
"Ran. Gimana nih?" Bisik Mbak Ayu di telinga ku.
Aku menggelengkan kepala, tak tahu harus menjawab apa.
"Kita lihat nanti aja Mbak."
Heni penasaran dengan apa yang kami bicarakan secara bisik-bisik. Ia bertanya pada kami, dan kami hanya tersenyum canggung di depannya.
"Biasalah Hen, gue lagi nego sama Mbak Ayu. Biaya kost bulan depan kan harus bayar langsung ke Mbak Ayu, karena sekarang dia yang jadi Ibu kost nya. Makanya gue minta kelonggaran waktu hehehe." Jelasku membuat alasan yang masuk akal.
"Wah iya juga ya. Sekarang Mbak Ayu yang jadi pemilik rumah itu. Berarti mulai bulan depan kita bayarnya langsung ke Mbak Ayu ya. Pantas aja kita ditraktir hari ini." Sahut Heni.
"Ya udah, gue kasih kelonggaran waktu cuma 7 hari dari tanggal 1 ya, oke?"
Kami semua tertawa menanggapi ucapan Mbak Ayu. Dan terus membahas hal yang tak penting, sampai tak terasa kami sudah sampai di kedai kopi.
"Kalian bisa pesen apa aja, ntar gue yang bayar." Titah Mbak Ayu, membuat aku dan Heni semakin bersemangat.
Kami semua memesan minuman yang sama dengan cemilan kue yang sedang kekinian, milecrepes. Banyak hal yang kami bicarakan, sampai akhirnya pembahasan tentang Leni kembali bergulir.
"Eh Hen, tadi lu bilang Leni udah punya catatan yang sama kan. Terus buat apa dia pinjam lagi ke lu?" Mbak Ayu kembali bertanya.
"Nah itu Mbak, gue yakin kalau Leni udah catat semuanya. Makanya tadi pas di mobil gue tanya lagi, buat apa dia pinjam catatan gue. Nih dia baru balas, katanya tadi bukunya keselip gak tahu kemana. Terus besok dia titipin ke Security kampus, katanya besok dia gak bisa berangkat. Mau keluar kota sama keluarga nya." Ucap Heni seraya menunjukkan ponselnya, yang terdapat pesan dari Leni.
Disaat aku sedang menatap layar ponsel Heni, tiba-tiba ada sesosok penampakan lelaki yang berjalan pincang dengan kaki yang diseret sebelah. Ketika aku mendongakan kepala ke atas, aku melihat wujud yang sangat mengenaskan.
"Astaghfirullahalazim!" Seruku berjingkat dengan memegangi dada.
Sosok dengan kepala setengah berlobang itu menatapku dengan sorot mata nanar. Wajahnya dipenuhi darah segar yang menetes ke seluruh tubuhnya. Sepertinya dia adalah korban kecelakaan, dan entah kenapa ia berkeliaran di kedai kopi ini. Sosok itu pergi dari hadapan ku, meskipun ia tahu aku dapat melihat wujudnya. Sosok itu tak meminta bantuan apapun dariku, meski dia tahu aku bisa melakukan sesuatu untuknya. Syukurlah dia tak seperti demit lainnya, yang selalu meminta bantuan dariku. Jadi tak ku hiraukan lagi sosoknya.
"Dih, ngapain lu lihatin dia. Untung aja demit itu gak minta bantuan lu! Makanya peka dikit dong, jaga pandangan mata lu!" Seru Mbak Ayu dengan menggelengkan kepala.
"Dia? Demit? Mana Mbak demit nya?" Celetuk Heni memandang ke segala arah dengan mengusap belakang tengkuknya.
"Eh, gak ada kok Hen. Mbak Ayu cuma becanda aja kali. Udah minum tuh kopi nya, katanya bentar lagi mau webinar. Habis ini, gue tinggal ya. Lu berdua aja sama Mbak Ayu, soalnya gue ada kerjaan mendadak nih. Maklum gue kan jurnalis, ada liputan dadakan."
"Lah sepi dong cuma berdua aja!"
"Mana sepi Hen? Lu gak lihat orang segitu banyaknya. Udah lu disini dulu, gue mau antar Rania sampai depan dulu!"
"Gue bisa pergi sendiri Mbak. Lu disana aja awasin Heni, siapa tahu dia mau pergi atau ngelakuin sesuatu. Gue bingung soalnya, mau curiga sama Heni atau Leni. Karena gue juga gak lihat sendiri kalau Leni datang. Btw di rumah itu ada cctv nya gak sih Mbak?"
