Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 131 KAFAN BERNODA DARAH.


Aku mengajak Harto pergi ke Rumah Sakit, dimana Ari dirawat. Aku meminta nya merekam semua obrolan nya dengan Ari, sementara aku akan mengambil video sembunyi-sembunyi. Tentunya aku harus menjaga jarak dari pandangan Ari. Meski ia tak mengenalku, rencana ku bisa berantakan kalau Ari menyadari kalau ada seseorang yang mengambil gambar nya.


Awalnya Ari terkejut melihat kedatangan Harto. Ia menanyakan tujuan Harto datang ke Rumah Sakit itu. Dan Harto langsung menjawab, jika ia mendengar kabar mengenai kecelakaan nya. Harto sudah menyimpan ponsel di saku kemeja nya. Supaya obrolan nya dengan Ari terdengar jelas.


"Aku dengar kau melihat hantu sampai terjadi kecelakaan. Apa itu benar Ri?"


"Kau tahu darimana To? Sebenarnya apa tujuanmu datang kesini?"


"Aku diberitahu temanku, ia mendengar jika kau diganggu demit sampai tak fokus mengemudi. Dan tujuanku kesini untuk bertanya langsung padamu, apa kau jadi melakukan ritual persembahan itu?" Tanya Harto merapatkan duduknya.


Aku sudah meletakan kamera tak jauh dari tempat mereka mengobrol. Dan terlihat Ari mulai kesal dengan pertanyaan Harto.


"Apa urusanmu jika itu benar. Bukankah waktu itu aku sudah mengajakmu, dan kau tak mau menerima tawaran ku. Lalu sekarang kau mau apa, jika aku memang sudah menumbalkan perempuan itu?"


"Jangan kesal dulu Ri, aku hanya ingin tahu saja. Apa kau sudah sukses setelah menumbalkan perempuan yang kau cintai itu?"


"Dia bukan siapa-siapa ku To, Dinar hanya seorang perempuan bodoh dan naif. Dia percaya saja denganku, jika aku akan menikahinya. Ku bawa dia ke rumah persembahan, tapi ia terlanjur mengetahui semua anggota kelompok sekte itu. Padahal aku membodohi nya jika akan membawa nya ke rumah Nenek ku. Salahnya sendiri lancang mengintip, jadi aku terpaksa mempercepat kematian nya. Salahmu sendiri tak mau bekerja sama denganku, saat ini hidupku sudah berkecukupan, hanya dengan menumbalkan satu nyawa gadis yang masih perawan." Pungkas Ari dengan tersenyum penuh kemenangan.


"Astaghfirullahalazim. Nyebut Ri, yang kau lakukan sudah melanggar hukum."


Ari terus menyombongkan diri, dengan hasil yang telah ia dapat. Ia mengaku tak menyesal menumbalkan Dinar pada sekte sesat itu. Karena hukum tak dapat menyentuhnya, meski kedua orang tua Dinar sudah melaporkan nya ke polisi.


"Jadi kau sejahat itu ya Ri. Aku gak nyangka dengan perbuatan mu yang sejauh itu. Apa kau juga yang telah membuat tempat ku bekerja jadi angker? Banyak kejadian janggal disana semenjak kau tak pernah datang lagi. Apa kau kesal padaku sampai ingin menghancurkan pekerjaan ku?"


Ari berdecih, ia mengaku sengaja melakukan itu supaya Harto berhenti bekerja, dan mengikuti jejaknya menjadi anggota sekte sesat. Tapi ternyata, Harto tetap bertahan bekerja sebagai mandor di perumahan itu. Nampak raut wajah Harto berubah kesal, ia terpancing emosi dan ingin memberikan bogem mentah pada Ari. Beruntung nya keributan itu segera dihentikan para pengunjung yang ada di sekitar sana. Melihat reaksi Harto yang sedemikian rupa, pasti ia sangat kesal mendengar kata-kata Ari. Tak lama Harto mendatangi aku dan memberikan rekaman suara nya tadi.


"Bentar ya Mas, saya ambil kamera yang saya umpetin dulu."


Nampak Ari melihatku dari atas kepala hingga ujung kaki, entah apa maksud tatapan nya itu. Aku mengira, jika ia sedang berpikir untuk mendekati ku. Ia tak tahu saja, setelah ini Polisi akan mendatangi nya. Karena sebelumnya aku sudah meminta Mbak Ayu membawa Mas Adit ke Rumah Sakit ini. Aku sengaja menghentikan langkahku tak jauh dari Ari berbaring, aku menyeringai tepat di depannya. Dan aku kembali mendatangi Harto diluar ruangan.


