Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 207 MENUNGGU KERETA HANTU.


Tak berselang lama seorang lelaki mengenakan baju dinas datang menemui Bapak petugas yang menjaga ruang kendali. Mereka nampak berbicara serius, dan terlihat panik berdasarkan raut wajahnya. Entah apa yang mereka bicarakan, karena keduanya berbicara agak jauh dari kami. Jadi aku ataupun Beny tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Sampai akhirnya keduanya mendatangi kami, dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Menurut kedua petugas itu, teman kami hilang karena salah naik kereta. Tentu saja Beny mengelak, karena menurutnya Silvia tak terlihat naik kereta dari peron Stasiun ini. Ia juga tak terlihat meninggalkan Stasiun, jadi ia tetap menyangkal jika Silvia salah naik kereta. Aku dan Petter hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka, karena aku sendiri sedang menerka-nerka apa maksud dari kedua petugas itu, yang mengatakan jika Silvia salah naik kereta.


"Raniaaaa... Jangan-jangan temanmu itu naik kereta hantu." Bisik Petter di telinga ku.


Nampak Bapak petugas berseragam dinas yang bernama Imron itu melirik ke arah Petter. Kemudian ia menganggukkan kepalanya. Apakah ia bisa melihat Petter, dan ia mendengar bisikan nya. Kemudian Pak Imron mempersilahkan aku dan Beny ikut ke ruang lainnya. Nampaknya itu adalah ruangan penyimpanan berkas, karena banyak sekali dokumen di rak-rak yang berjajar rapi. Lalu ia menunjukkan sebuah album yang berisi dokumentasi kecelakaan kereta pada tahun 2000 an. Pernah ada petugas palang kereta yang mengaku sering melihat rangkaian kereta berjalan sendiri dari arah Bogor dengan kecepatan 60-80 kilometer per jam.


"Yang saya tau, kereta itu menarik empat gerbong dengan kondisi gak ada penumpang dan gak ada masinis, serta dalam keadaan gelap. Karena itu kan KRL, seharusnya kereta berjalan dengan pasokan listrik. Tapi yang mengherankan, kereta berjalan tanpa ada listrik dan masinis di dalam nya. Dari situ saya yakin jika ada yang tidak beres, dan karena itu saya sempat membuktikan dengan mata kepala sendiri. Jika setiap malamnya ada kereta yang berjalan diluar jadwal. Bahkan pernah ada beberapa penumpang yang mengaku pernah menaiki kereta itu pada tengah malam. Memang beberapa orang kembali dengan selamat, tapi ada juga yang hilang lalu ditemukan jauh dari lokasi rel kereta. Dan menurut saya, ada kemungkinan teman kalian salah naik kereta. Ya kereta hantu itu, kereta yang berjalan diluar trayek. Karena melihat dari rekaman cctv tadi, setelah ada cahaya dari ujung peron dan teman kalian berdiri di tepian peron, lalu ia menghilang dari rekaman cctv begitu saja. Bisa dipastikan memang ia menaiki kereta hantu itu. Coba kalian pastikan sekali lagi pada orang-orang terdekatnya, apakah dia sudah sampai di rumah atau belum. Karena biasanya beberapa ada yang kembali dengan sendirinya, dan ada juga yang jadi linglung dan hilang entah dimana." Jelas Pak Imron yang sedang menunjukkan foto-foto kecelakaan kereta yang menewaskan semua penumpang dan awak kereta.


Kini Beny semakin cemas, nampak peluh membasahi seluruh tubuhnya. Aku paham dengan apa yang ada di pikiran nya saat ini, dan aku hanya bisa menenangkan nya dengan menepuk pundak nya. Tiba-tiba Pak Imron mengatakan jika aku bisa mencari tau sendiri, apakah Silvia masih ada di dalam kereta hantu itu atau tidak.


"Bagaimana caranya Pak?" Tanya ku dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Kau bisa meminta bantuan sahabat kecilmu itu. Kau harus pergi bersamanya untuk menyamarkan jati dirimu yang sebenarnya. Tetaplah bergandengan tangan dengannya, supaya energimu tetap redup dan tak bersinar terang di antara para makhluk tak kasat mata lainnya. Jika kau melihat temanmu ada di dalam salah satu gerbong kereta itu, ajaklah dia untuk segera turun dari dalam gerbong. Dan sebisa mungkin jangan buat dia curiga dengan keadaan yang sebenarnya. Karena jika kalian bersuara selama ada di dalam gerbong itu, maka semua makhluk yang ada di dalamnya akan bereaksi dan berusaha mencelakai kalian. Meski saya tau, kau bukanlah gadis biasa. Karena energimu sangat besar dengan aura terang. Pasti kau bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan dirimu sendiri." Ucap Pak Imron dengan suara tegas.


