Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 176 RENCANA LAIN.


Aku bersama kedua jiwa tanpa raga itu pergi meninggalkan Kedai kopi. Kami duduk di taman kota untuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Jika Mbak Lia tak mengingat apa yang telah terjadi padanya, bagaimana caranya kami tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah benar ia hanya jatuh saja, bukankah itu lingkungan tempatnya tinggal dari kecil. Kok dia bisa ceroboh sampai jatuh kebentur batu segala.


"Mbak coba deh ingat-ingat lagi, apa yang kau lakukan selama di Desa. Dan ketemu siapa aja disana?"


Mbak Lia diam dengan wajah kebingungan, ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Tapi ia kesulitan memfokuskan pikiran. Akhirnya hantu Fendi membantu Mbak Lia, ia memejamkan kedua matanya seraya menggenggam tangan Mbak Lia. Entah apa yang sedang coba ia lakukan, tapi tiba-tiba sosok Fendi mengatakan sesuatu mengenai mantan kekasih Mbak Lia.


"Apa kau bertemu dengannya lagi?" Tanya sosok Fendi dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Maksdunya Fen?" Jawab Mbak Lia bingung.


"Mantanmu itu, aku melihatnya mengikuti mu, sewaktu kau pulang kampung. Mungkin kah dia datang menemuimu di Desa?"


"Guntur? Maksudmu Guntur kan? Ah sudah ku duga, sewaktu di kebun aku merasa di ikuti seseorang. Dan ada yang mendorong ku dari belakang, setelah itu aku gak ingat apa-apa lagi!" Jelas Mbak Lia dengan wajah serius.


"Wah parah sih tuh orang! Kayaknya dia sengaja nyelakain kau Mbak. Mungkin dia takut kau buka mulut atas kecelakaan yang mengakibatkan Fendi tiada. Dia takut masuk penjara, makanya dia diam-diam mau nyelakain kau juga. Kalau begini sih udah menjurus ke kriminal, aku gak bisa tanganin karena diluar batas kemampuan ku. Aku akan meminta tolong ke teman ku yang polisi. Supaya dia selidiki kasus Fendi, yang akan mengarah ke kau dan si Guntur itu. Apa kau siap menghadapi konsekuensinya Mbak?"


Mbak Lia dengan tegas menganggukkan kepala, ia sangat siap menghadapi konsekuensi yang akan terjadi.


"Tapi apa yang aku lakukan setelah ini?"


"Setelah ini aku akan meminta temanku yang polisi itu datang. Biar dia yang akan usut semuanya. Ketika dia menemukan bukti yang mengarah padamu, polisi akan langsung mencarimu ke Desa, untuk mendapatkan keterangan. Nah nantinya kan aku bakal ceritain ke temanku itu kalau kau jatuh sampai membentur batu itu karena faktor kesengajaan dari seseorang. Siapa orang itu, ya si Guntur itu yang patut dicurigai. Warga Desa biasanya gak asing dengan para pendatang. Nah meski si Guntur itu diam-diam dan sembunyi darimu, pasti ada yang ngelihat dia di sekitar tempat tinggal mu. Maka polisi bisa menetapkan dia sebagai tertuduh, baru setelah bukti dan saksi komplit. Guntur bakal jadi tersangka. Dugaan nya udah jelas kan, dia takut rahasia nya tentang kecelakaan Fendi terungkap. Makanya dia berusaha melenyapkan kau. Nanti kalau polisi melakukan penelusuran sampai ke kampung halaman mu. Kau ikut aja kesana, numpang mobil polisi. Kau percaya saja padaku Mbak, temanku yang polisi itu sangat kompeten. Dia udah biasa nanganin kasus misteri kayak gini."


Setelah itu aku menghubungi Mas Adit, dan memintanya datang menemuiku di taman kota pantai indah kapuk. Begitu ia sampai, aku menceritakan semuanya dengan detail. Awal mula kecelakaan yang menewaskan Fendi. Dan mobil yang digunakan untuk menabrak juga masih ada di bengkel.


"Parah kau Ran, lagi-lagi ngasih kasus yang sumbernya dari makhluk tak kasat mata." Celetuk Mas Adit dengan menggelengkan kepala.


"Tapi Mas, yang ini agak beda. Salah satu korbannya masih ada, meski sekarang dalam keadaan nyaris hidup atau mati sih. Tolong ya Mas, intinya si Mbak Lia itu gak salah karena bukan dia yang bawa mobil. Kau bisa cek rekaman cctv yang ada di Kedai kopi, malam itu seorang lelaki bernama Guntur meminta tumpangan pada Mbak Lia. Dan dia juga yang pegang kemudi, sampai akhirnya nabrak si Fendi sampai tewas. Fendi dan Mbak Lia itu sama-sama pegawai di Kedai kopi itu. Karena tempat nya nanti agak jauh, aku gak bisa ngikutin penyelidikan nya. Kan Mas Adit pasti juga akan melakukan investigasi ke kampung halaman Mbak Lia juga. Aku harap semua dapat ditangani sampai tuntas. Kasihan mereka, yang satunya mati penasaran dan gentayangan. Yang satu lagi jadi gentayangan karena rasa bersalah." Ucapku seraya memandang kedua jiwa tanpa raga itu.


