Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 136 FAKTA BARU?


Mbak Ayu masih larut dalam amarahnya. Aku berjalan mendekati nya, lalu meraih tangannya. Tangannya bergetar hebat, sepertinya ia menahan amarah yang besar. Aku terus berusaha menenangkan nya, dan memintanya mengambil sikap yang bijak.


"Kita hanya perlu membuktikan ucapan Om Dewa saja Mbak. Jika yang dikatakan nya benar, besok tepat di malam jumat kliwon, Tante Ajeng bersama para pengikutnya pasti akan melakukan ritual. Aku sudah meminoMas Adit untuk menggerebek kegiatan mereka. Kita akan kesulitan menghentikan nya sendiri. Setidaknya Polisi bisa melakukan nya, beri Om Dewa satu kesempatan terakhir. Biarkan dia disini, kita akan membuktikan ucapannya benar atau tidak." Aku menggenggam tangan Mbak Ayu perlahan amarahnya mereda.


Memang benar apa yang pernah dikatakan Pak Jarwo, jika aku harus selalu berada di dekat Mbak Ayu. Karena aku bisa menenangkan nya supaya tak larut dalam dendam dan amarah.


"Dahayu akan kasih Om satu kesempatan, tapi jika Om Dewa sampai menghilang lagi. Dahayu gak akan pernah percaya dengan apa yang Om katakan. Meski Dahayu ada keraguan pada Tante Ajeng, itu tak berarti Dahayu percaya pada Om Dewa. Lebih baik, sebelum semuanya terbukti kebenaran nya. Akan lebih baik kalau Om Dewa jangan menampakkan diri di hadapan Dahayu. Di dalam diri Dahayu masih tersimpan amarah, jika Calon Arang sampai mengendalikan ku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada Om Dewa!" Jelas Mbak Ayu seraya melangkah pergi.


Aku mengingatkan Om Dewa untuk tetap berada di ruang atas. Meski Tante Ajeng sudah memindahkan barang-batang nya, bisa jadi ia kembali ke rumah ini diam-diam.


Malam itu, aku langsung kembali ke kamar untuk istirahat. Waktu pun berlalu dengan cepat. Pagi itu, sebelum berangkat ke kantor, aku harus pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan kedua orang tua Dinar. Sesampainya disana, aku justru mendapatkan kabar jika Tante Ajeng sudah meninggalkan rumah sakit. Sementara Ari akan dibawa ke kantor polisi.


"Aku juga baru tahu dari perawat, jika Tante Ajeng memaksa untuk pulang setelah subuh tadi. Ia memaksa pulang, tanpa mendengarkan perawat jaga. Ia membayar semua biaya rumah sakit, jadi perawat tak bisa memaksanya untuk tetap tinggal. Memangnya ada apa Ran, kenapa kau terlihat sangat terkejut?" Tanya Mas Adit dengan wajah kelelahan.


Untuk sesaat, aku menatap wajahnya yang terlihat lelah. Aku kagum melihat kinerja nya yang tak seperti beberapa polisi pada umumnya.


"Hei kenapa ngelamun? Kagum ya lihat wajah tampan ku?" Mas Adit menaikan alis matanya, membuatku agak canggung.


"Apa an sih Mas, aku cuma kepikiran kemana Tante Ajeng pergi. Dia sudah mengemasi barang-barangnya, dan tiba-tiba pergi dari rumah sakit. Jangan-jangan apa yang dikatakan Om Dewa benar lagi!"


"Loh bukannya Om Dewa yang menjadi pemimpin penganut ilmu hitam itu ya? Kita ngelihat sekilas wajahnya loh di rekaman yang kau ambil di gedung terbengkalai itu!"


"Nah itu dia Mas, ada yang ingin aku katakan padamu. Aku sudah menemukan Om Dewa, dan ia mengatakan sesuatu yang baru ku ketahui."


Ku jelaskan dengan detail semua yang Om Dewa katakan mengenai Tante Ajeng dan para anggota sekte sesat itu. Jika mereka bisa mengendalikan seseorang untuk berbuat sesuatu, tanpa orang itu sadari.


"Jadi maksud mu, Om Dewa yang ada di rekaman cctv itu memang dia? Tapi apa yang dia lakukan bukan atas kehendaknya gitu? Dia dalam kendali ilmu hitam?" Ucap Mas Adit dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Iya Mas, besok malam adalah malam jumat kliwon. Kita harus membuktikan ucapan Om Dewa, jika Tante Ajeng memang lah pemimpin sekte sesat itu, sudah pasti ka akan disana untuk melakukan ritual. Dan harus ada yang menjaga Om Dewa, supaya ia tak kemana-mana. Hawatir nya dia kabur, dan hanya bersandiwara di depan ku."


