Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 81 TERUNGKAP?


"Tapi apakah kami bisa mempercayai anda?" tanya Pak Markum dengan wajah cemas.


"Tentu saja, saya hanya ingin mempertemukan nya dengan papa saya yang sudah sakit keras. Beliau berpesan pada saya untuk mempertemukan nya dengan perempuan yang dulu pernah ia nodai. Dan papa saya ingin bertanggung jawab dengan membesarkan anak itu, dan menanggung semua biaya mereka berdua. Jadi mulai sekarang saya yang akan mengambil alih tugas untuk merawatnya. Dan mengenai apapun asetnya, nanti pengacara keluarga saya yang akan mengurusnya. Saya ingin melindungi semua hak-haknya, supaya kelak ia dapat menggunakan semua miliknya, ketika ia sembuh dari gangguan jiwanya."


Istri Pak Markum mengaitkan kedua alis matanya, ia tak tahu harus berkata apa, Aku pun tak mau kehilangan kesempatan, dan mengatakan jika menurut istri Pak Markum, Purnama hanya memiliki sepetak tanah dengan bangunan rumah yang dulu ia tempati bersama keluarganya.


"Benar kan bu, apa kata saya? waktu itu kan saya udah nanya mengenai peninggalan orang tua Purnama?"


"Ehm itu anu dek, setahu saya ya hanya itu. Memangnya Tuan ini bisa mencari tahu warisan peninggalan orang tuanya si Aya?"


Pak Bos besar hanya tersenyum melalui sudut bibirnya, nampaknya ia juga tahu jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh istri Pak Markum. Ia mengatakan jika semuanya dapat ia cari tahu dengan mudah, karena ia memiliki orang-orang kepercayaan yang dapat diminta untuk melakukan apa saja.


"Kalau begitu silahkan saja Pak, saya akan sangat senang kalau Purnama dapat segera sembuh. Entah sampai kapan saya dapat menjaganya, karena usia manusia tak ada yang tahu." ucap Pak Markum menghembuskan nafas panjang.


Saat itu juga Pak Bos besar memutuskan untuk memindahkan Purnama ke Rumah Sakit yang memiliki Dokter Spesialis Kejiwaan. Tak ada lagi yang dapat dilakukan istri Pak Markum, ia semakin cemas karena kedoknya sewaktu-waktu dapat terbongkar.


Aku dan Mbak Rika memutuskan untuk kembali ke kantor. Sementara Purnama dibawa Bos besar ke Rumah Sakit yang sudah ia siapkan. Harapanku supaya Purnama cepat sembuh dan mengatakan dimana keberadaan anaknya.


Dret dret dret.


Ponsel ku bergetar, nampak panggilan telepon dari Mbak Ayu. Ia mengatakan jika tadi sempat melihat Janni di dekat sekolah.


"Gue uudah berusaha menghubungi Adit, buat ngasih informasi ini. Tapi gak ada jawaban dari dia, sementara gue gak bisa mengikuti Janni, karena ada ujian akhir. Kalau lu gak sibuk tolong datang ke loksai yang akan gue sharelok. Tadi gue sempat lihat dia masuk ke dalam sebuah kontrakan. Gue curiga dia disana gak sendirian, jangan-jangan ada Om Dewa juga lagi!"


"Ya udah Mbak lu sharelok aja, sekarang juga gue otewe kesana sekalian ngehubungin Mas Adit. Lumayan dapat bahan buat liputan penggerebekan."


Setelah mengakhiri panggilan telepon itu, aku berbagai tugas dengan Mbak Rika. Aku memintanya untuk pergi ke Kantor Polisi melaporkan keberadaan DPO dengan nama Anjanni. Sesampainya di sekitar lokasi itu, aku mengamati daerah sekitar. Banyak petakan kontrakan disana, dan aku tak tahu rumah mana yang menjadi tempat persembunyian Janni. Aku mengirimkan pesan singkat ke Mbak Ayu bertanya rumah mana yang ia lihat tadi. Tapi Mbak Ayu juga tak pasti, karena ia tadi terburu-buru dan tak memastikan lagi rumah mana yang dimasuki Janni.


"Siang kak." sapa seseorang dibelakang tubuhku.


Aku menelan saliva karena terkejut, entah siapa yang menyapaku tadi. Aku membalikan badan dengan ragu-ragu.