"Baiklah aku akan mengambil alih kasus kecelakaan Fendi terlebih dulu. Supaya aku bisa mengarah ke kasus Dahlia. Mungkin setelah ini aku akan meminta petugas mengecek rekaman cctv, dan begitu ada bukti jika Guntur ada di dalam rekamam itu. Aku bisa melakukan penyelidikan lebih lanjut padanya!"


Aku langsung berkomunikasi dengan kedua jiwa tanpa raga Fendi dan Mbak Lia. Aku meminta mereka mengikuti penyelidikan yang polisi lakukan.


"Kalau ada apa-apa kau bisa mendatangi ku di kost Mbak. Karena kau masih setengah manusia, kau tak bisa melesat jauh seperti Fendi. Jadi ku sarankan kau menumpang kendaraan pribadi saja."


Nampak Mas Adit keheranan melihatku bicara seorang diri. Meski ia tak terkejut dengan pemandangan itu, tetap saja ia merasa aneh dengan apa yang ku lakukan.


"Harus buru-buru banget ya Ran? Kita kan baru aja ketemu setelah satu minggu lamanya!"


"Apa an sih Mas, gak usah lebay deh! Kasus cepat selesai kan lebih bagus! Aku jadi agak tenang, meskipun gak benar-benar tenang juga sih!"


"Maksudnya gimana Ran?"


Aku menceritakan apa yang terjadi pada Mbak Ayu. Meski sekarang aku terlihat tenang, sebenarnya aku sangat mencemaskan nya.


"Inalilahi kok bisa sih Ran? Terus yang jaga mereka disana siapa?"


"Mama dan Papa belum balik ke Kalimantan, mereka ngejagain Om Dewa dan Mbak Ayu. Karena gak mungkin kan, kita ngabarin Tante Ajeng. Apalagi dalam keadaan seperti ini, bisa-bisa Tante Ajeng semakin berusaha untuk mencelakai mereka."


"Lalu perempuan yang kau curigai itu gimana Ran? Dia udah datang ke kost an lagi?"


"Leni? Menurut Heni, si Leni itu gak pernah kelihatan lagi. Bahkan dia gak berangkat ke kampus juga!


Tiba-tiba sosok Fendi melesat ke samping ku, ia bertanya kenapa aku menyebutkan nama Heni dan Leni.


"Apa mereka bersahabat dari kecil?" Tanya sosok Fendi berbisik di telinga ku.


Sontak saja aku langsung membalikkan badan menatapnya dengan serius. Kenapa ia menanyakan itu padaku, apa hubungannya Fendi dengan Heni dan Leni ya.


"Mas bentar ya, ada yang harus aku selesaikan. Kalau mau kau bisa duduk diam disini dulu, oke?" Kataku pada Mas Adit seraya melangkah agak jauh darinya.


Aku berkomunikasi lagi dengan sosok Fendi, ku tanyakan darimana ia tahu mengenai persahabatan Heni dan Leni. Dan Fendi menjelaskan, jika Heni adalah adiknya. Dan memintaku memberikan kabar mengenai kematiannya. Karena sampai saat ini, jazad Fendi masih berada di kamar jenazah.


"Memangnya identitas mu kemana? Kenapa sampai sekarang jasadmu belum di kebumikan?"


"Sepertinya aku lupa membawanya, dan jika dalam waktu dua hari lagi tak ada keluarga yang datang mengambil jazadku. Maka pihak rumah sakit akan menguburkan jenazah ku tanpa nama dan identitas lainnya. Karena itulah aku terkejut mendengar mu menyebutkan nama Heni dan Leni. Pasti saat ini Heni sedang sibuk-sibuknya kuliah. Jadi dia jarang menghubungi ku."


Astaga, bagaimana mungkin semuanya saling terhubung. Apa ini suatu kebetulan atau rencana Tuhan supaya aku dapat mengungkap misteri mengenai Heni ataupun Leni. Pokoknya aku harus mengorek informasi dari sosok Fendi. Apakah adiknya Heni pernah melakukan sesuatu yang tak biasa. Karena sebenarnya aku masih belum terlalu percaya dengan Heni, apalagi ia bersahabat dekat dengan Leni sejak kecil. Bisa juga kan mereka ada di pihak yang sama, dan aku harus lebih berhati-hati lagi. Dan setelah ini, aku harus memastikan dulu ke Mas Adit, kenapa jazad Fendi masih belum diserahkan ke keluarganya. Apa iya sesulit itu buat polisi menemukan identitas seseorang.