
Satu persatu tetangga terdekat mulai berdatangan. Bahkan kami semua tak menyangka, jika petang itu Mbah Darmi datang dari kota. Untuk melihat rumah dan ladang nya yang di urus Pak Jarwo dan tetangga sebelah rumahnya. Mbah Darmi nampak terkejut melihat keramaian di rumahnya. Beliau berlinang air mata, mengingat mendiang Mbah Karto, karena jika saat ini beliau masih ada keadaan pasti tak akan sekacau sekarang. Terlihat Pak Jarwo masih sibuk mengurus Mbok Genuk di kamar khusus. Sementara jenazah Wening di urus oleh Pak Haji Faruk dan beberapa warga. Bude Walimah dan istri Pak Jarwo pun menemani Mbah Darmi. Ia tak menyangka, jika di rumahnya akan dijadikan bermalam jenazah seseorang selain keluarga nya sendiri. Memang keadaan sudah kembali normal, mungkin karena semua masalah yang berakar dari dendam Pak Warto dan Wening sudah selesai. Jadi tak ada kesan wingit lagi do Desa. Tak lama setelah itu Mas Adit datang, ia berbesar hati melayat Wening sekaligus memberikan maaf untuknya.
"Ran lusa nanti aku harus balik ke Jakarta. Apa kau juga mau kembali bersama ku? Soalnya Mbak Ayu juga mau sekalian nebeng, dia gak bisa cuti lama-lama katanya." Ucap Mas Adit setelah membacakan doa di depan jenazah Wening.
"Gimana ya Mas, keadaan disini masih berkabunh kayak gini. Meski udah lebih aman dari sebelumnya, tapi aku gak tega ninggalin keluarga ku. Apalagi saat ini Mbok Genuk dalam keadaan yang buruk, kita gak tau apa yang akan terjadi ke depannya. Gimana Wati bisa mengurus suaminya sendirian."
"Percayalah Ran, Wati pasti bisa. Terlepas dari apapun yang terjadi ke depannya. InsyaAllah dia sudah lebih siap dari yang kau bayangkan. Kita hanya bisa berdoa apapun yang akan terjadi ke depannya, semoga itu yang terbaik untuk semuanya."
Ucapan Mas Adit memang sedikit menenangkan hati ku. Tapi entah kenapa, aku ragu untuk meninggalkan Desa ini. Dan tiba-tiba Wati mendatangi kami, ia meminta ku untuk kembali ke Jakarta bersama Mas Adit dan Mbak Ayu. Karena hidupku memang harus terus berjalan, terlepas dari masalah yang telah terjadi disini. Wati meyakinkan ku, jika ia akan baik-baik saja dalam mengurus suaminya.
"InsyaAllah aku ikhlas Ran, apapun yang terjadi ke depannya. Katanya kau akan membantu ku lagi menghadapi Pak Sumitro. Jadi lebih baik kau kembali bekerja dulu, biar gak ada masalah kalau mau cuti lagi. Mengenai Mbok Genuk, kita ikhlas kan saja. Aku akan tetap memberitahu apapun yang akan terjadi. Mudah-mudahan saja, setelah ini beliau sadar supaya kita sama-sama gak cemas." Pungkas Wati seraya menggenggam tangan ku.
"Wati benar Nduk. Tak ada gunanya kau berlama-lama disini. Apa yang terjadi saat ini hanyalah masalah pribadi Mbok Genuk. InsyaAllah aku bisa mengatasinya, kau lanjutkan saja kehidupan mu. Karir mu tak boleh berakhir begitu saja, dan semua warga disini sudah tak terancam lagi. Karena orang yang berniat jahat pada mereka sudah tak ada lagi." Kata Pak Jarwo yang baru saja keluar dari kamar khususnya.
"Apakah Mbok Genuk akan baik-baik saja Pak?" Tanya ku dengan mata berkaca-kaca.
"Entahlah Nduk, kita pasrahkan saja pada Yang Maha Kuasa. Lusa kembalilah bersama Nak Adit dan Dahayu, masih banyak orang diluar sana yang lebih membutuhkan bantuan mu." Jawab Pak Jarwo dengan suara beratnya.
"Pak liang kuburnya sudah siap, apa kita akan mengebumikan nya sekarang saja?"
"Ini masih jam enam pagi lho Dar, apa ada masalah sehingga tukang gali nya buru-buru?"
Pak Darso yang ditugaskan mengurus urusan pemakaman tiba-tiba datang pagi itu, ia berbicara pada Pak Jarwo supaya urusan pemakaman dilakukan lebih cepat dari perkiraan. Karena beberapa tukang gali kubur harus membuat beberapa lubang kuburan untuk beberapa warga desa sebelah, yang mengalami kecelakaan lalu lintas malam tadi. Akhirnya kami semua mengantarkan jenazah Wening ke tempat peristirahatan terakhirnya. Pak Jarwo meminta istri dan Bude Walimah tetap di rumah bersama Mbah Darmi. Mereka harus terus memantau kondisi Mbok Genuk, hawatir hal buruk terjadi tanpa ada yang tau. Setelah proses pemakaman selesai, aku menerima panggilan telepon dari Mbak Rika. Lagi-lagi ia menanyakan kepulangan ku dan juga Wening. Terpaksa aku memberikan kabar duka saat itu juga. Terdengar Mbak Rika sangat terkejut, ia tak percaya jika aku masih ada di pemakaman Wening. Terpaksa aku melakukan panggilan video, supaya ia dapat melihat sendiri kondisi disini. Dari raut wajahnya, Mbak Rika sangat shocked. Ia membulatkan kedua mata tanpa berkata-kata.
"Gu gue gak nyangka Ran, kalau umur Wening sependek ini. Bukannya kemarin lu bilang dia cuma dirawat di Rumah sakit, kenapa tiba-tiba jadi kayak gini Ran?" Tanya Mbak Rika terkejut.
"Ceritanya panjang Mbak, InsyaAllah lusa gue balik kalau gak ada masalah lain. Nanti gue ceritain langsung aja ya, ngomong-ngomong ada yang urgent ya Mbak sampai lu nanyain terus kapan gue balik?"
"Nanti aja disini gue ceritain, pokoknya kita butuhin lu Ran. Hanya lu doang yang bisa urus masalahnya, kalau gitu gue tutup dulu ya video call nya. Sampaikan ucapan duka cita ke keluarga Wening." Kata Mbak Rika sebelum mengakhiri panggilan video.
Aku masih berdiri di depan papan nisan Wening, dan ketika ku balikan tubuh ke belakang. Nampak sosok yang menyerupai Wening sedang berdiri mengambang di bawah pohon bambu. Ia menyunggingkan senyum seraya melambaikan tangannya, sontak saja aku tercekat dan tak dapat menahan air mata. Mungkin kah itu benar-benar jiwa Wening, atau hanya qarin yang menyerupai nya. Aku hanya dapat berdoa semoga saja jiwa nya mendapatkan tempat tenang di alam selanjutnya.