Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 156 PERNIKAHAN WATI.


Pagi ini kami semua terbangun dengan perasaan yang kacau balau. Tak ada raut kebahagiaan di wajah semua orang. Bahkan Wati sendiri semakin terlihat murung. Padahal sekarang adalah hari pernikahannya. Banyak tamu undangan yang hadir, dan keluarga dari pihak calon pengantin pun sudah tiba. Keluarga besar Pak Mitro nampak seperti orang bangsawan. Dari paras dan juga penampilan nya, menunjukkan jika mereka semua bukan orang biasa. Aku memperhatikan satu persatu tamu yang hadir. Dan ada satu wajah yang nampak tak asing di mata ku. Meski wajahnya samar-samar terlihat, karena ia tertutup oleh para tamu yang datang. Aku semakin penasaran, dan mendekati seseorang yang tak asing di mata ku. Begitu aku sampai di dekatnya, orang itu tersenyum melalui sudut bibirnya. Melihat ku dengan penuh senyum kemenangan.


"Jadi kau rupanya, merah tak salah melihat ternyata." Ucapnya seraya berdecih.


"Bu Kartika? Jadi anda adalah bagian dari keluarga Pak Mitro?" Kataku dengan nafas yang berderu kencang.


"Lantas kenapa Rania? Apa kau semakin merasa terancam karena sepupu mu akan menjadi bagian dari keluarga kami?" Bu Kartika berjalan memutari ku, tatapannya tajam melihatku dengan penuh rencana.


"Ternyata si merah memang peliharaan mu. Dan keluarga mu benar-benar melakukan..." Belum selesai aku mengatakan sesuatu, Bu Kartika memaksa ku diam dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir ku.


"Jadilah anak manis untuk hari ini saja Rania. Jika kau tak ingin semua orang yang kau sayangi mendapatkan masalah. Lihatlah sebentar lagi sepupu mu akan menikah dengan keponakan ku, dengan begitu kau juga akan menjadi bagian dari keluarga ku. Apa gunanya kau memperdebatkan semuanya? Karena kita akan menjadi kerabat, bukankah seharusnya kau tak usah mencampuri lagi urusanku. Apapun yang akan terjadj pada Purnama, mulai detik ini juga tak perlu lagi kau campuri. Perempuan tak waras itu seharusnya sudah lama tiada. Jika kembaran nya tak ikut campur dengan urusan ku. Bahkan setelah setan perempuan itu pergi ke neraka, kau yang menjadi penghalang bagiku!" Kata Bu Kartika dengan menatap ku tajam.


Tak lama Mama mendatangi ku, ia meminta ku untuk duduk di dekat Wati. Kini Mama berhadapan langsung dengan Bu Kartika. Ia menjabat tangan Mama seraya memperkenalkan diri sebagai Tante dari sang mempelai lelaki. Aku hanya menghembuskan nafas panjang, lalu ku tinggalkan keduanya untuk mengobrol.


"Dih lu darimana aja sih Ran! Kasihan tuh Wati dari tadi gugup, keringet dingin terus dia!" Seru Mbak Ayu mengaitkan kedua alis mata.


"Gue tadi ketemu Bu Kartika, itu loh pemilik si merah. Ibu tiri nya Pak Bos gue Mbak!"


"Dimana perempuan itu Ran?" Sahut Lala yang juga penasaran.


Mbak Ayu dan juga Lala celingukan mencari Bu Kartika. Keduanya penasaran ingin melihat wajahnya.


"Itu loh yang lagi ngobrol sama Mama!" Kataku seraya mendongakan kepala ke atas.


"Tapi si merah gak ada di sekitar sini tuh Ran. Bukannya kata lu dia selalu ngikutin kemanapun pemiliknya pergi!"


"Kau mau kemana La?" Tanya ku penasaran.


Lala menjawab ingin menyapa Bu Kartika, dan mengajak Mama menjauh dari perempuan keji itu. Aku dan Mbak Ayu hanya duduk di belakang Wati. Pakde ku yang bekerja di lautan pun harus pulang untuk menikahkan satu satunya anak gadisnya. Ia bahkan terus meneteskan air mata, melihat nasib yang harus ditanggung Wati. Di samping Wati seorang pemuda duduk dengan senyum sumringah. Tak ada beban pikiran sama sekali dari raut wajahnya. Ia memang terlihat masih kekanak-kanakan. Bahkan semua tamu undangan yang datang mulai bergunjing mengenai kehidupan rumah tangga keduanya kelak. Aku tahu pasti Wati juga mendengar semua selentingan itu. Karena itulah sedari tadi ia hanya menundukkan kepalanya. Aku berbisik di telinganya, supaya Wati tegar menghadapi semua cobaan ini.


