
Bude Walimah mengatakan padaku, ketika aku ditemukan pingsan di gudang kantor. Satpam lah yang menemukan ku untuk pertama kalinya. Karena Driver ojol sudah menunggu terlalu lama, tapi aku ditemukan pingsan seorang diri di gudang. Aku menceritakan dengan detail awal semua itu terjadi. Dari Mbak Rika yang meminta tolong padaku untuk menemani nya ke gudang.
"Gak tahu nya itu bukanlah Mbak Rika, sepertinya makhluk itu sengaja menyamar menjadi Mbak Rika untuk memperdayaku. Tapi Rania gak tahu siapa makhluk itu sebenarnya."
"Sudahlah Nduk jangan kau pikirkan lagi, yang terpenting semua sudah baik-baik saja. Lebih baik kau jangan seorang diri lagi di kantor itu, sepertinya ada yang sengaja menantikanmu seorang diri disana untuk mencelakaimu."
"Iya Rania, kalau perlu kamu mengundurkan diri aja dari kantor itu. Terlalu bahaya kalau kamu masih bekerja disana. Oh iya mengenai kotak itu Ibu belum cerita kan?" kata Wati memandang Bude Walimah dengan wajah serius.
Kemudian Bude Walimah menatapku lebih dalam. Ia memegangi kedua tanganku lali bercerita, jika ia memergoki Tante Ajeng membongkar barang-barangku.
"Saat itu kau sudah dua hari tak sadarkan diri. Wati sedang keluar belanja kebutuhan makanan, sementara Bude di halaman menjemur pakaian. Saat Bude kembali ke kamar, Bude melihat Ajeng ada di dalam ia memegang tas ranselmu dan akan membukanya. Makanya Bude tanya apa tujuannya membongkar barang-barangmu, tapi ia gelapan menjawab pertanyaan Bude. Karena melihat gelagatnya yang aneh, Bude berinisiatif mengambil kembali tas ranselmu. Tapi Ajeng malah melihat Bude dengan sinis, sepertinya ia sangat kesal saat itu. Bahkan Ajeng pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Bude."
"Lalu apa yang terjadi setelah itu Bude? dimana kotak tua itu, kenapa udah gak ada lagi di tas ransel Rania?"
"Tenanglah Nduk, kotak itu aman Bude titipkan pada Rika. Sengaja Bude masukan ke dalam koper, supaya gak ada yang tahu apa isinya. Karena koper itu ada kode sandi yang dibuat Wati."
"Lantas kenapa Bude bisa jatuh sakit dan berakhir di alam gaib itu bersamaku? bukankah Bude hanya sakit?"
Wati mendengarkan dengan seksama pembicaraan kami. Tak sedikitpun ia membuka mulutnya untuk bertanya-tanya.
"Ada yang gak beres di rumah ini Nduk. Bude gak ingat apa-apa lagi setelah diam-diam masuk ke ruangan belakang sana. Ruangan yang selalu terkunci dan hanya keluarga ini saja yang masuk kesana."
"Hah. Bagaimana caranya Bude bisa masuk kesana?"
Dengan peluh yang membasahi keningnya, Bude menceritakan semua dengan detail. Menurut nya, ia melihat Tante Ajeng mengenakan kebaya keluar dari ruangan itu. Karena penasaran, Bude masuk kesana dan melihat berbagai sesajen di depan altar persembahan. Tapi tiba-tiba kepala Bude sangat pusing, pandangan mata terasa kabur. Setelah itu Bude gak tahu apa-apa lagi.
"Loh Bu, bagaimana caranya Ibu masuk kesana. Setahu kami, ruangan itu selalu terkunci." tanya Wati dengan mengerutkan keningnya.
"Sepertinya Ajeng lupa mengunci ruangan itu kembali. Jadi Ibu langsung masuk ke dalam, tapi entah kenapa Ibu bisa sampai di alam gaib itu. Seumur-umur Ibu baru sekali itu berada di alam yang antah berantah. Sebenarnya Ibu dapat melihat semua yang terjadi disana. Tapi mulut Ibu terasa terkunci, bahkan gerakan tubuh ini seakan ada yang mengendalikan." jawab Bude Walimah kebingungan.
"Saat itu Om Dewa yang bawa Ibu kesini. Aku bertanya pada Om Dewa, kenapa Ibu pingsan. Tapi Om Dewa juga gak tahu apa-apa, katanya Tante Ajeng nemuin Ibu pingsan, dan gak tahu penyebabnya."
Kami saling bertukar pikiran, tentang misteri yang ada di rumah kuno ini. Serta persembahan di ruang keluarga yang selalu tertutup itu.
