Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 239 MEMBINGUNGKAN?


Pagi itu aku berangkat lebih awal ke kantor, supaya aku dapat menyelesaikan masalah dengan Wening. Aku harus meminta penjelasan darinya, kenapa ia sampai tega melakukan itu pada Petter. Diluar dugaan ku, Mbak Ayu sudah menunggu di depan pagar. Ia ingin ikut bersamaku ke kantor, supaya ia bisa meredam amarah ku. Karena ia tak ingin jika aku membuat keributan di kantor.


"Lu kan harus ke sekolah Mbak!"


"Gak ada alasan. Ini hari sabtu, jadi gue gak ke sekolah Ran. Pokoknya gue harus ngawasin lu, biar lu gak bertindak diluar batas."


Aku tak dapat melarang keinginannya, dan membiarkan Mbak Ayu pergi bersamaku. Dan begitu sampai di kantor, masih belum banyak yang datang. Kami menunggu di Lobby, dan melihat satu persatu orang yang datang. Beberapa pegawai kantor mulai berdatangan, beberapa ada yang menyapaku dan mengajak ku ke atas bersama. Tapi aku tetap harus berada disini, menunggu Wening datang dan berbicara diluar.


"Loh Mbak Ayu ada disini juga?" Tanya seseorang yang ada di belakang kami.


Aku dan Mbak Ayu sama-sama membalikkan badan. Ku lihat Wening menyunggingkan senyum tanpa rasa bersalah sama sekali. Emosi ku langsung memuncak, dan aku menarik paksa tangannya keluar dari dalam kantor. Nampak Mbak Ayu tergesa-gesa mengikuti ku. Ku dorong tubuh Wening sampai ia tersudur di pohon besar. Aku membulatkan kedua mata dengan mencengkeram tangannya.


"Gue gak nyangka, ternyata lu jahat banget ya Wen! Lu udah tega ngurung Petter di gudang bawah tanah. Kenapa lu sampai hati ngelakuin semua itu hah? Apa gue punya salah sama lu? Kenapa harus Petter yang lu sakiti hah?" Kataku menatapnya tajam.


"Maksud lu apa Ran? Gue gak ngerti apa-apa!" Wening mengaitkan kedua alis mata, dengan raut wajah tanpa dosa.


"Lu ngaku aja deh! Lagian Petter udah ngomong semuanya ke gue. Lu kan yang udah jebak dia, dengan pura-pura minta tolong jadi gue. Bahkan Petter lihat lu dengan mata kepalanya sendiri. Lu ada disana, lu yang sengaja jebak Petter. Apa tujuan lu ngelakuin semua ini hah? Ngomong sama gue kenapa Wen?"


Tak ada jawaban dari Wening. Ia hanya menundukkan kepala tanpa kata. Tak lama setelah itu, Mbak Ayu datang bersama Aunty Ivanna dan juga Petter.Nampak Petter menunjukan jari ke arah Wening, dan ia mengatakan jika Wening sangat jahat. Karena ia mengurungnya bersama beberapa makhluk jahat yang menyeramkan.


"Apa katamu Petter? Aku tak melakukan apapun padamu. Kenapa kau menuduhku melakukan semua itu padamu?" Ucap Wening dengan mata berkaca-kaca.


"Denger ya Wen. Bukannya gue mau ikut campur, tapi menurut gue Petter gak mungkin bohong. Jadi lu gak usah berkelit, lu ngaku aja apa tujuan lu sampai ngurung Petter di ruang bawah tanah itu?" Imbuh Mbak Ayu menatapnya dengan tajam.


"Gue gak pernah ngelakuin semua itu Ran. Sumpah demi Allah, gue gak ngurung Petter atau apapun itu Ran. Mungkin Petter salah menilai gue." Kata Wening berusaha menjelaskan, tapi aku sama sekali tak mempercayainya. Meski ia berani bersumpah dengan menyebut nama Allah. Karena aku tau, dia adalah tipe orang yang bisa melakukan segalanya. Apalagi hanya dengan bersumpah palsu seperti itu.


Wening berjalan mendekati Petter. Ia berdiri agak berjongkok, dan bertanya apakah ia merasakan aura manusia ketika ia melihat seseorang yang mirip dengannya. Karena menurut Wening, aura manusia dan makhluk sangat berbeda dan ia harus merasakan aura itu. Karena Wening mengaku tak pernah bertemu dengannya lagi, pertemuan terakhir mereka sewaktu aku memperkenalkan keduanya sebelum kami pergi menyelesaikan kasus Arfi.