Kini penghulu sudah siap untuk menikahkan keduanya. Entah kenapa aku tak kuat melihat pemandangan itu. Aku memilih pergi meninggalkan acara sakral itu. Hati ku tak kuasa melihat kehidupan saudara ku menjadi hancur setelah nya.


Aku duduk di bawah pohon mangga dengan menyembunyikan tangis ku dari semua orang. Aku berusaha menahan air mata ku, tapi terlalu berat ku bendung semuanya. Akhirnya bulir-bulir bening itu membasahi pipi ku. Aku menangis dalam diam, hati ku terasa pilu melihat pengorbanan Wati yang sebegitu besarnya. Tak bisa ku bayangkan bagaimana kehidupannya setelah pernikahan ini. Apalagi ia harus tinggal di rumah keluarga Pak Mitro.


"Sabar Nak. Mama tahu kau berat menyaksikan Wati melangsungkan pernikahan ini. Karena itulah Wati pernah memintamu untuk tak menghadirinya. Jadi sekarang kuatkanlah hatimu, dampingi Wati untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini ia akan meninggalkan rumah ini, dan kalian tak akan bisa sedekat dulu lagi." Ucap Mama mengecup keningku seraya mengusap rambutku penuh kasih sayang.


"Maa... Rania gak sanggup lihat Wati hidup bersama keluarga itu Maa. Mereka tak hanya memiliki pesugihan tapi juga peliharaan makhluk gaib, yang bisa kapan saja menyakiti Wati!"


"InsyaAllah sayang, semua akan baik-baik saja. Selama kita berserah diri pada Allah dan selalu mendoakan nya. Percayalah, Allah akan selalu menolong hambaNya."


Mama menyeka air mata ku, lalu menggandeng tanganku kembali ke tengah-tengah acara. Nampaknya ijab kabul sudah selesai dibacakan. Butuh waktu yang lama supaya mempelai lelaki mengucapkan ijabnya. Nampak Wati sedang memeluk kedua orang tuanya dengan berlinang air mata. Kini ia menatapku dengan penuh cinta, ia berusaha tegar dengan menyembunyikan kesedihan nya. Wati menyunggingkan senyumnya padaku seraya menganggukkan kepala. Kaki ku serasa ringan menghambur ke pelukan nya, dan ku dekap erat tubuhnya. Wati meminta ku untuk tersenyum di hadapan semua orang, karena ia tak ingin memiliki kenangan sedih bersama orang-orang yang ia kasihi. Kemudian Mbak Ayu dan Lala mendekati kami dan saling berpelukan.


"Mulai sekarang, apapun yang terjadi di hidup lu, kita akan bantu lu sebisa mungkin Wat. Ya gak gaes?" Ucap Mbak Ayu seraya menyunggingkan senyumnya.


Aku dan Lala hanya menganggukkan kepala. Kami semua harus tegar menghadapi cobaan berat ini. Pramono Sujatmiko, lelaki yang mempersunting Wati kini menghampiri kami lalu menarik tangan perempuan yang baru saja ia nikahi. Wati tersentak melihat tingkah suaminya. Tapi tiba-tiba Pramono bersikap seperti anak kecil. Ia meminta kami semua untuk bermain petak umpet, dan Wati yang harus berjaga. Tak lama seorang perempuan paruh baya dengan baju kebaya kuno mendatangi nya, dan menjelaskan jika sekarang bukan waktunya untuk bermain.


"Maaf ya, Mas Pram ini memang masih kekanak-kanakan. Dia belum paham situasi nya, jika ia baru saja menjadi suami seseorang. Perkenalkan saya Mbok Genuk, yang mengasuh Mas Pram sejak ia kecil. Mbak Wati tenang saja, setelah ini saya akan tetap membantu Mbak mengurus dan menjaga Mas Pram. Jadi tak perlu menjadi beban pikiran, jika ia bertingkah seperti anak kecil." Pungkasnya dengan ramah.


Aku hanya menyunggingkan senyum, dan menjabat tangan Mbok Genuk lalu memperkenalkan diri. Dari aura yang terpancar olehnya, sepertinya Mbik Genuk ini bukanlah orang biasa. Aku dapat merasakan kekuatan lain di dalam dirinya, tak mungkin ia hanya sekedar pengasuh biasa.