Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 77 KEJANGGALAN


"Loh setahuku malam itu Janni ada di Rumah Sakit bersama Tante Ajeng. Kenapa ia tiba-tiba bisa ada di rumah ini lalu menggantungmu di lantai atas?" tanyaku mengaitkan kedua alis mata.


"Tanyakan saja pada Tante Ajeng, apakah dia bersama Janni sepanjang malam itu!" jawabnya dengan menundukan kepala.


Nampak kesedihan terpancar dari raut wajahnya, Umi memintaku menasehati Mbak Ayu supaya tak datang ke tempat Pak Tubagus lagi. Menurutnya, Pak Tubagus adalah orang yang membantu Janni bersekutu dengan iblis.


"Tapi apakah mungkin itu terjadi sedangkan Tante Ajeng yang merekomendasikan kami untuk menemui Pak Tubagus. Apa itu hanya persepsi mu aja Um?"


"Rania. Paranormal seperti Pak Tubagus akan selalu membantu semua pelanggan yang datang untuk meminta bantuannya. Meski ada dua belak pihak yang berseberangan dan sama-sama meminta bantuan padanya, ia pasti akan membantu keduanya. Jadi kau tak usah heran dengan dunia tipu-tipu itu. Temukanlah buku harian Janni di dalam lemari pakaiannya. Ia selalu menuliskan semua keluh kesahnya disana. Dan tentang Agus, kami memang sempat dekat. Tapi setelah aku tahu jika Agus dan Janni pernah memiliki hubungan dekat di maaa lalu, aku memilih menyudahi hubungan kami. Aku tak mau menyakiti hati Janni, sebisa mungkin aku menjaga perasaannya. Tapi ternyata dia mengetahui segalanya saat Agus tak sengaja bertemu denganku di kost, ia menyapaku terlebih dulu daripada Janni. Mulai saat itu sikap Janni langsung berubah, dan aku menyadari ada yang berbeda dari sikap Janni. Agus pun menceritakan segalanya tentang masa lalunya bersama Janni, karena itulah aku mengakhiri segalanya."


"Jadi Janni menyimpan dendam padamu? lantas kenapa ayahmu mau bekerja sama dengannya, untuk membawa Agus ke kostnya dalam keadaan penuh luka?"


"Ayahku sudah ditipu oleh Janni, ia memanipulasi keadaan dan membuat cerita tentang Agus yang sudah menyakiti ku lalu mencampakanku. Padahal yang sebenarnya akulah yang memutuskan hubungan kami karena ingin menjaga perasaan Janni. Atas dasar itulah ayahku mau membantunya untuk mencelakai Agus. Mereka bersama-sama menyiksa Agus dan sengaja meninggalkan nya di kamar kost untuk tiada. Jadi seolah-olah Agus tiada karena tindak kekerasan dari para preman yang memukulinya. Katakan pada Mas Adit, jika Janni dan semua yang berkelompok dengannya termasuk ayahku, memang sengaja membuat sandiwara itu. Mereka merampas barang-barang berharga milik Agus, supaya lebih terlihat meyakinkan pihak kepolisian. Karena sesungguhnya mereka sudah merencanakan itu dengan matang. Aku tak bisa menutupi kejahatan yang ayahku lakukan, karena sekarang Agus sudah tiada. Mereka semua harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan nya."


Aku menghembuskan nafas dalam, tak ku sangka jika Umi mengetahui banyak hal. Bahkan ia rela melihat ayahnya mendekam di dalam penjara. Sepertinya Umi tak seperti ayahnya, bahkan Janni lebih pantas menjadi anak ayahnya. Mereka memiliki watak yang hampir sama.


"Lalu apakah kau tahu dimana keberadaan Om Dewa? dia juga harus bertanggung jawab atas perbuatan nya pada kakaknya sendiri."


Umi menggelengkan kepala, ia tak tahu menahu tentang Om Dewa. Karena selama ini ia hanya mendengar tentang sang pemangku ritual dari ayahnya. Jadi kesimpulan yang aku dapat adalah semua yang tinggal di kost ini memiliki hubungan satu sama lain, kecuali diriku yang tak mengerti apapun.


