
Setelah membersihkan rumah almarhum Mbah Wongso, semua warga ramai-ramai datang ke rumah ku untuk menyantap hidangan yang sudah disiapkan oleh Bude dan ibu-ibu lainnya. Nampak Wati sedang repot menyuguhkan minuman untuk para warga dibantu dengan Lala yang baru saja pulang kerja.
“Kau tak usah takut Ran, ada aku yang akan selalu membantu mu. Jika sampai orang-orang jahat itu mencelakai mu atau semua orang yang ada disini, aku akan meminta bantuan pada Senopati." Tegas Lala seraya merangkul pundakku.
“Tenang aja La, ada Pak Jarwo dan Pak Haji Faruk yang InsyaAllah bisa membantu. Kau fokus kerja aja, denger-denger dari Wati kau makin dekat ya sama teman kerjamu di pabrik?”
“Jangan dengerin Wati Ran! Dia tuh ngaco aja kalau ngomong, pokoknya nanti kalau ada apa-apa kasih tau aku aja. Soalnya aku harus nginep di rumah, soalnya kan disini masih ada kalian semua yang nemenin Bude Walimah.”
“Oke deh La, kalau ada perkembangan selama pendekatan kalian, kabarin aku ya. Oke?" Kataku dengan mengedipkan sebelah mata.
Tiba-tiba Pak Jarwo meminta ku untuk masuk ke dalam ruang tamu, bersama Pak Sapri yang baru saja datang bersama Pramono. Di dalam sudah ada Pak Haji Faruk yang menunggu dengan membaca doa-doa. Entah kenapa aku selalu di ajak dalam pertemuan para tetua ini, mungkin karena mereka menganggap aku bisa membantu. Pembahasan langsung mengenai jasad Bening yang ada di sebuah gubuk batas Desa. Sebagai manusia berbudi, tentu saja kami semua ingin menyempurnakan jasad Bening. Tapi kami harus siap dengan konsekuensi nya, yaitu kemarahan Wening dan Pakde nya.
“Siap tak siap kita memang akan menghadapi mereka. Nyatanya mereka sudah terlebih dulu mengirimkan santet pada beberapa warga, dan sudah ada korban meninggal dunia. Hanya saja warga belum mengetahui fakta sebenarnya, jika meninggal nya orang-orang bukan karena wabah penyakit. Melainkan karena santet yang Warto kirimkan, dan saya juga tak pernah mengira hal seperti ini akan terjadi setelah sekian lama.” Pungkas Pak Haji Faruk yang masih memainkan tasbih di genggaman tangannya.
“Sebenarnya saya juga gak tau menau mengenai masalah yang terjadi beberapa tahun silam. Tapi mendiang Mbah Karto memberikan pesan terakhirnya, supaya saya selalu melindungi semua warga Desa Rawa Belatung. Apalagi masalah ini mengenai hal gaib yang tak semua orang disini memahaminya. InsyaAllah saya akan tetap membantu apapun resiko yang akan saya tanggung ke depannya.” Jelas Pak Jarwo.
“Tapi apa dengan menguburkan jenazah cucunya Mbah Wongso tak akan semakin menambah masalah?” Tanya Pak Sapri dengan raut wajah cemas.
Nampak Pak Sapri terlihat berpikir, keningnya mengkerut lalu ia menyangga dagu nya dengan tangan. Pak Jarwo menepuk pundaknya dan meminta nya untuk tenang, dan percaya dengan semua kebaikannya. Karena tak ada yang perlu ditakuti jika kita berniat melakukan hal yang baik.
“Jadi kesimpulannya kita akan tetap mengambil jasad itu lalu menyempurnakan nya?” Tanya Pak Sapri menatap kami semua.
Aku memandang ke arah Pak Jarwo dan juga Pak Haji Faruk. Mereka pun saling memandang sebelum sama-sama menganggukkan kepala. Mereka berencana mengambil jasad Bening yang sudah menjadu tulang itu pada esok hari. Karena sebentar lagi hari sudah gelap, dan tak memungkinkan untuk masuk ke dalam hutan. Apalagi mereka baru saja memindahkan banyak demit ke hutan itu.
“Memang lebih baik kita melakukan semuanya esok hari. Mengubgat usia Pak Haji dan kondisi kesehatan nya, kita tak mungkin menguburkan jasadnya hari ini juga!” Seru Pak Jarwo dengan tegas.
“Kalau begitu kita harus mengumumkan ini pada warga, supaya mereka tak terkejut dan bersedia membantu dengan suka rela.” Titah Pak Haji menganggukkan kepala.
Pak Sapri diberi wewenang untuk menyampaikan hasil diskusi ini pada semua warga yang masih berkumpul di rumah ku. Mereka diminta mendengarkan pengumuman yang akan diberikan Pak Sapri, ada beberapa warga yang menolak untuk membantu mengambil jasad keturunan Mbah Wongso. Dan beberapa lagi terpaksa setuju karena takut tak akan dibantu oleh Pak Jarwo maupun Pak Haji. Mereka saling berbisik dan menyikut satu sama lain, nampaknya tak ada yang benar-benar tulus ingin membantu. Sampai akhirnya aku terpaksa berkata tegas pada mereka semua.
“Bapak dan ibu semuanya, meski yang akan kita urus adalah jasad keturunan Mbah Wongso. Tapi ia tak memiliki salah pada kalian, bukankah kalian semua mengenal sosok Bening, cucu mendiang Mbah Wongso yang meninggal dengan Bapaknya waktu kecil dulu. Dan kembaran nya yang masih hidup ini tak merelakan kembaran nya kembali ke alam keabadian. Apa kalian sudah tak memiliki hati nurani karena merasa takut? Apa dengan membiarkan jasadnya terus berada di hutan batas Desa tak akan membuat kalian celaka karena amarah dari Pak Warto dan juga Wening? Mereka adalah keturunan Mbah Wongso yang masih bisa kembali kapan saja. Bahkan mereka juga bisa berbuat jahat pada kalian meski kalian tak membantu menguburkan jasad itu. Jadi tolonglah kebijakannya, jangan egois dengan mementingkan keselamatan diri sendiri. Apa selama ini saya ataupun Pak Jarwo pernah tak perduli dengan keadaan kalian semua? Bahkan Pak Haji yang sudah sepuh selalu berusaha turun tangan membantu. Jadi saya harap kalian semua bisa mengambil sikap dan tak egois demi diri kalian sendiri.” Kataku menatap semua orang yang kini menundukkan kepala.
Akhirnya satu persatu warga bersuara, dan mereka sepakat untuk membantu semua yang akan kami lakukan. Seandainya mereka tau jika sebenarnya mereka sudah menjadi target pembalasan dendam Wening dan juga Pakde nya, semua warga tak akan pernah bisa tidur dengan tenang. Beruntung nya Pak Jarwo sudah membuat penangkal dan pagar gaib yang mengelilingi lingkungan Desa ini.