Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 133 KAFAN BERNODA DARAH.


Pocong itu terlihat melesat ke ujung kebun, dimana banyak semak-semak yang menutupi jalan setapak. Mbak Ayu melambaikan tangannya padaku, supaya aku mengikutinya dari belakang.


"Mas, lokasinya ada di dalam semak-semak itu. Minta petugas buat bersihin area itu, kita gak bisa masuk ke dalam sana. Soalnya tuh arwah korban masuk ke sana buat ngasih tahu letak jasadnya." Kataku setengah berbisik pada Mas Adit.


Aku dan Mbak Ayu masih menunggu petugas membukakan jalan yang tertutup semak belukar. Setelah jalan sedikit terbuka, kami bersama-sama masuk ke dalam semak-semak yang gelap karena minim penerangan.


"Ran. Tuh pocong kemana kok ngilang sih!" Celetuk Mbak Ayu dengan menoleh ke berbagai arah.


"Kemana lagi Ran?" Tanya Mas Adit gelisah.


"Bentar, korbannya ngilang Mas. Minta aja petugas buat nyisir lokasi sekitar sini."


Beberapa petugas diperintahkan menyisir lokasi, dan anjing pelacak pun di kerahkan. Tiba-tiba anjing itu menggonggong kencang, mata nya menyala ke atas udara. Karena penasaran, aku dan Mbak Ayu mendatangi nya. Ternyata anjing itu menggonggong karena melihat pocong Dinar yang ada di balik pohon besar. Aku berkomunikasi dengan pocong itu melalui batin, dan ia mengatakan jika jasadnya ada di bawah pohon besar itu.


"Mas, minta petugas buat bongkar tanah ini. Kali ini, anjing pelacak bukan nemuin jasad korban. Tapi dia yang nemuin arwahnya korban, tuh demit ngasih tahu kalau jasadnya ada disini."


Mas Adit membulatkan kedua matanya seraya menelan ludahnya kasar. Ia mengusap belakang tengkuknya, lalu menggelengkan kepala. Ia memerintahkan petugas dan team forensik untuk memeriksa lokasi. Dan begitu tanah berhasil dibongkar, memang ditemukan tulang belulang yang terbalut kain kafan usang dengan noda darah yang kering menghitam. Nampak pocong Dinar menatap kami dengan menganggukkan kepala. Sepertinya ia ingin berterima kasih karena kami berhasil menemukan jasadnya. Semoga setelah ini jiwa nya dapat beristirahat dengan tenang.


Kini petugas langsung mengevakuasi jasad yang tinggal tulang itu. Dan Mas Adit mengatakan setelah identifikasi selesai, dan terbukti jika jasad itu adalah korban pembunuhan yang dilaporkan hilang beberapa bulan yang lalu. Maka petugas akan menghubungi pihak keluarga.


"Sekali lagi makasih ya Ran, Mbak Ayu juga. Beberapa kali sudah kami terbantu karena kalian." Kata Mas Adit mejabat tangan secara formal.


"Dih kami jadi kayak pahlawan aja dijabat tangan sama petugas polisi gini!" Seru Mbak Ayu kembali menggoda.


"Mungkin nanti kalian akan dimintai keterangan. Kayak yang sudah-sudah hadapi dengan santai, oke?" Mas Adit mengacungkan jari jempolnya seraya menyunggingkan senyum.


Memang benar kata Mas Adit, setiap kali aku memberi petunjuk pada pihak kepolisian. Aku selalu dimintai keterangan, darimana aku bisa mendapatkan informasi detail mengenai korban. Yah terpaksa aku harus memutar balikan fakta, dengan mengatakan sedikit kebohongan. Karena polisi tak akan bisa menerima penjelasan yang diluar nalar dan logika. Sementara aku selalu mendapatkan informasi langsung dari arwah-arwah korban yang sudah meninggal dunia. Apapun itu, tujuanku hanya untuk kebaikan. Kali ini satu kasus telah selesai terungkap. Hanya menunggu pihak-pihak yang bertanggung jawab mendapatkan hukuman.


"Ran, gue kok ngerasa dipermainkan sama Om Dewa dan Tante Ajeng ya? Yang satu gak jelas keberadaan nya. Satunya lagi penuh misteri, kayak menyembunyikan sesuatu. Kalau Tante Ajeng udah meninggalkan rumah ini. Kita akan kesulitan memecahkan misteri tentang mereka. Padahal sebelumnya kita udah yakin, kalau Om Dewa dan Tante Ajeng bertentangan. Tapi melihat keadaan sekarang, kayaknya mustahil buat menyangkal kalau keduanya bersekongkol." Ucap Mbak Ayu mengaitkan kedua alis matanya.


