Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 160 NASEHAT PAK JARWO.


"Aku takut perasaan itu muncul lagi Mas, bagaimana aku bisa menghadapi romo nya Senopati." Ucap Lala dengan wajah sendu.


"InsyaAllah La, itu tak akan terjadi. Kalian memiliki alam yang berbeda, jika kau tak ingin bertemu dengannya, minta saja Senopati untuk menyampaikan permintaan mu. Raja buto itu pasti akan dengan senang hati membantu mu. Untuk menghentikan Pak Mitro bukanlah hal yang mudah. Karena itulah kita memerlukan bantuan dari bangsa Buto lainnya." Jelas Pak Jarwo dengan suara beratnya.


Aku memandang wajah Lala, ia terlihat gelisah dengan menghembuskan nafas panjang. Ku katakan pada Lala, jika ia harus mengikuti kata hati nya. Apa yang menurutnya baik, bisa ia lakukan sesuai kata hatinya.


"Baiklah, aku akan meminta Senopati untuk berbicara dengan romo nya. Tapi aku tak mau bertemu lagi dengan romo nya, biarlah Senopati yang menyampaikan permintaan tolong ku."


"Alhamdulillah. Akhirnya kau memahami situasi ini La, ini demi kebaikan banyak orang. InsyaAllah akan menjadi berkah untuk kita semua." Pungkas Pak Jarwo menyunggingkan senyumnya.


Mbak Ayu datang dan duduk bersama kami semua. Ia mengutarakan niatnya untuk berlatih bersama Pak Jarwo.


"Apa kau sudah berhasil menemukan kebenarannya Yu?"


"Iya Pak, ternyata Tante Ajeng tak sebaik yang terlihat. Selama ini ia berpura-pura menjadi orang baik saja, hanya untuk membalaskan dendam."


"Kalau kau tahu itu, alangkah baiknya kau tak mengikuti jejaknya!"


Kami semua tercengang mendengar ucapan Pak Jarwo. Apa maksudnya Mbak Ayu ingin menggunakan kesaktiannya untuk hal-hal yang merugikan orang lain seperti yang Tante Ajeng lakukan. Nampaknya Pak Jarwo mengetahui isi hati ku, ia tertawa seraya menganggukkan kepalanya.


"Ternyata kalian semua sama saj, selalu berpikiran negatif sebelum mengetahui yang sebenarnya. Maksudku adalah, Dahayu tak perlu menjadi seperti Ajeng hanya untuk membalaskan dendam. Jika niatmu untuk itu, aku tak bisa mengajarkan apapun padamu. Kau sudah memiliki segalanya, hanya perlu mengontrol kesabaran mu saja Yu. Kau tahu Calon Arang bisa mengendalikan jiwa dan ragamu ketika kau dalam keadaan marah. Maka satu-satunya cara supaya kau tak dikendalikan olehnya adalah kau yang harus balik mengendalikan nya. Caranya mudah, dekatkan dirimu pada ilmu keagamaan sesuai keyakinan mu. Berlatih mengendalikan emosi, dan lakukan kebaikan kapanpun dan dimanapun kau berada. Aku hanya perlu membimbing mu, karena semuanya bergantung pada dirimu sendiri. Berbeda dengan Rania, ia harus mempelajari amalan-amalan tertentu. Karena ia tak seperti mu yang mendapatkan warisan peninggalan ilmu. Waktu mu tak banyak Nduk, mulailah berpuasa dan membaca doa-doa tertentu supaya bakat terpendam yang kau miliki bisa kembali lagi." Pungkas Pak Jarwo dengan mendongakkan kepala ke atas.


"Jadi maksdunya Dahayu gak perlu berlatih apapun gitu Pak?"


"Dekatkan lah dirimu pada Sang Hyang Widhi. Kau akan mendapatkan petunjuk, dan kendalikan saja amarahmu. Jangan mudah terpancing dengan hasutan orang lain. Kelemahan mu hanya satu Yu, ketika kau terpancing emosi kekuatan jahat akan mengambil alih jiwa dan ragamu. Saat itulah, kau akan mudah dikalahku. Dan orang lain akan mudah menyakiti mu. Jadi saran ku, tutup mata dan telinga mu, ketika ada orang lain yang berusaha memancing amarahmu. Ingatlah kesabaran akan berbuah kemenangan!"


Mbak Ayu menganggukkan kepalanya, ia mulai memahami apa yang harus ia perbuat sekarang. Sementara aku masih terdiam dengan memikirkan amalan apa yang harus ku lakukan.


"Rania. Besok kau dan Lala harus pergi ke curug banyu dowo. Disana ada istana Pangeran Jin muslim. Shalat lah dan minta bantuan pada Yang Maha Kuasa, InsyaAllah atas ijin Allah dengan perantara Jin muslim itu. Kalian akan mendapatkan apa yang kalian mau. Karena Dahayu berbeda keyakinan dengan kalian, maka tak ku sarankan ia pergi kesana."