"Dia emang gitu Mbak, sok ganteng dari dulu. Habis ini juga bakal nangis-nangis kalau ditangkap polisi!" Sahut Harto dengan menggelengkan kepala.


Tak lama Mas Adit dan Mbak Ayu datang. Mereka bersama beberapa petugas polisi. Aku langsung menunjukan rekaman video dan rekaman suara tadi. Mas Adit melihat dan mendengar semua pengakuan Ari mengenai Dinar. Dan saat ini petugas diminta melakukan penjagaan di depan ruang rawat inap Ari. Supaya ia tak melarikan diri nantinya. Polisi berkoordinasi dengan pihak Rumah Sakit dan juga Dokter. Kini Ari dipindahkan ke ruangan khusus, dan Mas Adit menginterogasi nya disana. Aku dan Mbak Ayu beserta Harto masih menunggu diluar. Tak lama sosok pocong Dinar nampak, dan melesat masuk ke dalam ruangan yang sama dengan Ari. Terdengar teriakan Ari dari dalam ruangan, ia menjerit-jerit menyebut nama Dinar. Pasti pocong Dinar sedang menampakkan wujudnya pada Ari.


"Syukurin pasti didatengin pocong tuh orang!" Celetuk Mbak Ayu tersenyum melalui sudut bibirnya.


Tak lama Mas Adit keluar, ia meminta petugas untuk memborgol Ari. Dari situ, aku dapat menyimpulkan jika Mas Adit berhasil membuat Ari mengakui perbuatannya. Kemudian ia melangkahkan kaki nya ke arah kami.


"Awalnya dia tak mengaku dan terus berkelit, setelah aku menunjukan rekaman pengakuannya ia masih saja mengelak. Tapi tiba-tiba ia menjerit-jerit, barulah setelah itu ia mengakui perbuatannya. Dan aku sudah memaksanya mengatakan dimana ia menguburkan jasad perempuan itu. Mungkin besok, kami baru memprosesnya secara hukum. Saat ini, ia masih dalam perawatan Dokter karena kecelakaan tadi malam. Jadi kami tak bisa langsung menahannya."


"Sepertinya hantu perempuan yang ia bunuh menampakkan wujudnya. Jadi pelaku terpaksa mengakui kejahatannya."


Harto mengusap belakang tengkuknya, ia ketakutan dan berpamitan untuk pulang. Kami semua mengucapkan terima kasih padanya. Kalau bukan karena bantuan Harto, akan sulit membuat Ari mengakui perbuatannya.


"Dia yang bantuin lu Ran? Emangnya dia siapa sih?"


"Ceritanya panjang Mbak, intinya dia udah berhasil ngebantu kita. Lain kali gue ceritain versi panjangnya, oke?"


Karena kasus Dinar sudah hampir terungkap, aku menanyakan perkembangan kasus penganiayaan Pak Darman. Dan Mas Adit menceritakan, jika anggota kelompok yang tertangkap tak mau mengatakam siapa saja anggota kelompok mereka.


"Mereka bungkam, sepertinya sengaja diam untuk menutupi identitas kelompok mereka. Dan ketua kelompok yang kita duga adalah Om Dewa, masih belum diketahui keberadaan nya."


"Coba aja korek informasi dari Tante Ajeng Mas. Aku curiga, kalau dia tahu sesuatu tapi pura-pura gak tahu apa-apa."


"Gue juga curiga sih Ran, kali aja kalau Adit yang nanya bisa buat Tante Ajeng buka mulut!" Pungkas Mbak Ayu dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Tiba-tiba fokus ku teralihkan dengan sosok pocong Dinar yang melesat pergi. Sebenarnya akan lebih mudah bertanya langsung pada pocong itu, mengenai keterlibatan Tante Ajeng. Tapi yang ku cemaskan adalah, jati diri Tante Ajeng yang tak terlihat oleh Dinar. Jadi ia tak akan mengenali Tante Ajeng sebagai salah satu anggota sekte sesat itu. Lantas bagaimana cara kami mengungkap misteri ini. Karena dugaan kami semakin kuat, jika Tante Ajeng memiliki hubungan dengan para anggota sekte sesat yang sama dengan Ari dan Edi, kalau tidak bagaimana mungkin mereka bisa saling mengenal?.