Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 182 FLASHBACK 2.


Sosok Narsih melesat ke arah ku, ia mengatakan jika penghianatan lah yang paling melukai batinnya. Ia tak terima dengan apa yang telah menimpa nya, dan masih berusaha mencari orang-orang yang melukainya secara lahir dan batin. Ia mengulurkan tangannya padaku, aku hanya mengaitkan kedua alis mata. Entah apa yang ia inginkan kali ini, sepertinya ia ingin memberikan penglihatan padaku. Aku terpaksa menerima permintaan nya, supaya ia tak terus menerus menghantui ku. Dan aku bisa menyelesaikan masalah yang lainnya. Begitu aku mengulurkan tangan dan menyentuh tangan hampa nya, aku kembali melihat kejadian di masa lampau nya.


Flashback


Kelompok tari yang dipimpin Bardi mendapatkan undangan tari di berbagai daerah. Dan salah satu Meneer yang tinggal di Cirebon mengundang kelompok tari nya, untuk menghibur semua tamu pentingnya. Tarian Narsih berhasil memikat hati Meneer William Van Houten. Lelaki Belanda itu memberikan pengaruh besar dalam hidup Narsih.


Seperti biasanya, setelah melakukan pertunjukan tari di depan umum. Narsih pergi di antar Bardi menemui Meneer yang mengundang grup tari mereka. Meneer William bertubuh tinggi tegap dan berambut pirang. Penampilan nya sangat rapi, membuat siapapun yang melihatnya terpana. Meneer William terkenal sangat ramah karena ia sering bergaul dengan para pribumi, sehingga membuatnya sangat fasih berbahasa Indonesia. Narsih menemani Sang Meneer sepanjang malam. Mereka tak hanya berbincang tapi juga melakukan hubungan yang lebih dalam. Meneer William memuji kecantikan Narsih dan sangat ingin menghabiskan waktu yang lebih lama lagi dengannya. Sang Meneer juga mengungkapkan perasaan nyaman nya, membuat Narsih berbunga-bunga tak karuan. Narsih tersipu malu, apalagi ketika Meneer William mengatakan setiap kali ia membutuhkan nya. Narsih harus segera datang menemui nya, dan Sang Meneer akan mengabari nya melalui surat.


"Hanya kau yang harus datang menemuiku, tanpa kelompok tari mu itu. Aku akan beri kau banyak uang."


"Baiklah Meneer, saya akan memenuhi permintaan khusus anda." Pungkas Narsih bergelayut manja di pangkuan Sang Meneer.


Narsih terperdaya dengan kata-kata manis Meneer William. Meski ia merasa tak seharusnya ia datang menemui Sang Meneer tanpa kelompok tari nya. Tapi itulah yang diinginkan Meneer William. Setelah itu Narsih memberikan alamat rumahnya, supaya Meneer William bisa mengirimkan surat untuknya.


Setelah kembali dari Cirebon, undangan pentas dari para Meneer lain tak ada henti nya. Dari ujung daerah ke daerah lainnya, sepertinya ini karena rekomendasi yang Meneer William berikan setelah melihat tarian ku. Hampir lima bulan lamanya setelah terakhir mereka saling bertemu. William mengirimkan surat ke rumah Narsih, dan memintanya untuk datang. Akhirnya Narsih meminta ijin pada Bardi, untuk libur selama beberapa hari. Karena ia ingin menjaga Simbahnya yang sedang sakit.


"Aku akan memberikan mu ijin, tapo setelah Simbah sembuh kau harus segera kembali menari lagi." Ucap Bardi yang tak tahu maksud Narsih yang sebenarnya.


Narsih berangan-angan jika ia akan diperistri oleh Meneer William. Tapi ia sadar, jika itu mustahil baginya. Begitu sampai di Cirebon, Sang Meneer sudah menyambutnya di depan pintu. William terlihat sangat tampan dengan setelan jas yang ia kenakan.


"Selamat datang Narsih, bagaimana kabarmu?" Tanya William seraya mengecup punggung tangan nya.


Narsih terkesima diperlakukan seperti ratu oleh William. Lidahnya terasa kelu tak menjawab pertanyaan lelaki yang ada di hadapan nya. Waktu berlalu dengan cepat. Tak terasa hampir satu minggu lamanya mereka bersama dan menghabiskan waktu setiap harinya. Narsih diperlakukan seperti istrinya, ia diberikan barang-barang mewah dan memperkenalkan nya dengan para Meneer yang berkunjung ke rumah itu. Padahal Narsih hanya gadis penari jaipong. Mereka berdua melakukan kegiatan apa saja layaknya pasangan suami istri, hingga membuat Narsih nyaman dan enggan kembali ke tempat asalnya. Dan malam itu, adalah malam terakhirnya memadu kasih dengan sang Meneer karena keesokan harinya ia harus kembali ke kampung halaman nya. Keesokan paginya, William memberikan uang banyak pada Narsih. Melebihi upahnya menari selama satu minggu bersama kelompok tari Bardi. Mereka berpelukan sebelum delman yang membawa Narsih tiba. Dan keduanya saling berjanji untuk bertemu kembali suatu hari nanti.


