliah di Australia." jelas Tante Ajeng sambil mengajak Agus masuk ke dalam rumah.
Om Dewa tak menjawab pertanyaan ku tadi, sepertinya Tante Ajeng sengaja mengalihkan obrolan ku. Tak berselang lama Om Dewa juga berpamitan istirahat, ia memintaku untuk berkumpul besok sepulang kerja. Mereka akan mengadakan makan malam bersama keluarga terdekatnya, termasuk aku dan Agus. Mbak Ayu mengatakan jika masakan Tante Ajeng sangat enak dan sedap.
"Lu bakal nyesel kalau gak datang ke acara besok malam Ran." ucap Mbak Ayu dengan menyunggingkan senyum.
"Pulanglah bersama Agus, kalian bisa berkumpul bersama kami. Jarang-jarang loh Om dan Tante ada disini." pinta Om Dewa.
"InsyaAllah ya Om, kalau besok gak ada lembur Rania pasti datang."
Setelah obrolan selesai, aku berpamitan ke kamar. Langkahku terasa berat, pikiranku masih terfokus pada perkataan Agus tadi. Darimana Agus tahu tentang kotak yang ku simpan, perasaan aku hanya menceritakan itu pada Mas Adit seorang.
"Jangan-jangan Agus ada hubungannya dengan Leak itu? apa mungkin ia salah satu pengikut Leak itu ya? batinku menerka-nerka.
Aku duduk di ruang depan kamarku tanpa melepas sepatu. Ku sandarkan kepala ke tembok dengan melipat tangan di depan dada. Perasaan ku makin tak karuan, apalagi dengan kedatangan Agus di rumah kuno ini. Aku menghembuskan nafas panjang, ada banyak pertanyaan di dalam kepalaku. Entah apa yang sebenarnya terjadi, besok pagi aku harus meminta penjelasan pada Agus.
Ada misteri apa sebenarnya? jika Agus tahu tentang kotak itu, kenapa ia tak mengatakan yang sebenarnya dari awal? atau bukan Agus yang meneleponku tadi? tapi aku yakin itu suara Agus, apa jangan-jangan ia kerasukan?
...Ada yang punya feeling bagus gak nih, menurut kalian beneran Agus yang telepon atau bukan dia? ...
...Bersambung. ...