Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 273 MENCURIGAI WATI?


Karena seluruh keluarga Pak Langgeng meninggal dunia. Jadi mau tak mau semua urusan administrasi menjadi tanggung jawab semua warga. Aku bersama Wati pergi ke kantor pemakaman untuk membayar semua biaya administrasi, karena esok hari jenazah akan segera dikebumikan. Semua orang sudah kelelahan dan malam ini mereka harus menjaga semua jenazah keluarga Pak Langgeng.


"Pak apa gak dilangsungkan saja pemakaman nya?" Tanya seorang lelaki berkopiah hitam.


"Tadinya sih mau nya begitu, tapi Pak Langgeng kan punya satu anak lelaki di kota. Dulunya dia di adopsi sama keluarga istrinya. Makanya Pak Haji menunda proses pemakaman, menunggu sampai anak lelaki Pak Langgeng itu datang." Jawab Pak Sapri menjelaskan.


Karena penasaran, aku pun mendekati keduanya.


"Loh sudah pulang to Nduk? Gimana udah ketemu petugas pengurus pemakaman?"


"Udah kok Pak, tapi untuk pembayaran nya nunggu besok pagi. Tadi Rania sama Wati cuma membahas empat tanah yang mau dipakai besok. Tadi Rania denger Pak Langgeng masih punya anak di kota, kenapa Rania baru dengar ya Pak?"


Pak Sapri menceritakan, jika dulunya keluarga istri dari Pak Langgeng tidak mempunyai keturunan. Dan anak kedua dari keluarga itu akhirnya diserahkan pada keluarga istrinya Pak Langgeng.


"Dari anak itu bayi usia tiga bulanan udah dikasihkan. Jadi ya anak itu gak pernah kenal siapa orang tua kandung nya. Dan karena hari ini satu keluarga nya tewas semua, akhirnya Pak Haji meminta saya memberi kabar ke keluarga yang mengadopsi anak itu. Tapi karena anaknya sekarang sudah bekerja di Kota, jadi ya gak bisa langsung datang kesini. Nunggu anak itu sampai sini sama kedua orang tua angkatnya. Apalagi orang tua anak itu masih kerabatnya istri Pak Langgeng." Imbuh Pak Sapri seraya menunjukkan selembar foto bayi yang di ambilnya dari tumpukan album foto kuno.


Aku melihat foto seorang bayi lelaki yang cukup tampan. Ia tidur terlentang dengan tersenyum menggenggam tangan seorang perempuan. Kalau dilihat dari wajahnya, sepertinya ini adalah mendiang istri Pak Langgeng.


"Kau lihat apa sih Ran?"


"Ini loh Wat anak kandung Pak Langgeng yang dirawat kerabatnya. Ternyata jenazah menunggu satu-satunya keluarga mereka datang dari kota."


"Oh jadi ini yang dari tadi warga bicarakan. Kasihan ya, gak pernah ketemu sekalinya ketemu udah berbeda alam."


"Ya itulah kehidupan Nduk, kita gak bisa kendalikan takdir. Semoga saja anak itu bisa berlapang dada." Kata Pak Sapri menghembuskan nafas panjang.


"Emang sekarang usianya berapa Pak?" Celetuk Wati penasaran.


"Mungkin kurang lebihnya seusia kalian Nduk. Lha wong sama Aldo paling beda beberapa bulan aja kok."


"Besok kalian tolong gantian temani Mbok Genuk ya Nduk. Kasihan dia sangat sedih melihat kondisi cucunya."


"Biar Rania saja Pak, soalnya Wati harus jaga Pramono. Nanti dia malah ngamuk kalau gak ada Mbok Genuk ataupun Wati."


Nampak Wati menoleh ke kanan dan kiri, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu tapi urung. Pak Jarwo yang dapat membaca gelagat aneh Wati langsung bertanya, apakah ada yang sedang ia sembunyikan. Dengan gugup Wati menjawab, jika ada yang ingin ia tanyakan pada Pak Jarwo. Tapi ia hanya ingin berbicara empat mata.


"Kalau gitu Rania ke depan dulu Pak, mau ikut baca yasin sama yang lain."


Aku melangkahkan kaki ke ruang tamu, aku duduk di samping ibu-ibu yang sedang membaca ayat-ayat suci. Beberapa dari mereka ada yang membicarakan anak kandung Pak Langgeng. Menurut mereka anak Pak Langgeng sudah sukses di kota, tapi ia melupakan orang tua nya. Karena dia tak mau mengakui keluarga kandung nya.


"Wajar sajalah, lha wong dia gak mau ngakuin orang tua kandungnya. Orang tua angkatnya kan kaya, makanya bisa sekolahin sampe Perguruan tinggi." Celetuk Bu Dian tetangga sebelah rumah ku.


"Maaf Bu, lebih baik jangan berbicara seperti itu disini. Kasihan jiwa-jiwa keluarga ini, mereka masih bisa mendengar dan melihat apa saja yang kita lakukan.


Samar-samar terdengar suara cekikikan kuntilanak di luar rumah. Warga yang sedang duduk diluar berhamburan. Mereka masuk ke dalam rumah sambil berteriak. Seketika orang-orang yang sedang melantunkan bacaan doa langsung berhenti melakukan kegiatannya. Pak Jarwo datang dan meminta semua orang tenang.


"Dilanjutkan saja baca doa nya bersama Pak Haji. Biar aku yang menyingkirkan demit iseng itu." Kata Pak Jarwo seraya melangkahkan kaki keluar.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan tak biasanya ada gangguan dari para demit yang iseng seperti malam ini. Pak Haji pun menjelaskan, jika semua kejadian yang terjadi di Desa ini adalah karena ulah Pak Warto. Dia melakukan apa saja untuk membuat ketentraman warga terusik.


"Usia ku yang sudah menua tak memungkinkan untuk menjaga semua orang. Kita hanya mengandalkan Pak Jarwo saja, tapi sampai kapan harus begini terus. Kalau Warto tak dihentikan, maka selamanya dia akan menjadi ancaman untuk semua orang."


"InsyaAllah Rania akan tetap membantu. Jadi Pak Haji tak usah hawatir."


"Bukankah kau juga harus menyelesaikan masalah yang membayangi kehidupan Wati juga Nduk?"


Aku hanya menghembuskan nafas panjang, teringat dengan gelagat aneh Wati. Tadi ia berbicara empat mata dengan Pak Jarwo. Aku jadi penasaran apa yang sebenarnya ia bicarakan. Atau jangan-jangan ada yang ia sembunyikan dariku. Dari kejauhan ku lihat Wati sedang berpamitan pada beberapa orang. Aku bangkit berdiri mengikutinya dari belakang. Tapi sepertinya Wati terburu-buru meninggalkan rumah ini. Kenapa Wati jadu berubah acuh padaku ya, kenapa dia seakan menghindar dariku ya. Batinku penuh tanya karena gelagat anehnya.