Sesampainya di Desa nya. Narsih memberikan sebagian uang untuk Simbahnya, dan bagian yang lebih besar ia simpan sendiri di kotak uang yang disembunyikan nya di dalam kamar. Bardi tak pernah tahu, jika Narsih memiliki banyak uang dari Meneer yang diam-diam mengambil hati Narsih. Bulan berganti tahun, kelompok tari yang dipimpin Bardi semakin terkenal di seluruh penjuru daerah. Narsih menjadi primadona mengalahkan gadis-gadis lainnya. Setiap jengkal tanah Jawa sudah dikunjungi nya untuk memenuhi permintaan tari para Meneer dan Tuan Tanah yang berkuasa saat itu. Kekayaan nya semakin bertambah karena popularitas nya sebagai penari jaipong. Hubungan nya dengan Bardi juga semakin dekat seiring berjalan nya waktu. Bardi selalu menjaganya, dan menghawatirkan Narsih ketika ia mendapat undangan khusus dari para Meneer. Bardi sebenarnya tak rela membiarkan Narsih melayani para lelaki hidung belang itu. Tapi ia tak punya kuasa apa-apa untuk melarang Narsih mendatangi para orang-orang berkuasa itu.


Beberapa bulan kemudian, Narsih mendapatkan undangan menari di Desa tetangga. Ia melihat seorang gadis muda dengan penampilan compang camping tak karuan. Gadis itu nampak meniru gerakan tariannya. Narsih pun teringat masa kecilnya dulu, karena dulu keadaan nya hampir sama dengan gadis muda itu. Selesai menari akhirnya Narsih mendatangi gadis itu, dan menanyakan siapa namanya.


"Nama ku Risma kak, usia ku enam belas tahun." Kata gadis muda itu seraya mengulurkan tangan nya.


Narsih menjabat tangan gadis muda itu, dan memperkenalkan dirinya. Ia tak pernah menyangka jika awal mula perkenalan nya dengan Risma, akan menjadi mala petaka tragis bagi dirinya dan juga Simbahnya.


"Risma kau tinggal dimana?"


Gadis itu hanya menggelengkan kepala, ia mengatakam jika ia tinggal berpindah-pindah tempat. Karena ia sudah tak mempunyai orang tua. Karena iba dan merasa kasihan, akhirnya Narsih mengajak Risma pulang bersama nya. Ia mengajaknya tinggal bersama Simbahnya, dengan maksud supaya Risma bisa menemani Simbahnya, ketika Narsih bekerja dan tak pulang ke rumahnya. Risma nampak senang mendengar ajakan Narsih. Sejak saat itu, Narsih ingin menjadikan Risma sebagai adik angkatnya. Saat itu Risma masih bersikap polos, seperti gadis lugu pada umumnya. Tapi seiring berjalannya waktu. Ia tumbuh menjadi gadis yang dipenuhi iri dengki. Ia ingin menjadi primadona tari jaipong menggantikan Narsih. Sementara Narsih yang tak mengetahui niat hati Risma malah sibuk mengajari gadis itu gerakan-gerakan tarinya. Akhirnya Risma sudah mulai terbiasa berlatih bersama Narsih. Dan beberapa kali ia mengikuti kelompok tari Bardi manggung berpindah-pindah tempat. Tapi ia belum mendapatkan upah besar seperti yang Narsih dapatkan. Suatu ketika, Risma memergoki Narsih membuka kotak penyimpanan uang nya. Nampak Risma tercengang melihat banyak sekali uang yang ada di dalam kotak itu. Gadis lugu itu tekah berubah dan memiliki niat lain, karena itulah ia tersenyum melalui sudut bibir memperhatikan Narsih menaruh kembali kotak penyimpanan uang nya.


Samar-samar aku mendengar suara adzan berkumandang. Tak lama setelah itu sosok Narsih melepaskan tangannya, dan melesat pergi entah kemana. Rupanya karena mendengar suara adzan, demit itu mendadak menghentikan penglihatan nya. Aku pun hanya menghembuskan nafas lega, karena akhirnya demit itu membiarkan ku sendiri. Tapi aku jadi penasaran, apa yang Risma lakukan pada Narsih. Sampai ia menaruh dendam yang begitu besar. Aku yakin bukan hanya uang simpanan Narsih yang menjadi masalahnya. Pasti ada hal lain yang belum terungkap, karena aku belum sampai melihat kejadian selebihnya.


Tok tok tok.


Baru saja aku ingin mandi dan shalat Maghrib. Tapi sudah ada orang yang mengetuk pintu kamar ku. Begitu aku membuka pintu, nampak Mbak Rika sudah berdiri di depan ku dengan membawa bungkusan makanan. Ia memelukku dan memberikan makanan yang ia bawa sepulang dari kantor. Entah kenapa ia repot-repot datang ke kost ini, padahal besok pagi aku juga akan berangkat ke kantor. Tapi Mbak Rika bilang, jika malam ini ia ingin menginap di kamar ku.


"Gue kangen lu Ran, biar besok pagi bisa berangkat ke kantor sama-sama." Ucap Mbak Rika dengan menaikan alis mata.


"Dih baru seminggu lebih dikit gak ketemu udah lebay aja lu Mbak!"


Setelahnya Mbak Rika memaksa ku menceritakan kejadian selama di Desa. Bagaimana mungkin Bu Kartika adalah bagian dari keluarga Pak Mitro. Memang sedikit aneh, tapi itulah kenyataan nya. Aku tak langsung menceritakan semuanya, karena aku harus mandi dan segera melakukan shalat magrib sebelum kehabisan waktu.