"Gak ada lah Ran, tapi tetangg sebelah punya kamera cctv di depan rumahnya. Mungkin orang yang keluar dari mobil apv putih itu bisa kelihatan. Besok deh gue ngomong ke tetangga sebelah, buat lihat rekaman cctv nya. Itu nuga kalau Om Dewa gak ditemukan di gedung terbengkalai. Lu hati-hati ya disana, kabarin gue kalau ada yang penting. Misalnya ditangkap nya Tante Ajeng disana. Gue pengen banget lihat Tante Ajeng mendekam di dalam penjara. Kalau gak mungkin gue sendiri yang akan menghabisi nya!" Ucap Mbak Ayu membulatkan kedua matanya dengan deru nafas kencang.
Aku meminta Mbak Ayu menenangkan diri dan kembali ke meja bersama Heni. Aku langsung berjalan ke depan karena Driver ojol sudah sampai. Nampak cahaya bulan purnama di atas langit sangat terang. Mas ojol mengatakan, jika rumahnya tak jauh dari jalan kunto aji.
"Kakak mau ngapain kesana malam-malam gini? Saya kebetulan warga dekat situ, jadi penasaran kenapa kakak kesana sendirian. Emang gak takut ya kak?"
"Saya jurnalis Mas, ada liputan di dekat sana. Udah Mas, stop disini aja!" Aku sengaja meminta Mas ojol menghentikan motornya jauh dari gedung terbengkalai. Supaya tak menimbulkan kecurigaan.
Setelah Mas ojol pergi, aku menelepon Mas Adit. Tapi tiba-tiba seseorang menarik lengan ku dari belakang.
"Sstt. Jangan berisik!"
"Loh Mas Adit kenapa baru datang?"
Ia tak menjawab pertanyaan ku, dan mengajak ku masuk ke dalam warung yang sudah tak terpakai. Banyak debu dan sarang laba-laba di atas atapnya.
"Tenang aja. Kita bisa mantau dari sini kok. Aku sudah meminta beberapa petugas meletakkan kamera tersembunyi, untuk mendapatkan bukti keberadaan para anggota sekte sesat itu. Dan kamera nya udah mendukung infrared, jadi di tempat gelap sekalipun, kita akan tetap bisa melihat wajah-wajah para anggota sekte." Jelas Mas Adit seraya membuka laptop dan menyambungkan nya ke sebuah kabel.
"Kirain langsung di grebek aja kesana, gak tahu nya dipantau dulu toh!" Kataku agak kecewa.
"Ngapain cemberut sih." Ucap Mas Adit mencubit pipi ku.
Aku langsung menepis cubitan nya, karena agak canggung dengan kedekatan kami disaat situasi seperti ini.
"Jadi gini ya Ran. Kita gak boleh asal mengambil keputusan. Bisa jadi rencana penggrebekan ini terbongkar, dan mereka berpindah tempat. Akan sia-sia kita melakukan semua rencana ini, makanya untuk mendapatkan bukti yang akurat, aku meletakan kamera sebagai bukti jika mereka-merekalah yang jadi anggota sekte sesat itu. Dan karena ada penumbalan nyawa manusia, kita harus jelas memiliki bukti supaya kasus Dinar gak terulang lagi."
Tak lama, nampak bayangan-bayangan yang memasuki gedung terbengkalai. Sekelompok orang mengenakan jubah hitam mulai memasuki ruangan. Seketika aku dan Mas Adit terbelalak melihat pemandangan itu. Lilin-lilin mulai dihidupkan melingkar mengelilingi sebuah meja. Nampak mangkuk batok kelapa disiapkan di sisi kanan dan kiri dipan kayu besar. Aku jadi teringat penglihatan Dinar, sewaktu ia akan di eksekusi oleh Ari.
"Mas itu tempat persembahan nya, akan ada orang yang tiada kalau kita gak segera pergi kesana!" Kataku dengan nafas tak beraturan.
"Sabar Rania. Bukankah mereka harus melakukan ritual sebelum persembahan. Dan kita belum melihat calon korbannya, kita gak usah gegabah mengambil keputusan untuk langsung kesana. Yang ada kita gak akan pernah tahu, wajah pemimpin sekte sesat itu. Pastikan mereka masuk ke dalam ruangan itu, dan membacakan mantra-mantra seperti yang pernah kau bilang.
Benar juga kata Mas Adit, pemimpin kelompok itu dan calon korbannya belum terlihat di rekaman kamera. Jadi aku memutuskan untuk lebih bersabar, menanti kedatangan sang pemimpin yang kami duga adalah Tante Ajeng. Aku pun juga mencari-cari keberadaan Om Dewa dari banyaknya orang-orang yang memenuhi ruangan itu, dengan mengenakan jubah hitam. Entah bagaimana aku bisa mengenali mereka satu persatu, karena hampir semuanya menundukan kepalanya. Ah iya aku jadi ingat, disaat mereka membaca mantra persembahan dan menengadahkan tangan ke atas, mereka semua akan mendongakan kepalanya. Dan saat itu, aku bisa melihat wajah mereka semua.