"Kita harus benar-benar meninggalkan rumah ini Nduk. Bukankah kau sudah berhasil menyelesaikan kasus kematian Bu Wayan? kalau kau disini terus, hidupmu gak akan tenang. Mereka sudah menandaimu Nduk, pasti suatu saat nanti kau akan celaka karena perbuatan orang-orang sesat itu."
"Bude dan Wati bisa pergi dari sini, tapi Rania gak bisa ninggalin Mbak Ayu begitu aja. Kasihan dia seorang diri, tanpa tahu bahaya apa yang akan menimpanya."
"Ya sudahlah Nduk kalau itu sudah menjadi keputusan mu. Bude gak bisa memaksa, tapi lusa Bude harus kembali ke Desa. Sudah saatnya membayar para pekerja, dan Aldo gak bisa melakukannya. Biar Wati saja yang menemanimu disini, dan kalian harus berhati-hati dengan semua orang yang ada di rumah ini. Terutama Ajeng, entah kenapa firasat ku mengatakan Ajeng memiliki niat tersembunyi. Entah apa tujuannya sebenarnya." kata Bude Walimah dengan raut wajah cemas.
Pagi itu semua keluarga Om Dewa bersiap untuk melakukan ritual terakhir untuk Bu Wayan Sukmawati. Bude dan Wati memutuskan untuk menemani Mbak Ayu. Sementara aku harus pergi ke kontrakan Mbak Rika, mengambil kota tua peninggalan Bu Wayan. Saat aku berpamitan pada semua orang, Om Dewa menghentikan langkahku.
"Dimana surat wasiat dari mendiang kakak ku? apa kamu belum bisa menemukan nya Rania? Om harap kotak itu segera ditemukan, supaya hati Om lebih lega. Apalagi hari ini adalah ritual terakhirnya." ucap Om Dewa dengan wajah sendu.
"Apa kamu bertemu dengan Ibunya Dahayu di alam Mangrahi?"
"Hah. Darimana Om Dewa tahu nama alam gaib itu? apa ia juga memiliki niat buruk sama seperti Tante Ajeng? sekarang aku jadi semakin bingung, entah siapa yang sebenarnya memiliki niat buruk di antara keduanya. Atau memang keduanya memang memiliki tujuan yang sama?" batinku bertanya-tanya.
"Kenapa diam saja Ranja?" panggil Om Dewa dengan menepuk pundak ku.
"Eh maaf Om, Rania bingung aja. Darimana Om Dewa tahu nama alam gaib yang sempat Rania singgahi? karena disana Rania memang bertemu dengan Bu Wayan." aku sengaja bertanya langsung pada Om Dewa. Entah kenapa aku lebih bisa terbuka pada Om Dewa daripada Tante Ajeng.
"Menurut orang-orang jaman dulu, tempatnya orang-orang yang menganut ilmu hitam seperti itu. Ya itu namanya, alam Mangrahi. Tempat yang tak sembarangan orang ataupun makhluk gaib bisa datang kesana. Kamu bisa tanya ke Dahayu, dia juga tahu mengenai cerita ini. Karena memang sudah melegenda ceritanya."
Penjelasan Om Dewa semakin membuatku kebingungan. Jika memang Mbak Ayu juga mengetahui tentang alam Mangrahi itu, artinya Tante Ajeng ataupun Om Dewa belum tentu memiliki niat jahat. Aku harus lebih teliti dalam melakukan penelusuran gaib ini. Siapapun bisa jadi pelakunya, dan aku tak boleh gegabah menilai seseorang.
...Hayooloh ikutan bingung kaya Rania gak? tunggu episode selanjutnya ya, see u 😂🤣...
...Bersambung....
Hai othor mau kasih rekomendasi novel yg bagus buat kalian.
Judul : Dewi untuk dewa.
Author : Tyatul.
Blurb.
Kamu milikku mulai dari sekarang bahkan saat kakiku sudah 3," ucap seorang laki laki di depan perempuan yang selalu ia claim sebagai miliknya.
"Dih apaan, aku juga perempuan butuh yang namanya kepastian bukan seperti ini."
"Oke kamu butuh kepastian yang seperti apa? Mau aku lari lari di lapangan cuma buat kamu?"
"Ish gak boleh, nanti kamu banyak yang suka."
"I Love You."
Dua anak manusia yang memiliki sifat dan kepribadian yang beda kini disatukan dengan yang namanya status perjodohan yang akhirnya malah membuat mereka lengket tak mau pisah.
Dewi Arabella gadis berusia 18 tahun yang sangat blak blakan, ceria dan apa adanya, dia tak akan mau berbohong hanya untuk membuat orang bahagia.
Dewa Sanjaya Putra pria berusia 18 tahun yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Dewi. Dewa sangat tertutup dan dingin tapi jika sudah dengan Dewi sifat itu hilang entah kemana. Bahkan Dewa sangat manja dengan Dewi sejak perjodohan dilakukan.