
Sesampainya di kost an, aku tak langsung masuk ke dalam kamar. Aku sengaja duduk di teras depan, dan menghirup udara malam dari pepohonan yang ada di taman. Ku senderkan kepala ke tembok dengan mendongakkan kepala ke atas langit. Nampak berbagai hantu bersliweran tak tentu arah. Mereka sedang gentayangan keluar dari sarangnya. Sesosok demit perempuan mengintip dari balik dahan pohon. Mungkin dia pikir aku tak dapat melihatnya, jadi ku biarkan saja dia dengan kekonyolan nya. Tak lama setelah itu Mbak Ayu keluar dari kamarnya. Ia membawa satu bungkus plastik berisi nasi kotak yang diberikan padaku.
"Makan dulu terus istirahat, hari ini lelah banget ya. Sampai gak sanggup buka pintu kamar?" Gurau Mbak Ayu menaikan alis matanya.
"Gue salah gak sih Mbak, kalau punya firasat jelek sama orang lain. Apalagi sama orang yang baru gue kenal." Kataku dengan menghembuskan nafas panjang.
"Firasat jelek gimana Ran?"
"Gue tuh ngerasa kalau Wening itu berbeda dari orang-orang lain yang ada di sekitar gue. Dia kayak mau bersaing dalam segala hal sama gue Mbak. Bukan karena gue ngerasa iri atau gimana ya, soalnya beberapa kali dia terang-terangan mau ngambil apa yang gue punya. Katanya dia pengen kayak gue Mbak, udah gitu dia selalu berusaha selalu ada di depan gue. Misalnya kayak tadi, sewaktu kita selesaiin masalah Arfi. Sekali dua kali sih gue masih bisa positif thinking, tapi ini beberapa kali kejadian yang sama loh."
"Hahaha... Lu ngaco aja sih Ran! Tadi lu bilang baru kenal sama si Wening. Mana mungkin dia mau ngerebut apa yang lu punya. Kalau masalah bersaing sih kayaknya wajar aja, pasti dia pengen lebih unggul dari lu. Bukan nya di dunia kerja udah hal yang lumrah kayak gitu. Tapi buat omongan lu yang lain, agak gak masuk akal deh. Kecuali lu udah lama kenal sama dia, baru deh beda cerita."
Benar juga sih kata Mbak Ayu, mungkin dia memang mau bersaing dengan ku. Dengan membuktikan dia lebih unggul dari ku, pasti ia bisa langsung dengan mudahnya di angkat jadi pegawai tetap. Tapi tetap saja firasat ku agak lain dengannya, belum lagi setiap ucapan yang dia katakan. Selalu penuh dengan teka-teki, yang tak ku tau jawabannya.
"Dih kok malah diem sih Ran? Jujur aja nih, awalnya gue juga ngerasa punya feeling jelek sama tuh bocah. Lu inget kan pas gue jabat tangan sama Wening? Ada aura panas yang buat tubuh gue bergetar, menolak energi yang dia pancarkan. Makanya gue reflek lepasin tangannya dengan kasar. Tapi setelah lihat dia kemarin bantu kita mecahin masalah Arfi, gue jadi berusaha ngubah pola pikir gue. Mungkin aja waktu itu ada yang salah dengan gue sendiri. Kayaknya tuh bocah baik kok, coba aja lu adaptasi sama dia dulu. Mungkin aja lu cuma salah paham kayak gue. Orang kalau gak kenal maka gak sayang Ran!"
"Lah kan udah kenal Mbak! Cuma belum akrab aja, gimana sih!"
Aku masuk ke dalam kamar, dan membersihkan diri. Setelah itu aku shalat dan memanjatkan doa. Ku genggam tasbih dalam genggaman tangan, sekilas bayangan seseorang muncul dalam penglihatan batin ku. Seorang gadis muda tengah menangis sesegukan. Ia bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, dengan tubuh gemetar ketakutan. Lalu seorang lelaki datang dan mengajaknya pergi dari rumah. Mereka keluar melalui pintu belakang, disana sudah menanti seorang perempuan bersama seorang balita yang ada di gendongan. Ketiganya berlari terseok-seok meninggalkan rumah tanpa membawa barang-badang berharga. Hanya ada satu tas besar yang dibawa seorang lelaki. Dan di belakang mereka sudah banyak warga yang mengepung rumah mereka. Akhirnya ketiganya bersembunyi di semak-semak sampai keadaan kondusif. Beberapa warga mulai merusak rumah tersebut, mereka mengeluarkan semua barang yang ada di dalamnya. Gadis muda itu berlinang air mata dalam diam, tangannya mengepal menahan amarah karena mereka terpaksa keluar dari rumahnya sendiri. Tapi siapa mereka, kenapa aku melihat semua ini sementara aku tak pernah melihat wajah mereka semua.
