Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 88 TERUNGKAP?


Setelah suara tangis bayi itu tak terdengar lagi, nampak perlahan nafasnya pun menghilang. Bayi dengan tali pusar yang masih menempel di tubuhnya pun terkulai lemas. Ia telah pergi meninggalkan dunia fana ini, dan melanjutkan hidupnya di alam kegelapan. Ia tumbuh besar bersama para makhluk tak kasat mata lainnya, karena itulah semua penghuni gaib yang ada disini mengatakan padanya, jika ibunya sengaja meninggalkan nya disini untuk tiada. Karena itulah yang memang terjadi, mungkin hantu kecil itu tak bisa menerima kenyataan yang ada. Dan sejak saat itulah ia sering merengek mencari keberadaan ibunya. Dan pertemuan pertama ku dengannya,membuat ku terharu melihat kondisi hantu kecil itu. Seluruh tubuhnya gatal-gatal dan ia sering menggaruk tubuhnya hingga terluka. Itu semua terjadi, karena rasa gatal yang luar biasa sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.


Setelah penglihatan itu selesai ia berikan padaku, demit pelari itu mengembangkan senyumnya di hadapanku. Ia berpamitan padaku, lalu mengucapkan terima kasih karena telah mewujudkan keinginan terakhirnya. Aku pun lega, dapat membantunya dan mendapatkan kejelasan mengenai bayi yang dilahirkan Purnama. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke alam keabadian, dengan berlari mengambang perlahan sosoknya tak terlihat lagi, setelah cahaya menyilaukan mata muncul di depannya.


"Syukurlah semua sudah jelas sekarang." kataku dengan menghembuskan nafas panjang.


Plaaak.


Mbak Rika menepuk pundakku dari belakang, rupanya aku melupakan kehadirannya karena terlalu fokus dengan hantu pelari itu.


"Eh Mbak Rika, sorry gue sampai lupa kalau ada lu disini hehehe."


"Lah buset! Dari tadi gue disini megangin tali gini gak di anggap rupanya!" serunya dengan menggelengkan kepala.


"Gak kok Mbak, becanda gue hehehe. Makasih ya Mbak buat bantuannya megangin tali ini. Ya udah yuk kita balik ke kantor, gue mau menyelesaikan penelusuran gue nih. Berkat bantuan lu, kita udah selesaikan misteri hilangnya hidden baby nya si Bos besar."


"Bukan Bos besar, tapi Bapaknya si Bos besar!"


"Iya deh iya, yuk kita balik. Sekalian baikin tali dan peluit ini ke gudang ya Mbak. Gue masih ada urusan lainnya nih, sekalian minta tolong lagi boleh gak?"


Mbak Rika menghentikan langkahnya, lalu menaikan dagunya.


"Gak usah nanya boleh apa gak, emangnya gue punya pilihan lain, selain nerima permintaan lu?"


"Jadi gini Mbak, gue kan udah datang dari pagi tadi. Tapi karena gue banyak yang di urus sama makhluk-makhluk tak kasat mata itu, gue jadi gak sempet absen. Tolong masukin data absensi gue ya, habis ini gue mau memastikan segalanya. Dan kasih tahu si Bos, kalau gue udah dapat informasi valid mengenai adik tirinya yang hilang itu."


"Okelah kalau begitu, jangan lupa cerita ke si Bos, kalau gue udah bantuin lu juga tadi!"


"Sipp lah, beres itu mah. Gue ke tangga darurat dulu ya!" kataku seraya berjalan masuk ke tangga darurat kantor.


Ku panggil hantu kecil Aurora berkali-kali, tapi tak ada respon darinya. Memang beberapa hari ini, aku tak melihatnya di sekitar kantor ini. Padahal biasanya, sebelum aku mencarinya, dia sudah terlihat mengikuti ku. Meski semenjak pertemuan nya dengan Bulan, membuat hantu kecil itu tak merengek seperti sebelumnya, tapi kali ini ada yang berbeda karena Aurora tak nampak di sekitar tempat ini.


Sesosok hantu Nenek-Nenek dengan tubuh bungkuk melesat menghampiri ku. Ia memberitahu ku, jika Aurora pergi bersama kuntilanak merah yang dulu memakan ari-arinya. Dan menurut hantu Nenek ini, kuntilanak merah itu bisa membawa aura negatif pada Aurora. Karena ia sempat melihat, jika kuntilanak merah itu membujuk Aurora untuk mencelakai seorang manusia.


"Seorang manusia siapa Nek? bukankah makhluk seperti kalian tidak boleh mencelakai manusia, apalagi kalau sampai menghilangkan nyawanya. Yang ada kalian akan terpuruk selamanya disini, dan mendekam di dalam neraka saat dunia ini berakhir?"


