Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 187 LIPUTAN DADAKAN!


"Sorry ya Ben, gue lama ya?"


"Eh seriusan tadi lu ngobrol ama siapa Ran di bawah pohon itu? Kok kayaknya lu lagi marah gitu sih?" Tanya Beny penasaran.


"Gue lagi ngobrol sama arwah dari pemilik tulang-tulang tadi!"


"Wah keren nih, dapat informasi apa aja dari tuh demit?"


"Banyak Ben, gak bisa gue jabarkan. Salah satunya info mengenai dia yang di kuburankan disitu setelah dia dibunuh sama pemimpin kelompok tari nya."


"Oh jadi yang lu bilang demit penari tadi ya Ran?"


"Ho.oh Ben, ya udah kita ke kantor polisi dulu yuk nyari info!"


Mobil yang kami tumpangi menerobos padatnya kawasan Ibukota. Di jam-jam sibuk seperti ini, pemandangan kemacetan memang sudah biasa. Dan agak menghambat perjalanan kami menuju ke kantor polisi. Tapi aku mendapat telepon dari petugas kepolisian. Jika mereka tak akan membuka kasus penemuan tulang-tulang manusia itu. Karena kemungkinan akan sulit ditemukan faktor kematian nya. Jadi pihaknya akan langsung menguburkan sisa tulang-tulang itu saja. Dan aku tak perlu datang meliput kesana, cukup lewat telepon saja, dan aku bisa merelease berita itu. Setelah itu aku mengajak Beny kembali ke kantor, tapi menurut nya kami sedang menunggu tugas baru dari Mbak Rika. Jadi daripada kami kembali ke kantor, lebih baik menunggu diluar saja.


"Jadi kalau Mbak Rika udah ngasih komando tugas nya apa, kita bisa langsung otewe Ran!" Seru Beny mengemudikan mobil mencari jalan tikus, untuk menghindari kemacetan lalu lintas.


"Aaah terkadang gue merindukan bekerja seperti sekarang ini. Tapi kadang gue juga capek Ben, bukan capek kerja nya. Tapi capek lagi serius kerja malah di datengin makhluk tak kasat mata. Jadi makin nambah kerjaan gue aja tau gak!"


"Ya ada suka duka nya juga bakat lu itu Ran. Seenggaknya lu bisa bantuin orang-orang yang benar-benar butuh bantuan lu. Udah banyak kan orang ataupun demit yang udah lu bantu akhir-akhir ini. Gue jadi bangga punya temen kayak lu." Pungkas Beny seraya mengacungkan ibu jari nya.


"Dih mulai gak jelas lu Ben, sorry ya gue gak punya recehan."


Setelah banyak berbincang, akhirnya kami berhenti di Minimarket untuk membeli air mineral. Aku dan Beny duduk di bangku depan Minimarket sekalian menunggu tugas dari Mbak Rika. Ponsel ki berdering, terlihat panggilan telepon masuk dari Mbak Rika.


"Kalian berdua lagi dimana sih? Gue tunggu di kantor gak datang-datang!" Terdengar suara cempreng Mbak Rika dengan nada kesal.


"Kita lagi nunggu komando dari lu Mbak, sengaja nunggu diluar kantor biar ga ribet bolak-balik. Emang ada tugas meliput apa lagi Mbak?" Tanya ku dengan mengaitkan kedua alis mata.


Beny pun merasa janggal mendengar suara tawa Mbak Rika. Menurutnya Mbak Rika sedang ngasih tugas yang gak beres, karena aneh saja, ketika ada aku bersama Beny, dan Mbak Rika memberikan tugas yang santai.


"Eh lu pada gak usah pada su'udzon sama gue deh! Kalaupun ada jurnalis lain juga gue bisa aja ngasih tugas ke mereka. Tapi masalahnya, gue lagi pengen nyenengin lu berdua. Jarang-jarang kan lagi kerja tapi di mall dan nonton bioskop. Itu pembukaan film perdana gaes, jadi kalian harus liput beritanya. Ya istilahnya kayak kita sponsorin gitu loh. Gimana deal gak nih?"


Aku hanya mengikuti Beny saja, jika ia mau menerima tugas dari Mbak Rika. Aku juga pasti menerimanya, karena yang bawa mobil kantor kan si Beny. Jadi ya aku ngikut aja lah.


"Ya udah Mbak kita ambil. Di Mall mana nih liputannya?" Tanya Beny seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Di Mall Taman Bougenville ya, mendingan kalian berangkat sekarang aja. Sebelum para pemeran filmnya datang, kan kalian harus wawancara dulu." Titah Mbak Rika sebelum mengakhiri panggilan telepon itu.


Setelah itu aku dan Beny bergegas pergi, meski jalanan agak macet. Tapi Beny berusaha mencari jalan pintas, supaya kami terhindar dari kemacetan. Meski kami harus kesusahan mencari jalan, tapi akhirnya kami bisa sampai lebih cepat dari perkiraan.