Belum sempat aku menjawab ucapan Mbak Ayu. Pocong Dinar kembali melesat ke arah kami, ia memintaku melepas ikatan yang menempel di jasadnya, sebagai simbol kalau ia telah terlepas dari ikatan pocong yang membelenggu jiwa nya selama ini.


Aku memanggilnya dengan berteriak, supaya ia menghentikan langkah kaki nya.


"Ada apa Rania?"


"Mas, aku mau minga tolong nih. Arwah korban minta ikatan kain kafan nya dilepas. Sebagai simbol buat melepaskan jiwa nya, supaya dia bisa terbebas dari ikatan duniawi dan kembali ke alam keabadian." Kataku dengan nafas ngos-ngosan.


"Gimana caranya Ran, jasadnya udah dibawa team forensik." Jelas Mas Adit menggaruk kepala yang tak gatal.


Tak jauh dari kami berdiri, seorang lelaki berjalan mendatangi kami. Ia mengatakan akan melepas ikatan kafan itu. Rupanya ia seorang Dokter forensik, yang percaya dengan hal-hal semacam itu. Ia mengajak ku ke mobil ambulance, dan dia sendiri yang melepas ikatan kafannya. Akhirnya, aku dapat bernafas lega. Setelah ini, pocong itu tak akan menampakkan wujudnya lagi. Dan hidupku akan terbebas dari bayangan kematian sepertinya.


"Udah lega ya Dek? Dia udah berusaha menerima takdirnya, dan dia percaya dengan manusia seperti kita. Kalau kita akan mendapatkan keadilan untuknya. Sekarang dia sedang menunggu mu untuk berpamitan. Pergilah, saya yang akan mengurus jasadnya." Pungkas Dokter forensik itu.


Aku turun dari mobil ambulance, dan menghampiri pocong Dinar yang sekarang sudah berubah wujud. Ia mengenakan daster putih panjang, wajahnya nampak bersih dan cerah. Dengan ditemukan nya jasadnya, Dinar sudah menerima takdirnya. Ia berterima kasih dan berpamitan padaku dan juga Mbak Ayu. Tapi ia menitipkan pesan terakhir nya untuk kedua orang tuanya. Jika ia sangat menyesal, karena tak mendengarkan nasehat mereka.


"Sampaikan pada Ibu dan Bapak, kalau Didin minta maaf karena tak bisa menjaga Ibu dan Bapak sampai tua nanti. Didin adalah panggilan kecilku, hanya kedua orang tua ku saja yang memanggilku seperti itu. Jadi mereka akan percaya dengan ucapan kalian. Aku pergi dulu, dan pastikan jika lelaki jahat itu menerima hukuman yang setimpal. Semoga tak ada orang lain yang mengalami nasib seperti ku." Ucap arwah Dinar, sebelum akhirnya melesat ke atas udara, dan benar-benar menghilang ditelan kabut putih yang mengepul di atas sana.


Aku menghembuskan nafas panjang, lalu membacakan doa supaya arwah Dinar dapat beristirahat dengan tenang. Beruntung dia mau mendengarkan ku untuk ikhlas menerima takdirnya. Jika tidak, selamanya ia akan gentayangan dengan wujud pocong itu.


"Besok kita masih ada tugas terakhir buat nyampaiin pesan nya ke orang tuanya. Yuk pulang istirahat." Ajak Mbak Ayu, wajahnya nampak kelelahan.


Kami kembali ke kostan, dan di dalam rumah utama nampak sekelebatan bayangan. Bukannya rumah itu sudah dikunci semua pintunya, lantas siapa yang menerobos masuk ke dalam.


"Jangan-jangan maling lagi Ran!"


"Gak mungkin maling lah Mbak! Di dalam sana udah gak ada barang berharga, takutnya itu orang suruhan yang disuruh mengintai kita. Apa mungkin itu Om Dewa ya, masak dia masih terobsesi menjadi penerus ilmu Leak?" Kataku menerka-nerka.


Karena rasa penasaran, kami memutuskan untuk masuk ke dalam rumah kuno untuk menyelidiki siapa yang masuk ke dalam sana. Kami melangkah dengan hati-hati, supaya seseorang yang bersembunyi di dalam sana tak mengetahui kedatangan kami.


Bruuugh.