
Disaat kami ingin mengikuti jejak jiwa tanpa raga itu, ponsel di dalam saku baju ku bergetar. Nampak panggilan telepon dari Mas Adit. Ia memberitahu jika saat ini dalam perjalanan ke Jakarta. Karena menurutnya Sintia sudah membaik, dan orang tua nya memutuskan untuk membawanya pulang.
"Tapi pencarian teman-teman Sintia masih berlangsung disana. Karena itu diluar wewenang ku, jadi aku tak bisa melakukan apapun. Bagaimana kabarmu Rania?" Tanya Mas Adit di seberang telepon sana.
Aku menghembuskan nafas panjang, sebelum menceritakan apa yang ku alami disini.
"Sepertinya ada kasus pembunuhan Mas, sosok korban memberikan penglihatan padaku dan Mbak Ayu. Kami sudah ada buktinya, dan sepertinya arwah korban juga mau menunjukkan mayatnya berada dimana." Jawabku menjelaskan.
"Kalian jangan kemana-mana dulu ya, tunggu aku. Kasus pembunuhan itu sangat berbahaya, aku tak mau kalian kenapa-napa. Dua jam lagi aku sampai, kita selidiki saja bersama. Oke?"
"Tapi Mas, terlalu lama kalau menunggu mu datang!"
"Raniaaa! Tolong dengarkan aku sekali ini saja, please." Ucap Mas Adit sebelum mengakhiri panggilan telepon.
Aku menjelaskan pada Mbak Ayu, jika Mas Adit sedang dalam perjalanan pulang. Dan kami terpaksa harus menunda penelusuran.
"Apa gak kelamaan Ran? Mending kita lihat saja dulu lokasinya dimana, tapi kita jangan mendekati TKP sampai Adit datang. Bentar deh gue komunikasi lewat batin dulu sama arwah perempuan tadi!" Ucap Mbak Ayu wajahnya cemas.
Entah apa yang Mbak Ayu bicarakan dengan sosok korban, aku mengambil laptop di dalam tas. Dan mentransfer rekaman dari kamera yang kami temukan tadi. Dengan jelas terlihat semua kejadian dari awal sampai akhir. Jelas-jelas ini kasus pembunuhan, dan harus segera ditangkap pelakunya. Mbak Ayu sudah berhasil berkomunikasi dengan arwah korban, ia mengatakan akan membantu mengungkap kematiannya. Dan Mbak Ayu sudah mendapatkan petunjuk, dimana keberadaan mayat korban.
"Semua bukti sudah ada dan jelas siapa pelakunya. Bagaimana kalau kita telusuri dulu lokasi selanjutnya?"
"Tapi lokasinya ada di dalam bangunan milik pribadi Ran. Kita gak mungkin bisa sembarangan masuk kesana."
"Maksudnya kita harus minta ijin dulu buat masuk ke lokasi?"
"Lokasi nya ada di dalam sebuah proyek pembangunan gedung Ran. Dan yang gak berkepentingan dilarang masuk ke lokasi, jadi emang ada benernya kita tunggu Adit aja. Tanpa pihak yang berwajib, susah buat orang umum masuk ke dalam."
Aku mengacak rambut kasar, sudah tak sabar ingin menyelesaikan kasus ini. Karena sepertinya aku memang membutuhkan waktu istirahat untuk sementara waktu. Terlalu banyak kasus yang sudah ku selesaikan, dan ke depannya aku harus lebih fokus untuk membantu Wati ataupun Sintia. Jadi ku putuskan untuk melanjutkan pekerjaan di kantor, sebelum menyelesaikan masalah yang lain lagi.
Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat, Mas Adit sudah menunggu di depan Hotel. Aku dan Mbak Ayu bergegas turun ke bawah, dengan membawa bukti yang sudah ku simpan di laptop.
Ku tatap wajahnya yang lelah, tapi Mas Adit masih tetap berusaha untuk kuat. Ia selalu membantu ku menangani kasus-kasus yang tak bisa ku selesaikan sendiri. Sepertinya Mbak Ayu melihat ekspresi wajahku, ia menggoda ku seraya tersenyum cengengesan.
"Kan udah gue bilang, kalian itu pasangan yang serasi. Bisa saling membantu dengan pekerjaan kalian masing-masing, kenapa gak nikah aja sih?" Celetuk Mbak Ayu di kursi belakang.
"Apa an sih Mbak, gak usah ngaco deh! Sekarang kita selesaikan dulu kasus ini, kasihan anak-anak korban. Gue lihat mereka kebingungan mencari ibunya."
