Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 151 OTW PULANG KAMPUNG.


Dengan susah payah, aku berhasil membujuk Mbak Ayu untuk tak mendengarkan ucapan Tante Ajeng. Sementara Tante Ajeng masih terus memancing emosi Mbak Ayu, dengan mengatakan kata-kata buruk tentang mendiang Bu Wayan.


"STOP! Tante gak perlu menjelekan seseorang yang udah tiada. Kalau Tante Ajeng masih terus memancing amarah Mbak Ayu, Rania sendiri yang akan berbuat sesuatu supaya Tante pergi dari sini!"


"Apa yang akan kau perbuat Rania? Dahayu yang memiliki kesaktian saja tak mampu melukai ku."


"Tante tahu betul apa yang bisa Mbak Ayu lakukan. Jadi jangan bersombong diri seperti itu. Baiklah kalau Tante gak mau dengerin peringatan ku." Aku duduk dengan menyilangkan kedua kaki, ku lepas tasbih yang melingkar di leher ku.


Dengan khusyuk ku bacakan ayat-ayat suci Allah. "Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih." Belum sampai selesai ku bacakan ayat kursi, nampak tubuh Tante Ajeng memerah. Ia memekik dengan menutupi kedua telinganya.


"Aaargggh panasss!" Jeritnya seraya merubah wujudnya menjadi burung gagak, lalu terbang pergi entah kemana.


"Alhamdulillah. Akhirnya dia pergi juga!" Kataku dengan menghembuskan nafas panjang.


"Keren lu Ran! Cuma baca doa aja, Tante Ajeng udah kepanasan gak karuan!" Mbak Ayu menggelengkan kepala nya dengan sorot mata penuh kekaguman.


Aku bangkit berdiri, lalu menyimpan tasbih itu di dalam tas ransel. Aku menjelaskan pada Mbak Ayu, jika aku hanya membaca doa yang biasa dipakai untuk mengusir demit dan semacamnya.


"Berarti keputusan lu udah bener Ran, Tante Ajeng itu udah bukan manusia lagi. Masak dia tega mau nyelakain suaminya sendiri, meskipun dulu dia pernah berbuat salah. Tapi kan dia udah mengakui kesalahannya dan minta maaf. Meski gue sendiri juga gak bisa maafin Tante Ajeng, karena dia udah buat Ibu gue meninggal. Ya udah yuk buruan ke travel, biar kita bisa cepet sampai ke Desa!"


"Terus Heni gimana Mbak?" Tanya ku dengan mengangkat dagu ke atas.


Baru saja terpikirkan oleh ku, jika kami juga masih mencurigai Heni. Apa yang akan dia lakukan selama kami tak ada di rumah kuno itu. Kalau dia bukanlah bagian dari sekte sesat itu sih gak masalah. Tapi kalau ternyata dia adalah bagian dari mereka, itu akan menyebabkan masalah dikemudian hari.


"Udah biarin aja Ran, toh di rumah gak ada siapa-siapa. Jadi gak akan ada yang terluka nantinya, kalau Tante Ajeng sampai berani ngirim santet atau ilmu hitam ke kita. Sama aja dia cari mati! Secara kita di Desa, kan ada Pak Jarwo yang akan lindungi kita. Apalagi kita kesana juga buat mengasah kemampuan. Semoga aja gue bisa ngontrol kesakitan yang ada di dalam diri gue. Dan buat lu, ayo semangat supaya kekuatan lu yang hilang itu balik lagi." Pungkas Mbak Ayu seraya merangkul pundak ku.


Kami menunggu Mas Adit di Lobby Rumah Sakit. Ia dalam perjalanan kesini, setelah mengantarkan Om Dewa sampai di Bandara.


Tiiin tiin.


Terdengar suara klakson mobil yang mengejutkan kami. Nampak Mas Adit melambaikan tangannya dengan senyum ramahnya.


"Sorry ya kalau kelamaan, tadi aku harus mastiin Om Dewa masuk ke dalam pesawat dengan selamat. Kalau gak, ntar kalian berdua protes lagi sama aku!" Ucap Mas Adit menghembuskan nafas panjang.


"Wah makasi banget ya Dit, pasti Rania bersyukur banget punya calon kayak lu!" Celetuk Mbak Ayu seraya berjalan masuk ke dalam mobil.


Aku dan Mas Adit sama-sama canggung setelah mendengar ucapan Mbak Ayu. Aku memutuskan untuk duduk di belakang, karena malu harus duduk di samping Mas Adit.


"Dih ngapain lu duduk di belakang sama gue? Emang lu pikir Adit tuh sopir apa?"