Nampak Mall Taman Bougenville sangat ramai pengunjung. Mungkin karena akan ada Meet and greet para artis di bioskop nya. Aku dan Beny sudah bersiap dengan peralatan tempur kami masing-masing. Beny sibuk menyorot para artis dan pengunjung bioskop yang sudah mulai memadati gedung XXI. Aku mewawancarai beberapa artis pemeran film yang berjudul Mangkuraga. Film dengan genre horor yang diminati banyak pengunjung dengan usia muda. Menurut sang sutradara dalam pembuatan filmnya, banyak sekali gangguan yang terjadi pada saat proses syuting. Dan ada adegan nyata yang benar-benar terjadi pada saat pengambilan gambar. Entah apa maksud sang sutradara film itu, aku hanya menggaruk kepala yang tak gatal. Tak mengerti dengan arah pembicaraan nya. Tak lama setelah itu semua penonton dan para artis masuk ke dalam ruangan bioskop. Aku dan Beny kembali meliput suasana di dalam ruangan, sebelum film mulai diputar. Nampak semua penonton antusias menunggu pemutaran film horor itu. Kemudian aku dan Beny mencari kursi sesuai tiket kami, di kursi F10 dan F11.


"Ran Popcorn enak juga nih sama minum chocolate." Pungkas Beny seraya memesan melalui aplikasi.


Aku memperhatikan para penonton dan para artis yang duduk di kursi bagian depan. Ada satu kursi yang sepertinya dibiarkan kosong. Karena semua kursi yang ada di studio ini sudah full tak bersisa.


"Silahkan Kakak Popcorn nya." Ucap seorang perempuan yang mengantarkan pesanan Beny.


Dan tak lama lampu mulai di matikan, pertanda film akan segera dimulai. Adegan pertama film itu menunjukkan latar di sebuah pedesaan. Ada beberapa anak kecil yang sedang bermain congklak. Lalu ada seorang pemain yang tak ku lihat hadir di bioskop. Ia memerankan tokoh dengan gangguan kejiwaan. Tapi aku tak terlalu fokus dengan film itu, dan sibuk menyantap Popcorn rasa caramel yang tak sadar ku makan tersisa setengah kotak. Tiba-tiba backsound film itu membuatku terkejut. Nampak seorang perempuan dengan gangguan jiwa itu membawa kabur seorang anak kecil. Dan banyak warga yang merasa terancam dengan perempuan itu. Mereka hawatir jika perempuan itu akan sering menculik anak kecil di Desa mereka. Akhirnya semua warga memutuskan, untuk menangkap perempuan dengan gangguan jiwa itu. Dan mengikatnya di depan balai desa. Kaki dan tangannya di ikat, serta lehernya tergantung seutas tali. Tapi kejadian setelah nya membuatku terkejut, karena aku dapat melihat jika orang yang memerankan perempuan dengan gangguan jiwa itu terpeleset kaki nya. Dan ia benar-benar menggantung di seutas tali yang terikat di lehernya. Nampak bola matanya melotot dengan urat-urat di sekitar lehernya yang keluar. Sontak saja aku menelan ludah kasar, dan tak nyaman duduk di kursi. Aku seperti menyaksikan orang benar-benar sedang menantikan ajalnya. Terlihat beberapa kru film dan para artis berdatangan, dan berusaha menolong perempuan itu. Tapi tali yang mengikat di lehernya susah di lepaskan, karena kesalahan teknis pada saat proses syuting berlangsung. Nampak kaki perempuan itu mulai mengejang dan menendang ke berbagai arah. Tak lama setelah itu, tak ada lagi gerakan dari perempuan yang menggantung itu. Jantung ku berdetak tak kencang tak karuan, sebegitu hebatnya akting yang diperankan perempuan itu. Sampai-sampai ia menghayati peran nya, seakan ia benar-benar menjemput ajalnya.


"Ben perempuan itu kayak mati beneran gak sih, hebat banget ya aktingnya!" Ucap ku dengan nafas yang masih berderu kencang.


"Perempuan yang mana Ran? Itu dia belum di gantung loh Ran, gimana udah akting mati sih. Kadang-kadang lu suka aneh ya Ran." Sahut Beny yang masih serius menonton film itu.


Aku langsung tercengang mendengar ucapan Beny, dan aku melihat ke layar bioskop untuk memastikan ucapannya. Dan benar saja, sang pemeran yang sudah ada dalam keadaan terikat itu belum di gantung di atas. Tapi kok wajah pemainnya agak berubah ya, apa karena ia memakai riasan seperti orang yang tak terawat tubuhnya ya. Tapi aku yakin benar, jika tadi yang memerankan perempuan dengan gangguan jiwa itu bukan pemain yang sekarang. Sebenarnya ada apa sih, kok aku ngerasa jadi kayak orang bego ya. Aku kebingungan dan hanya bisa menggaruk kepala yang tak gatal. Ada misteri apa di balik pembuatan film horor ini ya, batinku di dalam hati bertanya-tanya.