
Semua orang berjibaku memadamkan api yang membakar di dalam rumah. Pak Jarwo mengatakan jika Pangeran Jin Muslim sudah kembali ke alamnya. Dan Jin kafir itu musnah menjadi abu setelah tersambar petir. Ternyata Allah menghendaki untuk memusnahkan satu golongan jin munafik itu. Sekarang hanya tinggal memindahkan semua makhluk yang bersarang di dalam gentong yang Pak Jarwo ikat dengan tali putih. Dan ada kertas bertuliskan ayat suci yang menempel diluarnya. Sebenarnya Pak Haji menyarankan dua makhluk yang ada di dalam botolnya tetap tersimpan di tepat yang tepat. Karena dua makhluk itu memiliki energi kuat yang jahat. Sementara demit dengan energi rendah bisa dilepaskan di tempat yang jauh dari tempat tinggal warga. Karena kebanyakan demit dengan energi rendah itu dulunya adalah manusia yang mati penasaran lalu gentayangan. Mereka sedang menunggu akhir dunia di alam fana ini, untuk menebus semua perbuatan di masa lalu.
"Baiklah Pak Haji, saya akan membawa demit-demit ini ke Hutan larangan. Tolong minta warga membersihkan rumah itu saja Pak, supaya energi negatifnya hilang." Kata Pak Jarwo dibalas anggukan Pak Haji Faruk.
Pak Jarwo pergi bersama beberapa warga yang membantunya membawa gentong besar. Mereka mengikuti langkah Pak Jarwo dengan wajah ketakutan. Sementara Pak Haji memberi intruksi pada warga yang telah berhasil memadamkan api untuk langsung membersihkan seluruh bagian rumah itu. Nampak raut wajah Pak Kades cemas, ia mengaku bingung harus berkata apa jika ahli waris keluarga Mbah Wongso sewaktu-waktu datang melihat rumahnya.
"Tapi mereka sudah lama tak pernah datang kesini kan Pak, untuk apa lagi mereka datang untuk melihat rumah ini. Lagipula tragedi hari ini bukan salah kita. Petir tiba-tiba menyambar di bagian dalam rumah, dan semua warga sudah membantu memadamkan api." Kataku dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Mungkin kau tak tau jika selama ini ada perwakilan keluarga itu yang datang ke Balai Desa. Mereka berniat menjual tanah mereka termasuk rumah ini, tapi sayangnya belum ada pembeli yang berminat membelinya. Mereka memasrahkan proses jual beli asetnya pada sekretaris desa. Saya memang sengaja diam, karena tak mau membuat warga cemas. Tapi itulah yang sesungguhnya, apalagi istri almarhum Mbah Wongso sudah lama berada di rumah sakit jiwa. Beliau mengalami gangguan jiwa setelah suaminya melarikan diri dari desa, dan ia terguncang mengetahui jika suaminya menganut ajaran sesat. Pasti mereka membutuhkan biaya besar, meski saya dengar Warto sekarang berprofesi sebagai seorang dukun. Saya hawatir kalau Warto seperti mendiang Bapaknya, dia bisa saja mencelakai warga Desa ini dengan mudah." Jelas Pak Kades dengan mengusap peluh di keningnya.
"Lantas siapa perwakilan keluarga itu yang datang ke Balai Desa Pak?"
"Ada seorang gadis seusia mu Rania. Dia membawa bukti kepemilikan tanah dan rumah ini. Lalu memasrahkan proses jual beli, tapi sampai sekarang tak ada yang berniat membelinya. Kebanyakan calon pembeli berasal dari luar Desa, tapi setiap kali calon pembeli datang melihat tanah ataupun rumah ini, mungkin mereka bertemu dan bertanya pada warga. Lantas warga menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, kebanyakan calon pembeli itu langsung membatalkan niatnya membeli aset keluarga Mbah Wongso. Mereka takut, dan tak ingin berurusan dengan hal-hal gaib." Pak Kades nampak gelisah karena telah menyembunyikan fakta ini dari warganya sendiri.
"Nanti biar Rania saja yang menjelaskan ke warga Pak. Lebih baik Pak Kades kembali ke Balai Desa saja, biar urusan disini kami yang menyelesaikan."
Langkah kaki Pak Kades nampak berat, ia berjalan tertatih dengan membawa beban berat di pundak nya. Ia juga pasti takut berhadapan dengan Wening dan Pakde nya itu. Pantas saja Wening seakan mengenal sosok perempuan berkonde, ternyata ia masih sering mendatangi Desa ini.
"Wah Pak Haji jangan begitu, saya percaya sama Bapak kok. Tapi dengan membersihkan rumah ini dari energi negatif, kita masih tetap harus menghadapi ahli warisnya. Rumah terbakar dengan kondisi yang lumayan parah di bagian dalam. Mereka bisa saja salah paham, dan mengira jika warga berusaha merusak rumah ini. Karena sebenarnya dari awal mereka memang ingin membalas dendam pada semua warga ini. Bahkan saya baru tau, kalau istri almarhum Mbah Wongso ada di rumah sakit jiwa. Entah bagaimana kita menjelaskan jika semua ini adalah musibah."
"Kau tak usah cemas Nduk, InsyaAllah semua akan ada jalan keluarnya. Kau sudah dengar dari Pak Kades ya kalau Warto sekarang jadi dukun di Desa tetangga?"
Aku hanya menganggukkan kepala, tapi aku juga mengatakan jika aku sudah lebih dulu tau dimana Desa mereka. Dengan detail ku ceritakan semua yang berhubungan dengan Wening. Termasuk jiwa kembaran nya yang gentayangan, karena jazadnya masih tak sempurna.
"Maksudmu cucu kembar almarhum Mbah Wongso? Bukankah dia sudah dikebumikan bersama Ayahnya. Apa kau tak salah Nduk?"
Aku menghembuskan nafas panjang sebelum menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Ku ceritakan semua sesuai penjelasan Bening, sontak saja Pak Haji Faruk terkejut. Ia tak menyangka jika ada seorang Kakek yang tega melakukan hal keji itu pada cucunya sendiri.
"Tapi Pak Rania jadi makin gelisah. Sebenarnya Pak Jarwo berniat mengambil jasad Bening di hutan batas Desa. Tapi kalau kita membantu menguburkan jasad itu, nantinya jiwa Bening memang akan beristirahat dengan tenang di alam keabadian. Tapi dengan itu kita harus siap menghadapi kemarahan Wening dan Pakde nya. Mereka pasti akan semakin murka karena kita mengirimkan jiwa Bening kembali ke alamnya. Lantas apa yang seharusnya kita lakukan Pak?" Tanya ku dengan mengaitkan kedua alis mata.
Pak Haji Faruk tak langsung menjawab pertanyaan ku. Ia diam sejenak dengan memainkan tasbih di genggaman tangannya. Nampaknya ia tak bisa langsung memberikan keputusan. Dan ia berkata harus membahasnya dengan Pak Jarwo da juga perwakilan dari salah satu warga, yaitu Pak Sapri. Karena dengan membantu jiwa Bening kembali ke alamnya, itu artinya kami semua harus bersiap menghadapi murka semua keluarga Mbah Wongso yang memang menaruh dendam pada semua orang yang ada di Desa ini. Jadi Pak Haji meminta pendapat dari orang-orang tertentu terlebih dulu.