Aku membuka kedua mata dengan nafas terengah-engah. Penglihatan macam apa yang ku lihat tadi, apakah itu sebuah petunjuk. Tapi petunjuk untuk apa, batin ku di dalam hati penuh tanya. Seandainya tadi Eyang buyut datang dan memberikan penjelasan, pasti aku tak akan dilanda kebingungan. Ku santap nasi kotak dengan lauk ayam bakar pemberian Mbak Ayu tadi. Ku putar musik untuk mencairkan suasana, perlahan kedua mataku mulai berat. Aku menggosok gigi lalu merebahkan tubuh di ranjang. Aah rasanya nyaman sekali berbaring tanpa beban pikiran seperti ini. Entah sudah berapa lama aku terpejam, karena aku kembali bermimpi melihat gadis muda yang sama. Ia sedang menangis di depan gubuk kecil, ia menyebut kata Mbah berulang kali. Lalu sepasang suami istri datang dan memeluknya. Mereka mengatakan, secepatnya akan bertemu dengan Mbah nya, dan meminta gadis itu untuk bersabar. Kehidupan mereka sangat susah, hanya bertahan hidup dengan hasil kebun yang mereka tanam sendiri. Sampai suatu saat ada seorang lelaki muda datang ke gubuk kecil mereka. Saat itu gadis muda yang ku lihat sudah beranjak sedikit lebih dewasa. Ia terkejut melihat seorang lelaki datang, dan menyapa keluarganya. Tiba-tiba terdengar suara yang tak asing di telinga ku, ia membangunkan ku dari tidur. Ketika ku bukanl kedua mata, nampak Aunty Ivanna sedang berdiri mengambang di samping tempat tidur ku. Aku masih belum sepenuhnya sadar, dan meregangkan otot-otot di tubuh.
"Aunty ada apa datang kesini? Apa terjadi sesuatu dengan Silvia?" Tanya ku seraya bangkit dari tempat tidur.
"Nee Rania. Tidak terjadi apa-apa dengan temanmu. Justru Aunty datang untuk mencari Petter, sejak semalam dia menghilang. Apakah dia pergi menemui mu?" Jawabnya dengan pertanyaan.
Aku menggelengkan kepala lalu menggaruk kepala yang tak gatal. Tak biasanya Petter pergi tanpa berpamitan. Apakah dia sedang bertemu dengan beberapa hantu Belanda yang ada di sekitar Pelabuhan ya. Tapi tak mungkin ia pergi tanpa menyelesaikan tugas yang ku beri.
"Hmm Rania tidak tau kemana Petter Aunty. Dari semalam dia tidak datang kesini, mungkin saja dia pergi ke suatu tempat. Coba Aunty panggil dia lagi, ajak dia untuk mengawasi Silvia. Setelah mandi, Rania akan berusaha berkomunikasi dengan Petter melalui batin. Biasanya dia akan langsung datang jika Rania memanggilnya." Jelasku dengan mengaitkan kedua alis mata.
Sebenarnya aku masih penasaran kemana Petter pergi. Bukankah semalam seharusnya dia menikmati susu cokelat pemberian Silvia. Tak mungkin ia pergi begitu saja, apalagi dia sedang bersama Mama nya. Apa mungkin terjadi sesuatu pada Petter ya. Di pagi buta ini perasaan ku jadi tak tenang, karena memikirkan sahabat kecil ku yang tak biasanya pergi tanpa berpamitan. Aku harap Petter baik-baik saja dimanapun ia berada. Karena aku akan sangat merasa bersalah, jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Setelah Aunty Ivanna melesat pergi, aku tak bisa tenang dan berjalan mondar mandir di dalam kamar. Mungkin lebih baik aku melakukan shalat subuh lebih dulu, siapa tau aku mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan Petter saat ini.