Tanpa diduga Beny bereaksi, karena ia salah paham dengan ucapan Pak Imron. Dan terus terang mengatakan, jika ia sudah dewasa dan tak terima dibilang sahabat kecilku. Pak Imron langsung menjelaskan, jika yang ia maksud adalah sesosok hantu Belanda yang selalu berada di dekatku. Sontak saja Beny tercengang, dan langsung bergidik ketakutan.


"Ach Bapak ini jangan nakutin saya dong. Kalau Rania pergi naik kereta hantu, terus saya gimana dong?"


"Ya kau ikut bersamanya juga! Dan ingatlah untuk selalu bergandengan tangan dengannya. Jangan sampai terlepas, kalau kau tak mau tersesat di alam lain sendirian." Cetus Pak Imron membuat Beny semakin ketakutan.


"Ran, ini maksudnya kita harus nyusul Silvia buat naik kereta hantu itu?"


"Iya Ben. Kita harus naik kereta hantu itu kalau ingin mencari tau keberadaan Silvia. Atau lebih baik lu hubungi Mbak Rika dan tempat kost nya Silvia. Kali aja dia udah balik, jadi kita gak perlu cari dia ke dimensi lain."


Beny menjauh dariku untuk mencari tau keberadaan Silvia. Ia menelepon Mbak Rika, dan juga tempat kost Silvia. Tapi berita yang ia dapat tak sesuai harapan, karena Beny hanya menggelengkan kepala.


"Kalau begitu gak ada cara lain, selain kalian harus menumpang kereta hantu itu."


"Kau dengar itu kan Rania? Jangan pernah membuat kegaduhan disana, oke?" Ucap Petter menyipitkan matanya.


Harusnya Beny yang mesti diingatkan, karena dia yang mungkin membuat kegaduhan nantinya. Tapi aku sudah mewanti wanti nya, supaya ia mengikuti semua ucapanku. Jam masih menunjukan pukul 22.30 WIB. Sebentar lagi kereta terakhir Bogor Jakarta akan memasuki peron. Kemudian Beny bangkit berdiri dan merapikan tas nya.


"Lu mau apa Ben?"


"Naik kereta itu kan Ran?"


Aku menepuk lengannya dengan kencang, bagaimana mungkin ia berpikir untuk menaiki KRL yang sesungguhnya. Sementara yang kami tunggu adalah kereta hantu.


"Tadi katanya kereta yang keberangkatan akhir, bukannya yang ini?"


"Kereta yang kita tunggu gak semua orang bisa lihat. Mungkin kemarin Silvia dalam keadaan sangat lelah, jadi fisiknya tak terlalu fokus dan menyangka kereta hantu itu benar-benar kereta nyata. Nanti kalau lu lihat sendiri bagaimana bentuk kereta yang akan kita tumpangi, lu juga pasti kaget. Tapi inget jangan bersuara apalagi membuat kegaduhan!"


"Iya iya Ran, gak usah lu ingetin terusan juga gue tau! Lu pikir gue mau ilang di alam gaib karena kebodohan gue sendiri. Tapi kalau kita udah ketemu Silvia, apa lu yakin kalau itu benar-benar dia bukannya makhluk gaib yang menyamar?"


"InsyaAllah Ben, kita harus yakin. Udahlah kita tunggu aja sebentar lagi juga kereta yang kita tunggu datang kok."


Tak berselang lama Pak Imron datang. Ia duduk di sebelah kami, dan menjelaskan jika ia akan menjaga portal di dimensi manusia. Supaya tak terjadi hal-hal yang tak di inginkan selama kami berada di kereta hantu itu.


"Maksdunya gimana sih Pak?" Tanya Beny dengan menggaruk kepala yang tak gatal.


Pak Imron menjelaskan jika ia akan berjaga di Stasiun, supaya dapat membimbing kami untuk kembali ke Stasiun ini. Karena ada kemungkinan kami terbawa kereta hantu itu dan tak turun dari gerbong kereta, karena kami tak akan menyadari jika kereta yang kami tumpangi berhenti di beberapa Stasiun gaib. Dan jika kami sampai salah turun Stasiun, kami akan ikut tersesat bersama Silvia. Meski aku mengajak Petter bersamaku, ia hanya menjadi media supaya keselamatan kami terjamin saja.