"Tenang aja Mbak, masih banyak waktu buat dapetin Rania. Sekarang kita bereskan yang satu ini dulu." Sahut Mas Adit mengembangkan senyuman.
Aku hanya diam mendengar ucapan Mas Adit, rasanya aku sangat malu sampai tak mampu menatap wajahnya lagi. Hingga sepanjang perjalanan ini, aku lebih banyak memainkan ponsel dan melihat berita terbaru yang sedang viral saat ini.
Chiiit!
Mobil berhenti mendadak, sepertinya kami sudah sampai di lokasi proyek yang dimaksud Mbak Ayu.
"Kita masuk ke dalam sama petugas yang lain aja. Sebentar lagi mereka datang!" Kata Mas Adit seraya melihat posisi anggota nya melalui maps.
Begitu terdengar suara sirine mobil polisi, kami keluar dari mobil. Surat perintah penggeledahan diberikan pada pekerja yang bertanggung jawab disana. Semua anggota polisi dan anjing pelacak diturunkan. Nampak wajah kebingungan semua pekerja proyek, mereka tak tau menau jika polisi sedang mencari mayat korban pembunuhan. Berdasarkan data yang ada, ternyata pemilik proyek tersebut adalah tersangka yang membunuh istrinya sendiri. Pantas saja jika dia menyembunyikan mayat istrinya disini. Dari kejauhan nampak jiwa tanpa raga korban melesat ke gedung belakang. Disana masih belum dilakukan pembangunan, masih banyak tanah kosong dan rawa-rawa. Aku meminta Mas Adit untuk melakukan penyisiran di lokasi itu. Petugas pun membawa anjing pelacak ke belakang gedung, dan anjing pelacak itu berputar-putar di satu titik saja. Ada sebuah gundukan tanah yang nampak baru, pembongkaran pun dilakukan dan di kedalaman hampir dua setengah meter. Mereka menemukan sebuah koper besar yang terkubur di dalamnya.
"Kirim surat perintah pemanggilan, kita harus mencocokkan sidik jari terduga yang kemungkinan masih berbekas di koper itu." Perintah Mas Adit ke salah satu anak buahnya.
Ada aroma bangkai yang sangat menyengat, petugas membuka koper yang resleting nya agak macet. Begitu koper terbuka sempurna, semua orang nampak terkejut dan langsung menutupi hidungnya. Terlihat jelas mayat seorang perempuan yang sudah mulai membusuk. Aku dan Mbak Ayu menjauh dari lokasi, kami mendatangi jiwa korban. Dan memintanya untuk kembali ke alamnya. Karena kami sudah membantu memecahkan misteri kematian nya. Sosok itu hanya menyunggingkan senyum seraya menganggukkan kepala. Perlahan ia terbang ke udara, wujud yang sebelumnya mengerikan dengan luka di kening menjadi sosok yang lebih bersih mengenakan gaun putih. Perlahan ia melayang ke atas, lalu melambaikan tangan sebelum akhirnya menghilang. Kami pun membalas dengan lambaian tangan, dan mata yang berkaca-kaca.
"Balik ke Hotel yuk Ran, kita minta ganti kamar. Pasti setelah ini kamar itu bakal diselidiki juga." Ajak Mbak Ayu seraya meregangkan otot-otot di tubuhnya.
"Ntar Mbak bareng Mas Adit aja, biar prosesnya cepat pas minta ganti kamarnya." Ku lihat Mas Adit masih berbicara dengan team inavis.
Setelah menyelesaikan urusannya, Mas Adit bersama anggota nya pergi ke Hotel tempat ku menginap. Kami dengan mudah mendapatkan kamar baru, karena petugas langsung melakukan penyelidikan di TKP. Mas Adit kembali mengucapkan terima kasih padaku dan Mbak Ayu. Karena sekali lagi kami membantu mengungkap kasus pembunuhan yang belum dilaporkan ke pihak berwajib. Akhirnya aku dapat bernafas lega, karena setelah ini dapat mengistirahatkan fisik dan mental ku untuk beberapa hari ke depan. Meski hanya menginap di Hotel bintang lima saja, aku sangat bersyukur. Ternyata bakat yang ku miliki dapat membantu banyak orang, termasuk para jiwa tanpa raga itu. Ke depan nya, aku berharap dapat membantu siapapun yang membutuhkan bantuan ku. Tunggu penelusuran ku selanjutnya ya teman-teman.