Mbak Ayu membuka pintu mobil dan mendorong ku keluar. Ia memberikan kode dengan gestur tubuh supaya aku duduk di depan bersama Mas Adit. Meski agak canggung, aku berusaha biasa saja dan duduk di samping Mas Adit.


"Oh iya Mas, mengenai kematian masal itu. Apa bener gak ada yang selamat selain Nek Dijah? Apalagi sekarang dia juga udah gak ada. Akan kesulitan buat ngungkap kasus Dinar. Apakah Ari, sudah menceritakan sesuatu mengenai kelompok sekte itu? Soalnya yang ketangkep kemarin itu anggota sekte yang udah tua-tua. Dan mereka masih mendirikan kelompok yang sama, dengan anggota yang lebih muda. Kau lihat burung gagak tadi kan? Dia itu jelmaan Tante Ajeng Mas, sekarang dia yang jadi pemimpin sekte sesat itu." Kata ku mengalihkan pembicaraan.


"Yang bener? Seriusan itu Tante Ajeng? Kok bisa sih manusia berubah jadi binatang gitu? Mengenai Ari, dia masih tetap bungkam. Tapi kemarin sempat ada pengacara yang mau ngebela dia. Entah siapa yang membayar pengacara itu. Intinya dia mau meringankan hukuman Ari. Meski dia sudah mengakui kejahatan nya, tapi pengacara pembelanya mengatakan, jika Ari melakukan pembunuhan itu tanpa direncana. Karena ia dalam tekanan seseorang, dan terpaksa melakukan nya. Gitu sih yang dia ceritakan ke pengacara nya."


"Bohong itu Mas. Dia emang sengaja bunuh Dinar, supaya dia dapatin apa yang dia mau."


"Iya gue setuju sama lu Ran. Pasti pengacara itu orang yang dibayar sama anggota sekte sesat mereka." Sahut Mbak Ayu mendengus kesal.


Mas Adit diam tak menjawab apa-apa. Ia masih sibuk mengemudikan mobilnya. Tiba-tiba ia mengatakan, jika polisi tak bisa berbuat apa-apa. Hanya hakim di pengadilan yang bisa memutuskan nya.


"Kecuali mereka bisa membayar hakim untuk membelanya. Tapi itu sangat mustahil sih, kalau sampai hakim ngebela orang yang salah. Nama baiknya sendiri yang akan tercemar."


Dreeet dreet dreet.


Suara getar ponsel mengejutkan ku, nampak panggilan telepon dari Papa. Segera ku terima telepon itu. Papa mengatakan jika ia sudah menunggu ku di agent travel. Karena kami memang sudah sepakat untuk bertemu di travel.


"Siapa Ran?" Tanya Mas Adit menatapku dengan sorot mata yang teduh.


Aku tercekat melihat tatapannya yang teduh. Jantung ku jadi berdetak tak karuan karenanya.


"Dih Raniaaaa! Ditanyain malah bengong kayak orang kesambet lu!" Teriakan Mbak Ayu menyadarkan ku dari lamunan.


"Hmm so sorry. Gue ngelamun tadi. Itu Papa yang telepon, dia udah nunggu kita di tempat travel Mbak!"


"Tuh Dit ada Calon Mertua lu, ntar ngobrol-ngobrol aja bentar, biar saling kenal. Ya gak?" Goda Mbak Ayu seraya memainkan kedua matanya.


Sontak saja Mas Adit cengengesan mendengar ucapan Mbak Ayu. Aku pun ikut salah tingkah menanggapi ucapannya.


"Aku udah pernah ketemu kok Mbak sama Mama Papa nya Rania. Tapi udah lama banget, pas kami masih kuliah dulu."


"Wah kebetulan banget dong, bisa dipertemukan lagi. Ntar gue sampaiin ke Papa nya Rania, kalau lu udah banyak bantu anaknya selama di Jakarta. Biar lu dapat nilai plus dari Papa nya hehehe."


Tiba-tiba saja ekor mata ku menangkap bayangan sosok makhluk tak kasat mata yang pernah ku temui. Dia adalah korban kecelakaan yang ku lihat di kedai kopi, sosok itu sedang duduk di samping perempuan muda yang sedang mengemudikan mobilnya. Nampak aura kesedihan di raut wajahnya yang pucat. Aku jadi penasaran kenapa sosok itu terus mengikuti perempuan yang ada di samping nya itu. Karena kalau aku tak salah mengingat, perempuan itu pernah ada di kedai kopi yang sama. Apakah dia yang telah menabrak sosok itu hingga tewas ya. Batin ku terus bertanya-tanya.