"Kau benar Nak, makhluk seperti kami tidak boleh mencelakai manusia. Selain alam kami berbeda, itu hanya akan membuat kami semakin terpuruk ke alam yang paling buruk. Kuntilanak merah itu menghasut hantu kecil itu untuk mencelakai seorang lelaki, yang ia sebut sebagai Ayahnya. Si merah mengetahui segalanya, kenapa hantu kecil itu sampai ditinggalkan ibunya disini. Semua itu karena ulah pemilik gedung ini, dan saat ini ia sedang mencari lelaki itu untuk menuntut balas."


Penjelasan hantu Nenek itu membuatku tercengang. Bagaimana mungkin kuntilanak merah itu menghasut Aurora untuk mencelakai Ayahnya sendiri. Karena itu hanya akan membuat jiwanya semakin tak tenang. Aku harus menghentikan niat jahat Aurora, karena bagaimana pun, lelaki yang telah menodai ibunya itu sudah merasa bersalah dan berniat menebus dosanya. Apalagi ia tak tahu, jika bayi yang ia cari telah tiada.


Dengan cepat aku menghubungi ponsel Pak Bos, dan menanyakan dimana keberadaan Papanya. Ku jelaskan padanya, jika aku sudah menemukan adik tirinya.


"Lalu dimana anak itu? bisakah kau membawanya ke rumah saya? karena saat ini kondisi papa saya benar-benar sedang tidak baik." ucap Pak Bos diseberang telepon sana.


"Maaf Pak, anak itu telah lama meninggal dunia tak lama sejak ia dilahirkan. Purnama mengalami sebuah kecelakaan sesaat setelah dia meminta pertanggung jawaban. Dia jatuh di tangga darurat kantor Bapak, dan melahirkan disana. Bayi malang itu tewas disana, karena masih terlilit tali pusarnya sendiri."


Lalu Pak Bos menjelaskan, memang beberapa tahun yang lalu, pernah ditemukan seorang bayi perempuan dalam keadaan terlilit tali pusar di tangga darurat kantor nya. Tapi tak diketahui siapa yang meninggalkan bayi itu disana. Aku pun merasa ada yang janggal, kenapa sampai tak diketahui siapa yang keluar masuk di tangga darurat itu. Bukankah kantor itu dilengkapi dengan cctv disetiap sudutnya.


"Memang kau benar, tapi rekaman cctv pada saat kejadian itu hilang. Sepertinya ada yang sengaja menghapusnya, karena pihak kepolisian juga tak dapat menemukan bukti apapun mengenai jazad bayi itu. Apa mungkin Papa saya yang menghilangkan jejak rekaman cctv itu?"


Aku terdiam memikirkan ucapan Pak Bos, jika memang Papanya yang sengaja menghilangkan rekaman cctv itu, untuk apa ia mencari keberadaan anak terlarang nya. Bukankah harusnya ia tahu, jika jazad bayi itu adalah darah daging nya. Aah, aku rasa bukan dia yang menghapus rekaman cctv itu. Tapi siapa yang telah melakukan nya. Pertanyaan itu terus berkecamuk di dalam kepalaku, sampai aku lupa jika saat ini ponselku masih tersambung dengan Pak Bos.


"Ma maafkan saya Pak, tadi saya sedang memikirkan ucapan Bapak. Karena saya pikir, ada orang lain yang sengaja menghilangkan rekaman itu. Karena jika Papa Pak Bos yang melakukan nya, tidak mungkin beliau meminta Bapak untuk mencari keberadaan anak itu." kataku dengan pemikiran yang matang.


Tak ada jawaban dari Pak Bos, ia ikut terdiam mendengar perkataan ku. Dan menurutnya, penjelasan ku sangat masuk akal.


"Pak, minta seseorang untuk menjaga Papa Bapak sampai saya datang. Arwah anak itu sangat marah dan ingin menuntut balas, karena telah mencampakkan ibunya dan membuatnya berakhir tiada seperti itu. Jangan sampai ia mencelakai orang tuanya sendiri."


"Tapi saat ini saya masih ada di Rumah Sakit jiwa. Dan hanya ada seorang perawat saja di rumah."


Apakah lebih baik aku meminta Pak Bos untuk membawa Purnama menemui Papa nya juga. Supaya Aurora dapat dikendalikan kemarahannya, tapi aku juga ragu dengan kondisi kejiwaan Purnama. Aku takut jika kondisinya semakin parah, karena membawanya bertemu dengan lelaki yang telah menodainya. Entah apa yang harus ku lakukan sekarang.