"Iya tadi saya habis nganter orderan food ke customer. Eh gak sengaja lihat kakak di balik pohon ini."


Terpikirkan olehku untuk meminta bantuan Mas ojol, untuk berpura-pura bertanya pada penghuni kontrakan itu, kalau ia sedang menunggu customer ojol nya.


"Mas kalau lihat perempuan ini di salah satu kontrakan itu kasih tahu saya ya. Saya mau ngeliput penggerebekan DPO nih, kalau Masnya bisa bantu saya, ntar saya kasih tips deh." kataku dengan menunjukan foto Janni yang ada di ponselku.


"Wah gak usah kak, saya ikhlas bantuin. Kebetulan tadi saya emang nganter orderan food ke perempuan ini. Itu tuh kak kontrakan nya yang di teras depannya banyak sepatu berserakan!" kata Mas ojol menunjuk ke kontrakan di ujung jalan.


Alhamdulillah rencana hari ini dimudahkan Allah dengan bantuan Mas ojol. Mobil polisi pun tiba, dan beberapa polisi mulai berpencar mengepung sekitar lokasi. Mas ojol dimintai keterangan oleh Mas Adit mengenai kebenaran Janni yang ada di kontrakan itu. Dan Mas ojol meyakinkan jika ia tak salah lihat, dan Janni benar-benar ada disana dengan beberapa orang lainnya. Aku bersiap dengan kamera di tangan, mengikuti langkah polisi yang perlahan melakukan penggerebekan.


"Kalian sudah terkepung! Cepat keluar atau kami akan mendobrak pintu ini!" teriak Mas Adit dengan menodongkan pistolnya.


Tak berselang lama dua orang laki-laki keluar, ia berbicara dengan Mas Adit dan meminta surat keterangan penggerebekan sekaligus surat penangkapan. Rupanya mereka ahli dalam bidang seperti ini, beruntungnya Mas Adit dapat memberikan surat keterangan sekaligus penangkapan atas nama Anjanni.


"Jika anda terlibat dalam persekongkolan ini, kami terpaksa akan menindak bapak berdua."


Beberapa petugas masuk ke dalam kontrakan itu dan menggeledah semua ruangan. Tak lama mereka keluar dengan seorang perempuan yang familiar di mataku. Ya, dia adalah Janni. Terdakwa yang diduga melakukan Pembunuhan terhadap Umi dan Agus. Aku menyorot wajah Janni dengan kamera, ia pun menyeringai dihadapan ku dengan mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.


"Lu udah salah berurusan dengan kami. Lu bakal terima akibatnya karena ikut campur dengan urusan kami!" seru Janni dengan tangan terborgol.


Aku menghampiri Janni dan tak kuasa menahan amarah. Ku tampar wajahnya dengan sekuat tenaga, aku begitu kesal melihat tingkahnya. Sudah dalam keadaan terborgol, ia masih sempat mengancamku.


"Apapun yang lu lakuin, lu harus bertanggung jawab! Dan jangan pernah berpikir untuk menyakiti siapapun lagi. Lu harus kasih tahu gue, dimana Om Dewa saat ini, itupun kalau lu mau hukuman lu lebih ringan!"


"Rania Rania. Lu pikir gue takut di penjara? Meskipun lu kerabat jauh Om Dewa, lu bakal dapat giliran juga kok. Hidup lu akan berantakan, lu akan kehilangan orang-orang yang lu sayang. Lu udah ngehalangin rencana Om Dewa, sampai gue terpaksa melakukan ini semua. Apapun yang gue lakuin, semua ini tak lepas dari perbuatan lu yang selalu menggagalkan rencana kami." kata Janni dengan sorot mata tajam.


Mas Adit meminta petugas untuk membawa Janni masuk ke dalam mobil. Ia akan segera dibawa untuk di interogasi. Nampak Mas Adit menyunggingkan senyumnya, ia memberiku semangat supaya tak terpengaruh dengan kata-kata Janni. Karena menurutnya Janni sengaja melemahkan mentalku dengan membuatku cemas karena menghawatirkan orang-orang yang ku sayang. Aku hanya menganggukan kepala, setidaknya satu persatu masalah mulai terungkap.


...Bersambung. ...