"Curug banyu dowo? Dimana itu Pak? Rania gak pernah denger!" Tanya ku dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Aku tahu dimana kok Ran. Tapi lokasinya agak terpencil, dan jalan nya bebatuan. Apa kau sanggup berjalan kesana?" Sahut Lala menatap ku.


"Tentu saja, kenapa tidak La."


Pak Jarwo menyunggingkan senyumnya, melihatku seraya menganggukkan kepalanya.


"Apakah maksud Pak Jarwo, Kakek bersorban putih itu, yang ia sebut sebagai orang suci." Batinku di dalam hati.


"Tentu saja beliau yang ku maksudkan. Kenapa kau malah ngebatin begitu Nduk?" Tanya Pak Jarwo mengejutkan ku.


"Sebenarnya Rania merasa gak asing dengan wajah Kakek itu. Tapi ketika di ingat-ingat kembali, Rania belum pernah bertemu dengan beliau itu Pak!"


"Mungkin kau tak ingat pernah bertemu dengannya. Nanti kau akan tahu segalanya, maka ku sarankan berpuasalah untuk bisa mencapai puncak Curug banyu dowo. Tak hanya kau, Lala juga harus melakukan nya!"


Kini Mbak Ayu menghembuskan nafas panjang. Ia merasa kecewa karena tak dapat mengikuti kami pergi ke Curug itu. Tapi Pak Jarwo menjelaskan, jika tempat itu tak bisa dikunjungi olehnya. Karena di dalam raga Mbak Ayu bersemayam sosok gaib yang berasal dari wilayah lain.


"Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, misalnya bentrokan energi antara sosok yang ada di dalam ragamu, dengan para sosok gaib yang menempati wilayah itu. Maka ku sarankan, kau tak perlu ikut mereka ke Curug itu. Kau mengerti maksudku to Nduk?" Tanya Pak Jarwo pada Mbak Ayu.


"Baiklah Pak, Dahayu mengerti kok. Kalau begitu Dahayu akan tetap di rumah ini saja. Dahayu mau mempelajari ilmu mengendalikan diri. Supaya bisa mengendalikan emosi, dan tak terjebak dengan hasutan Tante Ajeng."


"Ngomong-ngomong bagaimana kabar Dewa, apakah ia baik-baik saja di Bali?" Celetuk Pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis mata.


Astaga. Aku lupa memberitahu tahu Mbak Ayu mengenai Om Dewa yang masih terancam nyawanya meskipun sudah meninggalkan pulau Jawa.


"Semenjak Dahayu kesini, kami belum bertukar kabar Pak. Memangnya ada apa?"


Pak Jarwo menghembuskan nafas panjang sebelum mengatakan sesuatu. Ia meminta Lala untuk membuatkannya kopi hitam. Setelah Lala pergi, Pak Jarwo melanjutkan pembicaraan nya. Ia mengatakan hal yang sama padaku, jika keselamatan Om Dewa masih tetap terancam.


"Jika kau menyelamatkan Dewa dari incaran Ajeng dan kelompok sekte nya. Di Bali, Dewa masih menjadi incaran para pengikut Leak yang merasa dihianati olehnya. Kau tak bisa memungkiri, jika Dewa memang sempat menghianati kelompok nya sendiri."


Kini Mbak Ayu langsung tertunduk dengan wajah sendu. Mata nya berkaca-kaca setelah mendengar ucapan Pak Jarwo. Bagaikan buah simalakama, apapun yang akan terjadi kedepan nya hanya Yang Maha Kuasa yang dapat mengaturnya.


"Dahayu permisi dulu Pak, Dahayu akan mencari tahu bagaimana kabar Om Dewa!" Ucap Mbak Ayu seraya melangkahkan kakinya pergi ke dalam rumah.


Aku tak tahu harus bagaimana, jika disana nyawa Om Dewa sedang terancam. Begitu juga masa depan Wati disini sedang dipertaruhkan.


"Kau tak usah bingung Nduk, Dahayu pasti bisa menerima apapun yang akan terjadi. Dia sangat kuat, dan terlatih sejak kecil. Mentalnya sudah sangat stabil untuk menghadapi berbagai cobaan. Hanya emosinya saja yang tak terbendung. Kau fokuslah dengan tujuanmu pulang ke Desa. Bukankah waktumu tak lama disini? Maka gunakanlah waktu mu sebaik mungkin. Perbanyaklah berdoa dan beribadah, InsyaAllah kau akan mencapai kesuksesan. Karena kau melakukan semua itu tak hanya untuk dirimu sendiri. Aku tahu kau ingin menyelamatkan seseorang yang ada di Kota kan? Perempuan yang menjadi istri kedua suami Kartika, anak perempuan dari keluarga Sumitro. Kau memang anak yang baik Nduk, semakin dewasa kau makin perduli dengan kehidupan orang lain. Semoga kau berhasil mendapatkan kembali bakat mu yang hilang itu."


Tak heran jika Pak Jarwo mengetahui banyak hal, meski aku tak menceritakan apapun padanya. Mendengar nasehat-nasehat dari Pak Jarwo, membuatku kembali terkenang almarhum Mbak Karto. Segera ku kirimkan bacaan doa Al-Fatihah untuk nya.