
Kami semua sudah sampai di rumah duka. Nampak Pak Wandi sedang memandikan jenazah bayi nya bersama Pak Haji dan dua orang kerabat dekat. Suasana haru begitu terasa membuat ku merasa semakin tak enak hati. Aku membantu ibu-ibu di dapur untuk menyiapkan masakan yang akan dibagikan ke tetangga setelah proses pemakaman selesai. Para ibu-ibu ini tak ada yang menyalahkan ku, karena menurut mereka aku sudah berusaha semaksimal mungkin.
“Jika kau tak berhasil menemukan istrinya Wandi, kemungkinan malah keduanya bisa menjadi korban. Kau sudah melakukan yang terbaik Nduk, jangan sedih begitu.” Ucap salah seorang ibu-ibu seraya menepuk pundak ku.
Aku hanya membalas ucapannya dengan anggukan, karena aku tak tau harus berkata apa lagi. Tiba-tiba situasi di dapur menjadi gaduh, karena ada seorang perempuan yang kerasukan. Ia berteriak menjerit-jerit dengan membulatkan kedua mata. Ia berusaha menyerang dan mencekik ku, tapi semua orang yang ada disana berusaha memegangi si perempuan yang kerasukan tadi.
“Kau akan menerima akibatnya! Lihat saja akan ku buat kau kehilangan segalanya hahahaha.” Jeritnya seraya mendorong semua orang yang memegangi tubuhnya.
Perempuan itu melompat ke arah ku lalu mencekik leherku. Seketika aku tak bisa bernafas, dan berusaha melepaskan tangan perempuan itu dari leherku. Tapi cengkeraman nya terlalu kuat sehingga aku kesulitan. Tak lama setelah itu Pak Jarwo pun datang dan melepaskan tangan perempuan itu dari leherku. Tapi cengkeraman nya terlalu kuat sehingga meninggalkan bekas cakaran di kulit ku. Perempuan itu terus berteriak dan berusaha melawan, tapi Pak Jarwo langsung membacakan mantra seraya memegangi kening perempuan tadi. Sampai akhirnya ia terkulai lemas dan pingsan. Aku masih terpojok di sudut ruangan dengan nafas yang tersengal-sengal, lalu semua orang membantu ku berdiri dan membersihkan luka bekas cakaran di leher ku.
“Tak apa-apa Nduk, kau masih sangat shock sehingga tak bisa menghadapi satu demit yang merasuki nya. Mungkin lebih baik kau pulang saja istirahat di rumah, biar aku yang menyelesaikan semuanya.” Jelas Pak Jarwo seraya menepuk pundak ku.
“Gak Pak! Rania gak mau pulang. Tadi Rania Cuma terkejut aja, entah darimana datangnya demit yang merasuki ibu tadi. Bukankah semua demit yang tinggal di rumah Mbah Wongso sudah dipindahkan. Kenapa masih ada demit jahat yang mengganggu warga?”
“Warto tak hanya turun tangan sendiri, dia juga membawa demit-demit jahat masuk ke wilayah Desa. Jika dia sendiri yang mendatangi Desa ini, penangkal dan pagar gaib yang ku buat tak akan berpengaruh padanya. Kita harus bekerja lebih keras lagi Nduk untuk melakukan pembersihan di seluruh sudut Desa. Jika memang kau kurang sehat, lebih baik kembali saja di rumah. Setelah ini akan ada seseorang yang membantu ku mengurus semuanya.”
“Seseorang siapa Pak?” Tanya ku dengan mengaitkan kedua alis mata.
“Assalamualaikum.” Seru seseorang di depan rumah.
“Mari Nduk kita ke depan, bantuan dari orang yang tepat sudah datang!” Tegas Pak Jarwo seraya menganggukkan kepala.
Aku berjalan di belakang Pak Jarwo, ia langsung menghampiri seseorang yang sedang duduk di teras depan rumah. Sementara Wati sedang duduk di dalam ruang tamu, melihat jenazah bayi Pak Wandi. Perempuan berkebaya cokelat, bukankah dia yang ku lihat di dalam mimpi. Dia adalah orang yang dimintai tolong oleh jiwa Bening. Tapi sejak pertemuan terakhir kami, aku belum pernah berkomunikasi lagi dengan sosok Bening. Entah bagaimana keadaannya sekarang, karena Pakde nya sudah benar-benar melakukan perlawanan. Terdengar suara Pak Jarwo memanggilku, ia melambaikan tangan memintaku mendatangi nya. Ku langkahkan kaki menemui nya, dan aku dapat melihat wajah Mbok Genuk yang sedang duduk di samping Pak Jarwo. Jadi perempuan berkebaya cokelat itu adalah Mbok Genuk, bagaimana itu bisa terjadi. Aku masih terpaku dengan mengaitkan kedua alis mata, lalu Pak Jarwo menyuruhku duduk dulu supaya Mbok Genuk bisa memberikan penjelasan.