"Aku hanya bisa mengingatkan mu untuk berhati-hati dengan Tante Ajeng. Ia mudah berubah pikiran, terkadang ia menjadi sosok yang baik hingga ingin melepaskan Mbak Ayu dari cengkeraman Calon Arang. Tapi ketika sosok lain menguasai dirinya, ia bisa menjadi lebih kejam dari suaminya. Karena itulah, kau tak akan bisa menebaknya. Dia menjadi seperti itu sejak kehilangan bayinya, dan ada sosok gaib yang menguasai raganya. Setelah ini aku tak akan bisa kembali menemuimu, aku akan menerima takdir ku untuk menjadi abdi setia Calon Arang. Supaya Calon Arang mengampuni jiwa ayah dan ibuku, aku rela mengorbankan diri. Sampaikan salam sayangku untuk kedua orang tuaku, selamat tinggal Raniaa." ucap Umi melesat pergi, lalu menghilang dikegelapan malam.


Aku mendongakan kepala memandang ke atas langit seraya memanjatkan doa untuk Umi. Semoga kelak ia bisa kembali ke alam keabadian, dan beristirahat dengan tenang. Setelah itu aku berjalan kembali ke dapur, nampak Mbak Ayu sedang repot menyuguhkan hidangan untuk para tamu yang datang untuk tahlilan malam itu. Entah bagaimana aku menjelaskan semua ini pada Mbak Ayu. Semua yang Umi katakan terlalu rumit untuk ku jabarkan dengan kata-kata.


"Jadi yang dimaksud Agus adalah ini, ia berkata jika Tante Ajeng tak pernah sengaja melakukan sesuatu. Dan aku tak bisa mengalahkan nya begitu aja, jadi sosok apa yang menguasai tubuh dan pikiran Tante Ajeng ya?" batinku dengan menggaruk kepala yang tak gatal.


Plaak!


"Astaghfirullah Mbak! Lu ngagetim aja sih! Untung gue gak punya jantung!" seruku dengan menghembuskan nafas panjang.


"Eh lu gak salah ngomong? Kalau lu gak punya jantung gimana bisa hidup?" sahut Mbak Ayu terkekeh.


"Gak usah becanda deh Mbak. Ternyata banyak hal yang gak kita tahu selama ini. Btw lu tahu gak sih Mbak, kalau Umi ataupun Janni memiliki hubungan dengan para pengikut Leak?"


"Kita kan sama-sama baru tahu kalau hanya ayah Umi aja yang berhubungan dengan para pengikut Leak itu. Memangnya ada apa Ran?"


Aku langsung menceritakan pada Mbak Ayu mengenai penyebab kematian Umi. Karena yang ia tahu, Umi meninggal karena nya yang mempersembahkan Umi untuk Calon Arang. Dan begitu ku beritahu yang sebenarnya, terlihat Mbak Ayu menggelengkan kepala tak percaya. Ia tak menyangka, jika Janni begitu tega membunuh sahabatnya sendiri.


"Pantas saja Ran, saat gue sama Pak Tubagus ngadain ritual pertukaran. Calon Arang tak mau melakukan pertukaran denganku, karena ternyata jiwa Umi udah ada di alam Mangrahi. Itu artinya dia belum tiada kan sewaktu kita mencarinya malam itu?"


"Iya Mbak, faktor yang menyebabkan Umi tewas ya karena organ yang ada didalam raganya udah gak fungsi lagi. Karena Janni udah gantung tubuh Umi, sepertinya Janni sengaja melakukan nya. Mungkin dia tahu kalau Mbak Ayu sedang mengincar Umi."


"Tapi kan gue gak ada maksud nyebut nama Umi, karena gue salah paham aja. Coba aja gue tahu kalau Janni lebih berbahaya dari anaknya Pak sopir taksi itu, pasti dia yang gue tumbalin."


"Yee... Itu kan karena kita ngiranya si Janni anak sopir taksi itu. Eh iya Mbak ada sesuatu yang belum gue jelasin ke lu." kataku tak langsung mengatakan apa yang ku tahu mengenai Tante Ajeng.


Dan beruntungnya aku belum mengatakan apa-apa, karena dari belakang ki Tante Ajeng datang dengan membawa nampan di tangannya. Ia meminta kami untuk segera membereskan piring dan gelas yang ada di ruang tamu.


...Berikan dukungan kalian ya dengan memberikan Gift atau Vote nya jika berkenan. Salam sayang untuk kalian semua 💕...


...Bersambung. ...