"Petter. Apa kau yakin jika perempuan ini yang menemuimu malam itu?" Tanya Mbak Ayu meyakinkan Petter.


Terlihat Aunty Ivanna juga meminta anaknya untuk fokus, dan mengingat aura seseorang yang menemuinya malam itu. Tapi Petter kesulitan untuk menjelaskan, ia hanya tertunduk tak yakin dengan apa yang akan ia katakan. Aku mengambil keputusan untuk melihat sendiri apa yang Petter lihat malam itu. Jika sampai terbukti Wening adalah pelakunya, aku tak akan membiarkannya. Meski harus bertarung dengannya, aku tak akan gentar. Ku sentuh tangan hampa Petter, lalu memfokuskan pikiran. Ku bacakan ayat-ayat suci seraya memegangi liontin yang menggantung di leher.


Flashback on.


Sewaktu Petter selesai bermain, ia ingin menikmati segelas susu cokelat yang dibuatkan Silvia. Tapi tiba-tiba ia mendengar suara teriakan minta tolong. Dan suara itu terdengar seperti suara ku, Petter bahkan tak sempat menikmati susu cokelat kesukaannya. Dan ia pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan Mamanya. Ia terus mengikuti suaraku, yang memanggilnya berkali-kali. Dan sesampainya ia di gedung tua tempatnya di kurung. Ia bertemu dengan seorang perempuan yang mengenakan jubah berwarna hitam. Ia menggunakak penutup kepala, dan mengatakan jika aku ada di dalam gedung tua itu. Dan ada makhluk jahat yang mengurungku di dalam ruang bawah tanah. Tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri, Petter memberanikan diri masuk ke dalam untuk menyelematkan ku. Dan saat ku perhatikan orang dibalik jubah itu, memang nampak wajah Wening yang menyeringai penuh kemenangan. Tapi ada yang lain darinya, aura nya sudah bukan aura manusia lagi. Bahkan aku dapat merasakan aura makhluk gaib di dalam dirinya.


Flashback off.


Aku membuka kedua mata setelah melihat penglihatan itu. Aku jadi tak yakin jika itu benar-benar Wening. Siapa yang ada di balik jubah hitam itu, kenapa wajahnya mirip dengan Wening. Lalu suara siapa yang berhasil mengecoh Petter, sampai ia mengira jika itu adalah suara ku. Padahal aku juga tak berada disana. Ataukah memang ada yang sengaja menjebak ku, dengan berpura-pura menjadi aku. Dan tentang Wening, apakah orang dibalik jubah itu memang bukan Wening. Aah rasanya kepalaku mau pecah kalau memikirkan nya.


"Ran gimana? Orang itu Wening atau bukan?" Tanya Mbak Ayu mengaitkan kedua alis mata.


"Gue jadi gak yakin Mbak. Karena orang yang gue lihat itu memiliki aura lain, dia memiliki aura gaib dalam tubuhnya. Sementara yang gue rasain saat di dekat Wening sekarang, dia tak memiliki aura itu. Hanya ada aura manusia di dalam dirinya saat ini. Gue jadi bingung Mbak." Jawabku setengah berbisik.


Tiba-tiba Wening menyela, dan kembali bertanya pada Petter. Nampak Petter juga ragu mengatakan apa yang dilihatnya malam itu. Jadi inilah yang membuat Petter bungkam tak bisa berkata-kata lagi. Karena dia jadi ragu untuk menuduh Wening. Karena Petter baru saja mengingat jika energi seseorang yang mirip dengan nya itu mengeluarkan aura makhluk gaib sama sepertinya. Karena itulah Petter jadi ragu untuk menuduhnya lagi. Aku menghembuskan nafas panjang, lalu menggenggam tangan hampa nya. Ku yakinkan Petter supaya ia tak ragu lagi, ataupun merasa bingung. Ku katakan pada mereka untuk menunda pembicaraan ini. Karena aku juga membutuhkan waktu untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi penglihatan yang ku lihat tadi masih kurang jelas, karena ada aura lain di dalam diri seseorang yang terlihat sangat mirip dengan Wening. Jadi apakah orang itu benar-benar Wening atau seseorang yang menyerupai nya. Sama seperti suara seseorang yang mirip dengan suara ku yakin meminta tolong pada Petter malam itu.