"Kalau begitu, besok kau bawa saja Om Dewa ke kantor polisi. Dia akan aman disana, jika dia tak berbuat kesalahan, dia tak akan takut berada disana."


"Kau sudah melenyapkan nyawa seseorang demi kesenangan pribadimu! Kau pikir nyawa manusia itu sebuah mainan hah! Katakan padaku, apa kau mengenal Tante Ajeng dengan baik? Bukankah kau berada di satu kelompok yang sama dengannya?" Ucapku seraya menginjak kaki nya.


Ari memekik dengan mengangkat sebelah kakinya. Ia meringis kesakitan, dan tetap pada pendirian nya, jika ia tak mengenal Tante Ajeng.


"Biarkan saja dia tak mau mengaku, setelah ini ka akan membusuk di penjara. Dan para anggota sekte nya, tak akan bisa membantunya. Entah untuk apa dia bungkam menutupi perbuatan para anggotanya yang lain!" Seru Mas Adit tersenyum melalui sudut bibirnya.


Tiba-tiba sepasang suami istri datang dan memukuli Ari menggunakan gagang sapu, yang sebelumnya digunakan Cleaning Service untuk membersihkan lantai. Si Bapak terlihat marah dan memukul wajah Ari, hingga ia terjungkal ke lantai. Sementara si Ibu terus memukuli tubuh Ari menggunakan gagang sapu. Beberapa petugas berusaha menghentikan perbuatan sepasang suami istri itu. Tapi Mas Adit melarangnya, menurutnya Ari pantas mendapatkan pukulan itu. Aku mendengar keduanya menyebutkan nama Dinar, mereka menangis dan menyalahkan Ari karena ia telah tega membunuh anak mereka.


"Pak. Bu. Saya mohon tenangkan diri Bapak dan Ibu. Saya mengerti, bagaimana hancur nya perasaan kalian. Tapi bukan ini yang Dinar mau, biarkan polisi menghukumnya dengan berat. Saya hanya ingin menyampaikan pesan Didin, supaya kalian tak larut dalam kesedihan."


Keduanya langsung menghentikan kegiatan nya, lalu menatapku dengan wajah sendu. Si Ibu berjalan mendekati ku, lalu menyentuh pipiku dengan berlinang air mata.


"Didin? Kau memanggilnya dengan nama itu? Huhuhu... Hanya kami yang memanggilnya seperti itu. Darimana kau tahu nama itu Nak?" Ucap Ibu itu berderai air mata pilu.


Sang Ayah berusaha menenangkan istrinya, ia mendekapnya dan bertanya hal yang sama padaku.


"Arwah Dinar mendatangi saya, dan mengatakan jika kalian akan percaya dengan ucapanku. Jika saya menyebutkan nama Didin. Dinar juga yang telah menunjukkan dimana jasadnya berada. Dan lelaki itulah yang pantas mempertanggung jawabkan semuanya. Dinar telah salah mencintai seseorang sepertinya." Jelas ku dengan menghembuskan nafas panjang.


Terlihat Ayah Dinar kembali terpancing emosinya. Ia berusaha memukul Ari lagi, tapi istrinya menarik tangannya.


"Jangan Pak, Didin pasti tak mau melihatmu mengotori tanganmu dengan menyentuh tubuh hina manusia keji itu. Biarkan hukum di negara ini yang akan menentukan nasibnya." Ucap istrinya menangis pilu.


Aku menyampaikan semua pesan terakhir Dinar pada kedua orang tuanya. Dan permintaan maaf nya, karena tak mendengarkan nasehat mereka.


"Tolong ampuni semua kesalahan Dinar dan ikhlaskan kepergian nya. Supaya jiwa nya dapat beristirahat dengan tenang. Bu. Pak."


Kedua orang tua Dinar menganggukkan kepala, dan mereka meminta Ari segera dibawa pergi dari hadapan keduanya. Aku dapat memahami perasaan mereka, pasti akan sangat sulit menerima kenyataan jika anak mereka telah tiada. Dan akan ada perasaan dendam setiap kali melihat wajah Ari. Mas Adit meminta petugas membawa tersangka itu pergi. Sementara kami masih akan menemani kedua orang tua Dinar. Untuk membawa jasad anak mereka pulang, lalu menguburkan nya secara layak. Semoga tak ada lagi korban persembahan seperti yang di alami Dinar. Dan kasus sekte sesat dapat segera terselesaikan.