“Jarwo sudah menceritakan semuanya Nduk, aku sudah tau sekarang jika kau berusaha membantu menyempurnakan jasad Bening cucuku. Aku sudah kesulitan melarikan diri dari rumah Warto, karena ia mengetahui jika sekarang aku memiliki hubungan dengan orang-orang di Desa Rawa Belatung. Ia menjebakku dengan memanfaatkan kasih sayang ku pada cucuku Wening, Wening mengancam akan mengakhiri hidupnya jika aku kembali ke Desa ini. Tapi melihat penderitaan Bening yang terkurung di dalam botol, karena ulah Bening dan Wening adalah cucu kandungku, keduanya terlahir dari rahim putri semata wayang ku. Setelah Bening meninggal bersama Bapaknya, Ibu mereka pergi ke kota dan tak pernah memberi kabar. Aku sama sekali tak tau jika jiwa Bening terikat dengan jiwa kembaran nya. Bening masih gentayangan sampai sekarang karena perbuatan Kakeknya sendiri. Wongso adalah besanku, tapi aku tak pernah satu pemikiran dengannya. Sebelum aku bertaubat dan memilih menjadi pengasuh Pramono, aku berprofesi sebagai dukun dan menganut ajaran ilmu hitam. Tapi aku tak pernah menumbalkan nyawa seseorang, meski aku menerima pekerjaan untuk menyakiti atau mencelakai orang lain. Setelah anak semata wayang ku pergi meninggalkan anak-anaknya aku jadi sadar. Jika tak ada gunanya aku melakukan pekerjaan jahat itu, aku bertaubat dan memilih bekerja sebagai pengasuh di rumah keluarga Sumitro. Karena aku ingin membantu menjaga dan menyelamatkan Pramono. Aku lah orang yang membantu orang tua Pramono, sampai ia bisa selamat dari tumbal pesugihan buto ireng Sumitro. Sekarang aku akan membantu kalian untuk melawan Warto dan Wening, cucuku sendiri.” Jelas Mbok Genuk dengan mata berkaca-kaca.
Aku tercekat tak dapat berkata-kata, aku tak dapat membayangkan bagaimana perasaan Mbok Genuk mengatakan itu semua. Bagaimana mungkin ia bisa melawan cucunya sendiri, tapi ia tetap harus melakukan nya. Seakan tau isi hatiku, Mbok Genuk bangkit dari duduknya lalu mendekap ku. Ia menjelaskan jika ia melakukan semua ini tanpa paksaan.
“Tak perlu beranggapan jika aku terpaksa, meski berat aku tetap harus melakukan nya Nduk. Jiwa Bening terlunta-lunta di alam fana, apalagi Pakde dan saudaranya sendiri tak bersedia mengembalikan nya ke alam keabadian. Kasihan cucuku Bening Nduk, ia menangis meminta tolong padaku setiap malam. Aku tak bisa tidur beberapa malam ini, dia menceritakan padaku jika kau bersama Jarwo akan membantu menyempurnakan jasad nya. Karena itulah, aku melarikan diri tadi malam. Saat Warto sedang sibuk di dalam ruang khususnya, sementara Wening sedang melatih ilmu bersama sosok kuntilanak merah peliharaan Kartika dulu.” Pungkas Mbok Genuk sedetail mungkin.
“Tapi apa Mbok Genuk yakin kalau dengan mengirim jiwa Bening kembali ke alamnya, tak akan membuat hubungan Mbok dengan Wening jadi hancur? Bukankah hanya Wening seorang satu-satunya keluarga yang Mbok Genuk punya?” Tanya ku seraya menggenggam tangan Mbok Genuk yang terasa sangat dingin.
“Aku yakin Nduk, lihatlah karena ulah jahat Warto seorang bayi yang belum sempat lahir ke dunia telah tiada di dalam rahim ibunya. Kita harus bersama-sama menghentikan mereka, karena baik Warto ataupun Bening telah sesat terlalu dalam. Mereka menghalalkan segala cara dengan bersekutu bersama iblis dari alam gaib untuk bisa menghancurkan semua orang yang ada di Desa ini. Aku harus menghentikan cucuku sebelum ia terjerumus dengan dosa-dosa yang lebih besar lagi.” Ucap Mbok Genuk tertunduk sendu.
Ku genggam tangan Mbok Genuk seraya menguatkan nya. Aku dapat memahami bagaimana sulitnya keputusan yang ia ambil sekarang. Tapi penjelasan nya memang masuk akal, jika ia memang mencemaskan kedua cucunya yang sedang terjerat masalah karena ambisi balas dendam yang di ajarkan Pakde mereka.