Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 220 SOSOK DARI ALAM KEGELAPAN.


Aku masih shock dan termenung di tepi ranjang. Mbak Rika memintaku untuk tak menyalahkan diri sendiri, meski aku tau semua ini pasti akan terjadi. Tapi aku terlambat mengetahui segalanya, dan kini nyawa Beny yang harus jadi korbannya.


"Udah nih makan dulu, tadi gue pesenin pakai ojol. Oh iya tadi gue dapat kabar kalau besok jenazah Beny langsung dibawa pulang ke kampung halaman nya. Jadi kita gak bisa ngelayat kesana, soalnya kan jauh kampungnya di Jawa Timur. Tapi Silvia tetap ikut kesana, bareng sama ambulance yang bawa jenazah Beny." Jelas Mbak Rika seraya memberikan nasi kotak padaku.


"Gue gak ada selera makan Mbak. Apalagi gue juga gak bisa lihat Beny buat terakhir kalinya. Seandainya lu tau apa yang buat Beny sampai tiada, pasti lu bakal kayak gue deh." Kataku dengan menghembuskan nafas panjang.


"Sebenarnya ada masalah apa sih Ran, sampai buat lu frustasi kayak gini? Gue paham sih lu pasti terpukul banget denger kabar meninggal nya Beny. Gue juga sedih sama kayak lu, tapi ya gimana lagi. Takdir Tuhan gak ada yang bisa merubah, kalau emang Beny ditakdirkan meninggal kita gak bisa buat apa-apa."


Mbak Rika tak mengerti, masalah dunia gaib yang tiba-tiba menyeret Beny dan juga Silvia. Tapi aku tak bisa menceritakan padanya, biar saja aku yang menanggung beban pikiran ini seorang diri.


"Ya udah Mbak lu makan duluan aja, gue mau ke depan dulu ya."


Ku tinggalkan Mbak Rika di dalam kamar, sementara aku duduk di teras depan. Ku fokuskan pikiran untuk menembus dimensi gaib. Aku ingin melihat dengan mata kepala ku sendiri, apakah benar Beny berada di tangan sosok gaib yang menipunya. Batin ku menembus tabir hitam alam gaib, ku lihat sosok yang tak asing di mata ku sedang berada di dalam genggaman sosok tinggi besar berbulu hitam lebat. Ia menjadi pesuruh sosok itu, dan menuruti semua perintah nya. Seketika bulir-bulir bening membasahi pipi ku, aku tak kuat melihat pemandangan itu. Dan tiba-tiba aku merasakan ada yang menarik tubuhku. Seketika aku kembali ke dunia nyata. Nampak Mbak Ayu sedang berdiri tepat di hadapan ku. Ia menggelengkan kepala seraya berkacak pinggang.


"Lu ngapain pakai penglihatan ke dunia gaib? Apa yang lu cari tau sih Ran? Jangan cari masalah baru lagi deh!"


"Gue gak cari masalah Mbak! Justru gue cari kebenaran! Temen gue barusan ada yang meninggal Mbak, jiwa nya di ambil makhluk gaib yang menipu dia. Belum lagi makhluk itu suka sama Silvia, gue cemas kalau sampai nyawa Silvia terancam. Sosok itu pasti akan melakukan segala cara buat dapetin cinta Silvia."


"Maksud lu ada sosok gaib yang ngambil jiwa Beny, dan sekarang dia udah meninggal? Terus makhluk itu mau memperistri temen cewek lu itu? Gawat sih Ran, kalau itu sampai terjadi. Gue turut berduka ya atas meninggalnya temen lu."


Ku jelaskan awal mula kejadian buruk itu bisa sampai terjadi. Nampak Mbak Ayu terkejut mendengar jika Beny sudah ditipu oleh makhluk itu, sehingga ia terpaksa melakukan perjanjian gaib yang sia-sia.


"Kita emang gak bisa begitu aja percaya dengan makhluk seperti mereka Ran." Ucap Mbak Ayu dengan menggelengkan kepala.


Petter tiba-tiba melesat mendatangi kami. Ia merasa tak terima dengan ucapan Mbak Ayu. Karena menurutnya tak semua makhluk gaib tak bisa dipercaya.


"Iya iya kecuali kau deh!" Sahut Mbak Ayu terkekeh.


"Nah itu baru betul. Oh iya... Tadi aku melihat jasad Beny udah dibawa mobil ambulance. Apa kau tak akan melihatnya Rania?"


"Tapi aku takut kalau makhluk jahat itu datang bagaimana Rania?"


"Kau tak usah takut Petter... Ada aku dan Rania yang akan melindungi mu. Kau hanya cukup mengawasi Silvia saja, dan laporkan pada kami jika kau melihat kehadiran makhluk jahat itu di dekat Silvia. Kau percaya pada kami kan?" Sahut Mbak Ayu menyela.


Petter menundukkan kepalanya, ia nampak ragu, tapi aku terus meyakinkannya. Jika sesuatu hal buruk terjadi, aku akan langsung membantunya.


"Baiklah aku akan pergi mengawasi Silvia. Tapi aku harus jaga jarak darinya, supaya aku tak tertangkap makhluk jahat itu." Kata Petter mengaitkan kedua alis mata.


Malam itu juga Petter pergi, sementara aku hanya bisa berdoa supaya semuanya berjalan lancar. Dan Silvia dapat kembali dengan selamat. Akhirnya malam itu kami bertiga tidur bersama di kamar ku. Sayup-sayup sinar matahari masuk melalui celah jendela. Mbak Rika membangunkan kami berdua. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sampai kami semua bangun terlambat.


"Kalian berdua langsung berangkat kerja ya?" Tanya Mbak Ayu meregangkan otot-otot di tubuhnya.


"Kayaknya gue gak bisa ke kantor langsung deh. Gue mau ke Bogor dulu Mbak, cari informasi mengenai sosok yang ngambil jiwa Beny. Mereka berdua jadi incaran makhluk itu setelah meliput disana. Mungkin ada sesuatu yang bisa jadi petunjuk, supaya gue bisa bebasin Silvia dari incaran sosok jahat itu."


Tiba-tiba Mbak Ayu mengatakan jika ia ingin ikut bersamaku pergi ke Bogor. Bagaimana caraku melarangnya supaya ia istirahat saja di kamarnya.


"Udah Ran, pergi aja sama Mbak Ayu. Kalau kalian berdua kan kalian semakin kuat." Celetuk Mbak Rika.


"Masalahnya kesehatan Mbak Ayu lagi menurun. Gue gak mau dia semakin drop Mbak!"


"Gue gak apa-apa kok Ran. Justru gue gak akan tenang kalai biarin lu pergi sendirian. Lagian gue udah enakan kok, ntar ya gue siap-siap dulu!" Sahut Mbak Ayu seraya bangkit berdiri.


Aku hanya menghembuskan nafas panjang, terpaksa menyetujui tawaran Mbak Ayu. Semoga kepergian kami ke Bogor mendapatkan hasil dan ada petunjuk mengenai sosok pesugihan Pak Awan. Si tersangka pembunuhan istri dan anaknya, yang ternyata melakukan perjanjian gaib dengan sosok dari alam kegelapan itu.